Mita tidak pernah meminta takdir ini. Baginya, Sam adalah kakak, pelindung, dan satu-satunya tempat bersandar setelah kedua orang tuanya tewas demi menyelamatkan keluarga Sam. Namun, sebuah pernikahan atas dasar utang budi mengubah segalanya dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eleanor kici kici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Retaknya Sebuah Kesetiaan
Malam yang sunyi itu seketika berubah menjadi labirin gelap yang menjebak Mita. Di bawah cengkeraman Sam yang kehilangan kesadaran akibat pengaruh alkohol, rasa panik yang luar biasa langsung menyerang dada Mita. Ia tahu, pria di hadapannya saat ini sama sekali tidak sedang melihat dirinya, melainkan bayangan wanita lain yang terus menghantui pikirannya.
"Mas Sam! Sadar, Mas! Ini aku, Mita! Bukan Mbak Vanya!" teriak Mita, suaranya bergetar hebat memecah keheningan kamar.
Mita meronta-ronta dengan sekuat tenaga, mencoba mendorong dada bidang Sam agar menjauh. Jemarinya mencengkeram sprei, berusaha mencari pegangan untuk menarik diri dari jebakan situasi yang kian mengimpit. Namun, dalam kondisi kehilangan akal sehat, Sam tidak mampu mencerna realitas. Jeritan Mita hanya terdengar seperti sayup gema di kepala Sam yang sedang kacau.
Di tengah igauan dan kabut gairah yang membutakan matanya, Sam mempererat kunciannya. Dengan napas yang memburu, ia membisikkan kalimat yang seketika menghunjam dan menghancurkan hati Mita berkeping-keping.
"Apa kamu puas sekarang, Vanya? Akhirnya... akhirnya kita bersatu," racau Sam parau dengan senyuman tipis yang getir, mengira ambisi kekasihnya untuk menyatukan mereka malam ini telah terwujud.
Mendengar kalimat itu, seluruh pertahanan dan sisa tenaga Mita runtuh seketika. Tubuhnya mendadak lemas, tak lagi memiliki kekuatan untuk melawan takdir buruk yang merenggut kesuciannya. Di balik remangnya kamar utama, malam itu menjadi saksi bagaimana sebuah batasan sakral terlewati dalam sebuah kekeliruan yang fatal. Badai emosi dan frustrasi yang terpendam berminggu-minggu akhirnya meledak, meninggalkan kehancuran yang tak kasat mata.
Malam yang melelahkan itu akhirnya digantikan oleh keheningan yang mencekam. Jarum jam dinding di kamar utama menunjukkan pukul 02.00 dini hari ketika Mita perlahan-lahan membuka matanya dalam kegelapan. Di sampingnya, Sam sudah tertidur pulas akibat pengaruh alkohol yang sangat kuat, menyisakan dengkur halus yang teratur.
Mita mencoba menggerakkan badannya. Seketika itu juga, rasa nyeri yang luar biasa menjalar di sekujur tubuhnya. Setiap persendiannya terasa kaku dan sakit. Namun, Mita tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam tangisan. Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, ia mendudukkan diri di tepi ranjang.
Saat matanya mulai terbiasa dengan keremangan kamar, detak jantung Mita mendadak berhenti. Netranya menangkap noda merah pekat yang begitu kontras di atas sprei putih milik Sam. Noda darah itu cukup banyak dan melebar, seolah berteriak menunjukkan apa yang telah terjadi.
Panik seketika menyerang pikiran Mita. Ia tidak boleh membiarkan Sam melihat ini besok pagi. Pria itu tidak boleh tahu, dan bukti ini harus segera dihilangkan sebelum matahari terbit.
Mita memutar otak mencari cara. Ia tidak mungkin membersihkannya langsung di atas kasur tanpa membangunkan Sam. Satu-satunya jalan adalah melepas sprei itu. Dengan sangat hati-hati dan mengandalkan sisa tenaganya, Mita mulai menarik ujung-ujung sprei yang terpasang di bawah kasur. Setiap kali Sam melenguh atau mengubah posisi tidurnya, Mita langsung mematung menahan napas, diliputi ketakutan luar biasa jika pria itu mendadak terbangun.
Setelah perjuangan yang menguras tenaga dan emosi, sprei itu akhirnya berhasil dilepaskan sepenuhnya. Kini Sam tertidur di atas kasur polos tanpa alas sprei.
Mita bergegas membawa kain bernoda itu turun ke lantai bawah menuju ruang cuci. Namun, begitu berdiri di depan mesin cuci, jemarinya bergetar. Noda darah yang sudah mulai mengering itu terlalu banyak dan pekat. Mita mendadak bingung dan ragu; mesin cuci biasa di rumah tidak akan bisa menghilangkan noda sekotor ini tanpa meninggalkan bekas, atau mungkin karena ia memang tidak tahu bagaimana caranya dan jika ia menguceknya manual, suaranya pasti akan memicu kecurigaan di pagi hari.
Mita menatap sprei di pelukannya dengan perasaan campur aduk. Akhirnya, setelah menimbang-nimbang dalam kepanikan dini hari itu, ia memutuskan untuk membungkus sprei tersebut rapat-rapat ke dalam kantong plastik hitam. Ia akan membawanya ke tempat laundry kiloan besok pagi-pagi sekali, berharap layanan cuci profesional bisa menghapus jejak kelam dari malam paling menyakitkan dalam hidupnya.(Jangan lupa klik tombol like di bawah ya, Kak!)