Kamila Larasati, seorang gadis cantik yang pintar, kritis, keras kepala dan punya pendirian kuat persis seperti ayahnya yang seorang Jendral TNI. Kamila menentang perjodohan yang dilakukan ayahnya dengan bawahannya. Dia tidak ingin mengikuti jejak kakaknya yang kehidupan pernikahannya terlalu banyak aturan.
Kamila masih sangatlah muda. Dia masih ingin bebas menikmati masa mudanya dengan berbagai pengalaman yang bermakna.
Sampai pada suatu hari, dia bertemu dengan Mahardika Pratama yang seorang preman kampung. Kejadian yang tak terduga menjadi awal pertemuan mereka hingga seiring berjalannya waktu tumbuhlah rasa cinta diantara mereka. Tapi ada sebuah rahasia yang sempat menggoyahkan perasaan Kamila. Apakah akhirnya cinta mereka akan bersatu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akira Fan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Perubahan Dika
"Wah, gila. Jantungku hampir aja copot Dik," ucap Aldo sambil mengelus dadanya. Sedang Dika hanya tersenyum melihat tingkah konyol temannya itu.
"Baru gitu doang, udah kaget aja kau?," cibir Alvin.
"Iya nih, nggak cocok banget sebagai preman," timpal Veni cekikikan.
"Awas ya kalian, ketemu hantu beneran baru tau rasa entar," balas Aldo nggak terima.
"Nyumpahin nih maksudnya?," sewot Veni nggak terima. Kalau sampai ketemu hantu beneran sih ya nggak berani dia.
"Udah ah, jangan berantem. Mending lanjut yuk! Aku nggak mau lama-lama disini," pinta Kamila melerai perdebatan Aldo dan Veni.
"Iya bener kata Kamila tuh, kalian berdua berisik banget soalnya," ucap Alvin membuat Aldo dan Veni memelototinya bersamaan. Sedang Alvin ngeloyor santai nggak perduli dengan respon mereka.
"Bener-bener nih anak ya, nggak berubah dari dulu. Dingin nggak jelas," omel Veni dengan tingkah Alvin.
"Temen kamu tuh," timpal Aldo.
"Sama kayak kamu, nyebelin," balas Veni.
"Kok jadi aku ikut-ikutan kamu katain nyebelin?," ucap Aldo nggak terima.
"Biarin, emang nyebelin," balas Veni lagi.
"Kam--," suara Aldo tercekat.
"DIAAAMM,"
Suara bariton yang tajam menggelegar menghentikan perdebatan nggak penting itu. Dika merasa kepalanya akan pecah karena tingkah mereka berdua. Kalau bisa digambarkan mungkin wajahnya merah padam dan kepalanya mengeluarkan asap hitam.
Semua tersentak kaget, tak terkecuali Kamila yang sedari tadi nggak bisa melerai mereka. Kamila, Aldo dan Veni menelan salivanya dengan susah payah. Dika seperti menjadi sosok lain saat ini. Sangat berbeda dari sebelumnya.
Mereka pun ciut nggak berani bergeming sedikitpun. Auranya Dika lebih mencekam dari wahana yang sedang mereka masuki ini. Sampai-sampai tak terasa mereka sudah tiba dipintu keluar wahana. Mereka menghembuskan nafas kasar.
"Syukurlah, selamat," ucap Kamila dan Veni kompak.
Mereka melirik ke arah Dika. Laki-laki itu terlihat sudah tidak semenyeramkan tadi. Tapi lebih ke memasang wajah datar.
"Aku ada urusan sebentar, kalian lanjutkan sendiri kalau masih ingin main," akhirnya sebuah kalimat lolos dari bibir Dika.
Tidak keras seperti saat teriak tadi, tapi lebih ke sedang mode serius gitu. Jujur Dika terlihat sekali menjadi orang yang sangat berbeda saat ini, seperti bukan dirinya.
"Temen kamu kenapa? Serem banget," tanya Veni pelan pada Aldo saat Dika berjalan meninggalkan mereka.
"Entahlah, baru kali ini aku lihat dia dengan wajah menyeramkan kayak gitu," jawab Aldo juga heran.
"Kalian sih tadi pakai berantem, kayaknya moodnya jadi nggak bagus," timpal Kamila.
"Udah biarin dia kalau ada urusan, mending kita lanjut dari pada kemaleman entar kita pulangnya," teriak Alvin yang sudah berjalan lebih dulu dari mereka bertiga.
"Iya Vin, tunggu," teriak Veni kemudian menyusul Alvin, diikuti Kamila dan Aldo.
"Ada apa dengan kau Dik? Sebenarnya aku males nerusin kalau ada dia. Tapi mau gimana lagi," batin Aldo mendengar teriakan Alvin tadi. Dia memutar bola matanya malas lalu tetap mengikuti mereka.
"Hallo," Dika mencari tempat yang sekiranya tidak ramai untuk mengangkat telefon.
"Bagus, pantau terus. Kalau ada pergerakan langsung lapor," lanjutnya memerintahkan seseorang dari telefon.
Tuut
Panggilan diakhiri Dika segera sepihak. Dia tersenyum simpul yang sulit diartikan. Pandangan matanya lurus kedepan, menatap kerumunan orang di pasar malam tadi. Kemudian dia beranjak pergi meninggalkan lokasi dan teman-temannya. Padahal tadi dia yang mengajak mereka ke tempat itu. Entahlah, apa sebenarnya yang terjadi dengannya.
****
"Duh, kakiku sudah pegel nih Ven. Kita pulang yuk!," ajak Kamila sambil meringis memegangi kakinya yang mulai lelah.
"Ya udah ayo kita pulang!," balas Veni.
"Ayo, aku anterin. Tadi Dika pesen sama aku buat jaga kalian," timpal Aldo menjalankan amanat sahabatnya yang sekarang entah dimana keberadaannya.
Kamila mengernyitkan alisnya sebelah mendengar penuturan Aldo tadi. Sebegitu pedulinya Dika, sampai-sampai menitipkannya pada sahabatnya itu.
"Emang Mas Dika kemana sih? Aneh banget tingkahnya tadi. Kalian ngerasa nggak?," tanya Veni.
"Entahlah, dia nggak bilang tadi," jawab Aldo enteng.
"Nggak berprinsip emang, tadi dia sendiri yang ngajak eh sekarang malah ngilang," celetuk Alvin tiba-tiba dengan sinisnya.
"Diam kau, dasar mulut pedas," balas Aldo nggak terima sahabatnya dikatain seperti itu.
"Memang kenyataan kan? Kenapa nggak terima?," imbuh Alvin lagi nggak mau mengalah.
"Kau...,"
"Sudah sudah, kalian nggak capek berantem terus dari tadi?," lerai Kamila yang sudah jengah dengan perdebatan mereka berdua.
"Iya nih, udahlah Vin. Mungkin Mas Dika emang lagi ada kepentingan yang urgent. Kau jangan suudzon deh," setelah mengatakan itu Veni segera menarik tangan Kamila untuk segera pulang.
Alvin dan Aldo menyusul dibelakang mereka tak mau ketinggalan. Seperti halnya anak kecil, mereka pun sempat saling senggol saat berjalan mengiringi Kamila dan Veni. Sontak membuat Kamila dan Veni geram dan menghentikan langkah mereka kembali.
Bruukk
Alvin dan Aldo menubruk punggung Kamila dan Veni bebarengan karena tidak fokus dengan jalan.
Aaakh
Kamila dan Veni oleng, tapi dengan sigap Alvin dan Aldo menangkap tubuh mereka sehingga mereka tidak sampai jatuh. Kalau di slow motion pasti sudah seperti adegan di film aja. Hihihi
Jantung mereka berdetak tak beraturan. Tatapan mereka bertemu untuk beberapa saat. Kamila yang terlebih dulu sadar dengan posisi mereka segera membenarkan posisinya kembali berdiri dan melepaskan pelukan Alvin.
"Ekhem, makasih Vin," ucap Kamila canggung mengingat kejadian tadi.
"I-iya, sama-sama Mil. Maaf tadi aku nggak sengaja nabrak kamu," balas Alvin sedikit tergagap. Jantungnya sedang tidak baik-baik saja.
Aaaa
Suara teriakan Veni yang mulai tersadar mengagetkan mereka semua. Spontan Aldo melepaskan pelukannya hingga Veni sampai terjatuh.
"Au, sakiiit. Kok kamu jatuhin aku sih Do?," rintih Veni meringis karena pantatnya sakit.
"Ma-maaf Ven, habis kamu teriak kenceng banget bikin aku kaget," Aldo segera membantu Veni untuk berdiri.
"Hufh, jadi cowok kok kagetan. Nyebelin tahu," umpat Veni merasa kesal pada Aldo.
Mendengar hal itu, bukannya marah Aldo malah nyengir sambil mengusap tengkuknya. Veni yang kesal pergi begitu saja meninggalkan Aldo.
"Veni, tunggu," teriak Kamila karena Veni juga meninggalkannya kemudian mengejarnya.
"He, maaf. Habis kesel banget sama Aldo," ucap Veni manyun saat Kamila sudah didekatnya.
"Kamu nggak apa-apa kan?," tanya Kamila khawatir.
"Nggak apa-apa, cuma agak kesel aja. Untung kamu tadi ditangkep Alvin," goda Veni pada Kamila tersenyum jahil.
"Apaan sih, emang dia yang nabrak kan tadi?," balas Kamila memalingkan mukanya menutupi malu.
"Kayaknya Alvin naksir sama kamu," bisik Veni pada Kamila, takut Alvin yang sudah dibelakang mereka mendengarnya.
Kamila menyenggol lengan Veni karena saat ini dia merasa canggung dengan Alvin. Bagaimana tidak? Mengingat saat kejadian tadi jarak mereka sangatlah dekat. Apalagi posisi mereka yang saling berpelukan. Siapa coba yang nggak deg-deg an dipeluk sama cowok ganteng?