Aira dan Baskara sama-sama tidak menginginkan perjodohan kedua orang tua mereka, tapi mereka memiliki kesamaan, yaitu enggan mengecewakan kedua orang tua yang sangat mereka hormati.
***
Janji masa lalu Hendra dan Gunawan untuk menjodohkan anak-anak mereka menjadi awal baru yang tak terduga bagi Aira dan Baskara.
Awalnya, Aira dan Baskara berpikir bahwa pernikahan adalah hal sederhana dan mudah. Namun, ternyata semua tidak sesederhana yang dibayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaAns, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 : Kecanggungan Baru
Cup!
Aira mengerjap beberapa kali. Ciuman yang didaratkan Baskara di keningnya sampai kini masih terasa membuat wajahnya tiba-tiba berubah merah.
"Kenapa lo?" tanya Sinta saat melihat Aira sedikit berbeda hari ini. "Udah semringah, nih. Masalah suami lo udah beres?" lanjut Sinta.
Aira membuang napas kasar. "Kalau itu belum. Lo lihat gimana beritanya di media sosial? Gue trauma bacain komen orang-orang. Pada serem-serem ketikannya," ucap Aira seraya bergidik ngeri.
Sinta menatap Aira, lalu membuang napas kasar.
"Beritanya tambah gila. Mending sementara lo nggak usah buka media sosial. Nggak tahu gimana netizen itu menyelidiki, mereka bisa tahu kalau Baskara anak KSAD."
Aira membulatkan mata. "Nama mertua gue mulai keseret?"tanyanya tak percaya.
"Secara teknis enggak, tapi ada yang nemuin foto waktu Baskara prasetya perwira. Ada foto waktu lo nikah juga."
Sinta mengeluarkan ponselnya. Ia menunjukkan beberapa postingan di media sosial menyangkut vidio yang viral itu.
Anak KSAD, sudah menikahi dokter, nekad berselingkuh hingga menghamili seorang mahasiswi.
Aira kembali memejamkan mata. Masalah yang menimpa Baskara ini membuat fisik dan pikirannya sangat lelah. Aira memicingkan mata saat melihat pintu ruang IGD terbuka. Seorang ibu hamil baru saja turun dari bajaj bersama salah seorang ibu lainnya. Aira dan Sinta saling menatap sejenak, tapi tak lama segera menghampiri ibu hamil itu.
Aira membantu ibu hamil itu untuk berbaring di brangkar igd, sementara itu Sinta meminta keterangan dan identitas pasien dari si pengantar.
"Ada keluhan, Bu?" tanya Aira seusai membantu ibu hamil itu berbaring.
"Setelah mandi tadi ada flek, Dokter."
"Flek?"
Aira menyentuh bagian perut ibu hamil itu yang terasa sangat kencang. Ia memeriksa tekanan darah ibu itu beberapa saat hening sampai hasil tekanan darahnya keluar.
"Agak tinggi tekanan darahnya, Bu. 170/120. Apakah ada riwayat tensi tinggi?"
Ibu itu menggeleng. "Saya bawa hasil pemeriksaan terakhir saya. Saya pasien Dokter Lusi, Dok."
Aira mengangguk paham. Ia membaca hasil pemeriksaan terakhir ibu itu sesaat setelah ibu itu memberikan berkas pemeriksaan pada Aira.
"Diagnosa terakhir Dokter Lusi ads potensi plasenta previa pada kehamilan ibu. Setelah terakhir kali melakukan pemeriksaan apakah Dokter Lusi meminta ibu untuk bedrest?"
"Hanya tidak boleh terlalu lelah, Dok. Karena akhir-akhir ini perut saya sering terasa kencang."
Aira mengangguk paham. Ia meminta izin untuk melihat flek yang keluar dari ibu hamil itu. Apakah masih normal atau membutuhkan penanganan lebih lanjut.
"Bu, ini bukan flek lagi, tapi sudah berupa darah segar. Usia kehamilan kurang lebih 35 minggu. Kemungkinan besar ibu akan diminta untuk bedrest dan opname sementara waktu. Nanti saya coba konsultasikan dengan Dokter Lusi. Apa ibu datang bersama suami?"
Ibu itu menggeleng. "Saya datang dengan tetangga. Suami saya prajurit, Dok. Dia sedang tergabung dalam satuan tugas. Kalau bisa jangan sampai opname, Dok. Saya masih ada dua anak di rumah, Dok."
Aira terdiam.
Ia menatap ibu hamil itu. Ibu itu tampak tenang dan tegar.
"Ibu menghadapi semua sendirian?"tanya Aira lirih.
Ibu itu tersenyum. "Ya, namanya jadi istri tentara, Dok. Sudah akan sering ditinggal tugas. Hamil dan melahirkan ditunggui suami itu suatu hal yang mewah bagi kami," jawab Ibu itu. "Saya punya dua anak, yang pertama melahirkan saat ayahnya tugas di Libanon ikut satgas Garuda. Anak kedua saat hamil sampai melahirkan juga tidak ditunggui ayahnya karena tugas di perbatasan. Sekarang hamil yang ketiga juga sama. Berat, Dok jadi istri tentara, tapi memang ini resikonya. Dokter sudah menikah?"
Aira terkesiap. Ia mengangguk seraya tersenyum. Pikirannya mulai melanglang buana ke tempat lain. Ia membayangkan kehidupan ibu hamil itu. Menghadapi segala sesuatunya sendirian.
Aira pun bergegas menelpon Dokter Lusi untuk berkonsultasi tentang kondisi ibu hamil itu.
"Bu, saya sudah berkonsultasi dengan Dokter Lusi, beliau menyarankan ibu untuk sementara dirawat inap untuk observasi lebih lanjut. Ini perawat Alma akan memasangkan infus terlebih dahulu sembari menunggu kamar rawat inap," ucap Aira ramah.
Ia melihat gurat-gurat kesedihan di wajah ibu hamil itu. Tubuhnya harus dirawat demi anak yang akan ia perjuangkan untuk dilahirkan, sementara itu dilain sisi, ia juga harus meninggalkan dua anaknya yang lain.
"Nggak bisa bedrest dirumah, Dok?" Pinta ibu itu. Menawar jika diperbolehkan.
Aira tersenyum.
"Kalau di rumah yang terjadi malah nggak jadi bedrest, Bu. Usia kehamilan ibu masuk 35 minggu. Jika keadaan darurat, dokter akan mengambil keputusan untuk dilahirkan, tapi karena kondisi organ paru-paru bayi pada usia kandungan ini belum matang, dokter akan memberikan suntikan untuk memperkuat paru-parunya. Yang diharapkan, kondisi ibu dan bayinya stabil, jadi bisa diusahakan untuk mundur kurang lebih dua minggu lagi jadi usia kehamilannya sudah matang. Sudah lebih dari 36 minggu," ucap Aira mencoba menjelaskan.
"Bu Any, nggak apa-apa bedrest dulu sementara di rumah sakit. Demi kebaikan ibu dan bayinya. Masalah anak-anak bisa ikut saya selama ibu di rumah sakit," ucap ibu lain yang mengantar ibu hamil tadi.
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya kamar rawat inap telah siap dan Aira mengantarkan ibu hamil itu ke bangsal. Aira mengembuskan napas panjang. Ia menatap ibu hamil itu dari kejauhan. Ibu itu menangis saat melakukan panggilan telepon dengan suaminya. Dalam keadaan seperti ini, tentu saja keinginan terbesar dari ibu hamil itu adalah ditunggui suaminya,tapi apa boleh buat negara sudah memanggil dan prajurit harus selalu siap.
Tanpa terasa, jam dinas Aira telah usai. Aira selesai mandi dan mengganti pakaiannya. Ia pun berjalan keluar dan terkejut saat melihat Baskara sudah berdiri dengan pakaian kasualnya di ruang tunggu lobi.
"Sudah dari tadi?" tanya Aira.
Baskara tersenyum. "Barusan. Sudah selesai?"
Aira mengangguk. Ia berjalan bersampingan dengan Baskara. Rasanya jadi sedikit aneh. Mereka berjalan berdua menuju mobil Baskara yang terparkir tak jauh dari lobi rumah sakit. Baskara membukakan pintu mobilnya untuk Aira, hal itu sempat membuat Aira menahan senyumnya dan masuk ke mobil dengan sedikit canggung.
"Kamu mau langsung pulang?"
"Hah? Ya ... pulang. Memangnya mau kemana?"
"Hmm ... makan malam dulu. Mau?"
Aira menatap keluar jendela. Ia berpikir sejenak, tapi jantungnya sejak tadi entah kenapa terus berdegup kencang.
"Ai? Kok diam? Kamu ... marah?"
Aira terkesiap. Ia melirik Baskara sesekali.
"Marah kenapa?"
"Soal tadi."
Aira mengerutkan dahi. Pura-pura hilang ingatan.
"Tadi ... apa?"
Baskara melirik ke arah istrinya takut-takut.
"Kamu tahu maksudku," jawab Baskara.
Aira menggigit bibirnya. Ia sedikit menahan tawanya. Aira sangat tahu hal yang dimaksud oleh Baskara tadi, tapi ia pura-pura tidak tahu.
Mobil berhenti di sebuah warung Mie Jawa khas Wonosari. Baskara turun dan berjalan cepat membukakan pintu untuk Aira, tapi wajahnya tampak kecewa saat Aira sudah membuka pintu mobilnya sendiri.
Usai memesan makanan masing-masing mereka duduk di salah satu meja yang kosong. Aira dan Baskara duduk berhadapan, tapi mereka sengaja tidak saling menatap satu dengan yang lainnya.
"Ai, kenapa tidak dijawab?" tanya Baskara memecah keheningan.
"Apa?"
"Pertanyaan yang tadi."
"Tadi yang mana, Bas?"
"Soal ... ciuman tadi. Kamu marah?"
Aira menyeruput es jeruk pesanannya yang baru saja datang. Pipinya mulai panas. Mungkin wajahnya kini juga sudah mulai memerah.
"Eng...gak."
"Hah?"
"Enggak, Bas. Kalau aku marah, kamu sudah aku tampar," ucap Aira.
Baskara menelan salivanya susah payah. Ia mulai meniup mie rebus yang ia pesan beberapa kali sebelum menyantapnya. Saat menunggu Aira menyelesaikan malam malamnya, Baskara menatap sang istri lekat-lekat.
"Jadi, aku masih aman dari tamparan?"
_________________