Raka Pratama pernah menjadi kebanggaan keluarganya.
Bakat luar biasa. Masa depan cerah. Tunangan idaman.
Sampai sebuah misi menghancurkan meridiannya.
Kultivasinya mandek. Pertunangannya dibatalkan. Keluarganya membuangnya ke gubuk tua di pinggir desa.
Saat semua orang menganggap hidupnya telah berakhir, sebuah warisan kuno terbangun.
Sistem 2Bit.
Sistem murahan yang mengaku dirinya kelas dua.
Tapi bagi yang sudah kehilangan segalanya, kesempatan sekecil apa pun sudah cukup.
Mereka mengira kisah Raka telah berakhir.
Padahal baru dimulai.
━━━━━━━━━━━━━━━
⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️
Genre:
#Cultivation
#System
#Action
#Fantasy
#Harem
#Revenge
#Survival
#Hambalangverse.
🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Hutan sore hari berbeda dengan hutan pagi. Cahaya matahari yang menyaring melalui dedaunan mulai redup, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menipu mata. Bagi orang biasa, ini menakutkan. Bagi Raka, ini adalah kawan.
Dia bergerak rendah di antara semak belukar. Tas kecil di pinggangnya sudah terisi akar Sengkuang Merah dan beberapa daun obat lain yang Laras minta.
Tiba-tiba, bulu kuduknya berdiri.
Bukan karena dingin. Tapi karena hening.
Suara jangkrik yang tadi riuh mendadak berhenti. Burung-burung di dahan atas terbang panik, meninggalkan sarangnya.
Raka berhenti. Kakinya menempel kuat di tanah berlumpur. Matanya menyapu sekeliling dengan cepat. Kiri. Kanan. Atas.
Kosong.
Tapi instingnya berteriak: Ada.
Dia tidak menunggu. Dia tidak mencari konfirmasi. Di Gunung Tidar, menunggu berarti mati.
Raka membantingkan tubuhnya ke samping, tepat saat sebuah parang besar menebas udara di tempat lehernya berada sebelumnya.
Wush!
Angin dari tebasan itu terasa dingin di pipinya.
Seorang pria bertubuh kekar muncul dari balik semak. Wajahnya tertutup kain hitam. Hanya matanya yang terlihat—tajam, penuh kebencian. Di belakangnya, dua sosok lain melompat keluar, mengelilingi Raka.
"Tikus gunung," geram pria itu. Suaranya berat. "Bos bilang tangkap hidup-hidup. Tapi kalau kamu melawan... patahkan kakimu dulu."
Raka tidak menjawab. Napasnya teratur. Jantungnya berdetak cepat, tapi pikirannya dingin jernih.
Tiga lawan.
Senjata tajam.
Posisi terjepit.
Peluang menang: Nol.
Peluang kabur: Tipis.
Pria di depan menerjang lagi. Ayunan parang horizontal menuju perut Raka.
Raka tidak mencoba menangkis. Dia tidak punya senjata. Dia hanya punya tubuh yang telah dilatih untuk jatuh dan bangkit.
Dia mundur selangkah. Parang itu meleset tipis, merobek ujung bajunya.
Dalam kesempatan sepersekian detik itu, Raka melihat celah. Bukan di depan, tapi di samping kiri. Di sana, ada pohon besar dengan akar menjulang.
Dia tidak lari lurus. Itu bunuh diri.
Raka membuang tubuhnya ke arah akar pohon itu. Saat pria kedua mencoba memotong jalurnya, Raka justru menjatuhkan diri. Tubuhnya meluncur di atas lumpur licin, melewati ayunan pisau pria itu dengan jarak milimeter.
Rrrt!
Rasa panas menyengat di lengan kirinya. Pisau itu berhasil menggores kulitnya. Darah segar langsung mengalir, mencampur dengan lumpur cokelat.
Sakit. Tajam.
Tapi Raka tidak berhenti. Momentum luncuran itu membawanya tepat ke balik batang pohon besar.
"Lari!" teriak pemimpin mereka.
Langkah kaki berat terdengar mengejar. Mereka tidak takut hutan. Mereka tahu medan ini.
Raka bangkit. Napasnya memburu. Lengan kirinya berdenyut nyeri. Darah menetes ke tanah, meninggalkan jejak merah cerah di atas daun-daun kering.
Jejak itu bisa diikuti.
Raka melihat ke bawah. Ada genangan air hujan kecil di cekungan tanah. Tanpa ragu, dia menginjak genangan itu, lalu melompat ke atas batu kering di sebelahnya. Lalu ke dahan rendah.
Dia mengubah pola jejaknya. Membingungkan.
Di kejauhan, dia mendengar suara anjing menggonggong. Anjing pelacak.
Bima memang tidak main-main.
Raka menggigit bibirnya. Rasa logam darah di mulutnya membuatnya sadar. Dia tidak bisa pulang lewat jalan biasa. Gubuknya akan diserbu malam ini juga jika dia kembali sekarang.
Dia harus memutari desa. Masuk lewat sisi belakang yang curam. Jalur yang bahkan pemburu lokal hindari.
Jalur itu berbahaya. Curam. Penuh jurang kecil.
Tapi lebih baik daripada menghadapi tiga pria bersenjata di jalan terbuka.
Raka menarik napas dalam-dalam. Mengabaikan nyeri di lengannya. Dia mulai berlari. Bukan lari panik. Tapi lari terukur. Setiap langkah dihitung. Setiap tarikan napas diatur.
Di dalam kepalanya, tidak ada suara Sistem yang memberinya petunjuk. Tidak ada teman virtual yang berkata "Awas di kiri".
Hanya dia.
Dan rasa sakit yang menjadi kompasnya.
Satu jam kemudian.
Matahari sudah tenggelam. Langit berwarna ungu tua.
Raka muncul dari balik semak di sisi belakang gubuk. Tubuhnya kotor. Bajunya robek di beberapa tempat. Lengan kirinya dibalut darurat dengan sobekan kain bajunya sendiri. Darah masih merembes tipis.
Dia mengetuk pintu gubuk tiga kali. Pola khusus.
Pintu terbuka. Laras berdiri di sana. Wajahnya datar. Tapi matanya langsung tertuju pada lengan Raka yang berdarah.
Dia tidak bertanya "Apa yang terjadi?" atau "Apakah kamu baik-baik saja?"
Dia hanya melangkah mundur, memberi jalan.
"Masuk," katanya singkat.
Raka masuk. Menutup pintu. Mengunci rapat.
Laras menunjuk ke kursi kayu tua. "Duduk."
Raka duduk. Tubuhnya lemas. Adrenalin yang memompa darahnya mulai surut, digantikan oleh rasa lelah yang luar biasa.
Laras mengambil kotak P3K sederhana dari rak. Isinya terbatas: alkohol, perban, dan salep herbal buatan sendiri.
Dia membuka balutan darurat Raka. Luka goresan itu dalam. Sekitar lima sentimeter. Tidak mengenai otot utama, tapi cukup parah untuk menyebabkan infeksi jika dibiarkan.
Laras menuangkan alkohol ke luka itu.
Raka meringis. Giginya bergemeretak. Tapi dia tidak bersuara.
"Bodoh," kata Laras pelan. Tangannya bergerak cepat, membersihkan darah kering, lalu mengoleskan salep hijau yang baunya menyengat. "Kalau mau jadi pahlawan, pergi saja ke kota. Di sini cuma ada orang-orang yang mau bertahan hidup."
"Aku bukan pahlawan," gumam Raka. Napasnya masih agak tersengal. "Aku cuma... tidak mau ditangkap."
Laras menatapnya sekilas. Matanya tajam.
"Mereka tahu kau di sini," katanya. Suaranya rendah. Serius. "Anjing pelacak. Aku mendengarnya dari jauh tadi sore."
Raka mengangguk. "Aku tahu."
"Jadi apa rencanamu?" tanya Laras. Dia mulai membalut luka Raka dengan perban bersih. Ketatnya pas. Tidak terlalu longgar, tidak terlalu kencang.
Raka menatap api unggun kecil di sudut ruangan. Apinya menari-nari, menciptakan bayangan-bayangan di dinding.
"Besok," kata Raka. Suaranya tenang. Dingin. "Aku akan membuat mereka menyesal telah memasuki hutan saya."
Laras menyelesaikan balutan. Dia mengikat ujung perban dengan rapi.
"Bagus," katanya. Dia berdiri, mengambil mangkuk nasi dingin dari meja. Meletakkannya di pangkuan Raka.
"Makan. Kalau kamu pingsan karena kurang gizi, aku nggak akan membangunkanmu."
Raka mengambil sendok kayu. Mulai makan. Nasinya dingin. Lauknya hanya ikan asin bakar. Tapi rasanya enak. Sangat enak.
Di luar, angin berhembus kencang. Daun-daun bergesekan seperti bisikan ribuan roh.
Raka mengunyah. Menelan.
Matanya menatap gulungan Teknik Bayangan yang tergeletak di meja.
Malam ini, dia tidak akan tidur nyenyak.
Tapi besok... besok dia akan belajar bagaimana menggunakan kegelapan bukan hanya untuk bersembunyi.
Tapi untuk menyerang.
Bersambung.