NovelToon NovelToon
Ketika Rekor Bertemu Rindu

Ketika Rekor Bertemu Rindu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:151
Nilai: 5
Nama Author: Ella

Rindu Prameswari memiliki segalanya rekor nasional, popularitas, dan masa depan yang cerah. Setidaknya begitulah yang dilihat orang lain. Tidak ada yang tahu bahwa setiap kali berdiri di atas balok start, Rindu merasa seperti boneka yang hidup untuk memenuhi harapan keluarganya.

Saat konflik dengan ayah dan ibu tirinya semakin memburuk, performa Rindu mulai menurun. Demi menyelamatkan kariernya, ia dikirim ke program pelatihan khusus yang dipimpin oleh seorang pelatih muda bernama Kenzo Adhyaksa.

Kenzo berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Rindu. Ia tidak peduli dengan medali, rekor, atau nama besar keluarga Prameswari.

"Kalau tidak ada lomba, tidak ada rekor, dan tidak ada tuntutan keluarga... apa yang sebenarnya Rindu inginkan?"

Pertanyaan sederhana itu justru menjadi awal perubahan terbesar dalam hidup Rindu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Byurrr!

Kenzo bertumpu pada tepi kolam dan mengangkat tubuhnya naik ke permukaan dengan satu gerakan yang kokoh dan efisien. Air menetes deras dari rambut hitamnya yang acak-acakan, mengalir melewati rahang tegas dan dadanya yang bidang. Sambil meraih handuk kecil yang tergeletak di kursi dekat lintasan, matanya langsung tertuju pada sesosok gadis yang sedang berdiri tegak tidak jauh darinya.

Rindu masih sangat serius. Alisnya bertaut, matanya bergerak lincah meneliti stopwatch di tangan kiri, sementara tangan kanannya dengan cekatan mencoret-coret papan klip. Wajah seriusnya saat memantau anak-anak tim utama terlihat begitu menawan di bawah bias cahaya matahari pagi.

Kenzo berjalan mendekat tanpa suara. Begitu jarak mereka tinggal selangkah, ia sengaja condong ke depan, melongokkan kepalanya dari balik bahu Rindu untuk melihat hasil catatannya.

"Gimana, Asisten Coach? Ada yang berani malas-malasan?" tanya Kenzo tiba-tiba. Suara beratnya yang terdengar sangat dekat di samping telinga membuat Rindu tersentak kaget.

"Astaga, Kak! Bisa gak sih kalau datang itu pakai suara?" omel Rindu refleks menjauhkan kepalanya, jantungnya mendadak berdegup kencang lagi karena jarak mereka yang terlalu intim.

Kenzo malah terkekeh geli melihat reaksi kaget Rindu. Ia mengambil handuk, menggosok rambutnya sekilas, lalu beralih mengambil alih papan klip dari tangan Rindu untuk memeriksa hasil catatannya.

"Wah..." Kenzo menaikkan sebelah alisnya, tampak terkesan. "Catatan kamu detail banget, Rin. Sampai interval penurunan speed di meter-meter akhir lintasan empat pun kamu tulis."

Kenzo menatap Rindu dengan binar mata yang penuh penghargaan dan senyuman hangat. "Kerja bagus. Ternyata insting Ratu Lintasan kalau jadi pelatih boleh juga. Gak salah kakak pilih kamu jadi asisten hari ini."

"Makanya, Kak, jangan remehin Rin! Walaupun belum sekeren Kakak, tapi Rin bisa melihat secara kasat mata," sahut Rindu dengan dagu terangkat bangga. Ia melipat kedua tangan di dada, memamerkan senyum penuh kemenangan yang membuat matanya menyipit manis.

Kenzo tidak bisa menahan senyumnya melihat kepercayaan diri Rindu yang telah kembali seutuhnya. Keberanian dan binar di mata gadis itu adalah apa yang paling ia rindukan sejak trauma itu mulai mengganggu performanya.

"Iya, iya, Kakak gak remehin kamu kok," ujar Kenzo lembut, nadanya terdengar mengalah namun penuh afeksi. Ia mengetuk pucuk kepala Rindu sekali lagi dengan papan klip kali ini jauh lebih pelan, hampir seperti sebuah elusan.

"Makasih ya. Sekarang asisten pelatih boleh istirahat. Duduk di sana, biar kakak yang urus monster-monster ini buat simulasi estafet," sambung Kenzo seraya mengedipkan sebelah matanya jahil, sebelum berbalik menghadap ke arah kolam dengan peluit yang sudah siap di antara bibirnya.

Rindu melangkah mundur menuju deretan kursi tribun mini di tepi kolam. Sambil mendudukkan diri dan memperhatikan Kenzo yang mulai kembali meniup peluit dengan tegas, Rindu diam-diam menyentuh dadanya. Debaran itu masih ada di sana, namun kali ini rasanya begitu hangat dan menenangkan. Di dalam hatinya, ia tahu, bersama Kenzo, ia tidak hanya akan kembali menjadi Ratu Lintasan, tetapi mungkin juga menemukan tempat baru untuk hatinya berlabuh.

Kenzo kembali menatap lembar catatan di papan klipnya. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman tipis yang sarat akan rasa kagum. Tulisan tangan Rindu tidak hanya rapi, tetapi analisisnya tentang penurunan kecepatan tim di meter-meter akhir benar-benar akurat.

"Nggak kaleng-kaleng juga nih anak," gumam Kenzo pelan, hampir tak terdengar di antara riuh suara kecipak air kolam.

Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa beruntung karena sifat keras kepala Rindu hari ini justru sangat membantunya. Kenzo kemudian menurunkan papan klipnya, lalu menatap ke arah tribun tempat Rindu baru saja mendudukkan diri.

Melihat Rindu yang sedang memperhatikannya dengan saksama, Kenzo memberikan sebuah anggukan hormat kecil sebuah apresiasi bisu antar-sesama atlet profesional sebelum akhirnya ia berbalik total menghadap ke arah kolam renang.

Priiiittt!

Kenzo meniup peluitnya dengan satu sentakan panjang yang nyaring. Aura santainya menguap dalam sekejap, digantikan oleh ketegasan mutlak sang kapten tim utama.

"Gani! Doni! Rio! Randi! Kumpul di lintasan tiga sekarang! Kita mulai simulasi estafet 4 X 50 meter gaya ganti!" teriak Kenzo lantang. "Gue mau lihat seberapa cepat take-over tangan kalian di ujung dinding. Kalau ada yang mencuri start walau cuma 0,01 detik, kalian semua gue jemur di lintasan!"

Mendengar instruksi super tegas itu, anak-anak tim utama langsung bergerak secepat kilat membentuk formasi, sementara Rindu yang menonton dari bangku tribun hanya bisa tersenyum lebar, semakin menikmati pesona kepemimpinan seorang Kenzo Adhyaksa.

Rindu menopang dagunya dengan kedua tangan, menumpukan sikunya di atas lutut saat perhatiannya tersedot sepenuhnya pada sosok Kenzo di tepi kolam. Pandangannya seolah terkunci, enggan beralih bahkan untuk sedetik pun.

Melihat Kenzo dalam mode pelatih seperti ini benar-benar membuat Rindu semakin terpesona. Ada aura yang sangat berbeda yang terpancar dari cowok itu sekarang. Jika biasanya Kenzo kerap bersikap tengil, menyebalkan, atau super lembut saat menanganinya secara privat, kini di depan tim utamanya, Kenzo adalah definisi mutlak dari seorang pemimpin sejati. Suaranya yang bariton terdengar begitu berwibawa saat memberikan instruksi, matanya yang tajam bak elang jeli melihat setiap kesalahan sekecil apa pun, dan pembawaannya begitu karismatik hingga membuat para "monster" kampus itu tunduk patuh tanpa bantahan.

"Gani! Fokus pada streamline kamu pas masuk air! Jangan terlalu dalam!" teriak Kenzo tegas, matanya menatap tajam ke lintasan tiga sambil menekan tombol stopwatch dengan ritme yang presisi.

Rindu diam-diam menggigit bibir bawahnya, menahan senyum yang terus-menerus ingin terbit.

Sisi tegas, disiplin, dan penuh dedikasi yang ditunjukkan Kenzo membuat kekaguman di dalam dada Rindu membuncah berkali-kali lipat. Ada rasa bangga yang menyelinap di hatinya saat menyadari bahwa pria hebat yang sedang dikagumi oleh seluruh anggota tim utama itu, adalah pria yang sama yang beberapa menit lalu dengan sabar mengacak rambutnya dan melindunginya dari rasa trauma.

“Gantengnya kelewatan kalau lagi serius gini…” batin Rindu, wajahnya mendadak terasa sedikit memanas meski angin pagi berembus cukup sejuk di sekitar area kolam.

Detak jantung Rindu mendadak berdegup dengan ritme yang jauh lebih cepat daripada saat ia menyelesaikan lintasan 2 X 50 meter tadi. Bedanya, kali ini tidak ada rasa sesak atau panik. Yang ada hanyalah letupan-letupan manis yang membuat dadanya terasa hangat.

Rindu benar-benar semakin jatuh dalam pesona Kenzo. Ia memperhatikan bagaimana helai rambut basah Kenzo jatuh berantakan di dahinya, bagaimana otot-otot lengannya menegang setiap kali ia mengangkat papan klip, dan bagaimana sorot matanya begitu hidup saat meneriakkan koreksi taktis kepada timnya. Kenzo di tepi lintasan saat ini terlihat seribu kali lebih bersinar daripada piala-piala emas yang berjejer di ruang pajangan kampus.

"Oke, take-over lintasan dua tadi bagus! Pertahankan ritme itu pas hari-H nanti!" seru Kenzo, memberikan gestur jempol kepada Doni yang baru saja menyentuh dinding kolam.

Saat timnya kembali bersiap untuk set kedua, Kenzo tiba-tiba membalikkan badannya sekilas. Seolah memiliki radar khusus, sepasang mata elang itu langsung mengarah tepat ke tempat Rindu duduk di tribun mini.

Begitu mendapati Rindu sedang menatapnya tanpa berkedip dengan dagu yang masih bertumpu di kedua tangan, Kenzo tidak menunjukkan wajah galaknya. Sebaliknya, ia mengulas sebuah senyuman tipis yang sangat manis, lalu memberikan kerlingan mata jahil yang seakan berkata, ‘Terpesonanya nanti aja, fokus nonton dulu.’

Deg.

Rindu langsung menegakkan tubuhnya, salah tingkah setengah mati. Ia buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah air kolam, berpura-pura batuk kecil untuk menyembunyikan semburat merah muda yang kini pasti sudah merona hebat di kedua pipinya.

Rindu menggigit bibir dalamnya, mencoba meredam senyum yang tidak bisa berhenti mengembang. Pertahanannya runtuh total hari ini. Sang Ratu Lintasan resmi takluk, bukan oleh dinginnya air kolam atau bayang-bayang traumanya, melainkan oleh pesona mutlak sang kapten legenda.

Kenzo yang melihat tingkah salah tingkah Rindu dari kejauhan langsung terkekeh pelan. Sungguh menggemaskan melihat bagaimana seorang Ratu Lintasan yang biasanya ketus dan penuh gengsi, kini bisa merona hebat hanya karena sebuah kerlingan mata.

Seakan tahu betul bahwa Rindu sedang terpesona dan kehilangan fokus karenanya, Kenzo memutuskan untuk tidak membiarkan gadis itu melamun sendirian di tribun. Ia memutar peluit di jarinya, lalu melambaikan tangan, memberi isyarat agar Rindu kembali mendekat.

"Asisten Coach Rin! Sini sebentar!" panggil Kenzo lantang, suaranya yang berat memotong riuh gema suara air di kolam.

Rindu sempat mengerjapkan mata terkejut, namun ia segera berdiri dari kursi tribun. Dengan langkah yang diatur se-elegan mungkin demi menutupi debaran jantungnya yang masih menggila, ia berjalan menghampiri Kenzo yang berdiri di tepi lintasan tiga.

"Kenapa lagi, Kak? Katanya tadi disuruh istirahat," ujar Rindu begitu sampai di sampingnya, mencoba memasang wajah datar andalannya walau pipinya masih sedikit merah.

Kenzo langsung menyodorkan kembali papan klip dan sebauh stopwatch cadangan ke tangan Rindu. Senyum tengil nan menawan kembali terukir di wajah tampannya.

"Melihat kamu melamun di sana, kakak takut fokus kamu hilang. Mending kamu ke sini, dampingi kakak lagi," bisik Kenzo dengan suara rendah yang hanya bisa didengar oleh Rindu, sementara matanya menatap lekat-lekat ke dalam manik mata gadis itu.

"Kakak butuh mata jeli kamu buat mantau timer anak-anak di lintasan sebelah kanan. Gimana, siap kerja lagi?"

Gani yang baru saja muncul di permukaan kolam langsung bersiul menggoda melihat pemandangan itu. "Aduuuh, Capt! Bilang aja gak bisa jauh-jauh dari pawangnya, pakai alasan butuh asisten segala!"

"Gani, push-up dua puluh kali di pinggir kolam sekarang juga atau gue tambah menu estafetnya?!" ancam Kenzo telak tanpa mengalihkan pandangannya dari Rindu.

Rindu tidak bisa menahan tawa renyahnya. Rasa canggung yang tadi sempat menguasainya kini melebur begitu saja. Sambil menerima papan klip dari tangan Kenzo, Rindu mendongak dan menantang tatapan mata pelatihnya itu dengan berani. "Siap, Coach Ken. Kali ini Rin pastikan gak akan ada satu pun dari mereka yang bisa malas-malasan."

Kini, keduanya berdiri bersisian di tepi lintasan tiga, menciptakan pemandangan yang sukses membuat anak-anak tim utama mendadak ekstra disiplin karena sungkan. Rindu memegang stopwatch dengan satu tangan, sementara tangan lainnya siap dengan pulpen di atas papan klip. Matanya bergerak lincah, bergantian antara permukaan air dan angka digital yang terus berjalan.

"Lintasan lima, kayuhan tangan pasca-turning terlalu lambat! Akselerasi lo hilang di sana!" seru Rindu tegas, mencoret kertas di tangannya tanpa mengalihkan pandangan.

Kenzo yang berada di sebelahnya awalnya hendak meniup peluit untuk memberikan koreksi serupa. Namun, mendengar pekikan tegas Rindu yang begitu presisi, Kenzo menurunkan peluitnya. Ia justru membalikkan tubuhnya sedikit, mengabaikan sejenak simulasi estafet anak-anak timnya.

Kenzo menatap ke arah wajah Rindu yang sedang sangat serius. Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat sisa-sisa butiran air kolam yang berkilau di pelipis Rindu, bulu matanya yang lentik yang bergerak teratur saat menghitung interval, serta bibir tipisnya yang sesekali mengerucut kecil saat mendapati ada catatan waktu atlet yang menurun. Wajah tegas namun menawan milik Ratu Lintasan itu benar-benar menyita seluruh perhatian Kenzo saat ini.

Deg.

Tiba-tiba, ada desir aneh yang dirasakan Kenzo di dalam dadanya. Sebuah debaran yang asing, namun terasa sangat nyata dan menghentak pelan. Selama bertahun-tahun hidupnya hanya berputar di antara air, kompetisi, dan medali, Kenzo tidak pernah membiarkan fokusnya terganggu oleh siapa pun terutama perempuan. Tapi pagi ini, melihat bagaimana gadis di sebelahnya ini begitu menyatu dengan dunianya, ada sesuatu di dalam diri Kenzo yang mendadak luluh.

Rindu yang merasa suasana di sampingnya mendadak sunyi dari suara bariton Kenzo, spontan menoleh. "Kak? Kok diam aja? Itu Gani take-over nya telat 0,2 detik loh, gak mau ditegur?" tanya Rindu heran.

Kenzo tersentak kecil, langsung memalingkan wajahnya ke arah kolam dengan salah tingkah yang berusaha ia sembunyikan rapat-rapat. Ia berdeham berat, mencoba menguasai kembali suaranya yang mendadak serak.

"Ehem... iya, benar. Gani! Lo denger kata Asisten Coach tadi, kan?! Telat 0,2 detik itu artinya lo kehilangan podium di kancah nasional! Fokus!" teriak Kenzo ketus, melampiaskan rasa gugupnya pada Gani yang tak berdosa.

Dari dalam air, Gani hanya bisa melongo pasrah menerima amukan dadakan sang kapten, sementara Rindu yang menyadari telinga Kenzo mendadak berubah kemerahan, diam-diam menahan senyum di balik papan klipnya. Ternyata, bukan hanya dirinya saja yang sedang terombang-ambing oleh perasaan aneh pagi ini.

Sambil terus memperhatikan riak air kolam, pikiran Kenzo mendadak melayang mundur ke masa lalunya. Melihat bagaimana Rindu begitu menyatu dengan dunianya di tepi kolam ini, Kenzo tidak bisa tidak membandingkannya dengan hubungan masa lalunya yang toksik.

Kenzo akui, ketika ia bersama Tria dulu, hidupnya benar-benar dipenuhi drama dari sang mantan.

Tria tidak pernah mengerti dunianya. Mantannya itu selalu menuntut perhatian di waktu-waktu krusial, cemburu buta pada setiap atlet wanita yang satu lintasan dengannya, bahkan sering membuat keributan di tempat latihan hanya karena Kenzo telat membalas pesan teks akibat sedang berada di dalam air. Meminta barang-barang branding, dan Puncaknya adalah gosip murahan yang Tria sebar kemarin di media sosial kampus, yang hampir saja menghancurkan reputasi Rindu. Mengingat semua drama melelahkan itu membuat rahang Kenzo mengeras sesaat karena muak.

Saat Kenzo melirik kembali ke arah Rindu yang berdiri di sampingnya yang sedang sibuk mencatat waktu dengan alis bertaut serius rasa sesak di dadanya langsung menguap begitu saja. Rindu sangat berbeda. Gadis ini tidak membawa drama; ia membawa pemahaman. Sebagai sesama atlet, Rindu tahu persis arti dari sebuah dedikasi, disiplin, dan pengorbanan waktu di dalam air. Berdiri berdampingan dengan Rindu seperti ini rasanya begitu pas, seolah-olah potongan teka-teki hidup Kenzo yang selama ini hilang akhirnya bertumpu di tempat yang tepat.

"Kak Ken? Kenapa melamun lagi? Tuh, timnya udah selesai set kedua," teguran lembut Rindu membuyarkan lamunan Kenzo.

Kenzo mengerjapkan mata, menatap Rindu yang sedang menatapnya balik dengan dahi berkerut bingung. Desir aneh di dada Kenzo kembali hadir, namun kali ini disertai rasa lega yang luar biasa.

Kenzo tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang jarang ia perlihatkan pada orang lain.

"Gak apa-apa, Rin. Kakak cuma lagi mikir... ternyata punya asisten kayak kamu itu jauh lebih menenangkan daripada harus ngadepin hal-hal gak penting di luar sana."

Rindu sempat terpaku mendengar kalimat yang terdengar begitu personal itu, sebelum akhirnya ia ikut tersenyum dan membalas, "Makanya, Kak, jangan cari yang penuh drama. Cari yang siap berenang bareng-bareng di satu lintasan."

__bersambung__

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!