NovelToon NovelToon
Setelah Cerai Dokter Itu Berkuasa

Setelah Cerai Dokter Itu Berkuasa

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Dokter / Tamat
Popularitas:294.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Lestari

"
Lima tahun Naira menyusun kerajaan bisnis suaminya dari balik bayang, tapi lelaki itu malah memberikan undangan kongres penting kepada cinta lamanya. Lalu Dimas membatalkan janji menjemput ayahnya sendiri demi perempuan itu. Naira tidak berteriak. Ia hanya melepas cincinnya, mengajukan cerai, dan mengambil kembali seluruh aset yang ia bangun.

Keluarga Mahendra panik. Mereka tidak tahu bahwa Naira adalah putri tunggal Atmadja yang kekayaannya bisa membeli seluruh perusahaan mereka. Tepat saat segalanya kacau, Raka Wiratama muncul. Penguasa bisnis paling ditakuti itu bersumpah melindungi Naira dengan satu alasan: lima tahun lalu, perempuan itu menyelamatkan nyawanya. Dan Raka tidak pernah main-main soal utang nyawa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15

Serangan itu terjadi saat Naira meninggalkan hotel.

Acara gala sudah hampir selesai. Sebagian tamu masih berbincang di ballroom, sebagian lagi menunggu mobil di lobi. Naira memilih keluar lewat pintu samping karena tidak ingin bertemu kamera akun gosip yang sejak tadi menunggu di pintu utama.

Arman ingin mengantar.

Naira menolak.

"Kamu pulang dengan Prof. Hadi."

"Kak, setelah nama Cakradinata muncul, aku rasa..."

"Justru karena itu, jangan berjalan denganku kalau tidak siap."

Arman membuka mulut, lalu menutupnya. Ia mengenal nada itu. Naira tidak sedang merendahkan, ia sedang melindungi.

"Hati-hati," katanya.

Naira mengangguk.

Koridor servis hotel lebih sepi. Lampu putih, dinding krem, karpet tebal yang meredam langkah. Di ujung koridor ada pintu menuju area parkir karyawan, tempat Bagas seharusnya menunggu.

Tapi saat Naira membuka pintu, ia tidak melihat Bagas.

Yang ada hanya dua pria berjaket gelap.

Satu berdiri di dekat pilar. Satu lagi berpura-pura merokok meski di area itu jelas ada tanda dilarang merokok.

Naira berhenti.

Pintu di belakangnya tertutup pelan.

Pria yang merokok membuang rokok ke lantai.

"Dr. Naira?"

"Tergantung siapa yang bertanya."

Pria itu tersenyum. "Kami cuma mau bicara."

"Tidak ada orang yang mau bicara sambil menutup jalur keluar."

Pria di dekat pilar bergerak lebih dulu.

Naira mundur setengah langkah, bukan karena takut, melainkan untuk mengatur jarak. Tangannya masuk ke tas kecil, menyentuh pulpen logam. Bukan senjata ideal, tetapi cukup untuk mata, leher, atau pergelangan.

"Serahkan dokumen yang kamu dapat malam ini," kata pria pertama.

Naira mengerti.

Terlalu cepat.

Cakradinata sudah bergerak.

"Dokumen apa?"

"Jangan pura-pura."

"Kalau kalian bekerja untuk orang besar, setidaknya latihan dialog yang lebih baik."

Pria itu kehilangan senyum.

Ia menyerang.

Naira memiringkan tubuh, membiarkan pukulan lewat di samping wajahnya. Pulpen logam di tangannya menghantam pergelangan pria itu. Ketika ia mengaduh, Naira menendang lututnya dari samping.

Pria kedua menarik sesuatu dari balik jaket.

Pisau kecil.

Naira tidak mundur. Ia mengambil langkah ke depan sebelum pisau itu punya ruang. Sikutnya menghantam rahang pria itu, lalu lututnya naik ke perut. Pisau jatuh ke karpet.

Namun pria pertama bangkit lebih cepat dari yang ia kira.

Tangan kasar menarik rambutnya dari belakang.

Naira menahan sakit, memutar tubuh mengikuti tarikan agar lehernya tidak patah. Ia hendak menghantam wajah pria itu ketika suara dingin terdengar dari arah pintu parkir.

"Lepaskan dia."

Tiga kata.

Tidak keras.

Tapi dua pria itu langsung berhenti.

Raka berdiri di sana.

Di belakangnya, Hanif dan empat orang keamanan hotel sudah mengunci jalur keluar. Wajah Raka tenang. Terlalu tenang.

Pria yang memegang rambut Naira panik. Ia justru menarik lebih keras dan menempelkan pisau cadangan ke sisi tubuh Naira.

"Mundur!"

Raka tidak bergerak.

Matanya turun ke pisau itu.

Naira merasakan tubuh pria di belakangnya gemetar. Orang seperti ini bukan profesional sejati. Ia hanya orang bayaran yang baru sadar targetnya dijaga monster lain.

"Aku bilang mundur!" teriak pria itu.

Raka menatap Naira.

Tidak bertanya apakah ia takut.

Tidak memerintahkannya diam.

Hanya menunggu.

Naira menggerakkan jari telunjuk kanan satu kali.

Isyarat kecil.

Raka melihat.

Dalam detik berikutnya, Naira menjatuhkan tubuhnya tiba-tiba. Pisau meleset dari sisi tubuhnya. Ia menghantam kaki pria itu dengan tumit, memutar, lalu mencengkeram pergelangan tangannya.

Raka bergerak bersamaan.

Ia tidak menyentuh Naira.

Ia hanya memukul rahang pria itu dengan satu gerakan pendek yang membuat tubuh pria tersebut menghantam lantai.

Hanif dan yang lain langsung mengamankan dua penyerang.

Naira berdiri, menarik napas. Rambutnya berantakan, lengan bajunya robek sedikit, tetapi matanya tetap jernih.

Raka menatap robekan itu.

"Kamu terluka."

"Tidak."

"Kamu selalu menjawab begitu."

"Dan kamu selalu mengulang kalimat yang sama."

Hanif menunduk, pura-pura sibuk.

Raka melepas jasnya dan menyerahkannya. Lagi-lagi bukan memakaikan.

Naira menatap jas itu, lalu menerimanya karena koridor parkir dingin dan ia tidak ingin berdebat soal kain.

"Siapa mereka?" tanyanya.

Hanif menjawab, "Identitas palsu. Tapi salah satu pernah terlihat di acara internal Cakradinata Farma."

Naira menatap dua pria yang kini diborgol dengan cable tie.

"Laporkan ke polisi."

Raka berkata, "Sudah."

Naira meliriknya.

"Benar-benar lapor?"

"Aku belajar."

Jawaban itu membuat Naira diam sesaat.

Raka menatapnya. "Aku ingin mematahkan tangan mereka."

"Tapi?"

"Kamu akan marah."

"Aku akan melaporkanmu juga."

"Itu juga kupikirkan."

Naira hampir tersenyum, tetapi menahannya.

Dari arah koridor hotel, Dimas berlari masuk. Ia tampaknya mendengar keributan dari staf. Wajahnya pucat saat melihat Naira dan dua pria di lantai.

"Naira!"

Ia hendak mendekat, tetapi Raka berdiri di antara mereka.

Dimas berhenti. "Minggir."

Raka tidak bergerak.

Naira berkata, "Aku baik-baik saja."

Dimas menatap rambutnya yang berantakan, jas Raka di bahunya, dan pisau di lantai yang sedang difoto petugas keamanan.

"Ini baik-baik saja menurutmu?"

"Aku masih berdiri."

"Siapa yang melakukan ini?"

"Orang yang tidak ingin arsip ibuku dibuka."

Dimas terdiam.

Clara muncul beberapa langkah di belakang Dimas. Begitu melihat dua pria itu, wajahnya kaget. Tapi kagetnya sedikit terlambat.

Naira melihatnya.

Clara cepat berkata, "Astaga, Mbak Naira. Kamu tidak apa-apa?"

Naira tidak menjawab.

Ia hanya menatap Clara cukup lama sampai perempuan itu menunduk.

Polisi hotel datang. Hanif menyerahkan rekaman CCTV, identitas sementara, dan barang bukti. Semua terlalu rapi. Raka memang sudah menyiapkan jalur legal sebelum Naira sempat memerintah.

"Aku antar ke rumah sakit," kata Dimas.

"Tidak perlu."

"Kamu diserang."

"Aku dokter. Aku tahu kapan perlu diperiksa."

Raka menyela, "Tim medis hotel sudah menunggu. Setelah itu, dia pulang dengan mobilnya sendiri."

Dimas menatapnya benci. "Kamu mengatur semuanya?"

Raka menatap Naira dulu.

Naira tidak membantah.

Baru setelah itu Raka menjawab, "Aku memastikan dia punya pilihan."

Dimas kehilangan kata.

Pilihan.

Kata yang selama ini tidak pernah ia berikan kepada Naira.

Naira menyerahkan jas Raka kembali setelah pemeriksaan singkat. "Terima kasih."

Raka menerimanya. "Simpan sampai mobil."

"Aku bilang terima kasih, bukan minta perintah."

Raka langsung mengangguk. "Baik."

Dimas menyaksikan itu dengan dada nyeri.

Lalu ponselnya bergetar.

Rendi menelepon.

"Pak, maaf. Investor menunggu. Mereka minta kepastian soal paten malam ini."

Dimas menatap Naira yang berjalan menjauh, dikelilingi orang-orang yang bukan keluarganya tetapi lebih tahu cara menjaganya.

Untuk pertama kali, ia tidak bisa memilih Clara, perusahaan, atau ibunya sebagai alasan.

Ia hanya terlambat.

Di kantor polisi malam itu, dua penyerang menolak bicara.

Mereka mengaku hanya diminta menakut-nakuti, bukan melukai. Nama pemberi perintah tidak mereka tahu. Uang dikirim lewat rekening perantara yang baru dibuka seminggu sebelumnya.

Maya mencatat semuanya dengan wajah dingin.

Naira duduk di kursi plastik, menempelkan plester kecil di punggung tangannya. Luka itu bukan apa-apa, tapi cukup membuat Raka menatapnya seperti plester tersebut penghinaan pribadi.

"Berhenti melihat tanganku," kata Naira.

"Aku sedang memastikan."

"Dengan mata?"

"Untuk sekarang."

Maya pura-pura tidak mendengar.

Naira menerima salinan laporan, lalu berdiri. Di luar kantor polisi, hujan baru berhenti. Bau aspal basah naik.

Raka berkata, "Mereka akan mencoba lagi."

"Aku tahu."

"Kamu tidak takut?"

Naira menatap jalan gelap. "Aku takut."

Raka diam.

"Tapi aku lebih takut kalau berhenti dan membiarkan nama ibuku tetap dikubur."

Raka tidak menjawab. Ia hanya berjalan di sampingnya, lebih pelan dari biasanya.

Di depan mobil, Naira berhenti.

"Kamu tidak perlu mengantar sampai rumah."

"Aku tahu."

"Tapi kamu tetap akan mengikuti?"

"Dari jarak yang tidak membuatmu marah."

Naira menatapnya. "Jarak itu berubah-ubah."

"Aku belajar cepat."

Ia membuka pintu mobil untuk dirinya sendiri sebelum Raka bisa bergerak. Raka hanya menahan pintu luar agar tidak tertutup terkena angin, tanpa menyentuh tangannya.

Naira masuk mobil.

Ia tidak mengucapkan terima kasih lagi. Tapi ia juga tidak menyuruhnya pergi.

Raka menunggu sampai lampu belakang mobil Naira menghilang, baru membiarkan dirinya menghela napas.

Malam terasa terlalu panjang, bahkan untuk orang sesabar dirinya, dan belum selesai.

1
Priskha
ini knp sih kok diulang2 bikin bingung bacanya
Priskha
aq tadinya ngantuk berat tp setelah baca novel ini ngantukku jd ilang dan pingin baca trs krn penasaran dan senang dg tokoh wanitanya yg tegas
Priskha
baru baca sdh bikin esmosi.... lanjut thor....
SediaKala
Quotes lagi weh.. ini keren sih kata2nya
SediaKala
Mendadak jadi detektif klo baca cerita ini.. beh mantap sekali
Otak berputar terus ini
Good job author🤏
SediaKala
Quotes hari ini
Mr T
👍
Anonim
Nani heri Upitarini
semakin membaca,semakin mumet....
Nani heri Upitarini
kaku sekali bahasax....
Nani heri Upitarini
terulang LG episode sebelumx
Reni Setia
makasih untuk novelnya ya
Night Watcher
tau ah.. bingung di bab ini..
ada yg diulang2, ada dimas yg ikut nimbrung.
naira yg cucunya dilarang masuk, tp stlh bisa masuk, tau2 dimas jg ada disitu. aneh & membungungkan.
Tangsah Jagad
diulang lagi ulang lagi
Tangsah Jagad
karakter tangguh keren Dokter naira👍👍👍👍
Tangsah Jagad
mantapppp👍👍👍
Tangsah Jagad
tbah seruuuuu👍👍👍👍👍
Tangsah Jagad
smart thor👍👍👍👍
Tangsah Jagad
Clara km gak punya malu banget
Tangsah Jagad
kereeeen👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!