NovelToon NovelToon
Sumpah Pengawal Kuno

Sumpah Pengawal Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mamah Nissa

Gugur dalam tragedi berdarah di abad ke-14, jiwa Nyai Kencana—kesatria wanita Kerajaan Sunda—terlempar ke masa modern. Ia merasuki raga Citra, mahasiswi beasiswa yang nekat melompat dari jembatan demi menjaga kehormatannya dari jebakan pemerkosaan.
​Kini, Citra bangkit dengan kepribadian baru: dingin, tegap, dan menguasai ilmu kanuragan kuno. Tidak ada lagi Citra lemah yang bisa ditindas!
​Perubahan drastis Citra membuat Elang Dirgantara, pewaris tunggal konglomerat yang angkuh dan sombong, penasaran sekaligus jengkel. Hubungan mereka layaknya anjing dan kucing yang selalu bergesek konflik.
​Namun, roda takdir berputar. Keluarga Elang bangkrut total dalam semalam. Diusir, dikhianati teman-temannya, dan nyaris bunuh diri.
Bagaimana kisahnya baca terus novelnya ya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah Nissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: Malam Kelam di Tepi Aliran Sungai

Dunia tidak pernah berhenti berputar hanya karena satu orang sedang hancur. Di sepanjang trotoar jalan protokol Jakarta yang lebar dan tak ramah, Elang berjalan terseok-seok laksana sebatang lilin yang sumbunya hampir habis terbakar.

Di sekelilingnya, deru mesin kendaraan kota metropolitan bergaung memekakkan telinga, berkelindan dengan gemerlap lampu papan reklame raksasa yang memamerkan produk-produk kemewahan, benda-benda yang hingga kemarin siang masih dianggap Elang sebagai bagian dari dekorasi harian hidupnya yang sempurna.

Kini, kilau lampu-lampu neon itu terasa begitu mengejek, memproyeksikan bayangan tubuhnya yang kurus dan kuyu di atas semen trotoar yang dingin.

Setiap embusan angin malam yang membawa bau gas buang knalpot terasa menusuk hingga ke dalam tulang rusuknya. Elang mencengkeram lengan atasnya sendiri, mencoba mengusir rasa menggigil yang mulai menyerang sistem sarafnya. Tenggorokannya terasa teramat kering, terbakar oleh rasa haus yang mencekik seiring dengan langkah kakinya yang tak tentu arah.

Di dalam saku celananya, dompet kulitnya yang mahal kini tak lebih dari sekadar pajangan tak berguna; tidak ada selembar uang tunai pun yang tersisa di sana bahkan untuk sekadar membeli sebotol air mineral dari pedagang asongan yang ia lewati.

Sembari kakinya terus melangkah tanpa navigasi, kepalanya dipadati oleh gelombang ingatan yang datang bertubi-tubi bagai hantu yang menuntut balas. Suara tawa mengejek Wijaya Samudra yang menggema tinggi di selasar kampus berputar konstan di dalam ruang dengarnya, berbaur dengan tatapan mata Natasha yang dingin dan sarat akan rasa jijik.

“Lo gak lebih dari sekadar sampah yang harus merangkak di bawah kaki gue...”

Kalimat-kalimat intimidasi itu berkejaran dengan rasa penyesalan yang mendalam yang mendadak menyeruak dari lubuk batinnya. Elang teringat bagaimana selama ini ia memperlakukan orang-orang di sekitarnya dengan keangkuhan yang bebal, teringat bagaimana ia meremehkan Citra hanya karena status sosial, dan teringat betapa manjanya ia sebagai seorang pria yang selalu berlindung di balik ketiak kekayaan sang kakek. Kesadaran itu menghantam mentalnya dengan telak: tanpa nama besar Dirgantara, dirinya ternyata hanyalah sesosok raga yang kosong, lemah, dan tidak memiliki arti apa pun di tengah belantara beton ini.

Harapan terakhir Elang patah sepenuhnya ketika ia memaksakan langkah kakinya untuk mencapai kompleks perumahan elite di kawasan Jakarta Selatan, tempat di mana mansion megah keluarganya berdiri. Namun, pemandangan di depan matanya justru menyajikan hantaman realitas yang paling mematikan.

Gerbang besi tinggi bertatahkan ukiran kuningan yang biasanya terbuka lebar menyambut kedatangan mobil sportnya, malam ini tertutup rapat dan terkunci oleh rantai besi raksasa. Di bagian tengahnya, selembar papan segel putih besar berlogo pengadilan niaga terpasang dengan tegap, lengkap dengan garis kurator kuning yang melintang, menegaskan status penyitaan aset secara mutlak. Rumah itu tampak gelap, sunyi, dan mati.

Elang mencoba menggedor gerbang tersebut beberapa kali hingga telapak tangannya memar, namun tidak ada jawaban. Ayahandanya, Bramantyo, entah telah pergi ke mana untuk menyelamatkan diri dari kejaran para kreditor, meninggalkan Elang yang kini benar-benar terputus dari setiap akar kehidupannya.

Putus asa, Elang berjalan menuju sebuah kompleks apartemen studio kecil di pinggiran kawasan tersebut, tempat ia biasa menyewa kamar cadangan atas namanya untuk sekadar berkumpul bersama teman-temannya. Tetapi, baru saja ia menginjakkan kaki di lobi, petugas keamanan dan pengelola gedung telah mencegatnya dengan tatapan mata yang tak lagi ramah.

"Maaf, Mas Elang," ujar pengelola gedung dengan nada dingin, menyodorkan lembar tagihan berjalan. "Sesuai perintah dari kurator bank yang datang sore tadi, seluruh unit atas nama keluarga Dirgantara telah diblokir penggunaannya. Barang-barang pribadi Mas sudah kami kemas di dalam kardus di gudang belakang. Silakan ambil, tapi Mas tidak bisa masuk ke kamar lagi sebelum ada pelunasan tunai untuk biaya administrasi yang tertunggak."

Kata-kata itu laksana palu hakim yang mengeksekusi sisa-sisa eksistensi Elang sebagai manusia terhormat. Ia diusir tanpa ampun, diusir dari setiap ruang yang pernah memanjakan raganya.

Saat ia kembali melangkah keluar ke jalanan dengan tangan hampa, langit Jakarta yang sedari tadi menggantung kelabu pekat akhirnya pecah berantakan.

Guntur menggelegar dahsyat, membelah angkasa, disusul oleh curahan air hujan yang teramat deras yang langsung menghantam bumi dengan irama yang menggila. Dalam hitungan detik, pakaian Elang basah kuyup, melekat ketat di tubuhnya yang mulai gemetar hebat karena kombinasi rasa dingin yang ekstrem, kelaparan yang menyiksa, dan kelelahan fisik yang berada di ambang batas toleransi tubuh manusia.

Kota metropolitan ini telah menutup seluruh pintunya untuk sang mantan pangeran, meninggalkannya menjadi seorang gelandangan telanjang di bawah amukan badai malam.

*

Di bawah guyuran hujan yang kian menderu keras laksana cambuk yang menghantam punggungnya, Elang berjalan terseok-seok, membiarkan sepasang kakinya yang mati rasa menuntunnya melintasi trotoar jembatan beton raksasa yang membentang di atas aliran sungai utama kota.

Suara deru angin malam berpadu dengan gemuruh air hujan yang menghantam permukaan aspal, menciptakan kebisingan konstan yang meredam seluruh sisa-sisa kewarasannya.

Elang menghentikan langkahnya di tengah-tengah jembatan. Tubuhnya bergoyang tidak stabil, berpegangan pada besi pembatas jembatan yang terasa sedingin es. Ia melongokkan kepalanya ke bawah, menatap lurus ke arah aliran sungai yang berada sepuluh meter di bawah posisinya berjalan.

Arus sungai di bawah sana sedang meluap hebat, menggulung-gulung dalam pola pusaran yang hitam, pekat, berlumpur, dan memancarkan aura kematian yang teramat pekat. Suara hantaman air sungai yang menabrak fondasi tiang jembatan terdengar laksana lolongan makhluk gaib yang sedang memanggil namanya untuk segera turun beristirahat.

Air matanya, yang terasa hangat selama sekejap, keluar membanjiri pelupuk matanya sebelum akhirnya melebur dengan aliran air hujan yang terus membasahi seluruh wajahnya yang pucat. Rongga dadanya naik-turun dengan cepat, sesak oleh rasa sakit psikologis yang tak lagi mampu ditampung oleh batin mudanya.

Gue udah kehilangan segalanya...Jerit batin Elang bergema dalam kehampaan mentalnya yang hancur total. Gak ada lagi rumah, gak ada lagi masa depan, gak ada lagi harga diri. Semua orang yang kemarin tertawa bersama gue, hari ini menginjak-injak kepala gue di atas lantai kotor. Gue cuma sampah... gue cuma beban yang gak berguna buat siapa pun.

Pikiran tentang kematian mendadak terasa begitu manis dan menawarkan kedamaian di telinganya. Jika ia melompat ke dalam gulungan air hitam di bawah sana, semua rasa perih di dadanya akan berhenti dalam hitungan menit. Ia tidak perlu lagi menghadapi wajah congkak Wijaya Samudra esok pagi, tidak perlu lagi menahan rasa lapar yang memotong perutnya, dan tidak perlu lagi menanggung beban visual dari keruntuhan takhta Dirgantara.

Kematian adalah satu-satunya jalan keluar yang tersisa bagi seorang pecundang yang tidak tahu cara bertarung dari dasar tanah.

Dengan gerakan yang lambat namun digerakkan oleh tekad keputusasaan yang mutlak, Elang mengangkat kaki kanannya, menapakkan sol sepatu ketsnya yang basah ke atas bilah besi pembatas jembatan. Pakaiannya yang berat karena air hujan mempersulit gerakannya, namun ia mengabaikan rasa lelah tersebut. Ia memanjat pagar pembatas jembatan secara perlahan, berdiri tegak di atas tepian beton tipis yang berada di sisi luar pagar.

Kini, tidak ada lagi penghalang antara raga Elang Dirgantara dan gulungan arus maut di bawah sana.

Angin badai yang bertiup kencang menerbangkan rambut hitamnya yang kusut, mengaburkan pandangannya terhadap dunia luar. Elang melepaskan cengkeraman tangan kirinya dari bilah besi pembatas jembatan, menyisakan jemari tangan kanannya yang memegang ujung logam dengan sangat longgar. Ia menutup kedua matanya rapat-rapat, menarik napas panjang terakhirnya yang terasa teramat dingin di dalam tenggorokan.

Tepat pada detik ketegangan tertinggi itu, jemari tangan kanan Elang perlahan-lahan mulai membuka, melepaskan pegangan terakhirnya dari besi pembatas jembatan. Tubuhnya yang lunglai mulai condong ke depan, ditarik oleh gaya gravitasi bumi yang kejam, bersiap untuk jatuh bebas menuju kegelapan pusaran air hitam di bawah sana demi mengakhiri semua penderitaan hidupnya.

Bersamaan dengan condongnya raga sang mantan pangeran, petir raksasa menyambar dengan suara menggelegar dahsyat, membelah langit malam Jakarta yang kelabu pekat, menjadi saksi bisu dari detik-detik akhir jatuhnya sang elang dari takhta tertingginya menuju keabadian yang sunyi.

1
Darma
hik kasihan citra
Apis
thor sebenernya ceritanya bagus tp gmn ya bnyk kata" yg g sat set ke inti jln ceritanya
Mamah Nissa: siap kk di bab awal lebih banyak bercerita, sedikit dialog ya. makasih sarannya kak, ini tanggung di draft udah sampe bab 32. bab 33 ke sana coba dibikin yang lebih simple.
total 1 replies
Sarah
Woahh, bab 1 yang keren. Meskipun kadang paragraf kerasa tetlalu panjang. Tapi masih enak diliat sih. 👍
Mamah Nissa: Makasih kakak sudah mampir mohon bimbingannya...
total 1 replies
Mamah Nissa
siap kk. makasih dah mampir mohon bimbingannya
putratunggal
mantaps ceritanya meski baru awal
Mamah Nissa: makasih kak mohon bimbinganya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!