Ren Damaris, seorang pria tampan dan sukses, memutuskan memilih Edelia Lavendra untuk dinikahi demi menjaga nama baik keluarga dan menutupi rahasia terbesar dalam hidupnya. Edelia terpaksa menerima pernikahan itu untuk membahagiakan kedua orangtuanya.
Tetapi setelah menikah, Edelia menemukan fakta yang mencengangkan di balik pernikahannya. Meski begitu, Edelia tak bisa mengakhiri pernikahan itu begitu saja. Ada sesuatu pada diri Ren yang membuat Edelia merasa harus mempertahankan pernikahan itu.
Apa yang membuat Edelia bertahan? Simak kisah selengkapnya dalam Di Balik Lavender Marriage!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Debaran Aneh
"Waaah... Udah jam segini. Tuan Muda pasti lapar. Saya masak sebentar," kata Lia sambil meletakkan tas belanjaan dan tasnya sembarangan lalu menggulung rambutnya asal dan menaikkan lengan bajunya begitu saja. Ren meletakkan kardus belanjaan mereka di lantai ruang tamu.
"Kita bisa pesan makanan. Anda tak perlu selalu repot memasak," kata Ren. Lia membalikkan badannya, tak percaya.
"Tuan Muda bisa pesan makanan via online?" tanya Lia sambil berjalan mendekat ke arah Ren, membuat Ren mengangkat kedua alisnya.
"Tentu saja. Apa susahnya?" tanya Ren, heran.
"Mmm... Saya kira, tuan muda seperti Anda anti makan makanan pesan antar," kata Lia sambil tersenyum.
Ren duduk di sofa ruang tamu sambil sibuk mengusap layar ponselnya.
"Anda mau pesan apa?" tanya Ren pada Lia.
"Hm?"
Lia reflek membungkuk dari belakang sofa yang Ren duduki sambil menatap layar ponsel Ren, membuat jarak wajah Lia dan Ren begitu dekat. Ren menoleh, menatap wajah Lia yang hanya beberapa senti dari wajahnya.
"Saya nasgor ayam aja, Tu..." kalimat Lia terhenti saat menyadari Ren tengah menatapnya begitu dekat.
"Ehem... nasgor ayam satu," kata Lia sambil berdiri dan berlalu menuju tas belanjaannya yang dia letakkan sembarang.
Lia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan jantungnya yang mendadak berdebar hebat. Tanpa Lia sadari, Ren tengah menyentuh dadanya, merasakan degupan yang sudah lama tak pernah dia rasakan. Ren menarik napas dalam-dalam, lalu kembali fokus pada menu di layar ponselnya.
Setelah memesan satu porsi nasi goreng ayam dan satu porsi nasi goreng seafood, Ren beranjak dari sofa dan berjalan menuju kamarnya. Lia menatap Ren yang berlalu begitu saja.
Begitu pintu kamar Ren ditutup, Lia langsung menjatuhkan tubuhnya yang lemas karena detak jantungnya yang belum juga tenang sedari tadi.
"Tenang, Lia, tenang. Kamu cuma kaget aja," gumam Lia sambil mengelus dadanya perlahan.
Seketika tatapan tajam Ren kembali melintas di pikiran Lia. Jantung Lia kembali riuh. Lia memejamkan matanya rapat-rapat sambil memeluk bantal kursi berbentuk hati yang dia beli tadi.
"Anda baik-baik saja?" tanya Ren tiba-tiba, membuat Lia terkejut.
"Eh? Oh... A-ah, ya, Tuan, saya baik. Cuma sedikit capek aja," kata Lia, sambil duduk dan meringis, menutupi rasa malunya.
"Saya udah pesan. Nanti kalau dateng. Saya mau mandi dulu," kata Ren pada Lia, datar seperti biasa. Lia mengangguk sambil tersenyum.
Tubuh Lia kembali merosot setelah memastikan Ren masuk ke kamarnya dan tak keluar lagi.
'Aku kenapa jadi salting gini sih?'
***
Ren masuk ke kamarnya. Dia masih berdiri di belakang pintu. Dia meraba jantungnya. Masih berdetak hebat. Bayangan wajah Lia saat memeluk bantal berbentuk hati sambil memejamkan wajahnya tiba-tiba terasa begitu menggemaskan bagi Ren.
Seketika Ren tersadar. Ada sesuatu yang aneh dan membingungkan dalam dirinya. Selama dua belas tahun dirinya menutup diri dari wanita. Tak ada satupun wanita yang melewati batas pertahanan hatinya. Dan kini, setelah dua belas tahun tanpa sosok wanita di sampingnya, jantungnya berdenyut hanya dengan menatap wajah Lia dari dekat, lebih dari saat dirinya memegang tangan Vio waktu remaja dulu.
"Tunggu. Jadi? Perasaan apa ini? Lalu perasaanku pada Arka?" gumam Ren, bingung.
Ren berjalan menuju kamar mandi lalu mencuci wajahnya dan menatap pantulan dirinya di cermin.
"Apa maksudnya? Aku suka dua-duanya? Itu bahkan lebih menjijikkan," gumam Ren lalu kembali membasuh wajahnya.
Sementara itu, di ruang tamu, Lia memutuskan menyibukkan diri menata ulang perabotan dan menambahkan pajangan-pajangan yang dibelinya bersama Ren untuk mengalihkan pikirannya dari debaran yang ditimbulkan dari tatapan Ren.
"Um! It's better," gumam Lia sambil menatap hasil dekorasinya. Kini ruang tamu dan ruang tengahnya terasa lebih hidup. Lia tersenyum puas.
Bel pintu apartemen berbunyi. Lia segera membuka pintu untuk mengambil delivery order yang dipesan Ren. Aroma nasi goreng yang menusuk hidung Lia seolah memberikan sinyal pada perutnya yang seketika itu juga berbunyi.
Lia menyiapkan dua piring kosong dan menunggu Ren di meja makan sambil memutar lagu yang akhir-akhir ini terngiang di kepalanya: L'Arc~en~Ciel - Dearest Love.
Lia bersenandung mengikuti lagu yang sedang diputarnya sambil berselancar di akun media sosial, melihat berita apa yang sedang viral —selain berita pernikahannya, tentu saja.
"Sepertinya lagu itu lagu favorit Anda," komentar Ren yang sudah menarik kursi di hadapan Lia.
"Eh? Oh! One of. Entah mengapa akhir-akhir ini terngiang di kepala," kata Lia sambil mematikan music playernya lalu bersiap membuka bungkus nasi goreng.
"Kenapa dimatikan?" tanya Ren.
"Eh? Yaaa... saya rasa setiap orang memiliki preference masing-masing. Dan saya cukup tahu diri kalau music preference saya memang sedikit berisik atau bahkan mengganggu ketenangan publik," kata Lia sambil menuangkan nasi goreng ayam ke piring kosong yang disediakannya.
"Mainkan saja. Saya tidak masalah," kata Ren sambil melirik ponsel Lia.
Lia menaikkan kedua alisnya lalu mengambil ponselnya dan menekan tombol play pada music playernya, ragu-ragu. Lia meletakkan kembali ponselnya di atas meja lalu membuka bungkus nasi goreng kedua.
"Rasanya... lagu ini cukup menyayat hati," komentar Ren. Lia tersenyum sambil menyodorkan nasi goreng seafood milik Ren.
"Memang. Secara keseluruhan, lagu ini menceritakan tentang pedihnya suatu hubungan asmara," kata Lia sambil menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutnya. Ren menaikkan kedua alisnya.
Selama dua hari ini Ren tak tahu apapun tentang Lia selain latar belakang pendidikannya. Tiba-tiba, muncul rasa penasaran dalam diri Ren tentang bagaimana kisah asmara Lia —pernahkah dia menjalin hubungan asmara, kriteria pria idaman, atau... pernahkah dia melakukan hal yang pernah Vio lakukan dengan Rowan.
"Yaaah... Meskipun saya sendiri belum pernah pacaran sebelumnya, tapi lagu ini benar-benar memberi efek sedih saat mendengarnya," kata Lia sambil mematikan music playernya. Ren menatap Lia dalam diam.
"Hm? Ada yang salah, Tuan Muda? Nasi goreng Anda nggak enak?" tanya Lia, bingung mengapa Ren menatapnya begitu tajam. Ren mengerjapkan matanya, tersadar dari lamunannya.
"Tidak. Hanya saja sulit bagi saya mempercayai wanita seperti Anda belum pernah menjalin asmara dengan pria manapun," kata Ren sambil menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutnya. Lia tersenyum.
"I had a crush. Back then," kata Lia sambil terus memakan nasi gorengnya. Ren berhenti makan, menatap Lia.
"Tapi, saya ditolak bahkan sebelum saya sempat menyatakan perasaan saya. What a tragedy!" lanjut Lia sambil tersenyum kecut.
Ren masih menatap Lia yang terus menyendokkan nasi goreng ke mulutnya. Ren menangkap kilatan luka di mata Lia.
'Seperti apa pria yang pernah dia sukai?'
***