NovelToon NovelToon
Saat Istriku Setuju Bercerai

Saat Istriku Setuju Bercerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyelamat
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Yunus

Gavin tidak menyangka istri yang dulu berbuat licik demi menikah dengannya, Tiba-tiba setuju bercerai.

Dua tahun menikah dengan rasa dendam, Gavin tidak pernah benar-benar mengenal sosok Azalia, ah, lebih tepatnya tidak peduli.

Perceraian yang dinanti itu akhirnya akan segera terwujud. Gavin sudah tidak sabar menunggu kedatangan kekasihnya yang dulu pergi karena dirinya terpaksa menikah.

Lantas apakah perceraian yang dinanti Gavin akan benar-benar terwujud?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Usaha Azalia

"Kenapa kok malah membawaku pergi? Aku ingin bertemu dengan Gavin, Alvin." Renata bertanya sembari memasang sabuk pengamannya.

Di balik kemudi Alvin hanya memberi senyuman kecil pada Renata. Sementara pandangannya tidak bergerak, mengamati jendela apartemen Gavin.

Sampai berlalu beberapa detik, Alvin baru membuka mulut. Suaranya rendah dan hati-hati. "Bukan waktu yang tepat untuk menemui Gavin sekarang. Dia sedang ada urusannya sendiri."

Renata menghentikan semua gerakannya. Perlahan mengangkat kepala, melihat Alvin yang menatapnya serius. "Alvin, apa Gavin sedang ada masalah?"

Renata menarik napas panjang. "Meskipun ini pertama kalinya aku kembali, tapi kita sudah sering bertemu dan berteman sejak lama. Ada sesuatu yang berbeda denganmu, dan aku bisa melihatnya." Tambah Renata sedikit perhatian.

Alvin memasang wajah tenang. "Aku merasa tidak ada yang berbeda."

Tapi Renata tidak percaya. "Ya, kau berbeda, dan berusaha menyangkalnya. Jika ini kau yang biasanya, kau pasti akan mendorongku pada Gavin dengan alasan apa pun. Tapi sekarang, saat aku sudah tiba di apartemennya, kau malah mendorong ku keluar dan membawaku bersamamu. Apa yang terjadi, Alvin? Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan dariku?"

Alvin meneguk ludah. Ia tahu Renata pasti akan menyadari ini, tapi dia tidak bisa membiarkan Renata mengusik Gavin dan Azalia di dalam.

Jadi yang bisa dia lakukan hanya melebarkan senyum, seolah tidak ada sesuatu yang terjadi. "Sudah kukatakan padamu, tidak ada gunanya menemui Gavin sekarang. Saat tadi aku keluar, dia sudah bersiap untuk pergi. Ada urusan kantor yang mendesak, lagi pula kau masih memiliki banyak waktu untuk menemui Gavin nanti."

Alvin tidak suka berbohong, tapi dia terpaksa melakukannya. Dan lucunya, dia berbohong demi perempuan yang dulu teramat sangat dibencinya. Azalia.

"Jika benar tidak ada apa-apa, apa benar kau ada bersama Gavin dan Azalia?"

Wajah Alvin menjadi sedikit kaku saat mendengarnya.

"Kenapa? Kau mau berbohong lagi?" Renata meletakkan tasnya di dasbor mobil agak keras. Pandangannya berubah dengan tatapan curiga pada Alvin. "Anak buah Gavin yang kau kirim kemarin yang mengatakannya. Dia mengatakan kalau Gavin dan kau sibuk menjaga Azalia."

Alvin merasa dadanya berdegup lebih keras.

Lalu Renata menegakkan tubuhnya. "Aku percaya padamu, Alvin. Jadi aku akan bertanya padamu, apakah benar kalian menjaga Azalia?"

Bagaimana jika dia mengatakan iya?

Renata pasti akan kecewa padanya.

Pada akhirnya, Alvin berkata, "Kebetulan kemarin Azalia ketemu, aku membantu kakakku untuk menjaganya, perceraian mereka akhir minggu ini sah, Gavin hanya tidak mau kalau Azalia melarikan diri dengan sengaja. Itu saja!"

Renata meneliti wajah Alvin. "Kau tidak sedang berbohong padaku, kan?"

"Apa selama ini aku pernah membohongimu?"

Untuk beberapa saat, Renata masih memandangnya dengan curiga. Tapi setelah itu dia menarik napas dalam, menyandar lagi ke kursinya. "Jadi.... Perceraian mereka akan segera sah?" Bibir Renata akhirnya mengulas senyum.

"Seharusnya seperti itu. Jika kau ingin kepastiannya, sebaiknya kau membicarakan sendiri dengan Gavin."

Tapi karena ucapannya itu juga, niat Renata untuk menemui Gavin tidak bisa dibengkokkan lagi. Alvin tidak bisa menahannya. Dia tidak memiliki alasan untuk menahan Renata di sisinya.

Mungkin sudah waktunya Gavin menyelesaikan masalah di antara mereka, Gavin harus bertanggung jawab atas pilihannya.

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

Abu mengetuk pintu sebelum masuk. Saat dia melihat Azalia duduk di dekat jendela dengan setangkai mawar dan gunting di tangannya, dia melangkah lebih dekat.

Cahaya siang yang terang menyinari wajah pucat Azalia, sementara tangannya yang memegang gunting bergerak perlahan, berulang kali berusaha menggunting bagian daun yang akan di potong.

Abu mendekat, suaranya lembut seperti biasa. "Nyonya, apa Anda sedang merangkai bunga?"

Azalia menoleh perlahan. Senyumnya samar, tapi matanya tampak kosong sesaat sebelum dia kembali fokus ke gunting di tangannya.

"Ini.... Bunga kesukaan Gavin. Aku ingin merangkai untuknya. Seharusnya ini selesai sebelum dia datang, aku ingin memberi Gavin sesuatu sebelum bercerai, tapi kata Gavin perceraian kita sudah lama batal. Meski begitu aku tetap ingin memberikannya karena ini sudah hampir selesai."

Abu memperhatikan tangan Azalia yang terdapat beberapa goresan, sebagian duri melukai tangan Azalia. Biasanya, perangkai bunga yang terampil tidak akan seberantakan ini. Abu lalu melihat cara Azalia memegang gunting tangannya gemetaran, gerakannya kaku, dan beberapa kali mencoba memotong daun tapi tidak terpotong.

Abu dengan hati-hati bertanya, "Anda sudah lama tidak merangkai bunga, Nyonya ?"

Azalia diam sejenak. Matanya sedikit menyipit, seolah-olah dia mencoba mengingat sesuatu. Namun, setelah beberapa detik berlalu, dia hanya tersenyum kecil.

"Entahlah. Aku rasa begitu."

Abu duduk di kursi seberang, memperhatikan dengan lebih seksama.

"Boleh saya bantu sebentar?" Suara Abu lembut dan hangat, tapi juga terdengar serius.

Azalia menatapnya, lalu menyerahkan beberapa batang bunga itu. Dan Abu benar-benar membantu Azalia memangkas dan merangkai bunga untuk Gavin.

Setelah selesai. Dengan hati-hati Abu berkata, "Mungkin Anda bisa istirahat sebentar, Nyonya. Memegang gunting terlalu lama bisa melelahkan tangan." Bukan tanpa alasan Abu berkata demikian, karena dia bisa melihat jari-jari Azalia gemetaran.

Azalia menunduk, seolah-olah baru menyadari bahwa jarinya terasa sedikit sakit. Dia mencoba membuka genggamannya dari gunting, tapi gerakannya tampak lambat dan sulit, seolah otaknya membutuhkan waktu lebih lama untuk memberi perintah pada tangannya.

"Tanganku... Agak sulit bergerak." Keluhnya lirih.

Abu menatapnya, matanya menyerahkan kepedulian tanpa rasa kasihan yang berlebihan.

"Mungkin karena Anda terlalu fokus. Kadang, kalau terlalu lama menggunakan tangan, otot-otot bisa tegang. "Aku berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Bagaimana kalau saya buatkan teh hangat? Anda bisa beristirahat sejenak, rangkaian bunga ini sudah jadi. Tuan Gavin pasti akan sangat menyukainya."

Azalia menatap Abu, seolah ragu antara menerima saran itu atau memaksakan diri menunggu sampai Gavin datang. Tapi akhirnya, dia mengangguk pelan.

"Boleh. Tapi aku alergi teh, jadi aku ingin meminum sesuatu selain itu."

Abu mengeryitkan kening. Setahunya, Gavin lah yang alergi dengan teh, sementara Azalia tidak. Tapi Abu tak mengatakan apa-apa, ia lantas tersenyum. "Saya akan segera kembali dengan susu hangat. Anda tunggu di sini, Nyonya."

Saat dia melangkah pergi, Abu sesekali lagi melirik ke arah tangan Azalia yang masih terlihat kaku, dan dia tahu bahwa ini bukan sekedar kelahan biasa. Dia menghela napas pelan sebelum keluar, memutuskan bahwa dia perlu memberitahu Gavin tentang kondisi ini, karena sepertinya keadaan Azalia semakin memburuk.

Setelah membuat susu hangat untuk Azalia, Abu berdiri di ambang pintu dapur, mengamati para pelayan yang sibuk menyiapkan makan siang.

Perintah Gavin tadi pagi masih terngiang di kepalanya. Menu Azalia harus bernutrisi, tidak boleh terlalu berminyak, dan porsinya harus cukup untuk membantu tubuhnya pulih.

"Pastikan pakai sayuran organik untuk Nyonya. Jangan terlalu banyak bumbu, tapi pastikan rasanya tidak hambar. "Abu berkata dengan tegas, tapi nadanya tenang dan teratur.

Salah satu juru masak mengangguk sambil menata hidangan. Semua makanan dibuat dengan takaran garam yang pas tidak terlalu asin, tidak terlalu kuat, tapi tetap lezat.

Beberapa saat kemudian, meja makan di ruang makan pribadi telah disiapkan. Piring dan mangkok porselen tertata rapi, uap hangat masih mengepul dari sup dan nasi, aroma lembut ikan panggang tercium samar.

Abu melangkah ke kamar Azalia dan mengetuk pintu dengan lembut.

"Nyonya, makan siangnya sudah siap. Anda bisa keluar sekarang."

Pintu terbuka. Azalia keluar dari sana dengan wajah berseri-seri. "Apa Gavin sudah pulang? Dia berkata kalau dia akan pergi sebentar, kan? Apa aku melupakan sesuatu?"

"Tidak, Nyonya. Tuan memang berkata jika dia akan pergi sebentar."

"Di mana dia? Aku ingin menunjukkan rangkaian bunga mawar tadi untuknya."

1
Vie
ah akhirnya bisa update juga kak... 👍👍👍
Hani Ekawati
Bagus beri pelajaran buat orang orang serakah itu, orang tua yang tidak punya hati nurani terutama Marta. Demi bisa hidup mewah dia sampe menjual putrinya sendiri.
Hani Ekawati
Dasar kamu seorang ibu yang tidak punya hati
Bela Viona
rasakno
Hani Ekawati
Itu si Marta ibu yang tidak punya hati, anaknya sakit tapi tidak peduli sama sekali. Dan Gavin sepertinya sudah ada getar cinta atau hanya sebatas rasa iba.
Setyowati Setyowati
kapokmu kapan mahesa
Vie
yaaa padahal seru ceritanya.... lagi seru2 nya kak... 😭😭😭
Vie
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Vie
hadiah yang tidak akan pernah bisa mereka lupakan.. 🤭🤭🤭
Vie
ya.. ya... ya... dalam mimpi mu kali ya.... 😝😝😝
Vie
ya harusnya kamu lebih berpikir lagi dengan jernih.... walau bagaimanapun dia sudah menikah, dan kalau kamu berada diposisi azalia, apakah kamu akan menerimanya begitu saja. melepaskan suami demi kembali bersama masa lalunya???
Vie
nah gitu dong kamu harus tegas dalam memilih suatu hubungan karena jelas kamu sudah memiliki seorang istri yang sangat mencintaimu, hanya saja kamu yang tidak bersyukur dan malah menyia2kan waktu saat bersamanya....
Vie
sok lah bawa dia berobat sampai sembuh total dan mendapatkan kebahagiaan
Vie
nah kan seperti hati kamu sekarang pada azilia. walau sebenarnya sudah terlambat karena waktu untuknya tidak akan lama lagi. isilah waktu yang tersisa itu dengan semua kebahagiaan untuk azilia....
Vie
bukankah kamu seperti menyindir diri sendiri ya??? 🤭🤭🤭🤭 karena hal itu seperti yang terjadi dalam hidup kamu.... 🤭🤭
Vie
ya siapapun pasti akan sangat hancur bila tau keadaannya seperti ini, terus dia merasa hanya dikasihani setelah apa yang dulu Gavin lakukan padanya.... itu wajar sih.... karena ini menyangkut nyawanya yang mungkin tinggal menunggu waktu akan menjemputnya... 😭😭😭😭
Bela Viona
ntah akan ad keajaiban kesembuhan azalia atau hanya tinggal kenangan tentang Azalia.
kalaupun azalia tinggal kenangan,please thor..tinggal kn lh kenangan Azalia bersama Gavin berupa sosok seorang bayi mungil. anak mereka.
kalau pun ad kerajaan, sembuhkan lh azalia. nth dgn pencangkokan ginjal atau bangun lgi setelah koma..
Bela Viona: aku lagi sedih lho 😭
total 2 replies
Rahma Inayah
mmg ya si Marta GK tau malu
Kar Genjreng
perih ya ketika sedang mengharapkan kedatangan nya selalu di anggap pura pura atau hanya sedang bermain drama,,, padahal sedang menahan lara luar biasa,,, sekarang bagitu terlanjur bsekarat baru lah percaya,,,ya semoga bergerak cepat siapa tau ada keajaiban,,😭😭
Dew666
💎💎💎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!