NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Sang Pewaris Ranch

Terjerat Cinta Sang Pewaris Ranch

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Showbiz
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: velvetsky

Ellara Dawson adalah gadis desa yang bekerja sebagai perawat kuda di Blackwood Ranch, peternakan kuda terbesar dan paling bergengsi di negara bagian itu. Hidupnya sederhana hingga kedatangan Noah Blackwood, pewaris tunggal kerajaan ranch bernilai miliaran dolar.

Noah sudah memiliki kekasih resmi, Bianca Laurent, seorang sosialita cantik yang dipersiapkan menjadi nyonya Blackwood. Namun takdir terus mempertemukan Noah dan Ellara. Dari jalur berkuda di hutan pinus, danau pribadi ranch, hingga malam-malam panjang di arena latihan kuda, keduanya perlahan menjadi semakin dekat.

Ketika cinta mulai tumbuh, Ellara sadar satu hal dia hanyalah pekerja biasa. Sedangkan Noah adalah pria yang sudah menjadi milik wanita lain.

Di balik kisah cinta mereka, tersimpan rahasia keluarga Blackwood yang bisa menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon velvetsky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bermalam di Pondok Tua (21+)

Pondok tua itu tidak besar, hanya bangunan kayu sederhana yang berdiri di salah satu bukit tertinggi Blackwood Ranch. Dari luar, bangunannya tampak tua. Namun masih kokoh menghadapi badai yang mengguncang perbukitan Kentucky malam itu.

Hujan menghantam atap tanpa henti. Angin menderu di antara pepohonan pinus. Sementara di dalam pondok, Noah sibuk menyalakan perapian. Beberapa menit kemudian, nyala api mulai membesar. Kehangatan perlahan memenuhi ruangan. Ellara mengembuskan napas lega.

"Tidak pernah terpikir aku akan senang melihat perapian tua."

Noah tersenyum tipis.

"Aku juga tidak pernah berpikir akan terjebak badai hari ini."

"Itu salah kudaku."

Begitu tubuh mulai menghangat, mereka menyadari masalah sebenarnya. Pakaian mereka basah kuyup.

Dress Ellara menempel karena air hujan. Begitu pula jaket Noah. Sepatu mereka bahkan masih meneteskan air ke lantai.

Noah membuka lemari tua di sudut ruangan. Ia mencari sesuatu yang mungkin bisa membantu. Pakaian cadangan, jaket atau apa saja namun hasilnya nihil. Yang ada hanya beberapa perlengkapan darurat dan satu selimut tebal.

"Sial."

Ellara menoleh, "Ada apa?"

Noah menutup lemari. "Hanya ada satu selimut."

Ellara berkedip. "Satu?"

"Satu." Itu tidak membantu."

Mereka saling menatap. Lalu bersamaan menghela napas. Beberapa saat kemudian Noah memecah keheningan.

"Ellara."

"Hm?"

"Kau harus melepas pakaian basahmu."

Ellara langsung membeku.

"Apa?"

Noah segera mengangkat kedua tangan.

"Di kamar."

Wajah Ellara memerah.

Noah berdeham pelan.

"Maksudku, pakaian basah akan membuatmu sakit."

"Itu cara yang sangat buruk untuk mengatakannya."

"Aku menyadarinya."

"Kau benar-benar buruk dalam situasi seperti ini."

"Aku biasanya tidak terjebak badai bersama seorang wanita."

Ellara menahan tawa, entah mengapa melihat Noah kehilangan ketenangannya terasa menghibur. Pria yang selalu tampak percaya diri itu sekarang terlihat sangat tidak nyaman.

Noah menyerahkan selimut itu kepada Ellara. "Kau gunakan ini."

Ellara menerimanya, tetapi langsung mengernyit. "Lalu kau bagaimana?"

"Aku akan baik-baik saja."

"Itu bukan jawaban."

Noah menghela napas pelan. "Aku akan duduk dekat perapian sampai pakaianku kering."

Ellara melirik selimut tebal di tangannya, lalu menatap Noah yang masih mengenakan pakaian basah.

"Itu terdengar tidak masuk akal."

"Noah Blackwood jarang masuk angin."

"Dan Ellara Dawson tidak percaya itu."

Sudut bibir Noah terangkat tipis.

Keheningan singkat muncul di antara mereka.

Kemudian, tanpa berpikir panjang, Ellara berkata,

"Atau..."

Noah mengangkat alis. "Atau?"

Ellara langsung menyesali pertanyaannya sendiri.

"Pakai satu selimut bersama?"

Begitu kalimat itu keluar, wajahnya langsung memanas.

"Aku tidak bermaksud seperti itu!"

Noah menatapnya beberapa detik sebelum terkekeh pelan.

"Itu pertama kalinya aku melihatmu kehilangan kata-kata."

Ellara buru-buru memalingkan wajah. "Pura-puralah aku tidak mengatakan apa-apa."

"Sayangnya aku sudah mendengarnya."

"Kalau begitu lupakan."

Noah menggeleng sambil tersenyum tipis. "Tenang saja. Aku tidak akan merebut selimutmu."

Entah mengapa jawaban itu justru membuat jantung Ellara berdetak sedikit lebih cepat. Ia segera berjalan menuju kamar. Sementara Noah tetap berdiri di dekat perapian, memperhatikan kobaran api agar tidak terlalu memikirkan percakapan barusan. Namun senyum kecil yang muncul di wajahnya sulit disembunyikan. Dan itu membuat suasana pondok tua itu terasa jauh lebih hangat daripada sebelumnya.

Saat Ellara berada di kamar, Noah kembali ke ruang utama. Ia membuka lemari kecil lain yang tersembunyi di bawah rak buku. Dari sana ia mengeluarkan dua botol whiskey Kentucky yang masih tersegel. Persediaan pribadinya. Ia sengaja meninggalkannya di pondok beberapa waktu yang lalu. Tempat ini memang sering menjadi pelariannya ketika hidup terasa terlalu ramai.

Noah membuka salah satu botol. Menuangkan sedikit ke dalam cangkir logam. Kemudian meminumnya perlahan dan tanpa sadar ia sudah menghabiskan beberapa botol. Kehangatan langsung menjalar ke tubuhnya. Membantu mengusir dingin yang masih tersisa. Tatapannya jatuh ke jendela, hujan masih deras. Jika badai tidak berhenti, mereka mungkin harus bertahan sampai pagi.

Pintu kamar akhirnya terbuka. Noah menoleh, lalu langsung mengalihkan pandangan. Ellara berdiri beberapa langkah dari perapian dengan tubuh terbungkus selimut tebal berwarna cokelat tua.

Selimut itu membungkusnya dari dada hingga hampir menyentuh mata kaki, membuatnya terlihat jauh berbeda dari biasanya.

Rambut cokelatnya masih sedikit lembap setelah diguyur hujan berjam-jam. Beberapa helai jatuh di sisi wajahnya, sementara sisanya terurai di atas bahu.

Pipi Ellara masih kemerahan. Sebagian karena hangatnya perapian. Sebagian lagi karena rasa canggung yang sulit dijelaskan. Tangannya mencengkeram ujung selimut erat-erat, seolah takut kain itu terlepas. Ia tidak terbiasa berada dalam situasi seperti ini, terjebak badai sendirian bersama Noah Blackwood.

Cahaya api memantul lembut di wajahnya, memperjelas mata hazelnya yang tampak lebih hangat malam itu. Tanpa dress katun sederhana berwarna krem yang dipadukan dengan boots kulit tua yang biasa dikenakannya. Tanpa topi ranch dan tanpa kesibukan kandang kuda, Ellara terlihat jauh lebih lembut, lebih muda, lebih rapuh. Namun justru karena itulah Noah merasa sulit mengalihkan pandangannya.

Menyadari Noah memperhatikannya, Ellara segera menarik selimut lebih rapat dan berdeham kecil. Dan situasi mereka semakin terasa canggung.

Petir menyambar, kali ini jauh lebih dekat daripada sebelumnya. Cahayanya menerangi seluruh pondok selama sepersekian detik sebelum dentuman keras mengguncang perbukitan.

DUARRR!

Ellara tersentak. Jantungnya seolah berhenti berdetak.

Tanpa sempat berpikir, ia langsung bangkit dari duduknya. Refleks, murni refleks. Dan sebelum menyadari apa yang dilakukannya, ia sudah berlari ke arah Noah. Noah yang sedang berdiri di dekat perapian bahkan tidak sempat bereaksi ketika Ellara menabraknya. Gadis itu mencengkeram lengannya erat, napasnya memburu, matanya masih membesar karena terkejut. Ruangan mendadak sunyi, hanya suara hujan yang terdengar di luar.

Ellara baru menyadari betapa dekat posisi mereka. Wajahnya langsung memanas. Dengan gugup, ia buru-buru melepaskan tangannya dari lengan Noah.

Namun sebelum sempat menjauh, Noah menahan pergelangan tangannya. Gerakannya tidak kasar, hanya cukup untuk menghentikannya pergi. Ellara membeku, jantungnya berdetak semakin cepat.

Perlahan ia mengangkat kepala, tatapan mereka bertemu. Cahaya perapian menari di mata Noah yang tampak mulai menggelap. Tanpa aba-aba Noah menarik tengkuk Ellara,

Cup..

Noah mengecup bibir ranum Ellara singkat, namun mampu mengalirkan sengatan listrik yang menjalar perlahan ke seluruh tubuh Ellara yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Ellara buru-buru memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan wajahnya yang semakin memanas. Noah menarik pinggang rampingnya menciptakan tidak ada jarak lagi diantara mereka. Ellara yang masih membeku reflek sadar berusaha melepaskan diri, akan tetapi kekuatannya kalah oleh dekapan Noah yang semakin kuat dan erat.

"Jangan tuan", mohon Ellara.

Noah yang sudah menggelap menahan hasrat karena pengaruh alkohol mendorong tubuh Ellara ke ujung dinding kayu disamping perapian. kobaran api perapian menambah sensasi gelora hasrat Noah yang sudah tidak tertahankan lagi. Noah semakin dalam menarik tengkuk Ellara melumat bibir penuhnya dengan kasar dan menuntut. Tangannya kini mulai bergerilya menyusuri pinggang ramping ellara, kemudian semakin naik ke atas hendak menyentuh bukit kembarnya.

"Aaah stop, Tuan". desis Ellara berusaha melepaskan diri. Tentu hal seperti ini bukan yang pertama kali bagi ellara, ia sudah pernah melakukan hal seperti ini dulu dengan mantan kekasihnya. Akan tetapi tentulah sangat berbeda terjebak dengan situasi seperti ini dengan statusnya sebagai pekerja ranch dan Noah adalah Bosnya.

Ellara kembali menahan tangan Noah, tapi Noah segera mengunci kedua tangan Ellara ke atas kepalanya. perlahan selimut yang melilit tubuh Ellara pun jatuh dan menampilkan tubuh polos Ellara tanpa sehelai benang pun yang sangat menggairahkan. terlihat jelas kilatan mata Noah yang semakin menggelap melihat lekuk tubuh tanpa cacat Ellara. pinggul padat, pinggang ramping dan bukit kembar besar padat nan nenantang. Sangat indah dan sungguh menggairahkan, ellara juga memiliki wajah cantik dan seksi yang menggoda.

Bibir Noah tak berhenti menyesap dan melumat bibir ellara sedangkan tangannya terus bergerak nakal membuat tubuh ellara yang tadinya menolak menjadi menegang. Ellara mendesis nikmat tak tertahan menikmati apa yang dilakukan Noah.

"aaahh mmpp". desah Ellara dengan nafas yang mulai tak beratur.

"Kau mau lebih Ellara". Bisik Noah dengan nafas memburu membuat tubuh Ellara semakin menegang. ellara segera menggeleng kuat.

"Jangan bohong ellara. Kau mungkin bilang tidak, tapi tubuhmu bilang iya".

Noah menyusuri tiap inci tubuh ellara tanpa ada yang terlewat, mencengkram kuat pinggang ellara membuat mereka semakin tak berjarak. tangan satunya tetap mengunci tangan ellara ke atas membuat bukit kembar ellara semakin membusung menantang. tak tahan tangan Noah akhirnya menyentuh squishy besar itu dan meremasnya dengan hasrat yang sudah menggebu. Bibirnya masih tetap melumat dan menyesap bibir penuh ellara memainkan lidahnya di setiap rongga mulutnya. Tak tahan ellara semakin mendesah tertahan tak sengaja mengigit bibir Noah dengan tubuhnya yang semakin memanas.

"Ouhhh, baby. ternyata kau sangat menikmatinya". ucap Noah dengan senyum smirk nya.

Noah memeluk erat pinggang Ellara dengan kedua tangannya, Noah semakin dalam melumat bibirnya. Ellara akhirnya tak malu untuk membalas ciuman Noah. Lidah mereka saling berpautan meraih kehangatan di tengah hujan badai yang semakin deras. suara decapan dan lumatan bibir mereka berpacu dengan suara gemuruh hujan diluar sana.

"Cpcpcp"...

Noah melepaskan tautan bibir mereka, kini ciumannya turun ke leher jenjang Ellara. Noah mulai menjilat dan meyesap kulit leher Ellara. Tangan Ellara meremas rambut Noah semakin meminta lebih. squishy besar Ellara semakin padat dan mengeras karena hasrat yang semakin memuncak.

"hmmpppp aahhh". desahan Ellara semakin memburu.

"Tubuhmu sangat indah, Ellara". bisik Noah penuh nafsu.

Noah mencengkram squishy padat Ellara yang semakin menegang, meremas penuh nafsu dan sesekali menampar gundukan kembar itu membuat Ellara semakin menggila. Ciuman Noah perlahan mulai turun ke dada ellara, tak tahan langsung melahap, menyesap, menjilat, lidahnya menari nari di sekitar put*ing dada ellara. Noah menyusu dengan sangat lapar dan rakus dengan sesekali menggigitnya membuat tubuh ellara bergerak gelisah. mulutnya melahap penuh dan menghisap tanpa ampun dada besar itu.

"Ouhhh shittt, kau sungguh menggairahkan Ellara".

Noah menyesap tanpa ampun kedua squishy Ellara bergantian, tangannya juga tidak tinggal diam dan terus meremas squishy besar itu dengan kasar. perlahan tangannya mulai turun ke bawah meremas bok*ong padat ellara dan terus berjalan turun mengelus paha mulus ellara membuat darahnya berdesir hebat. Ellara terus bergerak gelisah dengan mulut yang sibuk mendesah. Tangan Noah meraba belahan Liang kenikmatannya intens.

"Kau sudah sangat basah Ellara", bisik Noah.

"aaghhhh", Ellara meramas punggung kekar yang mendekap rapat tubuhnya itu. Noah mulai memasukkan sedikit ujung jarinya kedalam sana, lalu mulai mengelus tiap jengkal kulit Ellara membuatnya semakin melayang dalam kenikmatan. Noah bisa melihat mata Ellara sudah sangat menggebu-gebu, tapi Noah masih ingin bermain sedikit dengannya.

"Kau sangat indah, Ellara". Noah mengecup singkat bibir ellara dan kembali menatap seluruh tubuh gadis itu seakan terhipnotis dengan keindahannya.

Noah yang awalnya ingin menggoda gadis itu lebih lama tapi dia sendiri sudah sangat tidak tahan sekarang. Dia segera melepaskan celananya hingga tak ada sehelai benang pun lagi yang menghalangi mereka. Ellara menelan salivanya kasar melihat milik Noah yang besar dan panjang mengacung sempurna di depannya, seakan sudah sangat siap masuk ke dalam miliknya.

"Aahhhh tuan, anda mau apa?"

Ellara tersentak kaget melihat Noah yang menenggelamkan wajahnya di bawah perutnya di areal lembah kenikmatan itu.

"Nikmati saja baby", jawab suara berat Noah sebelum benar-benar bermain disana.

"Aakhhhh" Ellara spontan merapatkan kedua paha putih mulusnya, menjepit kepala Noah saat merasakan lidah hangat pria itu menyapu miliknya dengan begitu lembut.

Slurpp

Slurpp

Noah menenggelamkan kepalanya semakin dalam, lidahnya dengan lihai menyapu setiap inci lembah kenikmatan itu. Menjilat dan memainkan klistorisnya yang membuat Ellara semakin mengejang gelisah.

"Ngh..ugh..ahhh..ahhh..mmbbhhh..aahhhhh". Rintih desahan nikmatnya.

Noah semakin dalam memainkan lidah dan menghisap kuat milik Ellara. Ellara bersandar kuat di dinding kayu menahan keseimbangan tubuhnya. Pinggangnya mulai terangkat, punggungnya melengkung, dadanya membusung dan tubuhnya bergetar dengan hebat.

"Aahhhh..aaahhhh..ahhhh". Rintih Ellara melepaskan klimaks pertamanya. Milik Ellara berkedut hebat ditengah deru nafasnya yang memburu dan keringat yang bercucuran di tubuh mulusnya terlihat sangat seksi di sapu cahaya perapian yang berkobar hangat.

Noah semakin tidak tahan segera berdiri dan mulai mengarahkan batangnya ke lembah sempit milik Ellara. Noah tidak langsung memasukkannya, dia sedikit menggoda milik gadis itu dengan menggesek gesekkan lalu menepukkan ujung kepala batangnya pada belahan itu membuat Ellara semakin tersiksa.

"Aakhhh" Noah menatap Ellara yang penuh nafsu. Noah memasukkan sedikit kepala ujung batangnya menggesekkan di belahan lembah sempit itu, terasa basah dan hangat menggairahkan. Lalu mengeluarkan dan memasukkannya kembali berulang kali membuat Ellara semakin menginginkan lebih. Matanya terlihat sayu seakan memohon untuk dimasukkan membuat Noah semakin ingin bermain main dulu.

Setelah lama bermain Noah sudah tidak tahan, pria itu mencengkram erat bok*ong padat Ellara dan mendorong miliknya dengan sekali hentakan.

"Aaghhhh, kau sempit sekali Ellara". bisik Noah dengan suara berat dan nafas menderu.

Noah menatap wajah Ellara yang sudah sangat memerah dan mata sayu dengan mulut terbuka seksi menahan kenikmatan, milik Noah terasa sesak berada di dalam sana. Noah mulai menggerakkan pinggulnya pelan intens menikmati batangnya di jepit erat milik Ellara. Mereka melakukannya masih sambil berdiri, Noah semakin menekan tubuh Ellara ke dinding menimbulkan bunyi derit kayu karena hantaman Noah yang semakin kencang di liang sempit gadis itu.

Ellara semakin terbakar nafsu dengan permainan Noah, tangannya memeluk erat tubuh itu merasakan tiap inci batang Noah yang semakin keras dan membesar di dalam sana.

"Ouhh..aahhh..ahhhh.. milikmu nikmat sekali Ellara. Noah meracau dengan suara serak dan berat di tengah gempurannya. Ia menghujam milik gadis itu dengan gerakan liar dan penuh nafsu. Tangannya tidak tinggal diam menjelajahi setiap inci tubuh gadis itu. Ia meremas dan mencengkram kuat bok*ong gadis itu, meremas paha besarnya dan menghentakkan miliknya semakin dalam.

Plokk

Plokk

Plokk

Ellara kesusahan menahan keseimbangan tubuhnya, sementara Noah semakin menggila nafsunya yang semakin terbakar. suara hentakan paha mereka menggema memenuhi ruangan. Sebelah tangan Noah naik ke atas meremas kuat squishy besar gadis itu sesekali menamparnya hingga meninggalkan bekas merah. Dada Ellara berguncang hebat naik turun seirama hentakan kuat pria itu. Noah kembali melumat bibir gadis itu dengan rakus dan kasar.

Suara badai diluar masih bergemuruh hebat, cukup lama mereka bermain. nafas Ellara semakin menderu dengan keringat yang mengucur deras menikmati permainan panas itu. Di bawah sana Noah merasa miliknya di jepit semakin kuat, lembah sempit gadis itu berkedut hebat menambah sensasi kenikmatan yang membuat milik Noah semakin membesar dan mengeras di dalam sana. Noah semakin mempercepat hentakannya sampai akhirnya ia mencabut dan tumpahlah cairan kenikmatannya bersamaan dengan gadis itu. Mereka saling berpelukan dengan suara nafas yang memburu dan tubuh yang dipenuhi keringat.

"Kau sungguh sangat nikmat Ellara", bisik Noah dengan nafas yang terengah engah. Mereka menghabiskan malam panas itu hingga pagi. Ellara sangat kewalahan melayani nafsu gila bosnya itu, tapi dia juga sangat menikmatinya.

1
chiara azmi fauziah
wow gila noah
Mila Sari
up nya bnyakin thor🤭🤭 jgn nanggung², g enak bet penasaran🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
Titik Ristiana
mn lanjutannya??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!