"Sialan! Kenapa transmigrasiku tidak memberiku kekuatan super?!"
Ye Xuan adalah seorang pemuda dari Bumi yang terbangun di Benua Sembilan Cakrawala, sebuah dunia di mana para kultivator bisa membelah lautan dengan satu tebasan pedang. Sialnya, ia menempati tubuh seorang Tuan Muda Klan Ye yang dibuang karena tidak memiliki bakat kultivasi sedikit pun.
Tanpa energi spiritual, tanpa sistem bela diri, Ye Xuan terpaksa hidup terasing di sebuah puncak gunung terpencil. Untuk bertahan hidup, ia hanya bisa berkebun ubi, menyapu halaman, dan memancing di kolam belakang gubuknya.
Namun, yang tidak Ye Xuan sadari adalah:
Air bekas cucian ubi yang ia buang sebenarnya adalah Cairan Kehidupan Abadi yang diperebutkan para Kaisar.
Sapu lidi tua miliknya adalah Senjata Pemusnah Dao yang ditakuti seluruh iblis.
Dan ubi bakar yang ia anggap "makanan rakyat jelata" sebenarnya adalah Obat Dewa yang bisa membuat seseorang menerobos ranah dalam semalam!
Ketika para dewi sekte suci d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Mencuci Baju dan Pemurnian Karma Samudra
Setelah kegaduhan jagung monster selesai, Ye Xuan melihat tumpukan pakaian kotornya yang sudah setinggi gunung kecil. "Pak Tua, air di sumur sedang surut karena musim kemarau, dan saya tidak mau air cucian mengotori kolam ikan. Saya akan pergi ke Sungai Aliran Surga di kaki bukit saja. Sekalian mau merendam kaki, pegal sekali setelah memanjat tangga tadi!"
Ye Xuan memanggul bak kayu besar berisi baju-baju kumal, kain pel, hingga serbet dapur yang sudah menghitam. Di belakangnya, ribuan "pelayan" (yang sebenarnya adalah pasukan elit Kaisar dan para dewa) hanya bisa mengikuti dengan wajah cemas.
Sampai di pinggir sungai, Ye Xuan mengeluarkan sabun batangan buatannya sendiri—campuran abu sisa pembakaran kayu jati dan minyak kelapa basi. "Sikat... sikat... kucek..." gumamnya konyol sambil mulai membanting baju-bajunya ke atas sebuah batu besar di tengah sungai agar kotorannya lepas.
DUARR!
Setiap kali baju Ye Xuan menghantam batu, bukan suara cipratan air yang terdengar, melainkan dentuman yang mengguncang Lautan Kesadaran setiap makhluk hidup.
"Tunggu dulu!" Dewa Pengobatan berteriak sambil menjatuhkan keranjang obatnya. Ia melihat air sungai yang tadinya keruh karena lumpur, mendadak berubah menjadi Cairan Pemurnian Jiwa yang bersinar perak. "Kotoran yang keluar dari baju Master... itu bukan debu! Itu adalah manifestasi dari Karma Buruk dan dosa-dosa tersembunyi yang terserap dari lingkungan sekitar gubuknya!"
Ye Xuan yang tidak sadar, terus mengucek dengan penuh semangat. "Waduh, noda kecap di kerah baju ini susah sekali hilang! Harus pakai tenaga ekstra!"
Ia mengambil papan penggilasan kayu dan mulai menggosok baju itu dengan kecepatan tinggi. Gesekan antara kain dan papan penggilasan menciptakan panas yang luar biasa. Air sungai di sekitar kaki Ye Xuan mulai mendidih, bukan karena api, melainkan karena gesekan hukum alam yang sedang dipaksa untuk "bersih."
Tiba-tiba, dari hulu sungai, muncul seekor Naga Air Purba yang murka karena tidurnya terganggu oleh getaran hebat. Naga itu muncul dengan taring sebesar tombak, siap menelan siapapun yang mengacaukan sungainya.
"Berhenti!" teriak Raja Iblis, bersiap menghadang naga itu.
Namun Ye Xuan, yang sedang kesal karena noda kecapnya tak kunjung hilang, justru menoleh ke arah naga itu dan berteriak, "Hei, Naga! Jangan cuma pamer taring! Kalau kamu memang penguasa air, sini bantu semprotkan air tekanan tinggi ke arah baju ini! Noda ini membandel sekali!"
Naga Air itu tertegun. Niat membunuhnya mendadak sirna digantikan oleh rasa takut yang luar biasa saat melihat aura "Pembersih Semesta" yang memancar dari sabun batangan Ye Xuan. Tanpa banyak bicara, sang naga mengecilkan ukurannya menjadi seukuran lumba-lumba dan mulai menyemburkan air suci dari mulutnya ke arah cucian Ye Xuan dengan sangat patuh.
"Nah, begitu dong! Sinergi!" seru Ye Xuan konyol.
Setelah dibilas, Ye Xuan memeras bajunya. Setiap tetes air yang jatuh kembali ke sungai berubah menjadi Pil Energi Murni yang diperebutkan oleh ikan-ikan di sungai, membuat ikan-ikan tersebut mendadak tumbuh kaki dan bisa berbicara bahasa manusia.
"Pak Tua, lihat! Bajunya jadi putih bersih bahkan sampai bersinar," kata Ye Xuan sambil menjemur bajunya di atas punggung Naga Air yang sekarang dengan sukarela menjadi jemuran berjalan. "Ternyata mencuci itu melelahkan ya? Besok-besok kalau ada Dewa atau Raja lagi yang datang, suruh mereka bawa deterjen. Sabun abu saya hampir habis."
Di pinggir sungai, para pangeran dan dewa hanya bisa terduduk lemas. Mereka menyadari bahwa sungai tersebut sekarang telah menjadi Sungai Abadi. Siapapun yang meminum airnya akan langsung naik tingkat, dan semua itu hanya karena Ye Xuan ingin menghilangkan noda kecap di bajunya.