Kirana, seorang maba cerewet dan nggak bisa diem, langsung membenci Bima—cowok teknik cuek dan dingin yang nggak mau minta maaf setelah menabraknya di pertemuan pertama mereka. Sejak itu, hidup Kirana dipenuhi omelan tentang si cowok teknik bau oli tersebut bersama gengnya yang hobi bergosip itu. Di tengah hari-hari kuliah yang penuh gebrakan, tingkah absurd teman-teman mereka, sampai pasangan bucin yang bikin geli satu kampus, hadir Danu—kakak tingkat sempurna yang mulai mendekati Kirana. Di sisi lain Bima justru diam-diam mulai jatuh hati dan terus mencuri pandang pada gadis cerewet itu. Lalu, akankah Kirana memilih Danu si pangeran kampus, atau Bima si cowok teknik acak-acakan yang selalu berhasil membuat harinya kacau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik Temu di Jam Empat
Waktu menunjukkan pukul 15.45 WIB ketika Kirana mendorong pintu kaca kafe yang terletak tidak jauh dari gerbang kampus Universitas Wikerta. Dinginnya pendingin ruangan langsung menyapu wajahnya yang sedikit gerah. Matanya mengedarkan pandangan ke penjuru kafe yang mulai ramai oleh mahasiswa. Di sudut dekat jendela besar yang menghadap ke jalanan, ia langsung mengenali siluet punggung yang sangat familier.
Bima sudah di sana. Cowok itu masih mengenakan kemeja PDL Tekniknya yang biru dongker, namun lengan kemejanya sudah digulung rapi hingga ke siku, memamerkan otot lengannya yang kokoh. Di depannya, sebuah laptop menyala bersanding dengan segelas kopi hitam yang tinggal setengah.
Kirana menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang mendadak tidak karuan, lalu melangkah mendekat. "Udah lama?" tanya Kirana sambil menarik kursi di hadapan Bima.
Bima mendongak. Sorot matanya yang tajam dan lempeng langsung terkunci pada wajah Kirana. Ia melirik jam tangan mekaniknya. "Sepuluh menit. Tapi masih di bawah batas toleransi statistik gue. Jadi, lo nggak telat."
Kirana memutar bola matanya, meski di dalam hati ada rasa lega karena tidak kena semprot. "Dasar manusia kalkulator. Nih, map yang tadi pagi lo kasih. Gue udah tanda tangan di bagian draf sastra dan narasinya." Kirana menyodorkan map biru tebal itu ke atas meja.
Bima menerimanya, lalu membukanya dengan saksama. Alih-alih langsung memeriksa berkas, mata Bima sempat tertahan pada jemari Kirana. "Tangan lo kenapa?" tanya Bima datar, tapi tatapannya tidak lepas dari goresan merah kecil di dekat ibu jari Kirana.
"Hah? Oh, ini... tadi pas kelas sastra, ujung kertas folio agak tajam, jadi nggak sengaja kesayat," jawab Kirana santai, hendak menarik tangannya kembali.
Namun, sebelum tangan Kirana menjauh, Bima dengan gerakan refleks yang tidak terduga menahan pergelangan tangan gadis itu. Sentuhan tangan Bima yang hangat dan sedikit kasar karena terbiasa memegang mesin langsung membuat Kirana membeku. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.
"Ceroboh," gumam Bima pendek. Ia melepaskan tangan Kirana, lalu merogoh kantong kemeja PDL-nya. Dari sana, ia mengeluarkan sebuah plester luka bergambar beruang kecil yang entah sejak kapan ada di kantongnya. Tanpa meminta izin lagi, Bima menarik tangan Kirana dan menempelkan plester itu dengan sangat hati-hati di atas luka sayat tersebut.
"Bim... lo sejak kapan bawa-bawa plester beginian?" bisik Kirana, wajahnya sudah mulai merona merah.
"Adit yang naruh di kantong gue katanya buat jaga-jaga kalau tangannya si Maya lecet. Tapi karena lo lebih ceroboh, mending lo yang pakai," jawab Bima lempeng, kembali ke mode cueknya setelah selesai menempelkan plester.
Kirana membuang muka ke arah jendela, mencoba menyembunyikan senyum tulus yang keras kepala ingin muncul di bibirnya. Interaksi kaku tapi penuh perhatian dari Bima selalu sukses meruntuhkan benteng pertahanannya.
Mereka pun mulai larut dalam diskusi proyek. Kedekatan mereka kali ini terasa berbeda; tidak ada lagi adu urat saraf yang meledak-ledak seperti awal semester lalu. Bima mulai mendengarkan diksi sastra Kirana untuk bagian presentasi, sementara Kirana mulai memahami logika alur mesin yang dijelaskan Bima. Jam demi jam berlalu dengan obrolan yang mengalir begitu lancar.
Hingga sekitar pukul lima sore, sebuah bayangan tinggi tiba-tiba berhenti di samping meja mereka.
"Kirana?"
Suara bariton yang lembut dan sangat teratur itu membuat Kirana mendongak. "Kak Danu?"
Danu berdiri di sana dengan penampilan yang sopan dan rapi seperti biasa. Sebuah senyuman hangat dan tulus terukir di wajahnya. Di tangannya, Danu membawa sebotol jus jeruk dingin dan sebuah roti dari toko dekat kampus.
"Aku tadi habis dari perpus pusat, terus kebetulan liat kamu di sini lewat jendela," kata Danu dengan nada bicara yang sangat ramah sambil meletakkan jus jeruk dan roti itu di depan Kirana dengan sopan. "Ini buat kamu, Ra. Aku tahu kamu kalau udah fokus ngerjain tugas proyek sering lupa makan. Diminum ya, biar nggak lemes."
"Eh... makasih banyak ya, Kak Danu. Repot-repot banget," ucap Kirana merasa agak sungkan.
Danu tersenyum hangat, lalu beralih menatap Bima. Ia mengangguk hormat, menghargai keberadaan teman seangkatannya itu. "Sore, Bim. Keren banget proyek kalian kemarin, selamat ya. Kelihatan banget kerja keras kalian berdua sukses besar."
Bima yang sedari tadi diam, perlahan menutup laptopnya. Meskipun Danu berbicara dengan sangat baik dan ramah, ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba menyusup di dada Bima melihat perhatian cowok itu ke Kirana. Bima bersedekap, mencoba mempertahankan ekspresi datarnya.
"Sore, Dan. Makasih," jawab Bima singkat, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya. Matanya melirik botol jus jeruk di meja, lalu kembali menatap Danu. "Soal Kirana, lo tenang aja. Setelah diskusi ini selesai, gue juga berniat ngajak dia makan sore. Jadi dia nggak bakal kelaparan."
Kirana menoleh cepat ke arah Bima dengan mata membelalak. Sejak kapan beruang kutub ini berinisiatif mengajaknya makan, apalagi mengatakannya di depan Danu dengan nada se-protektif ini?
Danu yang dasarnya memang orang baik, mengangguk lega mendengar jawaban Bima. Ia lalu kembali menatap Kirana. "Oh, syukur deh kalau begitu. Kebetulan di luar mendung lagi nih, Bim. Takutnya nanti hujan deras kayak kemarin pas kalian jalan pulang. Ra, kalau nanti hujannya awet dan kamu butuh tumpangan, kabari aku aja ya. Biar kamu nggak kehujanan di jalan." Danu menawarkan bantuan dengan tulus.
"Iya, Kak. Nanti kalau ada apa-apa aku kabari," jawab Kirana dengan senyum sopan.
"Ya sudah, aku duluan ya. Duluan, Bim," pamit Danu. Ia sempat menepuk bahu Bima sekilas sebagai sesama teman seangkatan, sebelum melangkah pergi meninggalkan kafe.
Setelah Danu benar-benar hilang dari pandangan, suasana di meja kembali hening. Kirana menatap Bima yang wajahnya sekarang mendadak tertekuk seratus persen lebih ketus dan diam dari biasanya.
Bima memasukkan laptopnya ke dalam tas dengan gerakan yang agak kaku. Ia menatap ke luar jendela yang mulai gelap karena mendung, lalu melirik kunci motornya yang tergeletak di atas meja. Rasa cemburu yang asing membuat hatinya terasa sedikit sesak, meskipun gengsinya menolak untuk mengakui hal itu.
"Bim... lo kenapa sih? Kok mendadak cemberut gitu?" tanya Kirana hati-hati.
Bima tidak langsung menjawab. Ia menyambar kunci motornya, lalu menatap Kirana dengan pandangan mata yang sulit diartikan. "Mendung. Kita harus balik sekarang sebelum hujan turun."
"Iya, tapi kok muka lo ketat banget kayak baut ban?" goda Kirana, mencoba mencairkan suasana.
Bima menghela napas pendek, lalu berdiri sambil menggendong tasnya. "Gue cuma kepikiran kalau nanti di jalan beneran hujan deras. Motor gue nggak senyaman mobil orang lain, Ra. Lo bisa basah lagi kayak kemarin."
Kirana tertegun. Ia melihat plester beruang kecil di jarinya, lalu menatap Bima yang sedang berusaha menyembunyikan rasa tidak relanya jika Kirana harus pulang dengan orang lain. Detik itu juga, sebuah perasaan hangat yang manis perlahan menjalar di dada Kirana. Si Beruang Kutub Teknik ternyata bisa cemburu dengan cara yang begitu jujur, dan hal itu sukses membuat Kirana kehilangan kata-kata.