NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Pelayan Cantik

Terjerat Cinta Pelayan Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Cintapertama
Popularitas:12.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Ratnasari Husein

Alya—gadis 20 tahun, terpaksa bekerja menggantikan ibunya yang sakit keras. Ia menjadi seorang pelayan di sebuah mansion mewah milik seorang pria kaya yang terkenal dingin dan arogan.

Suatu hari keduanya bertemu.

Maxime, pemilik rumah tersebut jatuh cinta pada gadis itu dan memintanya untuk menikah dengannya.

Namun, Alya menolak, karena merasa dipermainkan oleh pria itu.

Pria itu tidak menyerah, ia melakukan segala cara untuk mendapatkan hatinya.

Apakah pria itu akan berhasil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Lima belas.

Alya yang baru saja pulang pukul satu dini hari tadi tiba-tiba terbangun karena mendengar suara dari arah luar kamarnya. Ia sontak langsung melirik ke arah sampingnya.

Sisi ranjang itu kosong. Ibunya tidak ada di sana. Ia melihat jam weker di atas meja yang masih menunjukkan pukul setengah empat pagi.

Alya bergegas turun dari ranjang dan pergi ke luar untuk memeriksa situasi.

Ia melihat ke setiap sudut ruangan, mencari asal bunyi suara itu.

Langkahnya berhenti di dapur. Ibunya sedang berada di sana, sibuk memasak.

Alya seketika menghembuskan napas pelan, merasa lega.

Ibu sedang apa pagi buta begini?" tanyanya pelan, seraya mendekati wanita itu.

"Ibu sedang memasak ayam goreng kesukaanmu." ucapnya tenang, sambil tersenyum padanya.

"Apa ibu tidak bisa beristirahat saja dengan tenang?" tanya Alya, nadanya mulai terdengar kesal. "Kenapa Ibu selalu membuat Alya khawatir seperti ini?"

"Ibu hanya ingin melakukan sesuatu... setidaknya bisa sedikit meringankan bebanmu, Nak. " jawab Junita lirih.

Alya menarik napas panjang, berusaha menahan emosinya. "Kalau Ibu memang benar-benar ingin mengurangi beban Alya... tolong jangan lakukan apapun."

Ia menatap ibunya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Istirahat yang cukup, jangan memaksakan diri. Apa Ibu lupa, kemarin Ibu sempat pingsan karena kelelahan."

Suara Alya melemah, tapi terdengar seperti sebuah desakan. "Bu... tolong, jangan terus membuat Alya khawatir seperti ini."

"Maafkan Ibu, Nak. Ibu hanya..."

Kalimat itu terhenti ketika Alya memeluk erat ibunya. Air mata yang ia tahan, akhirnya keluar tanpa bisa ia tahan lagi.

"Maafkan Alya, Bu. Alya tidak bermaksud marah pada Ibu. Alya hanya merasa khawatir." pintanya dengan suara rendah, nyaris terdengar seperti bisikan.

Junita membalas pelukan putrinya dengan lembut. "Ibu hanya ingin bisa sedikit berguna, Nak. Ibu tidak ingin melihatmu terus menahan lapar hanya karena ingin menghemat uang." ucap wanita itu dengan suara yang bergetar.

Ia menghela napas pelan, seolah menahan sesak di dadanya. "Kau selalu memikirkan Ibu, tapi tidak pernah memikirkan dirimu sendiri." lanjutnya lirih, dengan suara yang nyaris hilang.

"Aku baik-baik saja, Bu. Jangan khawatir." ucapnya, mencoba menenangkan ibunya. "Aku bisa menjaga diriku dengan baik."

"Menahan lapar tidak akan membuatmu sehat, Nak. Kau butuh banyak energi untuk berkerja." ucap Junita pelan, suaranya masih terdengar bergetar.

Ia mengusap punggung Alya dengan lembut, seolah ingin menenangkan sekaligus menegaskan kekhawatirannya.

"Tapi... Ibu masih sakit dan harus banyak istirahat. Minggu depan, Ibu harus kembali menjalani kemoterapi. Ibu tidak boleh lelah, Ibu harus tetap sehat." ucap Alya, memberi peringatan pada ibunya.

"Jika Ibu sakit, Ibu tidak akan bisa menjalani kemoterapi. Itu artinya kita harus menunda dan menunggu lagi... Aku ingin melihat Ibu segera sembuh..." suaranya yang bergetar, berubah menjadi sebuah isakan yang tertahan.

"Ibu tahu, Nak... Maafkan, Ibu." pintanya lirih, terdengar penuh penyesalan. Bukan karena sakit yang ia derita, melainkan karena ia harus melihat putrinya menanggung semua ini seorang diri.

"Aku tidak ingin kehilangan Ibu... Hanya Ibu satu-satunya keluarga yang aku miliki. Aku tidak ingin hidup sendirian, Bu. Aku... takut..."

Tangis Alya pecah, meninggalkan luka di hati Junita yang rapuh.

Putrinya yang malang, harus hidup tanpa kasih sayang dari ayahnya. Jika saja... ia tidak egois dan menutupi kehamilannya, putrinya mungkin tidak akan menderita seperti ini.

Maafkan Ibu... Nak. Maafkan Ibu... batinnya berteriak.

🌺🌺🌺

Alya lalu pergi bekerja, setelah sarapan bersama Ibunya. Ia tidak bisa tidur lagi setelah terbangun, sehingga ia memutuskan untuk mencuci pakaian yang sudah menumpuk setelah shalat subuh.

Ia tidak mau "tangan gatal" ibunya kembali merajalela di rumah ini. Rumah sudah dalam keadaan bersih dan rapi setelah ia tinggalkan. Pakaian juga sudah dijemur semua. Tidak ada pekerjaan yang tersisa untuk ibunya.

Ia juga sudah meminta tolong pada bibi Ratih, untuk menyiapkan makan siang dan makan malam ibunya. Tentu saja itu tidak gratis, ia memberi sejumlah uang padanya untuk biaya makan ibunya selama satu minggu kedepan.

Kini, ia bisa sedikit tenang meninggalkan ibunya. Hanya saja, ia merasa sedikit kelelahan sekarang.

Tapi, ia tidak boleh mengeluh. Masih ada banyak pekerjaan yang menunggunya di depan sana. Ia harus tetap bersemangat.

*

*

Alya tiba di mansion tepat waktu. Ia lalu mengganti seragamnya, sebelum pergi ke kamar tuannya untuk menyiapkan pakaian kerja.

Kamar itu seharusnya sudah kosong sekarang. Biasanya, Maxime sedang latihan beban di ruangan olahraga lantai satu.

Ia langsung masuk ke dalam kamarnya, menuju ruang walk-in closet, untuk menyiapkan pakaian kerja Maxime.

Setelah selesai, tak lupa ia mengeluarkan pakaian kotor dari dalam kamar mandi untuk dicuci.

Ia akan membersihkan kamarnya nanti, setelah tuannya selesai sarapan dan pergi bekerja.

Alya langsung pergi ke dapur setelahnya, untuk menyiapkan sarapan.

Pagi itu berjalan dengan normal seperti biasa. Tidak ada keributan, tidak ada masalah yang berarti. Semua pekerjaan berjalan dengan lancar.

"Alya!" seru Desi ketika melihat Alya baru saja keluar dari dapur dengan membawa nampan berisi makanan.

"Iya, kenapa?"

"Kau mau mengantarkan makanan untuk Tuan?" tanya Desi, memastikan.

"Iya." jawab Alya singkat. "Kenapa wajahmu pucat begitu? Apa kau sakit?" lanjutnya bertanya.

"Tidak. Aku hanya ingin meminta tolong sesuatu?"

Desi terdengar ragu-ragu.

"Minta tolong apa?" tanya Alya penasaran.

"Hmm... bagaimana mengatakannya, ya?"

"Katakan saja. Kalau aku bisa, aku pasti akan membantumu." ucap Alya, sedikit mendesaknya.

"Apa kau bisa meminjamiku sedikit uang?" tanyanya semakin ragu.

Ia tahu jika Alya juga sedang mengalami kesulitan. Tapi... ia tidak tahu lagi harus meminta bantuan dari siapa.

Alya terdiam sejenak, seolah sedang berpikir.

"Berapa yang kau butuhkan?" tanya Alya akhirnya.

"Hmm... lumayan banyak. Sekitar lima ratus ribu." ia benar-benar merasa tidak enak pada Alya.

"Lima ratus ribu?" ulangnya, seolah hendak memastikan pendengarannya.

"Iya." jawab Desi. "Apa kau punya? Aku akan segera menggantinya. Aku akan membayarnya ketika gajian nanti."

Alya tidak langsung memberikan jawaban. Minggu depan ibunya akan kembali menjalani kemoterapi, uangnya sudah cukup untuk membiayai semuanya. Jika ia memberikan uang itu pada Desi, ia takut jika uangnya tidak akan cukup.

Hari gajian masih dua minggu lagi, ia ragu apakah bisa menutupi kekurangan atau tidak. Tapi, melihat Desi sangat membutuhkan pertolongan, ia juga tidak tega melihatnya.

"Tolonglah, Al. Aku bingung harus minta tolong kepada siapa lagi. Aku sudah meminjam uang terlalu banyak pada kepala pelayan. Juga pada Bibi Sari." ia tampak menunduk, mungkin merasa malu pada Alya.

Alya menghela napas sejenak. Ternyata masih ada yang mengalami kesulitan seperti dirinya.

"Untuk apa kau berhutang sebanyak itu?" tanya Alya, padanya.

"Untuk membayar hutang ayahku." jawabnya pelan, nyaris tidak terdengar.

"Baiklah." sahut Alya akhirnya . "Nanti aku akan memberikan uangnya setelah mengantarkan sarapan ini untuk Tuan."

Wajah Desi yang sendu, tampak berbinar terang seketika. Ia seolah mendapat angin segar, diantara hari-harinya yang buruk.

"Terima kasih ya, Al. Kau memang sahabatku yang paling baik." ucapnya tulus, dengan mata yang berkaca-kaca.

Setidaknya, diantara kesulitan yang ia alami, Alya masih bisa membantu orang lain.

Alya lalu mengantarkan makanan itu ke ruang makan. Untung saja Maxime belum duduk di sana.

Alya segera menata makanan di atas meja. Tepat ketika ia selesai mengaturnya, Maxime datang dengan penampilan yang sudah rapi seperti biasa. Langkahnya yang tenang dan tegas, membuat pria itu tampak berwibawa.

Alya merasa puas ketika melihat hasil kerjanya tidak pernah mengecewakan tuannya.

Namun, Maxime tidak langsung duduk seperti biasa, pria itu justru berdiri sejenak di dekat meja, menatap hidangan yang telah disiapkan oleh Alya. Tatapannya sulit diartikan, bukan dingin, tapi juga bukan sepenuhnya hangat.

"Apa ada yang kurang, Tuan?" tanya Alya bingung.

Maxime menggeleng pelan, lalu tatapan beralih menatap Alya. "Tidak... semuanya sempurna."

Pria itu tersenyum, lalu duduk di kursinya.

Alya tampak mengernyit heran, namun ia kembali bersikap tenang.

🌺🌺🌺

1
Xlyzy
Alya yang kuat ya, semoga Oprasi ibu mu berhasil
Miu.Nuha
aishh wanginya itu lohh...
mengalihkan duniakuu~
Miu.Nuha
iya, cari second love gih biar move on /Determined/
Rain Aricia
Ya udah lah gapapa, sekarang pikirin dirimu dulu mau ga jadi model itu
Rain Aricia
Dia kan tau diri Max
Rain Aricia
Kalau gitu suruh lah dia log out dari club malam itu, Max
🔵 MULIANA💦
bisa-bisanya kepikiran nyolong peralatan rumah tangga /Facepalm/
-Thiea-: soalnya barangnya bermerek semua.. dikira yang punya rumah kagak bakalan tahu..😁
total 1 replies
🔵 MULIANA💦
kayaknya itu ungkapan hatinya deh 🤭
🔵 MULIANA💦
lah, masih sempat-sempatnya /Facepalm/
🔵 MULIANA💦
bayarannya, tanpa bunga kan max 🤭
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
ih meni eweh gawe sia ih 🫣😆/Chuckle/
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
lumayan terharu.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
untungnya si Al masih punya nurani ke baikan tersisa yah, klw nggak udh aku tendang tuh.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
adeuh 🤦 meuni sok asa 😤 Jol seak gampangnya menyebut dirinya ayah. akibat obses yg tak jelasnya itu.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
kayaknya klw ada di hadapan kehidupan ku, aing tak Sudi mendengar ucapan itu, lihatny🫤a pun aing tak Sudi 😒🙄☹️
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
masa sih, masa iya 😒🙄
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
andai di sini bisa kirim stiker kaya di wa nanti aing bakal kirim Poto stiker aku yg natap mode kaya 😒. untuk ucapan seperti itu sebel rasanya.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
harusnya Lo om cari info yg lebih dalam lagi, jadi jangan seolah menyalahkan emaknya si Al, karena pasti ada satu hal yg membuatnya pergi dari kau paham tuan.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
dari sudut bicara anda ini kayak menganggap hal sepele, kayak menggampangkan aja gitu 🤦 terserah lu lah om.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
om kau emang tua keladi yang rese, gw klw jadi emaknya si Al sama kayaknya karena nggak mudah. soalnya kau tiba² muncul terus bikin suasana kacau di kondisi kagak Bae rese Lo ya om.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!