Nata Prawira mati dalam kehancuran mental dan kemiskinan, meninggalkan kedua adiknya dalam penderitaan. Namun, takdir membawanya kembali ke tahun 2014, tepat di masa SMA-nya.
Berbekal memori masa depan dan kepribadiannya yang dingin serta kalkulatif, Nata bertekad menulis ulang nasib. Dari gang sempit yang kumuh, ia mulai merancang strategi investasi di dunia BitCore dan industri teknologi yang baru tumbuh. Bukan sekadar mencari kekayaan, Nata adalah seorang arsitek yang sedang membangun kekaisaran bisnis untuk melindungi Kirana yang lembut dan Arya yang penuh semangat. Di dunia yang kejam, ia akan membuktikan bahwa kecerdasan strategis adalah senjata paling mematikan untuk menjungkirbalikkan kasta sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: OMBAK PERTAMA NAGA LAUT
Pagi di Singapura selalu dimulai dengan kesibukan di pelabuhan. Di layar monitor besar yang kini mendominasi salah satu dinding kondominium Nata, terlihat titik-titik hijau yang mewakili armada kapal logistik yang baru saja diakuisisi oleh Prawira Global melalui perusahaan cangkang bernama Aquatic Nexus.
Operasi Naga Laut bukan sekadar proyek ekspansi; ini adalah upaya Nata untuk memonopoli data logistik di jalur perdagangan tersibuk di dunia.
"Bos, ada anomali," suara Elena memecah keheningan ruangan. Ia duduk di mejanya yang dipenuhi tiga monitor tambahan. Rambutnya diikat asal, dan ada segelas kopi pahit yang sudah dingin di sampingnya. "Tiga kapal kargo kita yang dijadwalkan bersandar di Port Klang, Malaysia, tertahan di zona labuh. Otoritas pelabuhan mengklaim ada masalah dokumen, tapi sistem deteksi dini yang saya bangun menunjukkan hal lain."
Nata, yang sedang mengenakan almamater universitasnya untuk berangkat kuliah, berhenti sejenak. "Jelaskan."
"Seseorang sengaja menyuntikkan data palsu ke dalam sistem bea cukai Malaysia. Mereka menandai kargo kita sebagai barang terlarang. Dan coba tebak siapa yang memiliki koneksi kuat dengan kepala pelabuhan di sana?" Elena memutar kursinya, menatap Nata dengan tajam. "Tan Sri Zulkifli, pemilik Malaya Logistic Corp. Dia adalah pemain lama yang tidak suka ada orang baru memotong jalur harganya."
Nata mendekat ke meja Elena, melihat data yang ditampilkan. "Zulkifli bukan tipe orang yang bermain bersih. Dia menggunakan birokrasi sebagai senjata. Elena, panggil Yuda di Jakarta. Aku ingin dia melakukan pemindaian terhadap semua transaksi digital Malaya Logistic dalam dua tahun terakhir."
"Sudah saya lakukan, Bos," jawab Elena tenang, membuat Nata sedikit terkejut dengan inisiatifnya. "Saya menemukan bahwa mereka sering menggunakan skema 'biaya siluman' untuk mempercepat proses bongkar muat. Saya sudah menyiapkan berkasnya. Kita bisa meledakkan ini ke media internasional hari ini juga."
Nata menggeleng perlahan. "Jangan sekarang. Jika kita meledakkannya sekarang, kita hanya akan memicu kemarahan otoritas lokal. Kita butuh Zulkifli untuk berlutut, bukan untuk mengamuk. Kirimkan pesan singkat ke kantornya: 'Naga Laut hanya ingin lewat, jangan biarkan ombak menenggelamkan rumah Anda.' Sertakan satu lampiran kecil berupa bukti transaksi rahasianya di Cayman Islands."
Elena tersenyum tipis, jarinya bergerak cepat. "Pesan terkirim, Bos."
Di kampus, Nata harus menghadapi realitas yang sangat kontras. Di dalam kelas International Trade Law, ia duduk mendengarkan profesor menjelaskan tentang hambatan tarif dan non-tarif. Baginya, penjelasan itu terasa sangat teoritis dibandingkan dengan perang birokrasi yang baru saja ia lancarkan dari meja apartemennya.
Chloe, teman sekelompoknya, mendekat saat jam istirahat. "Nata, kamu terlihat lebih... tajam hari ini. Apa pekerjaan sampinganmu benar-benar seberat itu?"
"Hanya beberapa masalah logistik, Chloe. Tidak ada yang tidak bisa diselesaikan dengan sedikit tekanan yang tepat," jawab Nata santai.
"Aku serius, Nata. Kamu hampir tidak pernah terlihat di kantin lagi. Banyak mahasiswi yang bertanya-tanya tentangmu. Siapa sih sebenarnya mahasiswa pendiam yang selalu diantar mobil mewah tapi jarang bicara ini?" Chloe mencoba mencairkan suasana, meski ada nada penasaran yang tulus di matanya.
Nata hanya tersenyum. "Aku hanya orang yang tidak ingin sejarah buruk keluarganya terulang. Jadi, aku harus bekerja sedikit lebih keras daripada yang lain."
Tiba-tiba, ponsel khusus di saku Nata bergetar. Sebuah pesan dari Elena: "Ikan besar sudah memakan umpan. Zulkifli meminta pertemuan rahasia malam ini di Johor Bahru."
Nata menatap layar ponselnya, lalu menoleh ke Chloe. "Maaf, Chloe. Sepertinya aku harus melewatkan diskusi kelompok sore ini. Ada urusan mendesak."
Perjalanan menuju Johor Bahru ditempuh dengan cepat. Nata tidak pergi sendirian. Elena ikut bersamanya, membawa tas kerja yang berisi kontrak-kontrak hukum yang sudah dimodifikasi untuk menjerat lawan. Mereka bertemu di sebuah restoran tua yang sepi di pinggiran Johor, tempat yang sengaja dipilih agar tidak terdeteksi oleh radar intelijen keluarga Chen.
Tan Sri Zulkifli sudah menunggu. Pria tua itu tampak sangat tegang. Di atas meja di hadapannya, terdapat cetakan dokumen yang dikirimkan Elena.
"Siapa kau sebenarnya, anak muda?" tanya Zulkifli dengan suara berat. "Dokumen ini... hanya sedikit orang di dunia ini yang bisa mengaksesnya."
Nata duduk dengan tenang, sementara Elena berdiri di belakangnya seperti bayangan yang waspada. "Siapa saya tidak penting, Tan Sri. Yang penting adalah apa yang ingin saya lakukan. Saya ingin akses penuh ke jaringan distribusi Anda di semenanjung Malaysia. Sebagai gantinya, dokumen ini tidak akan pernah sampai ke meja komisi anti-korupsi."
Zulkifli tertawa getir. "Kau ingin aku menyerahkan bisnis yang kubangun selama tiga puluh tahun kepada seorang bocah?"
"Saya tidak meminta Anda menyerahkannya. Saya meminta aliansi. Prawira Global akan menyuntikkan modal dan teknologi untuk mendigitalisasi sistem Anda. Efisiensi akan naik empat puluh persen. Keuntungan Anda akan tetap ada, tapi kendali strategisnya ada di tangan saya," jelas Nata. "Anda bisa pensiun dengan tenang sebagai pahlawan industri, atau Anda bisa menghabiskan sisa umur Anda di balik jeruji besi. Pilihan ada di tangan Anda."
Zulkifli menatap Elena, yang memberikan tatapan dingin tanpa emosi. Pria tua itu menyadari bahwa ia tidak sedang berhadapan dengan remaja biasa. Ia sedang berhadapan dengan entitas baru yang tidak memiliki rasa takut.
"Apa jaminannya kau tidak akan mendepakku setelah sistemnya berjalan?"
"Jaminannya adalah saya butuh wajah Anda untuk menjaga stabilitas politik di sini. Saya adalah arsitek, Tan Sri. Arsitek butuh fondasi yang sudah ada untuk membangun gedung yang lebih tinggi. Anda adalah fondasi itu," jawab Nata.
Setelah negosiasi yang alot selama tiga jam, Zulkifli akhirnya menandatangani dokumen nota kesepahaman. Operasi Naga Laut secara resmi telah menembus daratan Malaysia.
Dalam perjalanan pulang melintasi causeway menuju Singapura, Elena menatap Nata yang tampak memejamkan mata di kursi belakang mobil.
"Bos, Anda tahu Zulkifli akan mencoba mengkhianati kita dalam enam bulan kedepan saat dia merasa situasinya aman?" tanya Elena.
Nata membuka matanya sedikit, menatap lampu-lampu jalan yang bergerak cepat. "Tentu saja. Karena itulah, tugasmu adalah memastikan semua sistem logistiknya terintegrasi ke dalam server kita. Saat dia mencoba memutus hubungan, seluruh rantai pasoknya akan mati secara otomatis. Dia akan menjadi sandera dari teknologinya sendiri."
Elena mengangguk kecil. Ia semakin kagum dengan cara pikir Nata yang selalu memikirkan tiga langkah ke depan. "Bos, Anda benar-benar tidak pernah memberikan ruang untuk kegagalan."
"Kegagalan adalah variabel yang bisa diminimalisir jika kita cukup teliti, Elena. Sekarang, fokus pada langkah berikutnya. Marcus Chen mulai bertanya-tanya kenapa aku sering ke Malaysia. Buatlah laporan palsu bahwa aku sedang mengejar riset untuk tugas akhir kuliahku."
"Sudah saya siapkan, Bos. Lengkap dengan draf wawancara dengan beberapa profesor fiktif," jawab Elena.
Nata tersenyum puas. Memiliki Elena adalah keputusan terbaik yang pernah ia buat. Dengan bantuan asisten sehebat ini, Nata merasa ia bisa mengendalikan dua negara sekaligus tanpa harus kehilangan waktu tidurnya.
Saat mobil mereka kembali memasuki wilayah Singapura, Nata melihat layar ponselnya. Harga BitCore kini menyentuh angka 800 dolar AS. Namun, kekayaan digital itu hanyalah angka di layar. Kekuasaan yang sesungguhnya adalah saat ia bisa membuat seorang taipan seperti Zulkifli gemetar hanya dengan satu baris pesan singkat.
"Garis takdir ini sekarang sudah menjadi jaring yang luas," gumam Nata.
Ia teringat ayahnya, teringat kemiskinan yang pernah mencekiknya. Sekarang, ia berdiri di puncak dunia, mengatur ombak di selat Malaka. Dan ini, Nata tahu, baru merupakan awal dari badai yang akan ia ciptakan di pasar global.
Bersambung.....