Carisa pernah menjalin hubungan dengan Reynanda sejak masa kuliah. Awalnya terasa hangat dan penuh cinta, hingga akhirnya ditinggalkan tanpa penjelasan, bahkan saat ia mengandung anak Reynanda.
Sejak itu, hidup Carisa runtuh pelan-pelan. Ia menanggung luka yang dalam dan sempat berada di titik terendah.
Waktu berjalan, tetapi luka itu tidak benar-benar hilang. Hanya mengendap dan membuat Carisa semakin tertutup. Hingga suatu hari, ia dijodohkan dan bertemu dengan seorang pria yang tenang dan tidak banyak bertanya. Dari pernikahan itu, Carisa perlahan kembali menjalani hidup, meski trauma masa lalunya tetap ada dalam diam.
Dan ketika Carisa mulai benar-benar terbiasa hidup tanpa nama itu di kepalanya, takdir justru mempermainkannya lagi. Setelah lima tahun berlalu, mereka dipertemukan kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Bandung dingin pagi itu. Kabut tipis menyelimuti perbukitan ketika mobil mereka memasuki gerbang villa. Carisa menatap bangunan di depannya dari balik kaca, megah tapi hangat, dengan lampu-lampu kuning yang menyala di sepanjang teras dan tanaman rambat di dinding batu yang basah oleh embun. Suara tawa anak-anak sudah terdengar dari luar.
Ia menarik napas pelan. Ini hanya pertemuan keluarga biasa, ia mengingatkan dirinya sendiri. Senyum, bicara seperlunya, lalu pulang.
Yuda sudah keluar dari mobil lebih dulu. Seperti biasa, tidak menunggu, tidak menawarkan tangan, tidak menoleh untuk memastikan Carisa mengikuti. Ia berjalan dengan langkah yang sama seperti biasanya, tegak dan terkontrol. Carisa menyusul dua langkah di belakang.
Di dalam, aula utama villa sudah ramai. Keluarga besar Yuda datang dari berbagai kota dan kalangan, ada yang sudah tua, ada yang masih kecil berlarian di antara kaki orang dewasa, ada yang berkumpul di sudut ruangan dengan gelas kopi di tangan. Wajah-wajah yang sebagian Carisa kenal samar, sebagian sama sekali asing.
Ia mencoba tersenyum. Bersikap wajar. Menjawab sapaan dengan kalimat yang pendek tapi tidak terkesan dingin.
Tapi tubuhnya tidak nyaman. Perasaan orang yang berada di ruangan yang bukan miliknya dan tidak pernah benar-benar berhasil berpura-pura sebaliknya.
Yuda berhenti sebentar di sampingnya. "Jangan jauh-jauh dariku," katanya singkat, matanya menyapu ruangan. "Biar tidak repot."
Carisa mengangguk. Yuda melanjutkan langkahnya disambut kerabat yang menepuk bahunya, yang memanggil namanya dengan hangat. Di sini, Yuda berbeda sedikit. Masih diam, masih formal, tapi ada tempat untuknya di sini, ada wajah-wajah yang menyambut kehadirannya dengan tulus. Ia cucu tertua yang ditunggu semua orang. Carisa berdiri sedikit di belakangnya. Mengamati suaminya yang tersenyum, dan ia baru menyadari kalau senyum Yuda begitu manis.
Para tamu terus berdatangan. Carisa sudah menemukan sudut yang nyaman dekat jendela, memegang secangkir teh hangat yang diambilnya dari meja prasmanan, ketika suara itu terdengar dari arah pintu masuk.
"Humaira, sayang, akhirnya datang juga! Mana suami dan anakmu?"
Suara Tante Laila, kakak ayah Yuda, nyaring memecah keramaian.
Carisa menoleh reflek, seperti semua orang di ruangan itu yang ikut menoleh.
Seorang perempuan dengan gamis syar'i berwarna hitam berjalan masuk dengan senyum yang tenang di wajahnya, senyum yang terasa hangat bahkan dari jarak ini, senyum orang yang nyaman dengan dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya. Humaira. Perempuan itu memeluk Tante Laila dengan hangat, menjawab pertanyaan dengan suara lembut yang terdengar jelas dari tempat Carisa berdiri.
Lalu dunia Carisa seolah berhenti, saat melihat sosok di belakangnya.
Reynanda berjalan masuk. Menggendong anak laki-laki berusia sekitar tiga tahun di lengannya, anak dengan pipi tembem dan mata yang besar, yang memeluk leher ayahnya dengan santai.
Dalam sepersekian detik, mata Reynanda menyapu ruangan. Dan berhenti tepat pada Carisa.
Keduanya kaku. Di tengah ruangan yang ramai, di antara suara tawa dan sapaan, ada dua orang yang tiba-tiba berdiri di dalam gelembung sunyi mereka sendiri. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang bersuara. Hanya tatapan yang bertemu dan tidak tahu bagaimana cara dilepaskan.
Anak di gendongan Reynanda merengek pelan, menarik kerah bajunya.
Baru itu yang membuatnya berkedip. Mengalihkan pandangan ke anaknya, membisikkan sesuatu, lalu anak itu melangkah mengikuti Humaira yang sudah berjalan ke arah kerumunan.
Carisa tidak bergerak. Tangannya mencengkeram cangkir tehnya lebih erat dari yang ia sadari.
"Akhirnya datang juga." Suara Yuda terdengar di sampingnya dan Carisa baru sadar suaminya sudah berdiri di sebelahnya, menatap ke arah Humaira dengan senyum tipis yang jarang muncul di wajahnya.
Carisa menoleh ke Yuda. Bingung.
Yuda menoleh ke arahnya. Membaca kebingungan di wajah istrinya, lalu berkata dengan nada yang terlalu tenang untuk situasi itu, "Humaira sepupuku. Kamu mungkin belum pernah melihatnya karena waktu kita menikah, ia dan suaminya sedang umroh."
Deg.
Kata-kata itu jatuh pelan, tapi efeknya seperti sesuatu yang berat menghantam permukaan air yang tenang. Gelombangnya menyebar ke mana-mana.
Carisa menahan napas.
Suami Humaira.
Adalah sepupu iparnya sendiri.
Ia tidak bergerak. Tidak bersuara. Hanya berdiri di sana dengan cangkir teh di tangannya dan senyum yang mulai retak di sudut bibirnya, sementara di kepalanya, semuanya berputar terlalu cepat untuk bisa ia ikuti.
Takdir... kalau memang itu namanya... terasa sangat kejam kali ini
Meja makan panjang di ruang tengah villa dipenuhi canda tawa. Aroma masakan mengambang hangat di udara. Anak-anak berlarian sebelum akhirnya dipaksa duduk. Para tante saling bercerita tentang tanaman dan resep dan tetangga yang baru pindah. Para om membahas bisnis dan politik dengan suara yang semakin lama semakin keras seiring kopi yang semakin habis.
Carisa duduk di sebelah Yuda.
Reynanda duduk tepat di seberangnya, di sebelah Humaira.
Di antara semua kursi di meja panjang itu, takdir memilih susunan yang paling tidak mungkin dan paling mustahil untuk dihindari.
Carisa mengambil makanannya dengan gerakan yang pelan dan terkontrol. Matanya pada piring di depannya. Ia berbicara ketika diajak bicara, tertawa kecil ketika ada yang lucu, mengangguk ketika ada yang bercerita. Semua gerakan yang ia rasa benar. Ia berusaha merespon dengan tepat.
Tapi setiap beberapa menit, matanya dan mata Reynanda bertemu.
Bukan disengaja. Atau mungkin disengaja tapi tidak diakui. Yang pasti, setiap kali itu terjadi, keduanya langsung mengalihkan pandangan, ke piring, ke orang di sebelah, ke mana saja yang terasa lebih aman.
Humaira tidak curiga. Ia sibuk memotong makanan untuk anaknya, Uwais, itulah nama anak mereka, yang duduk di kursi tinggi di sebelahnya. Dan sesekali Humaira berbisik pada Reynanda.
Carisa memperhatikan itu dari sudut matanya. Dan ada sesuatu di dadanya yang menyesakkan, sesuatu yang tidak berhak ia rasakan, yang tidak seharusnya ada, tapi tetap ada dan tidak peduli pada seharusnya.
Yuda, di sebelahnya, makan dengan tenang. Diam seperti biasa. Tapi Carisa merasakannya, kepekaan yang selalu ada pada lelaki itu, yang selalu ia sembunyikan di balik diam dan tatapan datar. Beberapa kali, tanpa menoleh, tanpa bersuara, Yuda menggenggam tangan Carisa.
Tapi cukup untuk membuat Carisa tidak bisa sepenuhnya mengabaikan bahwa suaminya memperhatikan.
"Humaira, Nanda, kalian sudah berapa tahun menikah? Belum mau nambah momongan lagi?"
Suara Tante yang duduk dua kursi dari Humaira mengambang di udara, ringan dan penuh keingintahuan.
Humaira tersenyum, senyum yang sama seperti tadi di pintu masuk, tenang dan tulus. "Sudah lima tahun, Tante. InsyaAllah doain saja ya, Mas Nanda juga sudah ingin kasih adik buat Uwais."
Tawa kecil berpencar di meja.
Lalu tante yang lain yang duduk persis di sebelah Carisa menoleh ke arahnya dengan senyum yang sama polosnya. "Kalau Yuda sama Carisa sudah dua tahun ya? Belum juga mau punya anak?"
Suasana bergeser dan membuat canggung, cukup untuk membuat beberapa pasang mata beralih ke arah mereka.
Yuda tersenyum tipis. Tenang. Tidak terlihat terganggu sedikit pun. "Rezeki orang beda-beda, tante. Tapi aku dan Risa terus berdoa dan berusaha agar secepatnya di kasih."
Jawaban yang sempurna, sopan, menutup topik tanpa membuat siapapun merasa tidak enak.
Carisa mengangguk kecil, mengikuti jawaban suaminya dengan senyum yang ia harap terlihat cukup wajar.
Tapi tanpa ia sadari, matanya kembali bergerak ke arah Reynanda.
Dan ia melihat mata lelaki itu sayu. Seperti menahan sesuatu. Seperti ada kata-kata yang ingin keluar tapi tidak menemukan pintu yang aman untuk dilewati.
Carisa mengalihkan pandangan ke tehnya.
Setelah makan selesai, keluarga mulai berpencar. Anak-anak berlarian ke taman. Humaira mengikuti Uwais yang minta digendong keluar. Para orang tua berkumpul di beranda dengan kopi dan obrolan yang tidak ada habisnya. Yuda menerima telepon, berjalan ke sudut ruangan dengan ponsel di telinga dan punggung yang membelakangi semua orang.
Carisa berjalan ke dapur. Mengambil segelas air, dan untuk bernapas sejenak, menyingkir dari para orang tua yang terus membuatnya canggung.
Ia baru saja menuangkan air ke gelasnya ketika langkah kaki terdengar masuk ke dapur. Ia menoleh.
"Kamu sudah tahu?" tanya Carisa tanpa basa-basi.
"Tentang mereka sepupu?" Reynanda menjawab tanpa menoleh. Ia berdiri di sisi wastafel, mengambil gelas juga, gerakan yang terlihat wajar kalau ada orang lain yang melihat. Dua orang yang kebetulan di dapur pada waktu yang sama.
"Ya." Reynanda mengangguk pelan. "Aku tahu sejak pertama menikah dengan Humaira. Yuda sering datang ke acara keluarga, aku sering bertemu dengannya." Ia berhenti sebentar. "Tapi aku baru tahu kalau dia suamimu setelah proposalmu masuk ke kantorku."
Carisa menyeruput airnya. Matanya pada dinding di depannya.
"Jadi sekarang..." ia berhenti. Menelan sesuatu. Lalu melanjutkan dengan suara yang nyaris serak, "Kita keluarga?"
Keheningan mengisi dapur itu. Di luar, suara tawa anak-anak terdengar dari taman. Suara Humaira memanggil anaknya dengan lembut. Suara sendok dan piring yang dibersihkan di meja makan. Dunia di luar dapur itu bergerak seperti biasa, tidak tahu dan tidak peduli dengan dua orang yang berdiri di dalamnya, masing-masing memegang gelas, masing-masing menatap ke arah yang berbeda, masing-masing menanggung berat yang tidak bisa mereka letakkan.
keluarga.
Kata yang bagi orang lain mungkin terdengar biasa. Tapi bagi mereka, kata itu adalah pintu yang baru saja menutup rapat. Tidak ada lagi jalan untuk menghilang, tidak ada lagi alasan untuk tidak bertemu, tidak ada lagi jarak yang cukup aman untuk dijaga.
Takdir telah menjahit mereka dalam satu lingkaran, lebih rapat, lebih rumit, lebih tidak mungkin untuk dilepaskan dari sebelumnya.
Reynanda tidak menjawab. Carisa sudah tahu jawabannya. Dan jawaban itu jauh lebih berat dari pertanyaan manapun yang pernah ia hadapi sebelumnya.
siapa pemeran utamanya, siapa pemeran pembantunya, ungkap ustadzah Humairah
geregetan deh. ingin numpuk pala Yuda pakai bakiak