NovelToon NovelToon
KEY

KEY

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:370
Nilai: 5
Nama Author: DAN DM

AKU ADALAH KEY.
AKU HIDUP BERSAMA TUKANG KAYU DARI PENJAG KUIL

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DAN DM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tetap low

Pertandingan pun dimulai. Suasana di lapangan sangat panas dan tegang.

Abraham langsung main dengan agresif penuh.

DUNG! DUNG!

Ia mendribble bola dengan keras, badannya yang besar dan kuat mendorong-ngdorong Deon dengan mudah.

 

Di kepala Deon, alarm peringatan berbunyi terus.

*Analisis: Jarak aman 1 meter.

Analisis: Titik lemah pertahanan ada di sisi kiri.

Analisis: Kecepatan lawan 70%, kekuatan 95%.

Saya bisa mengelak dalam 0.1 detik.

Saya bisa merebut bola dengan sentuhan energi.

Saya bahkan bisa melompat tinggi melewati kepalanya dan memasukkan bola tanpa dia sadari.

Tapi...

Deon menghela napas pelan.

"Tidak. Jangan."

Ingat Deon. Tujuanmu kuliah itu untuk berbaur, bukan untuk jadi monster yang menakuti semua orang.

Kalau aku menang telak di sini, besoknya seluruh kampus bakal tahu aku bukan manusia biasa. Rahasia tempatku tinggal bisa bahaya.

Lebih baik... kalah yang wajar-wajar aja. Biar low profile. Biar mereka pikir aku cuma pintar di buku tapi biasa aja di fisik.

 

"Yahaaa! Lemas lo ya!" teriak Abraham sombong.

Abraham mendorong bahu Deon.

JEDER!

Deon pura-pura oleng, kakinya diseret sedikit, tangannya gagal meraih bola.

"Eh... maaf, licin," kata Deon pura-pura bingung.

JAR!

Abraham masukkan bola dengan mudah.

SCORE: ABRAHAM 10 - DEON 0

Abraham tertawa keras, memutar bola di jarinya.

"Gitu aja kok repot! Dasar cuma bisa ngitung doang! Fisik lo lembek kayak tahu!"

Penonton pada berbisik-bisik.

"Ih... ternyata beneran lemah ya?"

"Kasihan Deon... kelihatan bingung dan gak bisa main."

Deon mengusap keringat palsu di dahi, lalu tersenyum kecut. "Wah hebat sekali Kak Abraham. Saya mengaku kalah. Maaf ya tadi lancang."

Di pinggir lapangan, Vina Edward menyaksikan itu semua dengan wajah yang berubah masam.

Dari awal dia berharap Deon bisa keren, bisa melindungi, dan bisa mengalahkan Abraham yang sombong itu.

Tapi kenyataannya?

Deon kalah telak! Gampang banget dibanting dan didorong! Bahkan nggak bisa mencetak satu angka pun!

"Hah... payah sekali." gumam Vina kesal dan kecewa berat.

Rasa kagumnya tadi lenyap seketika digantikan rasa ilfeel (ilfeel \= tidak tertarik).

Gitu doang nggak bisa. Cuma otak doang, fisiknya nol. Mana bisa jadi pelindung cewek kalau gitu?

Dibandingkan sama Abraham yang gagah, kuat, dan jago... Deon kelihatan kayak anak kecil yang manja.

Vina melipat tangan di dada, wajahnya cemberut dan dingin. "Dasar lemah. Nggak ganteng sama sekali pas kalah gitu."

 

Sementara Vina menjauh dan merasa malu punya teman kalah, Prizeyl justru berlari kecil mendekati Deon yang sedang membetulkan bajunya.

"Deon... kamu nggak apa-apa kan?" tanya Prizeyl lembut, matanya penuh perhatian.

"Nggak apa-apa Nona. Cuma kalah main doang kok," jawab Deon santai.

"Ya sudah jangan dimasukin hati ya. Tadi kan kamu emang belum siap dan dia kan emang jagoannya kampus. Wajar kok kalah."

Prizeyl menarik lengan Deon pelan.

"Ayo... jangan di sini lagi. Panas dan berdebu. Kita ke kantin aja ya. Kita minum dan makan . Anggap angin lalu aja."

Mereka berdua duduk di meja pojok kantin yang agak sepi. Jauh dari keramaian dan jauh dari Vina yang masih ngambek di lapangan.

Deon menyeruput es buah dengan tenang.

"Maaf ya Nona... jadi bikin malu," celetuk Deon.

"Ah ngomong apa sih!" Prizeyl memukul lengan Deon pelan. "Kalah menang itu biasa dalam olahraga. Yang penting kan kamu orang baik dan pintar. Itu lebih dari cukup kok."

Prizeyl menatap Deon heran. "Tapi jujur Deon... tadi pas main, kok kelihatan banget ya kamu nggak konsentrasi? Padahal kan kamu itu jenius, pasti bisa baca gerakannya dong?"

Deon tersenyum misterius sambil menunjuk ke arah luar jendela kantin, di mana Abraham sedang pamer gaya di depan Vina.

"Kan emang sengaja Nona," bisik Deon pelan.

"Maksudnya?!" mata Prizeyl melotot.

"Rahasia negara," jawab Deon sambil mengedipkan mata sebelah. "Yang penting sekarang kan kita aman, kita tenang, dan kita bisa makan enak tanpa jadi pusat perhatian yang aneh-aneh."

 

Meskipun di permukaan Deon terlihat seperti pecundang, tapi di dalam hatinya dia justru senang.

*Bagus. Jadi sekarang:

- Para musuh/penyombong: Merasa menang dan puas, jadi mereka bakal ngebiarin aku hidup tenang.

- Vina: Ilfeel, jadi dia nggak bakal terlalu dekat dan bikin masalah cinta-cinta yang ribet.

- Prizeyl: Tetap baik dan jadi teman ngobrol paling nyaman.*

"Perfect," gumam Deon. "Low profile mission accomplished."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!