Karina Dyah Pramesti, it-girl global sekaligus putri kandung Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, harus menelan pahitnya kehancuran karier di Korea Selatan akibat skandal politik yang menjebaknya.
-
Dipulangkan paksa ke tanah air, Karina tidak punya pilihan selain tunduk pada misi terakhir ayahnya: Pernikahan Politik.
Demi menyatukan kekuatan militer dan supremasi ekonomi, Karina dijodohkan dengan Darma Mangkuluhur, pewaris klan Cendana yang dingin dan ambisius. Di tengah kemewahan yang menyesakkan dan intrik kekuasaan antara dua keluarga raksasa, Karina harus memutuskan—menjadi bidak catur yang pasrah, atau bangkit menjadi penguasa baru untuk membalas dendam pada mereka yang telah menghancurkan impiannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 26
***
"Lalu kenapa tanganmu gemetar?" tanya Darma sambil meraih jemari Karina yang sedang meremas tasnya.
Karina refleks menarik tangannya.
"Ini karena saya lapar! Tadi pagi saya belum sarapan karena sibuk menyiapkan penampilan supaya tidak kalah saing dengan perempuan murahan pilihan mitra bisnis Mas itu."
"Pilihan mitra bisnis?" Darma menaikkan satu alisnya. "Angel bukan pilihan saya, dan bukan pilihan siapa pun yang penting bagi saya. Dia hanya kerikil yang sudah saya singkirkan. Kenapa kamu masih membahasnya?"
"Karena Mas diam saja tadi! Mas terlihat seperti patung yang pasrah mau dipeluk-peluk!" Karina mulai meledak kembali. "Kalau saya tidak datang, mungkin besok beritanya bukan soal Grand Opening, tapi soal 'Reuni Cinta Lama' kalian di lapangan hijau. Dan saya? Saya akan jadi bahan tertawaan se-Indonesia! Menantu Cendana yang suaminya lebih suka menatap selebgram daripada istrinya sendiri!"
Darma tiba-tiba tertawa. Bukan tawa formal yang biasa ia tunjukkan pada rekan bisnis, melainkan tawa rendah yang terdengar sangat tulus dan maskulin. Hal itu justru membuat Karina semakin kesal.
"Kenapa Mas malah tertawa?! Tidak ada yang lucu!"
"Lucu sekali melihatmu berusaha keras menutupi gengsimu, Karina," ucap Darma. Ia mengulurkan tangannya, kali ini tidak bisa ditolak, ia menarik Karina agar duduk lebih dekat dengannya di kursi Maybach yang luas itu. "Dengar. Di lapangan tadi, saat saya melihat kamu berjalan ke arah kami dengan tatapan ingin membunuh itu... itu adalah momen paling membanggakan bagi saya sejak kita menikah."
Karina tertegun, bibirnya sedikit terbuka namun tidak ada kata yang keluar.
"Saya sengaja membiarkannya sebentar," lanjut Darma, suaranya kini merdu dan dalam tepat di telinga Karina. "Saya ingin tahu, sejauh mana putri tunggal Jenderal Agus Subiyanto akan berjuang untuk mengklaim wilayahnya. Dan kamu melakukannya dengan sempurna. Sangat elegan, sangat menghancurkan, dan sangat... seksi."
Wajah Karina terasa seperti terbakar. "Mas... Mas sengaja? Mas menggunakan saya untuk mengetes sesuatu?"
"Saya menggunakan situasi untuk melihat kebenaran," bisik Darma. Ia menyentuh dagu Karina, memaksa wanita itu menatap matanya yang gelap dan penuh otoritas. "Berhentilah bicara soal investasi atau strategi. Akui saja, kamu marah karena wanita itu menyentuh 'punyamu'."
Karina menggigit bibir bawahnya, mencoba mencari kekuatan di balik sisa-sisa gengsinya. "Mas benar-benar menyebalkan. Mas itu... licik, dingin, dan egois."
"Dan saya suamimu," potong Darma cepat. "Suami yang baru saja memecat satu orang hanya untuk melihat satu senyum kemenangan di wajahmu."
"Mas tidak dapet senyum dari saya hari ini," ketus Karina, meski sudut bibirnya mulai sulit untuk tidak tertarik ke atas. "Mas hanya dapet tagihan es krim yang lebih banyak karena sudah membuat mood saya berantakan."
"Apapun untukmu, Permaisuri Menteng," sahut Darma.
Darma kemudian menarik Karina ke dalam pelukannya. Anehnya, Karina tidak menolak. Rasa lelah dan sisa adrenalinnya menguap digantikan oleh kehangatan dari tubuh tegap Darma. Meskipun mulutnya masih ingin mengejek soal Angel dan stik golf, namun hatinya merasa menang telak.
"Jangan pernah biarkan wanita seperti itu dekat-dekat Mas lagi," gumam Karina di dada Darma. "Bukan karena saya cemburu, tapi karena saya tidak suka bau parfum mereka nempel di jas mahal Mas."
"Hm," respon Darma dengan deheman khasnya, namun kali ini tangannya mengelus rambut Karina dengan sangat lembut. "Hanya parfummu yang boleh ada di sini."
Di luar, jalanan Jakarta masih bising, namun di dalam mobil itu, aliansi dua ego besar ini baru saja mencapai kesepakatan baru yang jauh lebih intim daripada kontrak apa pun yang pernah mereka tanda tangani.
***
Bersambung....