NovelToon NovelToon
LAYU SEBELUM MALAM : RAHASIA DI BALIK MAHKOTA CLARISSA

LAYU SEBELUM MALAM : RAHASIA DI BALIK MAHKOTA CLARISSA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Clarissa Mahendra adalah ratu kampus yang ditakuti cantik, angkuh, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang mendekati cowok pujaannya. Namun, di balik riasan tebal dan gaya hidup mewahnya, Clarissa menyimpan rahasia mematikan: Vonis Leukemia Stadium 3.
Di tengah perjuangan hidup dan mati, ia justru terasing di rumahnya sendiri. Ayahnya sosok yang dingin, dan kakak kembarnya, Bastian, membencinya karena menganggap Clarissa penyebab kematian ibu mereka saat melahirkan.
Kini, Clarissa sengaja memakai topeng "jahat" agar dunia membencinya. Ia ingin pergi dalam sunyi, tanpa ada yang merasa kehilangan. Namun, mampukah ia terus bersandiwara saat waktu yang ia miliki perlahan habis sebelum malam menjemputnya selamanya?
"Satu rahasia, seribu kebencian, dan satu takdir yang tak bisa dihindari."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AKAD DI ATAS PERMADANI DOA

Pagi itu, kediaman keluarga Mahendra diselimuti oleh aroma bunga melati yang segar dan kayu gaharu yang menenangkan. Tidak ada musik hingar-bingar atau pesta pora yang berlebihan. Sesuai permintaan Clarissa, pernikahan ini digelar dengan konsep intimate syar'i yang mengutamakan keberkahan.

Di dalam kamar pengantin, Clarissa duduk di depan cermin. Ia mengenakan gaun pengantin berwarna putih gading yang menutup aurat dengan sempurna, dihiasi payet kristal halus yang berkilau seperti embun. Jilbabnya ditata anggun dengan _veil_ panjang yang menjuntai. Di balik riasannya yang tipis namun berseri, tersimpan rasa syukur yang tak terhingga; ia masih diberi napas untuk sampai di hari ini.

"Cantik sekali putri Papa," bisik Pak Gunawan yang masuk ke kamar dengan mata berkaca-kaca. Ia memberikan sebuah kotak kecil berisi tasbih kayu zaitun. "Pakai ini nanti saat berzikir setelah akad, ya."

Clarissa memeluk ayahnya erat. "Terima kasih, Pa. Terima kasih sudah mengizinkan Clarissa memulai hidup baru."

Di ruang utama, Adrian duduk di depan meja akad dengan wajah yang sangat serius. Ia mengenakan beskap putih dengan peci senada. Jantungnya berdegup kencang, jauh lebih kencang daripada saat ia membawa Clarissa ke UGD di Singapura dulu. Di sampingnya, Bastian duduk sebagai saksi dari pihak keluarga, memberikan anggukan kecil untuk menguatkan sahabat yang kini akan menjadi adik iparnya.

Pak Gunawan menjabat tangan Adrian. Suasana seketika hening. Hanya terdengar suara detak jantung dan embusan angin sepoi-sepoi dari taman.

"Saudara Adrian Pratama bin Ahmad Pratama, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Clarissa Mahendra binti Gunawan Mahendra, dengan mas kawin berupa seperangkat alat salat dan logam mulia seberat 50 gram, dibayar tunai!"

Adrian menarik napas panjang, suaranya keluar dengan lantang dan tanpa keraguan sedikit pun.

"Saya terima nikah dan kawinnya Clarissa Mahendra binti Gunawan Mahendra dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"

"Sah?"

"SAH!"

Seketika, air mata syukur tumpah dari mata Adrian. Ia menunduk dalam, mengucapkan hamdalah berkali-kali. Di dalam kamar, Clarissa yang mendengar suara Adrian melalui pengeras suara, langsung bersujud syukur di atas sajadahnya. Ia kini resmi menjadi seorang istri.

Panggilan "Istriku" yang Pertama

Setelah akad selesai, Clarissa dibimbing keluar untuk menemui suaminya. Saat pintu terbuka dan Clarissa melangkah menuju pelaminan sederhana, Adrian berdiri terpaku. Ia menatap wanita yang telah melalui badai leukemia bersamanya, kini berdiri sebagai ratu di hidupnya yang sesungguhnya.

Clarissa menyalami tangan Adrian, menciumnya dengan penuh rasa hormat. Untuk pertama kalinya, Adrian menyentuh kening Clarissa dan membacakan doa keberkahan di atas kepala istrinya.

"Selamat pagi, Istriku," bisik Adrian sangat pelan, hanya untuk didengar oleh Clarissa.

Pipi Clarissa merona merah di balik cadar tipis yang ia kenakan saat prosesi. "Selamat pagi, Suamiku."

Panggilan "Aku-Kamu" yang dulu terasa manis, kini berubah menjadi getaran yang jauh lebih sakral. Mereka duduk berdampingan, bukan lagi sebagai dua mahasiswa yang sedang mencari jati diri, melainkan sebagai sepasang suami istri yang siap membangun rumah tangga di atas landasan iman.

Di tengah acara resepsi yang dihadiri keluarga dan sahabat dekat seperti Maya dan Bianca, Adrian meminta mikrofon. Ia mengajak Clarissa berdiri di tengah taman.

"Hari ini, selain merayakan pernikahan kami, aku dan Clarissa ingin berbagi kebahagiaan dengan teman-teman seperjuangan Clarissa di yayasan kanker," ujar Adrian.

Beberapa anak kecil dengan penutup kepala (karena menjalani kemoterapi) masuk membawa bunga. Clarissa menangis haru melihat mereka. Ia memeluk anak-anak itu satu per satu. Ia memberikan santunan dan beasiswa yang telah ia siapkan bersama Adrian sebagai bentuk rasa syukur atas remisinya.

"Kak Clarissa hebat! Kakak bisa sembuh dan menikah, kami juga pasti bisa!" seru salah satu anak kecil bernama Dinda.

Clarissa mengusap air matanya. "Iya sayang, kalian harus kuat. Allah itu Maha Baik."

Malam harinya, setelah semua tamu pulang, suasana rumah menjadi sunyi dan damai. Di dalam kamar pengantin yang berhias kelopak mawar putih, Adrian dan Clarissa duduk bersama di atas sajadah. Mereka melaksanakan salat sunah dua rakaat setelah menikah, sebuah tradisi yang sudah mereka impikan sejak di Singapura.

Selesai berdoa, Adrian memutar posisinya menghadap Clarissa. Ia menatap wajah istrinya tanpa hijab untuk pertama kalinya melihat rambut Clarissa yang mulai tumbuh pendek dan rapi, simbol kemenangan atas kanker.

"Kamu sangat cantik, Clarissa," ujar Adrian lembut. "Aku janji, aku akan menjagamu bukan hanya di saat sehatmu, tapi di setiap embusan napasmu."

Clarissa menyandarkan kepalanya di bahu Adrian. "Aku bersyukur Allah memberikan sakit itu, karena kalau aku tidak sakit, mungkin aku tidak akan pernah bertemu dengan pria sepertimu, Adrian."

Adrian mencium kening Clarissa dengan penuh kasih. Malam itu, mereka memulai lembaran baru. Bukan sebagai orang yang sempurna, tapi sebagai dua insan yang saling menyempurnakan dalam ketaatan.

1
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
mewek
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
nagis gue😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!