Setelah diputuskan tiga tahun yang lalu oleh mantan kekasihnya dan menutup diri dari pria manapun, Anata Yulia gadis 24 tahun itu, tiba-tiba saja dijodohkan dengan seorang pria yang tidak dikenal oleh kedua orang tuanya.
"Kamu harus mau Nat, sebentar lagi kamu 25 tahun, usia yang rawan dan sudah pantas untuk menikah. Maka, kamu harus mau, ya, kami jodohkan dengan pria tampan dan mapan." Sang Ibu membujuk dengan memohon.
Namun, siapa sangka pria yang akan dijodohkan dengannya ternyata adalah....
"Nata nggak mau, Bu?"
"Kenapa?"
"Karena...."
Yuk, pengen tahu kelanjutan kisahnya? Tentu bakal bikin penasaran. Ikuti kisahnya di "Dijodohkan Dengan Mantan Kekasih"
Ikuti Auhto di
FB " Tupar Nasir
WA 089520229628
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Dua Cangkir Kehangatan
Sentuhan itu sangat lembut sampai mata Anata terpejam, seolah menikmatinya.
"Akhhh...."
Namun, Anata keburu menyadarinya, ia tersentak dan menggeser kepalanya ke samping kiri.
Wajah Kafeela di atasnya terlihat kecewa. Namun, tidak lama dari itu ia justru tersenyum penuh kemenangan.
"Maaf."
"Kamu sengaja, ya? Tidak tahu tempat!" sungutnya seraya membalikkan badan dan memunggungi Kafeela yang masih tersenyum.
"Tadi, hanya ketidaksengajaan, Sayang," alasannya sambil membenahi diri. Kafeela masih tersenyum, ia sungguh sangat bahagia malam ini.
Tidak lama dari itu, Anata sepertinya tertidur, napasnya teratur dan lembut.
"Tidur, dia. Sangat ngantuk sepertinya."
Kafeela mulai menyusul Anata ke alam mimpi, lagipula ia memang ngantuk juga.
Beberapa jam kemudian, bus khusus pasangan itu tiba di tempat tujuan. Tepat di depan sebuah hotel tempat mereka menginap.
Para penumpang masih ada yang terlelap saat kernet bus memberitahukan kalau bus sudah sampai, termasuk Anata.
"Sayang, kita sudah tiba." Kafeela mengguyah lembut tubuh Anata.
Anata menepis tangan Kafeela, lalu ia tidur kembali.
Jiwa usil Kafeela bangkit lagi. Ia terpaksa harus memencet hidung istrinya biar terbangun.
Sementara suara sang kernet kembali menggema membangunkan para penumpang yang masih belum turun.
"Awwhhh... Apaan sih?" Wajah Anata bergerak ke kiri dan kanan, ia merasa napasnya tertahan.
"Sayang, ayo bangun."
Kafeela kembali mengguyah bahu Anata, sampai Anata benar-benar terbangun.
"Jam berapa ini?" tanyanya serak.
"Ini jam tiga dini hari. Kalau kamu masih ngantuk, nanti bisa di dalam kamar hotel. Lalu melanjutkan adegan kita tadi." Senyum di wajah Kafeela terbit.
Anata memalingkan wajah lalu mendelik dan bergumam ketus. "Huh...."
Mereka sudah turun dari bus, sejenak Anata memperhatikan sekitar. "Ini hotelnya kah?"
"Ayo, Sayang. Kita ke resepsionis untuk mengambil kunci kamar kita." Dengan cepat Kafeela meraih lengan kiri Anata dengan posesif. Sementara tangan kirinya menarik koper miliknya.
Mereka sudah mendapat kuncinya masing-masing. Kamar mereka berada di lantai enam. Untuk ke sana harus melewati lift atau tangga. Kafeela lebih memilih lift agar cepat.
"Kamar nomer 789," gumamnya. "Sepertinya itu."
Sementara Anata, tidak peduli apa yang sedang dipikirkan Kafeela. Sejak tadi ia membayangkan deburan ombak yang samar-samar terdengar.
"Tit...."
Pintu kamar hotel terbuka, Kafeela mempersilahkan Anata terlebih dahulu masuk kamar itu. "Masuklah, Sayang."
Anata masuk, wajahnya berbinar mengitari ruangan hotel. Namun yang langsung ia tuju adalah ranjang. Tanpa pikir panjang, Anata menghempas tubuhnya di atas ranjang, menikmati lembutnya ranjang itu.
Kafeela menggelengkan kepala, merasa senang melihat Anata bahagia. "Sepertinya masih ngantuk dia."
Betul dugaannya, Anata kembali tidur. Napasnya berhembus dengan lembut dan teratur.
Sementara Kafeela membereskan koper miliknya dan Anata, lalu ia beranjak ke kamar mandi.
Anata sangat terlelap sampai sebuah suara lantunan masuk ke dalam mimpinya. Begitu tenang dan damai. Perlahan ia bergerak lalu membuka matanya.
Pemandangan pertama yang ia lihat adalah tubuh Kafeela yang duduk tenang sambil membaca quran di hadapannya. Kafeela sedang mengaji. Suaranya tidak keras, namun begitu jelas di telinga Anata.
"Shodaqollohul'adzim..."
Kafeela mengakhiri ngaji dan menutup kembali quran kecil miliknya.
Merasa diperhatikan, Kafeela refleks menoleh ke arah Anata.
Anata refleks memalingkan wajah, namun sayang Kafeela sudah melihat. Ia bangkit lalu tanpa segan menaiki ranjang dan meraih bahu Anata lembut.
"Sayang, cepat ke kamar mandi. Sudah hampir setengah enam, kamu belum sholat," ujarnya lembut.
Anata langsung bergerak, padahal suara Kafeela barusan, membuat jantungnya berdebar.
Perlahan ia bangkit, beberapa saat ia masih ngulet dan menguap.
"Sebentar lagi kita sarapan. Lalu setelah itu kita menikmati pantai."
Mendengar kata pantai, Anata langsung bangkit dari tempat tidur. Sejak kemarin, ia memang sudah merindukan suasana pantai. Deburan ombaknya terdengar, tapi Anata bingung dari arah mana suara ombak itu.
Kafeela beranjak dan membiarkan istrinya menunaikan kewajibannya. Ia berjalan menuju balkon. Saat gorden hotel itu ia buka, pemandangan pertama yang ia lihat adalah pantai yang indah.
"Wahh... indahnya." Kafeela bergumam menikmati indahnya deburan ombak dan pantai yang disapu.
Kafeela kembali ke dalam, lalu membuat dua seduhan minuman sachet yang sudah disediakan pihak hotel di kamar itu.
Secangkir coklat panas dan kopi latte, sudah tersaji di atas meja.
Anata mulai terusik indra penciumannya. Lalu ia menatap ke arah Kafeela yang sedang menikmati kopi latte panasnya.
"Sayang, ini coklat panasmu. Ayo kita ke balkon itu. Kita nikmati minuman ini di sana. Kamu pasti akan sangat senang," ajaknya penuh rasa percaya diri.
Dengan ragu Anata mengikuti Kafeela, terlebih suara deburan ombak memaksa untuk segera ke sana.
"Wahh...ini nggak salah? Indah banget. Aku ingin ke sana, memainkan ombak dan main pasir," ceplosnya sangat girang.
"Nanti kita akan ke sana setelah sarapan. Nikmati dulu coklat panas ini sebelum dingin." Kafeela sudah menyodorkan cangkir yang berisi coklat panas milik Anata.
Anata tidak menolak, ia meraih cangkir itu dan mulai menikmati tegukannya. Tubuhnya bersandar di pagar pembatas, matanya tidak lepas dari pantai yang membentang di belakang hotel.
Anata meletakkan cangkirnya yang masih tersisa di atas meja, ia lalu meraih Hp nya yang tergantung di leher, lalu jepret. Ia mengambil beberapa foto pantai.
Kafeela yang sejak tadi menikmati sekaligus mengamati gerak-gerik sang istri, bangkit lalu dengan perlahan dan lembut, memeluk Anata dari belakang, tangannya melingkar di perut Anata yang ramping.
Anata terkejut dan merasa geli. Ia ingin protes, akan tetapi Kafeela sudah mendaratkan kecupan di pipi Anata, membuat Anata langsung tidak berkutik, apalagi pelukan tangan itu begitu kuat melilitnya.
Suasana ini sejenak begitu syahdu dan dalam, spontan Anata kembali terbuai oleh kenangan masa lalu. Kafeela pernah melakukan hal yang sama.
"Aku mencintaimu, Sayang," ungkapnya di telinga Anata, lalu perlahan memutar tubuh Anata menghadapnya.
Anata yang masih terbuai tanpa sadar membalas pelukan Kafeela. Ia merasakan kehangatan yang dulu ia dapatkan dari pria yang sama.
"Aku juga," balasnya. Hembusan napas keduanya bertemu dan pagutan lembut itu terjadi begitu saja tanpa penolakan.
Sebuah gigitan kecil terjadi di sana membuat Anata terlihat sedikit meringis, lalu Kafeela melepaskan pagutan itu, ia menyeka bibir basah sang istri.
"Kamu sangat cantik pagi ini. Abang sangat menyesal karena dulu pernah menyakitimu," ungkapnya, kembali memaksa Anata memutar memori lama itu. Cinta yang tadi hadir, kembali terguncang oleh masa lalu. Sebab setiap mengingat itu, Anata sangat membencinya.
Anata melepaskan tangannya dari tubuh Kafeela, ia tersadar lalu terdiam dengan perasaan marah.
Rasa perih di bibirnya kini terasa, Anata pergi ke dalam kamar meninggalkan Kafeela yang masih bengong.
"Harusnya aku tidak usah usik lagi masa lalu," sadarnya menyesal.
Ibu..... anaknya nanti tolong di kasih tau ya... Feeling ibu tepat banget, kalau Si Jin itu suka sama Kafee. Jadi nasehati Bu jangan jadi pelakor ya anaknya.... Jangan bikin malu. Ini udah bikin kasus kayak gini. Padahal itu video bapaknya sendiri lo.... diedit lagi pelukan sama istri anak buahnya ckckck....
Memang harus tegas Kafee. Kasih tau papa si jin Jeny. Biar di ganti aja. Jangan karena masalah kayak gini malah menghancurkan rumah tangga mu