“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.
Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.
Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.
Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.
Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.
Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Cinta yang Memilih Menjauh
Ridho menggeleng pelan. “Belakangan ini… semakin sering.”
Nara menghela napas.
“Dia memaksakan diri. Fisiknya sudah tidak sekuat itu lagi. Ditambah tekanan seperti tadi…” ia berhenti sejenak, “jelas memperburuk.”
Ridho diam.
"Ayza," gumam Nara pelan. Ia mengangkat alis sedikit. “Seperti apa dia sebenarnya?”
Ridho tak langsung menjawab. Seolah memilih kata.
“Bu Ayza…” ia menarik napas, “…bukan orang yang mudah goyah.”
Tatapannya lurus ke depan.
“Beliau punya prinsip. Teguh. Kalau sudah memutuskan sesuatu… sulit diubah.”
Nara mendengarkan.
“Dan satu hal lagi,” lanjut Ridho, suaranya makin rendah. “Beliau sangat bertanggung jawab.”
Ia menoleh ke arah pintu ruang rawat.
“Kalau beliau tahu Pak Kaisyaf sakit…” jedanya singkat, “…beliau tidak akan pergi.”
Nara tidak menyela.
“Beliau akan tinggal. Merawat. Sampai akhir.”
Kalimat terakhir itu… lebih berat dari yang lain.
Ridho tersenyum tipis. Pahit.
“Sepuluh tahun mereka bersama, Dok.” Ia menggeleng pelan. “Tidak pernah ada masalah sebesar ini.”
Nara menyandarkan tubuhnya ke dinding.
“Sebagai wanita…” ucapnya pelan, “aku tidak yakin dia akan sekuat itu.”
Ridho menoleh.
“Kalau dia benar mencintai Kaisyaf,” lanjut Nara, “dia akan terluka. Tapi bukan berarti dia tidak bisa belajar melepas… pelan-pelan.”
Ridho tersenyum lagi. Kali ini lebih pahit. “Pak Kaisyaf tidak mau ambil risiko itu.”
Nara mengernyit. “Maksudmu?”
Ridho menarik napas. “Beliau sengaja membuat Bu Ayza membencinya.”
Nara terdiam.
“Agar saat waktunya tiba…” lanjut Ridho, “Bu Ayza tidak lagi terikat.”
Tatapannya turun.
“Agar beliau bisa pergi… tanpa menarik dua orang ikut hancur bersamanya.”
Nara menatapnya lama. “Dan anaknya?” tanyanya.
Ridho tersenyum tipis.
“Itu yang paling dipikirkan.” Ia melanjutkan, lebih pelan. “Pak Kaisyaf sedang… memindahkan dirinya sendiri.”
Nara mengernyit. “Memindahkan?”
“Pelan-pelan,” jawab Ridho. “Menggeser posisi itu. Sebagai ayah. Sebagai tempat bergantung.”
Tatapannya kembali ke arah ruang rawat. “Ke orang yang dia percaya… bisa menjaga mereka.”
Nara mengembuskan napas panjang.
“Gila.”
Ridho tidak membantah..“Cinta memang sering membuat orang jadi seperti itu.”
Nara mendengus pelan. Lalu mengibaskan tangan. “Makanya aku tidak mau terlibat terlalu jauh.”
Ridho melirik. “Karena itu Dokter tidak menikah?”
Nara berdecak. “Aku sudah dua kali patah hati,” jawabnya santai. “Dan aku cukup belajar dari situ.”
Ia menatap lurus ke depan. “Aku tidak butuh orang lain untuk membuat hidupku rumit.”
Ridho tersenyum kecil. “Kadang… justru karena tidak mau rumit, kita kehilangan sesuatu yang berharga.”
Nara menoleh. “Atau justru menyelamatkan diri.”
Keduanya terdiam. Namun kali ini… bukan karena tidak ada yang bisa dikatakan. Tapi karena masing-masing… sedang memikirkan hal yang sama.
Tentang seseorang yang memilih terluka… agar orang lain bisa tetap utuh.
Beberapa menit tak ada yang bicara. Hingga Nara tiba-tiba menoleh. Tatapannya mengarah lurus ke Ridho.
“Dia bilang… Ayza pernah bertahan merawat orang yang tidak mencintainya.” Suaranya pelan, tapi penuh tanya. “Maksudnya?”
Ridho terdiam sejenak. Seolah menimbang… seberapa jauh ia harus membuka cerita yang bukan miliknya.
“Pernikahan pertama Bu Ayza… karena perjodohan, Dok,” jawabnya akhirnya. “Mereka tidak saling mencintai.”
Nara mengernyit sedikit. “Masih tetap bertahan?”
Ridho mengangguk.
“Bukan cuma bertahan.” Suaranya berubah lebih dalam. “Beliau tetap menjalankan semuanya… sebagai istri.”
Ia berhenti sebentar. Lalu melanjutkan.
“Pak Reza waktu itu sempat kecelakaan. Tangan kirinya harus digips. Jadi untuk ke kamar mandi… harus dibantu.”
Nara terdiam.
“Bu Ayza yang mengurus semuanya.” Tatapan Ridho menurun. “Sampai ikut ke kantor… cuma untuk memastikan suaminya tidak kesulitan.”
Nara menghela napas pelan.
Ridho belum selesai.
“Dan bukan cuma itu…” lanjutnya. “Pak Fahri dulu bukan seperti sekarang.”
Nara meliriknya.
“Pembuat masalah. Suka balapan liar. Hidupnya gak jelas arah.”
Ia tersenyum tipis, nyaris tidak terlihat.
“Bu Ayza yang membimbing dia. Pelan-pelan. Sampai akhirnya… jadi seperti sekarang.”
Nara mengangkat alis. Sedikit terkesan. “Dan setelah bercerai?”
“Hubungan mereka tidak putus.” Ridho menggeleng pelan. “Justru… lebih kuat.”
Beberapa detik… Nara tidak bicara. Lalu ia tersenyum kecil. Tipis. Mengerti.
“Pantas saja…” gumamnya.
Ridho menoleh.
“Pantas Kaisyaf memilih cara seperti ini,” lanjut Nara. “Dia tidak takut ditinggalkan.”
Ia menatap lurus ke depan.
“Dia takut… Ayza tetap tinggal.”
Kalimat itu jatuh pelan. Tapi menghantam.
Ridho tidak menyangkal.
“Kalau Bu Ayza tahu kondisinya…” ucapnya pelan, “dia tidak akan pergi, Dok.”
Nara mengangguk.
“Dia akan merawatnya. Tanpa henti.” Ridho menatap lantai. “Tanpa tidur cukup. Tanpa memikirkan dirinya sendiri.”
Nara menghela napas panjang. “Dan Kaisyaf…” suaranya lebih pelan sekarang, “tidak ingin wanita yang dia cintai… hancur pelan-pelan di depannya.”
Ridho mengangguk kecil. “Setidaknya…” tambahnya lirih, “dengan cara ini… Bu Ayza masih bisa hidup normal.”
Nara tersenyum miris. “Cinta memang aneh,” gumamnya. “Yang satu memilih bertahan sampai habis…”
Ia melirik ke arah pintu ruang rawat.
“…yang satu lagi memilih pergi… sebelum semuanya benar-benar habis.”
***
Sementara itu di rumah, Ayza masih belum bisa tidur.
Ia duduk perlahan di tepi ranjang. Tatapannya lurus ke depan… kosong. Namun pikirannya justru penuh.
Terlalu banyak yang tidak masuk akal.
Cara Kaisyaf menjawab. Cara dia menghindar. Dan tadi… sesuatu pada napasnya. Ayza menggeleng pelan.
“Abi gak seperti ini… tanpa alasan.”
Tangannya terangkat. Ragu sejenak… lalu bergerak. Ia membuka lemari. Rapi. Seperti biasa. Namun di bagian dalam, sesuatu menarik perhatiannya.
Sebuah botol kecil.
Ayza mengambilnya. Mengamati. Tidak ada label yang jelas. Hanya tulisan kecil yang nyaris pudar. Keningnya berkerut.
“Ini obat apa…?”
Dadanya mulai terasa tidak nyaman. Ia menatap benda itu lebih lama. Lalu… menggenggamnya lebih erat.
“Abi…” bisiknya pelan. “Kamu sembunyiin apa dari aku?”
Ayza berdiri di depan meja rias. Botol kecil itu masih berada di tangannya.
Ia menatapnya lama. Benda sederhana. Terlihat biasa. Namun justru karena itu… terasa janggal.
“Abi gak mungkin minum ini tanpa alasan,” gumamnya pelan.
Ia mengambil tasnya. Tanpa banyak pikir, langsung melangkah keluar kamar.
Beberapa menit kemudian, Ayza tiba di sebuah klinik. Ruangan itu dingin. Bau antiseptik samar.
Seorang petugas menerima botol yang Ayza serahkan.
“Bisa dicek kandungannya?” tanya Ayza.
Petugas itu mengangguk. “Bisa, Bu. Ditunggu saja.”
Ayza duduk. Tangannya saling menggenggam di pangkuan. Matanya tidak benar-benar fokus ke mana pun.
Yang ada di kepalanya… hanya satu. Wajah Kaisyaf. Lebih tirus. Lebih pucat. Dan cara dia menjawab tadi.
“Terlalu cepat…” bisiknya.
Di sudut ruangan, seorang pria memerhatikan. Ia tidak mencolok. Hanya duduk. Namun sejak tadi matanya tidak lepas dari Ayza… dan botol di tangan petugas.
Beberapa detik. Ia berdiri. Keluar pelan. Mengangkat ponsel.
“Pak Ridho… Bu Ayza lagi di klinik.”
...🔸🔸🔸...
..."Cinta tidak selalu bertahan di samping, kadang ia memilih menjauh agar yang ditinggalkan tetap utuh."...
..."Ada orang yang tidak pergi karena berhenti mencintai, tapi karena terlalu mencintai untuk membiarkan orang lain ikut hancur."...
..."Tidak semua perpisahan lahir dari kebencian, sebagian justru berasal dari cinta yang terlalu dalam."...
..."Yang paling sakit bukan ditinggalkan, tapi disingkirkan perlahan oleh orang yang masih mencintaimu."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
ataubpalingbtifak saat2 terakhir ia tidak sendiri tapi di kelilingi orang2 tercintanya... jangan sedih ah...
Dan Pak Husein tidak akan tinggal diam,akan melakukan apapun demi Kaisyaf.
langsung nyusul ke Luar Negri bersama Ayza...
semoga Kaisyaf terselamatkan
jangan di bikin meninggoy thor...
awas saja,,kalo Kaisyaf meninggoy mau berenti baca🥺