Arumi tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir sebagai "jaminan" utang. Dipaksa menikah dengan seorang rentenir tua yang kejam demi melunasi hutang keluarganya, Arumi nekat melakukan aksi gila .
Dalam keputusasaan di tengah taman kota matanya tertuju pada sosok pria tampan yang sedang sibuk mengipasi tusukan bakso. Tanpa pikir panjang, Arumi menarik tangan Elang, sang penjual bakso bakar, dan mengakuinya sebagai calon suami di hadapan Ayahnya
Siapa sangka, Elang yang terlihat sederhana dengan apron hitamnya itu menyanggupi tantangan Arumi. Namun, di balik aroma asap arang dan bumbu kacang, ada rahasia besar yang disimpan Elang. Apakah pernikahan Dadakan ini akan membawa kebahagian ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Restu yang terhina
Rina menyilangkan tangan di dada, bibirnya melengkung sinis."Arumi ,kami ini bodoh ,di beri hidup enak,kamu justru memilih hidup susah,mendorong gerobak,dan bau asap,Kasihan sekali."
"Kenapa? Kalau itu membuat saya lebih bahagia dan lebih dihargai,kenapa tidak ?"
Pak Dirga tertawa kecil lagi, tapi kali ini ada nada dendam di dalamnya. "Kamu pikir cinta cukup, Arumi? Cinta itu mewah buat orang miskin. Saya bisa kasih kamu segalanya. Saya bisa beliin kamu rumah yang lebih besar dari rumah ayahmu ini. Saya bisa kasih kamu bisnis sendiri. Tapi pria ini? Dia cuma bisa kasih kamu .. apa? Cinta? Hah! Cinta tidak bisa bayar listrik, tidak bisa bayar sekolah anak nanti. Kamu mau anak-anak kamu sekolah di SD negeri yang rusak? Mau mereka makan bakso setiap hari sampai bosan?"
Hinaan-hinaan itu terus mengguyur seperti hujan deras,tapi semakin banyak hinaan yang dilontarkan, semakin Arumi merasa kagum pada Elang. Pria itu tidak membalas dengan kasar. Ia hanya berdiri tegak, tangannya tetap melindungi Arumi, matanya tenang menatap satu per satu orang yang menghinanya.
Saat Pak Dirga menunjuk-nunjuk bajunya sambil bilang "bau minyak gorengnya sampai ke sini", Elang hanya tersenyum tipis dan berkata pelan, "Bau itu dari kerja keras saya, Pak. Bukan dari cerutu mahal yang hanya bikin batuk,dan di beli dari uang haram yang mencekik orang miskin ."Elang berkata sinis dengan menatap tajam kearah pak Dirga ,sementara pak Dirga merasa marah ,ia hanya mengeratkan giginya .
Arumi merasakan air mata hangat menggenang di pelupuk matanya, bukan karena sedih, tapi karena terharu,dia merasa Elang begitu melindungi dan membelanya .
"Yah,izinkan aku menikah dengan orang yang aku pilih ,restui aku menikah dengan mas Elang."memandang ayahnya dengan tatapan penuh menghiba
"Arumi, kamu harus sadar!" bentak Pak Rahmad lagi. "Kalau kamu nikah sama dia, saya tidak masalah ,tapi ingat kalau kamu menikah dengan dia kamu saya coret dari daftar keluarga .Tidak akan ada warisan, tidak akan ada bantuan apa pun. Kamu mau hidup susah? Silakan! Tapi jangan harap kami terima pria dekil ini sebagai menantu!"
Lastri ikut menimpali, suaranya meninggi. "Kamu lihat sendiri, Arumi. Pak Dirga ini mapan, sopan, punya jabatan. Dia bisa kasih kamu status. Sementara pria ini,dia bahkan tidak punya status. Penjual bakso! Kamu mau ditanya orang suami kamu kerja apa? terus jawab jual bakso? Malu, Arumi! Sangat malu!"
Rina menambahkan dengan nada manja yang dibuat-buat, "Aku kasihan sama kamu, adik. Kamu cantik, pintar, banyak yang naksir. Kenapa harus pilih yang paling bawah? Lihat tangan Elang itu, kasar sekali. Bayangin kalau dia pegang tangan kamu, pasti kasar dan tidak nyaman. Pak Dirga tangannya halus, pakai jam tangan mahal. Mana lebih enak?"
Pak Dirga mengangguk-angguk setuju, wajahnya penuh kemenangan. "Benar itu. Saya bisa kasih kamu hidup yang nyaman. Kamu tidak perlu masak, ada pembantu. Kamu tidak perlu cuci baju, ada laundry. Tapi dengan dia? Kamu yang bakal cuci baju suami kamu yang bau keringat setelah jualan bakso seharian. Kamu yang bakal bangun pagi-pagi buat bantu siapkan gerobak. Itu mau kamu, Arumi? Hidup seperti pembantu di rumah sendiri?"
Hinaan terus mengalir. Mereka membahas masa depan Arumi yang "hancur", anak-anak yang "akan miskin", teman-teman yang "akan menjauh", dan bahkan "nama baik keluarga yang tercemar". Pak Rahmad berulang kali bilang Arumi "tidak tahu diri", Lastri menyebutnya "anak durhaka", Rina terus mengejek fisik dan pekerjaan Elang, sementara Pak Dirga berfokus pada perbandingan kekayaan dan status.
Tapi di tengah semua itu, Arumi hanya bisa merasakan satu hal yang semakin besar: kagum yang mendalam pada Elang.
Ia melirik pria di sampingnya. Meski wajahnya sedikit memerah karena hinaan yang bertubi-tubi, Elang tetap tenang. Saat Pak Dirga bilang "kamu cuma sampah masyarakat", Elang hanya menjawab pelan, "Sampah yang bisa bikin Arumi tersenyum setiap hari, Pak. Saya rasa itu lebih berharga daripada kekayaan yang yang didapat dari memeras keringat orang dan cuma bikin orang sombong."
Arumi meremas tangan Elang pelan, memberi kekuatan. Hatinya berbisik: ("Aku tidak salah pilih. Dia adalah pria yang ternyata pintar bersandiwara ,dan memerankan sandiwara dengan apik ")
Semakin lama hinaan keluarganya dan Pak Dirga semakin keras, semakin Arumi melihat betapa kecilnya mereka dibandingkan keteguhan Elang. Mereka menghina pakaian dekil, tapi tidak melihat hati yang bersih. Mereka menghina pekerjaan jual bakso, tapi tidak melihat kerja keras dan integritas. Mereka menghina masa depan miskin, tapi tidak mengerti bahwa kebahagiaan tidak diukur dari uang.
"Arumi,sebaiknya kamu rubah keputusan kamu itu,lebih baik kamu menikah dengan pak Dirga,kamu akan hidup enak,banyak uang,dan semua tercukupi,jangan kamu menghancurkan masa depan kamu ,dengan memilih penjual bakso itu ?" nasehat pak Rahmad pada putrinya .
"Ya Aruni,kamu jangan bodoh ,hanya karena Ego kamu membuat keputusan yang salah,ingat kamu itu anak pintar ,kami tidak mau kalau kamu hidup susah." Bu Lastri sok bijak memberi nasehat pada Arumi,padahal didalam hatinya ,ia terus mencari akal bagaimana mencari cara supaya Arumi tetap menikah dengan pak Dirga,dan bisa melunasi hutang - hutangnya .
Arumi mencoba tenang ,dengan senyum sinisnya ia berusaha berbicara pelan .
"Saya menghargai semua yang Ayah, Ibu, berikan selama ini. Tapi saya tidak bisa menikah dengan Pak Dirga hanya karena uang dan status. Saya mencintai Elang. Dan saya semakin kagum padanya hari ini. Karena di saat kalian semua menghinanya, dia tidak balas dengan kebencian. Dia hanya melindungi saya."
Elang menoleh, tersenyum kecil ke arah Arumi. Mata mereka bertemu, dan di saat itu, Arumi tahu: meski dunia menghina, ia telah menemukan pria yang benar-benar layak dikagumi.
"Arumi,kalau kamu menolak menikah denganku ,maka hutang hutang kalian tidak akan aku bayar,dan keluarga kalian pasti akan di kejar sama penagih hutang ." pak Dirga berusaha memberi ancaman berkedok nasehat.
"Arumi ,apa kamu nggak kasihan sama ayah ,keluarga kita berhutang terlalu banyak ,dan hanya pak Dirga yang bersedia membayar hutang keluarga kita ,kamu menikahlah dengan Pak Dirga." pak Rahmad menatap Arumi dengan memelas ia berharap Arumi merubah keputusannya
"Arumi ,kamu apa mau keluarga kita tidur di kolong jembatan ?'" sahut Bu Lastri ibu tirinya Arumi .
"Arumi ,kamu harus menikah dengan pak Dirga,biar hutang keluarga lunas." sahut Rina berusaha membujuk .
"Aku tetap dengan keputusanku ,aku akan tetap menikah dengan mas Elang,dan soal hutang itu urusan kalian,karena aku tidak pernah memakai uang itu sepeserpun."