Dua tahun lalu Fahri dipaksa menikah oleh sang kakek yang sudah renta dan sakit-sakitan. Demi bakti terhadap orang tua yang sudah membesarkannya itu, Fahri menikahi seorang gadis bernama Bella, gadis cantik berusia 21 tahun pilihan sang kakek.
Tanpa sepengetahuan kakeknya, Fahri membuat surat perjanjian dengan Bella, mereka menikah hanya untuk mewujudkan keinginan orang tua itu, perjanjian berakhir ketika sang kakek sudah tiada.
Setelah waktu yang ditunggu-tunggu tiba, Fahri menceraikan Bella tiga hari setelah kakeknya meninggal.
Pasca perceraian banyak hal yang terjadi dengan Bella tanpa sepengetahuan Fahri. Hingga pada saat kebenaran terkuak, Fahri menyesal menceraikan Bella.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kopii Hitam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17.
Krek...
Pintu utama kediaman Fahri terbuka, Bella dan Fahri melangkah masuk.
Au...
Bella tersandar di samping pintu setelah Fahri menarik pinggangnya dan menekannya ke dinding. Fahri mengangkat kedua tangan Bella di kepala dan menguncinya, mencium bibirnya dengan rakus.
Ehm...
Awalnya Bella ingin menghindar tapi tidak bisa, tenaga Fahri benar-benar kuat. Dia pun pasrah bahkan terbawa suasana mengikuti alur permainan Fahri.
Keduanya saling menghisap, me1umat bibir atas dan bawah bergantian dengan kepala miring ke kini dan ke kanan. Lidah mulai bertaut dan saling menghisap dalam-dalam.
Dari samping pintu utama, langkah demi langkah berjalan hingga tiba di ruang tamu dan jatuh di sofa.
Hah..
Fahri mengukung Bella di bawahnya, me1umat kembali bibir Bella yang sudah basah, tangannya merayap kemana-mana. Begitupun dengan Bella yang mengalungkan tangan di tengkuk Fahri, sesekali meremaz rambut suaminya itu.
Puas bermain di sofa, Fahri membopong Bella seperti anak kecil, berjalan ke arah kamar dengan bibir yang masih saling bertautan.
Bruk...
Tubuh Bella jatuh di ranjang, Fahri membuka kancing satu persatu, melepas kemejanya dan membuangnya sembarangan. Pelan-pelan Fahri merangkak di atas tubuh Bella, Bella beringsut ke ke arah kepala ranjang, Fahri mengikutinya seperti seekor singa.
Ehm...
Bibir keduanya kembali menyatu, menghisap dalam-dalam sembari membelit lidah.
Ah...
Bella mengerang ketika bibir Fahri mendarat di lehernya. Fahri mengecupnya lembut, menjilatnya, juga menghisapnya kuat sehingga meninggalkan beberapa cap tanda kepemilikan. Beberapa detik kemudian tubuh keduanya sudah polos.
Ah...
Bella mendezah saat tangan Fahri meremaz lembut dua gunung miliknya, memutar-mutar bobanya dengan lidah dan menghisapnya seperti bayi kehausan. Bella menggeliat kecil merasakan sesuatu yang entah.
Akh...
Bella menjerit kecil ketika telunjuk Fahri bergerak-gerak menyentuh area pribadinya, Fahri menjilatinya dan sesekali menghisapnya kuat. Membuat tubuh Bella menegang seperti tersengat listrik, pinggulnya terangkat, terasa sedikit panas seperti ada yang mengalir.
Melihat raut wajah Bella yang tak biasa, Fahri mengangkat kepalanya, kembali me1umat bibir Bella yang sudah mengering sambil mengarahkan rudalnya ke inti Bella yang sudah basah.
Fahri melakukannya dengan sangat lembut, perlahan namun pasti sehingga sedikit demi sedikit kepala rudalnya mulai masuk.
Krak...
Bella menjerit namun bibirnya langsung dibungkam oleh Fahri, teriakannya hilang di dalam mulut Fahri yang terbuka.
Setelah seluruh batang rudalnya masuk dengan sempurna, Fahri melepaskan tautan bibir mereka, menyeka sudut mata Bella yang berair.
"Sakit?" gumam Fahri dengan suara serak, gairahnya membuncah setelah berhasil menerobos dinding pertahanan Bella.
"Sakit banget," lirih Bella dengan bibir mencebik.
"Sekarang bagaimana?" tanya Fahri sambil mengayun pinggangnya pelan-pelan.
"Sedikit perih," jawab Bella.
"Tidak apa-apa, lama-lama juga enak." kata Fahri yang mulai berpacu mengejar kenikmatan.
Kini giliran Fahri yang tak henti mendezah merasakan sesuatu yang entah, nafasnya memburu seiring detak jantung berdegup kencang.
Setelah cukup lama menekan-nekan tubuh Bella, Fahri akhirnya tumbang, dia mengerang hebat saat sesuatu keluar dari rudalnya. Begitupun Bella yang tiba-tiba menjerit kecil, tubuhnya bergetar hebat.
Hah...
Fahri mencabut rudalnya dan berbaring di samping Bella, mendinginkan tubuhnya yang sudah basah bermandikan keringat.
Beberapa detik kemudian Fahri memiringkan tubuhnya, mengangkat kepala dan menumpunya dengan tangan.
Cup...
Sebuah kecupan kecil mendarat di kening Bella, dia merapikan rambut Bella yang sudah berantakan dan menyelipkannya ke daun telinga.
"Terima kasih, sayang." ucap Fahri dengan nada lembut.
Mendengar Fahri memanggilnya sayang, Bella tersipu dan menutup wajahnya dengan tangan. Fahri hanya bisa tersenyum melihat tingkah istrinya yang menggemaskan.
"Mandi yuk!" ajak Fahri, keduanya tidak mungkin tidur dalam keadaan berkeringat.
"Tapi aku tidak bisa bangun, pinggangku pegal, itu ku perih." rengek Bella dengan bibir mencebik.
Fahri turun dari tempat tidur kemudian mengenakan semVak, setelah itu menghampiri Bella dan mengangkat tubuhnya ke kamar mandi.
Setelah keduanya membersihkan diri, Fahri kembali menggendong Bella dan mendudukkannya di kursi meja rias.
"Tunggu di sini sebentar!" kata Fahri, dia buru-buru mengemasi pakaian yang berserakan di lantai kemudian membuka seprai yang sudah kotor, ada bercak darah milik Bella menempel di sana.
Setelah mengganti seprai dengan yang baru, Fahri kembali menghampiri istrinya, menyalakan hairdryer dan membantu mengeringkan rambut Bella. Setelah itu Fahri menggendong Bella dan membaringkannya di sisi kiri ranjang dan menyelimutinya.
Sebelum ikut berbaring di samping Bella, Fahri mengeringkan rambutnya terlebih dahulu. Setelah itu meninggalkan kamar untuk mengambil air minum di dapur, tenggorokannya terasa kering.
Fahri kembali ke kamar membawa teko yang terbuat dari kaca dan satu gelas kosong lalu menaruhnya di atas nakas.
"Sayang, kamu mau minum?" tanya Fahri kepada Bella yang masih membuka mata.
Mendengar Fahri memanggilnya sayang untuk yang kedua kalinya, kening Bella mengernyit. Dia pikir tadi Fahri cuma keceplosan tapi ternyata malah berlanjut.
"Ya," angguk Bella, dia memang haus usai perang tadi.
Fahri menuang air ke dalam gelas kosong tadi lalu membantu Bella meminumnya. Setelah mengembalikan gelas itu ke nakas, dia berbaring di samping Bella.
Bella beringsut mengikis jarak diantara mereka, menarik tangan Fahri hingga melebar dan masuk ke dalam dekapannya, dia menenggelamkan wajah di dada suaminya itu.
Melihat Bella mengambil inisiatif sendiri agar bisa memeluknya, sudut bibir Fahri melengkung, dia tersenyum sumringah, bahagia karena sudah tidak ada kecanggungan diantara mereka.
Fahri kemudian mencium kepala Bella dengan sayang dan mendekapnya erat.
"Fahri..." panggil Bella sambil mendongakkan kepala, menatap lekat wajah Fahri yang juga sedang menatap ke arahnya.
"Hmm..." gumam Fahri.
Bella terdiam sejenak, beberapa detik setelahnya dia pun bertanya. "Kenapa aku tidak boleh bekerja?"
Kening Fahri mengernyit, matanya menyipit mendengar pertanyaan Bella.
"Bukan tidak boleh, sayang. Tapi buat apa, apa uang yang aku kasih masih kurang?" jawab Fahri.
"Bukan masalah uang, tapi..." Bella terdiam sejenak. "Ya sudah, tidak jadi." Bella menarik diri, bergeser menjauhkan tubuhnya dari Fahri.
Fahri melongo ketika Bella sudah keluar dari dekapannya, dia menggaruk kepala yang tidak gatal. Apa dia salah bicara?
"Sayang, jangan marah dulu! Aku tidak bermaksud..." Fahri terdiam, dia bingung bagaimana cara menjelaskannya. "Ya sudah, kamu boleh bekerja tapi..."
"Tapi apa?" selang Bella yang langsung bersemangat dan kembali mendekat.
Melihat reaksi Bella, Fahri hanya bisa geleng-geleng kepala lalu kembali mendekapnya. "Tapi tidak boleh jadi kurir makanan lagi." tegas Fahri.
"Kalau tidak boleh jadi kurir makanan, terus aku harus kerja apa? Aku hanya tamatan SMA, mau kerja di perusahaan mana bisa. Kalaupun bisa, paling juga jadi cleaning service." tutur Bella.
Fahri terdiam sejenak, mencoba berpikir pekerjaan apa yang cocok untuk Bella. "Ya sudah, kerja sama aku saja!"
"Kerja apa?" tanya Bella penasaran.
"Hihihi... Kerja seperti tadi," goda Fahri sambil tertawa kecil.
"Fahri... Aku serius," ketus Bella kesal, dia hendak menarik diri lagi tapi kali ini Fahri berhasil mengunci tubuhnya.
"Iya iya, jangan marah!" bujuk Fahri.
"Nanti aku tanya Reza dulu, di perusahaan ada lowongan atau tidak. Eh, tunggu-tunggu, ngapain nanya Reza? Ya sudah, jadi sekretaris aku saja." ucap Fahri.
"Sekretaris?" ulang Bella tercengang. Kalau dia jadi sekretaris, yang ada malah hancur perusahaan Fahri dibuatnya, orang dia tidak punya keterampilan apa-apa.
"Jangan ngaco kamu," imbuh Bella.
Fahri menjelaskan tugas Bella nanti tidak akan sulit, paling cuma mengatur jadwal dengan klien, terus menemaninya saat ada meeting di luar.
Yang terpenting bagi Fahri, Bella selalu ada di sisinya, jangan sampai lengah karena di luar sana masih banyak bahaya yang mengintai istrinya.
emang curiga sihhh . masa orang tua sangat-sangat kejam kaya gtu 😡