Cery Vanesa Chaseiro, gadis mungil berusia delapan belas tahun, saat ini ia baru menduduki bangku kelas sebelas SMA, namun tingkah nya masih seperti anak kecil, begitu juga dengan penampilan nya.
Bagi yang tidak tau bagaimana cerita hidup Cery yang sebenarnya, mereka mengatakan kalau Cery adalah gadis paling ceria. Itu karena Cery sangat baik dengan semua orang dan selalu membantu mereka yang kesulitan. Meskipun kenyataannya dia tidak punya teman dan sering di cemooh anak-anak di sekolah nya.
Kenapa ia di cemooh? Ya karena penampilan nya yang kusut dan terlihat sangat miskin, bukan hanya itu banyak yang mengatakan kalau Cery tidak tahu diri?
Kenapa begitu? Ya karena meskipun Cery seperti anak-anak dia tetap lah gadis remaja yang punya perasaan seperti gadis remaja pada umumnya, dia naskir dengan laki-laki tertampan di sekolah Mawar Mekar. Linus Caesar Pratama, kakak kelas sekaligus ketua tim basket di sekolah Cery, ya sekaligus anak seorang CEO kaya. Seperti raja di sekolah, Linus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemary Mary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Cery menghampiri tempat biasanya ia memarkirkan sepeda, karena di sekolah itu hanya Cery lah yang mengunakan sepeda maka tidak sulit baginya untuk meletakkan sepeda itu, tidak perlu berebutan parkiran motor atau mobil.
"Yah kempes lagi dan lagi, kali ini siapa lagi yang ngempesin ban sepeda gue?" Cery berjongkok dengan omelan kecil di bibir nya, ia menatap sambil memencet ban sepeda yang telah rata dengan tanah itu.
Sudah menjadi hal biasa bagi Cery sepulang sekolah ia selalu mendapati ban sepeda yang bocor atau dengar sengaja di buang angin oleh teman-temannya, dia hanya bisa mengeluh dalam hal ini, tidak ada kemampuan bagi nya untuk melawan mereka.
Mau tidak mau ia harus mendorong sepeda itu lagi kembali ke rumah, meksipun lutut nya sangat sakit untuk melangkah.
Cery bersiap-siap mendorong sepeda keluar dari gerbang sekolah, namun tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di hadapan nya, membuat Cery juga menggantikan langkahnya.
"Eh culun, gue mau kasih sesuatu buat Lo, sini dekat!" ujar Della yang ternyata pulang bersama circle nya, di dalam mobil tersebut berisi empat orang di antaranya tiga adalah teman Della dan teman sekelas Cery juga.
Cery hanya bisa menuruti apa yang mereka perintahkan, ia mendekati Della yang terlihat tidak sabar dari kaca mobil.
"Ada apa Della?" Cery berkata dengan lembut sambil membenarkan kacamata nya. Ia mendekat ke samping mobil temannya Della.
"Nih, itu tugas-tugas kita, Lo harus kerjain semuanya, senin bakal kumpulin itu tugas ke guru soalnya," oceh Della sambil memberikan setumpuk buku kepada Cery melalui kaca jendela mobil yang terbuka separuh.
"Tapi Della, aku kan ..."
"Sssst! Gak ada tapi-tapian, kali ini masih untung ban sepeda Lo yang kempes, jangan sampai nanti gue patahin tu sepeda biar sekalian Lo jalan kaki ke sekolah, udah culun banyak tingkah pula," lagi-lagi Della melontarkan kata-kata yang menyakitkan untuk Cery.
Sesungguhnya Cery sudah tau, kalau setiap hari, teman-teman Della lah yang membocorkan atau mengempeskan ban sepeda nya, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Belum sempat Cery meneruskan ucapannya, Della buru-buru menutup kaca jendela mobil tersebut dan kemudian menyuruh temannya untuk segera melajukan mobil itu kembali.
Cery hanya bisa menarik nafas panjang dan kemudian melepaskan dengan pelan, sesungguhnya ia ingin berteriak dengan keras kalau dirinya juga harus mengerjakan banyak tugas sekolah, namun malah mengerjakan tugas Della dan tiga temannya pula, ini adalah hal yang sangat membuat Cery furstasi.
Ia juga tau kalau anak-anak orang kaya itu tidak pulang sekolah tidak langsung kembali ke rumah, melainkan pergi ke tempat-tempat seperti restoran, pantai dan lain-lain untuk bermain, mereka akan pulang malam harinya.
Ia hanya bisa mengengam erat tempat duduk sepeda nya dan kemudian berjalan dengan tatapan kosong.
Setidaknya besok adalah hari Minggu dan Cery tidak perlu masuk sekolah dan di buli lagi, hari Minggu bagaikan penyelamat bagi Cery di setiap minggunya.
Sesampainya di rumah, Cery langsung masuk ke kamar nya untuk melepaskan bandana yang mengikat lutut nya, saat melihat bandana tersebut, ia selalu teringat wajah tampan Linus yang sangat khawatir ketika melihat ia jatuh dan terluka.
Rumah di komplek kecil tersebut sangat lah teduh terdapat banyak pohon-pohon yang menjulang tinggi ke atas membuat suasana dalam rumah selalu terasa sejuk meskipun tidak ada AC di dalam nya.
Dan Cery sangat amat nyaman tinggal di sana.
"Sekarang gue tau kenapa banyak anak-anak yang suka dengan kak Linus ternyata karena dia cukup baik dan perhatian," gumam Cary sambil mencuci bandana itu dan juga mencelupkan nya ke dalam pewangi pakaian kesukaan nya, senin besok ia berencana untuk memulangkan bandana tersebut kepada Linus.
Seseorang mengamati Cery yang sedang menjemur sesuatu di halaman rumah.
"Cery!" orang tersebut tidak tahan untuk memanggil nya, karena bingung Cery begitu telaten dengan hanya satu buah bandana.
Cery berbalik dan berjalan menghampiri orang yang memanggil nya itu.
"Bibi,"
"Apa yang kau lakukan sayang? Bibi ke kamar mu untuk mengajak mu makan siang, namun kau malah tidak ada, tapi tunggu, kenapa dengan lutut mu? Kenapa kau terluka?" wanita paruh baya itu mulai berceloteh sambil memegang kedua lengan Cery dan menatap ke lutut nya.
"Bibi, aku nggak apa-apa kok, tadi ngak sengaja jatuh saat sedang mengayuh sepeda," jelas Cery tidak mau bibi nya khawatir.
"Yasudah, ayo kita makan, nanti setelah makan bibi obat luka mu ya," bibi langsung menarik tangan Cery dengan pelan masuk ke dalam rumah untuk makam siang.
Sementara itu di sisi lain.
"Linus, ada yang bilang tadi Lo nabrak orang ya pas balapan ke sekolah?" tanya Raja yang saat ini duduk di samping Linus sambil meneguk segelas air soda dingin.
Saat yang lain pulang, tim basket Linus masih sibuk latihan di lapangan basket milik sekolah, karena tidak lama lagi akan ada pertandingan basket antar sekolah.
"Lo tau dari mana?" Linus yang mendengar itu terlihat sangat tenang ia mengambil botol soda dari Raja dan kemudian meminum nya juga.
Raja tertawa kecil sambil menyeka keringat yang membasahi jidat nya. "Sejak kapan anak-anak cewek di sekolah ini gak tau soal kehidupan Lo, gue rasa sampai warna sempak Lo aja mereka tau,"
"Iya, gue nabrak si culun, adek kelas kita, biar gak ada yang ngira kalau gue bukan laki-laki yang bertanggung jawab, yaudah gue bantuin, untungnya sih gak kenapa-kenapa dan Della bantuin gue kembali ke mobil abis itu kita cabut," jelas Linus yang kemudian kembali berjalan masuk ke aula lapangan untuk melanjutkan latihan nya.
Sementara itu Raja yang mendengar ucapan Linus sontak mengerutkan keningnya. Dia sering melihat Cery di buli Della, dan ternyata memang Linus menarbak si culun hari ini, bukan nya merasa bersalah teman nya itu malah hanya menghawatirkan takut di cap buruk oleh orang, sebenarnya ini hal sangat jahat tapi yaudah lah bagi Raja ini juga bukan urusan nya.
Segera saja Raja kembali menghampiri Linus dan melanjutkan latihan mereka.
Keesokan harinya,
Cery terbangun dari tidurnya, ia melihat jam sudah menujukkan pukul lima lewat dua puluh menit.
"Aku harus cepat," Cery turun dari ranjang nya dan segera mengambil handuk lalu pergi ke kamar mandi.
Selang dua puluh menit kemudian ia keluar dengan handuk yang melilit tubuhnya, ia mulai memakai pakaian serba panjang, mengikat rambut serta tidak lupa memakai kacamata dan henset di kuping nya.
Setelah berdiri di depan cermin dan memastikan kalau ia sudah rapi, Cery pun keluar dari kamar.
"Cery, kau mau bersepeda pagi?" tanya bibi menghampiri Cery yang sedang memakai sepatunya.
"Iya bi, ban sepeda Cery udah bagus lagi kan bi?" jawab Cery sambil fokus mengunakan sepatu.
"Sudah sayang, tidak bocor hanya kempes," jelas bibi sambil meletakkan sebotol air mineral ke dalam keranjang sepeda Cery.
Setelah berpamitan, Cery pun segera bersepeda pagi, ya setiap minggunya Cery pasti akan melakukan kegiatan ini, jalanan yang sepi dan udara yang sangat sejuk membuat hatinya sangat tenang.
Sambil mendengarkan musik kesukaan nya, ia mulai terus mengayunkan sepeda kesayangan nya.
Beberapa jam pun berlalu, tidak terasa suasana teduh pagi kini sudah tidak lagi terasa, karena matahari sudah mulai menampakkan sinarnya.
Membuat Cery yang sedang beristirahat di taman menjadi kepanasan dan memutuskan untuk kembali ke rumah.
Namun saat hendak pulang, tiba-tiba Cery Ingat kalau beberapa hari lalu salah satu buku pelajaran nya hilang, bukan hilang sih tepatnya di ambil teman-teman nya dan mereka menjadikan buku Cery sebagai pesawat kertas sehingga buku itu tingal sampulnya saja.
"Oh iya, apa sebaiknya aku ke toko buku sebelum pulang, stok buku juga udah mau abis, yaudah deh ke toko buku dulu," gumam nya sendiri.
Ia memutar balik arah sepeda menuju toko buku terdekat.
Benar saja, tidak butuh waktu lama, ia akhirnya tiba di toko buku langanan nya, ia biasa membeli peralatan sekolah seperti buku-bukuan di sana, toko itu cukup kecil namun sangat lengkap bagi Cery jika butuh peralatan sekolah. Harga nya juga sangat terjangkau.
Ia meletakkan sepeda nya di tempat parkir dan kemudian berjalan masuk ke dalam toko tersebut.
Cery mulai mengambil beberapa buku dan juga pulpen untuk persediaan.
Namun saat hendak berjalan ke kasir untuk membayar, Cery tanpa sengaja menarbak Seseorang, membuat buku dan pulpen yang ia bawa berhamburan jatuh ke lantai.
"Astaga, maaf gue gak sengaja, Lo gak apa-apa kan?" ujar seorang laki-laki ia segera membantu Cery untuk mengumpulkan buku-buku tersebut.
Cery melihat nya dan mulai mengerutkan kening, ia seperti mengenali laki-laki tersebut namun tidak tau siapa.
"Kamu? Si culun sekolah?" ucap laki-laki itu sambil menujuk Cery.
Cery mengerutkan keningnya mendengar ucapan laki-laki itu, namun ia sudah terbiasa karena memang anak-anak di sekolah nya memanggil Cery dengan sebutan culun.
"Eh, maaf, gue ngak tau nama Lo siapa nih, sekali lagi maaf ya," ujar nya sambil menyerahkan buku yang ia pungut kembali ke tangan Cery.
"Gak apa-apa kok kak, nama ku Cery, tapi aku juga udah biasa di panggil culun jadi gak masalah," jawab Cery sambil tersenyum ia memeluk buku yang ada di tangan nya.
"Ah iya, Lo kenal gue?" tanya laki-laki itu lagi sambil menujuk dirinya sendiri.
Cery mengangguk, dia Ingat kalau laki-laki yang ada di hadapannya saat ini adalah teman baik Linus, namun Cery tidak tau siapa namanya.
"Temen nya kak Linus kan? Maaf kak aku nggak tau siapa nama kakak," jelas Cery lagi.
Laki-laki itu menunduk menatap Cery yang jauh lebih pendek dari dirinya, ia memperhatikan Cery dari ujung kaki sampai ujung kepala, entah mengapa tapi begitu aneh bagi Cery.
Namun tiba-tiba ia mengulurkan tangannya kepada Cery. " Nama gue Raja, lo adik kelas kan? Lo sering lihat gue ya sampai tau Gue temannya Linus."
Raja terlihat sangat ramah, memang semua siswa siswi di sekolah selalu mengolok-olok Cery, baik adik kelasnya atau kakak kelas nya, bahkan teman sekelasnya tampa terkecuali, namun beda halnya dengan Linus atau Raja, mereka populer namun tidak pernah memandang Cery sedikit pun, entah itu karena mereka tidak peduli atau tidak ingin buang-buang waktu membuli adik kelas karena terlalu fokus akan tim basket mereka.
Bersambung ....