Raden Kirana Wijaya percaya bahwa pernikahannya adalah pilihan yang tepat.
Bukan karena cinta yang membara, melainkan karena kecocokan yang sempurna.
~
Status, latar belakang, dan masa depan yang terjamin.
Ia menikah dengan Adhikara Pradipta Mahendra, seorang pria yang tampak sempurna di mata semua orang.
Hingga suatu hari, masa lalu itu kembali.
Wanita yang pernah ia cintai...
wanita yang dulu ia lepaskan demi nama besar keluarganya...
kini kembali hadir, dan perlahan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik seorang istri.
Rana tahu.
Rana melihat.
Ia menyadari.
Bahkan lebih awal dari yang dibayangkan siapapun.
Lantas, apa yang akan Rana lakukan? Apakah ia lebih memilih bercerai dan rela kehilangan suami atau justru bertahan demi dua buah hatinya?
Ikuti terus tentang Rana disini, jangan lupa juga follow akun tiktok di Yehppee_26
Selamat membaca
°°°°°
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pucuk 32
Laras melemparkan tasnya ke atas kasur. Wajah cantiknya kusut karena amarah yang ia pendam. Ia melirik sebentar kepada putranya yang tengah meringkuk di atas kasur dengan selimut tebal. Sore ini hujan cukup deras mengguyur jantung kota.
Laras gegas membuka pakaiannya dan mengenakan handuk dan berjalan menuju kamar mandi. Membersihkan diri dari keringat yang menempel pada kulit kuning langsatnya.
Selepas mandi, Laras kini sudah berada di meja makan. Melahap menu makan malam yang ia pesan lewat online. Raka terdengar menangis, merengek menyebut nama ibunya dari kamar.
"Mama..."
Laras menghentikan suapannya dan gegas menuju kamar. Di dapatkannya Raka tengah menangis, duduk sila di kasur sembari memegang mainan pesawat pemberian dari Dipta.
"Kenapa, Nak?" tanya Laras mendekat.
"Raka kangen papa..." rengeknya.
Laras memeluk putranya. Sebuah notifikasi pesan masuk kedalam ponselnya. Ia meraih ponsel dari tasnya dan membacanya.
{ Besok kita ketemu, di tempat biasa!}
Perempuan itu berdecih. Dia tahu apa maksud dari pesan tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan paginya, sesuai janji. Laras pergi ke sebuah tempat yang sudah di beritahu oleh mantan suaminya setelah Laras mengantarkan Raka ke sekolah.
Pria itu duduk di sudut ruangan. Ia berjalan anggun mendekatinya.
"Duduk!" titahnya seraya menepuk sofa.
Laras menurut. "Ada apa?"
"Kamu sudah masuk ke perusahaan My Rich?" tanyanya menatap.
Laras mengangguk. "Ya."
Laki-laki itu terkekeh. "Bagus, dengan demikian kamu perlahan dekati lagi mantanmu itu. Buat dia jatuh cinta lagi sama kamu. Lalu perlahan kamu ambil posisi istrinya. Aku mau, kamu menghancurkan putri dari Wijaya grup. Biar tahu rasa mereka!"
Laras menghela napas. "Tenang saja, aku dan Dipta sudah mulai dekat lagi. Untuk masalah istrinya jangan khawatir. Aku rasa dia istri yang cukup bodoh."
Laki-laki itu terkekeh lalu mengelus rambut panjang Laras penuh bangga.
"Bagus. Kalau kamu berhasil dalam rencana ini, aku akan memberikan lima puluh persen perusahaan. Dan akan menunjuk Raka sebagai pewarisnya." Ujarnya.
Laras tersenyum penuh harapan, kelicikan dan penuh muslihat. Wanita itu bangkit dari duduknya dan pamit untuk gegas pergi ke kantor.
Di sisi lain, Dipta baru saja keluar dari rumah. Rana sang istri berdiri di depan pintu, melambaikan tangan sembari tersenyum manis kepada sang suami.
Selepas Dipta tak terlihat lagi, Rana gegas menutup pintu dan pergi menuju kamarnya. Mbak Sari tengah mengantar Alaric, sedangkan Masayu masih tertidur di kamarnya.
Sesampainya di kamar Rana gegas meraih ponsel rahasianya. Membuka empat pesan voice not dari Hamdan.
"Bu. Kemarin sore Bu Laras pulang di antar sama sopir pribadi bapak."
"Malam ini Bu Laras tidak keluar"
"Sepertinya, Bu Laras tengah merencanakan sesuatu. Baru saja dia keluar dari gedung apartemen entah milik siapa"
"Aku tahu, gak lama Bu Laras keluar dari gedung apartemen. Seorang pria tua keluar dari sana. Gerak-geriknya cukup mencurigakan"
Selepas mendengarkan voice not dari Hamdan, Rana meletakkan ponselnya di dagunya. Otaknya berpikir keras, ia berdiri mondar mandir sebelum akhirnya sebuah ketukan membuyarkan otaknya yang sedang bekerja.
"Permisi, Nyonya."
Suara Mbak Yuni terdengar dari luar kamar, Rana gegas membuka pintu. Wanita paruh baya itu mendekat.
"Non Ayu badannya panas banget, Nyah." Ucapnya dengan wajah panik.
"Apa?!" Rana panik.
Wanita itu gegas keluar dari kamar dan pergi menuju kamar putrinya. Di kamar itu, Masayu terlihat pucat, menangis menahan sakit. Gegas Rana meraih putrinya.
"Mbak, bilang sama supir siapkan mobil. Kita ke rumah sakit sekarang!" titah Rana.
"Ba-baik, Nyah."
Gegas Mbak Yuni berjalan tergesa menuju tempat Pak Vito berada. Pria itu tampaknya tengah sarapan dengan satpam rumah.
"Eh, ada apa Mbak Yun? kowe kok kesusu tenan, koyo di oyak setan." Ucap Pak Vito yang menoleh ke arah Mbak Yuni yang berlari tergesa ke arahnya.
"Mas, non Ayu! Sekarang! Ke rumah sakit! Demam!" seru Mbak Yuni.
"Demam?!" seru satpam itu seraya meletakan sendok.
"Iyo, wis cepetan siapin mobil!"
Pak Vito langsung bangkit dari duduknya, berjalan menuju garasi mobil. Sedangkan Rana sudah keluar sambil menggendong Masayu yang menggigil.
Di rumah sakit...
Rana mencoba membuat panggilan telpon kepada suaminya. Sedangkan Masayu tertidur lemas di atas kasur dengan jarum infus menempel di lengan mungilnya.
"Hallo, kenapa Ran?"
Rana berusaha berucap dengan nada tenang. "Mas. Ayu, Ayu masuk rumah sakit. Ayu demam, Mas bisa kan dateng ke sini sekarang? Dari tadi Ayu nanyain kamu terus, Mas."
"Kok bisa sih Ayu demam Ran. Pas waktu berangkat kan Ayu baik-baik aja, dia makan-makanan aneh-aneh lagi gak?"
"Nggak. Mas bisa kesini gak?" tanya Rana.
"Ya udah, mas otw kesana sekarang. Rumah sakit mana?"
"RSUP Dr Sardjito."
"Yasudah, Mas tutup dulu telponnya."
"Baiklah, hati-hati Mas."
Sambungan terputus, Rana kembali mendekati putrinya yang terus saja mengigau menyebut ayahnya.
"Ayah..." gumam anak itu.
Rana duduk sembari membelai kepala putrinya lembut. "Nanti Ayah kesini, tunggu bentar ya."
"Ayah..."
Kali ini Masayu menangis, panasnya masih belum turun. Tak lama dari itu, dokter anak dengan perawakan tinggi tegap mendekati Rana.
"Bu Rana, saya jelaskan kondisi Masayu, ya. Demamnya memang masih tinggi, tapi yang membuat kami memutuskan rawat inap adalah karena tubuhnya mulai menunjukkan tanda kekurangan cairan. Tadi bibirnya terlihat kering, frekuensi pipisnya berkurang, dan saat diperiksa, Masayu juga tampak sangat cemas." Ucapnya lugas.
Rana menatap selang infus di tangan putrinya dengan mata berkaca.
"Jadi...infus ini untuk menurunkan panasnya, Dok?" tanya Rana.
Dokter Gia Airlangga itu menggeleng pelan.
"Bukan secara langsung untuk menurunkan panas. Cairan infus itu fungsinya menggantikan kebutuhan cairan tubuh yang hilang karena demam tinggi dan karena Masayu sulit makan- minum sejak sakit. Kalau kebutuhan cairannya terpenuhi, tubuhnya akan lebih kuat melawan infeksi dan kondisinya lebih stabil."
Dokter Gia Airlangga itu membuka lembar observasi.
"Untuk sementara, kami masih memantau suhu tubuh, denyut nadi, laju napas, dan respon Masayu terhadap obat penurun panas. Kalau demamnya terus tinggi atau muncul gejala lain, mungkin kami akan tambah pemeriksaan darah untuk memastikan sumber infeksinya...apakah virus atau bakteri."
Rana menggigit bibir bawahnya.
"Baiklah dok, terima kasih atas penjelasannya."
Dokter Gia tersenyum ramah, "baik Bu, sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu. Semoga lekas sembuh."
Dokter Gia berjalan keluar, Rana mendekati putrinya sembari mengusap pucuk kepalanya dengan kasih sayang.
"Rana."
Rana menoleh ke arah sumber suara, saat tatapnya bertemu. kedua bola mata almondnya sedikit membesar, terkejut dengan siapa yang berdiri di samping suaminya.
"Ayu kenapa, Ran?" tanya Dipta seraya melangkah lebar mendekati putrinya.
"Kata dokter...dia masih dalam pengawasan. Mudah-mudahan nanti sore Ayu bisa pulang." Ucap Rana menatap suaminya.
"Da-dari kapan Ayu sakit, Ran?" tanya wanita itu membuat Rana menoleh.
Rana tersenyum. "Tadi pagi, Mbak. Mas sama Mbak Laras berangkat kerja bareng ya?"
Dipta menatap Rana, Laras terlihat salah tingkah sendiri.
"Eum....itu...Ran, aku..."
"Gak papa kok, Mbak. Aku ngerti kok, Mas Dipta orangnya emang gak enakan kalau liat temen. Lagian aku yakin kok, Mas Dipta cuma mau nolong Mbak Laras juga. Dan...aku gak keberatan kok," timpal Rana.
Laras tersenyum, dasar bodoh. Batinnya menatap Rana yang tengah berdiri di hadapannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa like, komen, dan vote yaaaaa please ini mah agak maksa hahaha
Bersambung...