NovelToon NovelToon
Istri Tanpa Sentuhan Pewaris Adinata

Istri Tanpa Sentuhan Pewaris Adinata

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:13.4k
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.




Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.




Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.




Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.



Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23. Biasanya.. Yang Aman Bukan Yang Benar

Di dalam kabin pesawat. Di antara lampu yang redup, dan suara mesin yang konstan.

Agam duduk menyandar santai.

Sagara duduk di sebelahnya, tidak dengan punggung yang terlalu tegak.

Perjalanan pulang dari Kalimantan.

Agam menoleh sebentar ke Sagara.

“Nona Safiya nungguin tadi malam.”

katanya santai.

Sagara belum merespon, ia tetap menatap ke depan--seolah tak terusik.

“kelihatannya, ia sudah nunggu lama. Mungkin sudah sejak beberapa hari sebelumnya."

"Terlihat yakin banget, kalau kamu akan datang."

Sagara menghembuskan napas pendek. Tapi belum mengatakan apa pun.

“Sepertinya ada yang perlu disampaikan. Dan dia gak mau lewat aku."

Agam lanjut cerita.

Sagara menoleh sekilas. Tapi masih diam.

Agam lalu tersenyum miring. Ia menangkap sesuatu dari sikap diam Sagara.

“sengaja menghindar?"

“Iya.”

Di luar dugaan, Sagara menjawab cepat. Jujur. Tidak memutar.

Agam menggeleng kecil.

“Padahal kalian udah mulai enak diliat. Di kantor."

Sagara diam. Sebelum akhirnya menjawab pelan.

“Terlalu enak." Sagara diam sejenak. "Jadi kebiasaan," lanjutnya, datar.

Agam menoleh.

“Terus kenapa? Masalah?"

Sagara akhirnya menoleh penuh.

“Aku tidak mau kebiasaan itu.”

"Jadi, kedekatan yang aku liat kemarin, di luar... konsep?"

Sagara diam. Dan itu sudah cukup menjadi jawaban.

"Gak membekas sama sekali?" Agam hampir tidak percaya, kalau Sagara berubah arah begitu saja. Karena yang ia tahu, Sagara selalu bertanggung jawab dalam setiap keputusan. Juga ketika ia memilih cara bersikap pada orang lain.

Sagara sendiri bukan tidak ingat dengan kedekatan yang sempat terjalin tanpa rencana itu.

Bahkan tanpa sengaja--ingatannya kembali ke sana. Saat Shafiya solat dengan mukenna putih. Duduk diam. Tenang.

Namun Sagara menarik dirinya kembali.

Ia menutup semua ingatan itu dengan sadar.

Karena untuknya--menjaga jarak tetap lebih aman--daripada membiarkan sesuatu yang belum ia pahami… berkembang terlalu jauh.

"Kalian sudah menikah." Suara Agam kembali terdengar. "Menjadi dekat itu wajar."

“Dari awal udah jelas," sahut Sagara. "Ini bukan pernikahan yang perlu dibangun.”

Agam langsung menyentil.

"Memang bukan rencana. Tapi sudah kejadian. Ya dijalanin."

Sagara kembali menatap lurus.

“Aku jalanin. Sesuai batasnya.”

"Batas yang seperti apa?"

"Yang tidak keluar dari rencana."

Agam tertawa pendek.

“Sejak kapan hidupmu sesuai rencana, Sagara?"

Ia tahu betul. Sejak kecil, Sagara tidak diizinkan tumbuh dengan pilihannya sendiri. Setiap yang dijalankan dan yang dilakukan adalah apa yang sudah diprogram. Dan Sagara tidak pernah ditanya, mau atau tidak. Suka atau tidak.

Agam sadar, kepribadian Sagara saat ini dibentuk oleh faktor didikan yang sangat keras itu. Dan untuk merubahnya, bukan perkara mudah.

Sagara tidak ikut tertawa--meski sadar sedang ditertawakan Agam. Ringan ia berkata.

“Sejak aku paksa begitu.”

Ia telah benar-benar mengambil keputusan. Dan itu membuat

Agam menghela napas.

“kau yakin ini cara yang benar?”

Sagara menatap ke depan.

“Ini cara yang aman.”

Agam mengangguk tipis.

“Biasanya yang aman… bukan yang benar.”

Sagara tidak menjawab lagi.

Tapi rahangnya mengeras sedikit.

Dan itu cukup.

..

...

Penunjuk waktu hampir tiba di titik angka 10, malam. Ketika mobil Sagara akhirnya berhenti di pelataran Adinata Residence 3.

Tidak terlalu malam.

Lampu-lampu rumah masih menyala.

Pintu utama terbuka. Sagara masuk tanpa suara. Langkahnya tetap sama, terukur seperti biasa. Namun begitu melewati ruang tengah--langkahnya terhenti.

Shafiya ada di sana.

Duduk sendiri, dan tidak sedang melakukan apa-apa. Hanya menunggu.

Shafiya berdiri pelan. Maju dua langkah.

“Mas… sudah pulang.”

Kalimat sederhana.

Namun nadanya tidak sepenuhnya biasa.

Ada lega yang ditahan. Ada lelah yang dipendam.

Sagara mengangguk.

“Iya.” Singkat dan datar. Tapi tidak langsung berlalu.

Ada jeda. Yang biasanya tidak ia beri.

Shafiya menangkap itu.

Menatap sesaat.

“Capek?”

Pertanyaan ringan. Namun bukan hanya sekedar basa-basi.

Sagara balik menatapnya.

“Biasa.”

Shafiya mengangguk tipis.

“Saya siapkan makan malam?"

Sagara diam sejenak.

“Sudah.”

Kembali, ia hanya menjawab dengan satu kata. Seolah percakapan itu hanya

berusaha berjalan. Bukan dibutuhkan.

Shafiya menarik napas pelan.

“Mas… saya ada yang ingin disampaikan.”

Akhirnya kalimat yang beberapa hari sempat tertunda itu keluar.

Sagara menatapnya lebih fokus sekarang.

“Harus Sekarang?”

Terkesan enggan. Tapi tidak benar-benar menolak.

Shafiya juga tahu. Ini mungkin tidak terlalu tepat. Sagara baru datang. Pasti ia lelah dan butuh langsung istirahat.

"Iya. Jika tidak sekarang, mungkin waktunya akan lewat." Shafiya sadar. Sagara sedang menghindar. Atau justru itu pilihan sikapnya yang paling benar.

Sagara tidak langsung menjawab.

Tatapannya sempat bertahan.

Seolah sedang menimbang sesuatu.

"Sebentar saja, Mas," kata Shafiya.

Sagara mengangguk.

"Katakan."

Shafiya mengangguk, lalu menarik napas pelan.

“Besok malam… usia kandungan saya genap empat bulan."

Nadanya tenang. Tidak dramatis.

Namun jelas ada getaran di ujung kalimat.

Sagara diam. Tidak memotong.

“Dalam yang saya pahami… di usia itu, Allah menetapkan banyak hal untuk anak dalam kandungan.”

Jeda sebentar. Shafiya menunduk sedikit.

“Takdirnya… rezekinya… umurnya… Ditentukan saat itu."

Kalimat itu tidak diselesaikan dengan berat. Hanya disampaikan apa adanya.

Lalu ia kembali menatap Sagara.

“Saya ingin… kita berdoa. Bersama. Tepat di malam itu."

Keinginan sederhana. Tidak memaksa. Tidak banyak. Hanya berdoa. Namun harus bersama Sagara.

Sagara diam.

Beberapa detik masih diam.

Tatapannya tidak lepas. Tapi raut wajahnya tetap datar. Tak ada hal yang bisa dibaca di sana. Antara bersedia, atau tidak.

Shafiya tidak menunduk kali ini.

Ia menunggu jawaban sambil menatapnya.

“Tidak lama, Mas,” lanjutnya pelan.

“Hanya… minta yang terbaik untuk anak ini." Tangannya reflek terangkat meraba perutnya yang sekarang tidak lagi datar. Meski tidak terlalu menonjol. Tetap tersembunyi di balik abaya yang longgar.

Sunyi jatuh di antara mereka.

Sagara mengalihkan pandangan sejenak.

Seperti memikirkan sesuatu.

Atau mungkin… menghindari sesuatu yang tidak ingin ia rasakan terlalu jauh.

Saat kemudian kembali menatap Shafiya.

“Jam berapa?”

Singkat. Namun itu bukan penolakan.

Shafiya menarik napas. Sedikit lebih lega.

“Setelah Isya.”

“Saya usahakan.”

Tidak ada janji. Tapi juga tidak menolak.

Dan untuk saat itu--itu sudah lebih dari cukup bagi Shafiya.

“Terima kasih, Mas," ucapnya pelan. Tidak dengan nada berlebihan.

Namun matanya sedikit lebih tenang.

"Ada lagi?"

Shafiya menggeleng. "Silakan istirahat, Mas." Ia menunduk kemudian.

Sagara mengangguk dan melewatinya tanpa ada kata tambahan.

Shafiya juga berbalik. Melangkah melewati koridor yang menghubungkan ke kamar. Langkahnya lebih ringan. Lebih tenang.

Winda yang sedang duduk di sana, bangkit menyambutnya.

"Mbak belum tidur?"

"Saya nunggu, Nona."

Shafiya tersenyum lembut.

"Sudah ketemu dengan tuan?"

"Ya. Kepentinganku sudah disampaikan."

Sekali lagi Shafiya tersenyum. Meski ada sesuatu yang menahan di balik senyum itu.

"Syukurlah. Istirahat ya, Nona. Anda tampak lebih kurus belakangan ini."

Winda menatap cukup khawatir.

"Terlihat banget ya, Mbak? Selera makanku sedikit berubah."

Benar. Belakangan ini, Shafiya selalu makan lebih sedikit dari biasanya.

"Kalau Anda tidak cocok dengan menu dari nyonya Anjani, saya akan ganti."

Shafiya menggeleng sambil tersenyum.

"Kalau ketahuan, Mbak Winda bisa kena sangsi."

Winda juga menggeleng.

"Saya sudah sepakat dengan petugas dapur. Mereka juga paham, wanita hamil kadang punya selera yang tak biasa."

"Tentang itu, kan sudah ada peraturan langsung dari tuan. Aku akan minta kalau ingin apa-apa. Kemarin-kemarin memang sedang tidak minat makan apa-apa."

"Baiklah." Winda mengangguk patuh.

Mereka kemudian sampai di depan kamar.

"Besok, waktunya nona periksa. Tuan sudah diberitahu?"

"Tidak."

Tadinya Shafiya memang ingin menyampaikan hal itu juga. Tapi ia tahu, untuk tidak boleh minta yang lebih.

"Besok, Mbak Winda temenin ya."

"Baik."

1
iqha_24
hari libur kah, ga ada up ?
i_r cute
kyknya mulai ada cemburu tipis2 nih Sagara....
iqha_24
ayo dong sagara lebih peka dan lebih perhatian lagi ke shafiya
iqha_24
makin seru nii 👍
iqha_24
up lagi kak
Afsa
Komporin saja Pak Raven..aq seneng Kalo Saga cemburu😄
徐梦
🤣🤣🤣🤭
Eeeeee Panassss sagara awas lo cemburu 🤣
iqha_24
naah kan .. Sagara ga tenang
i_r cute
nunggu part shafiya cuekin Sagara, lama banget thor.....
iqha_24
nii sagara kapan peka nya yaa
Amalia Siswati
ya syafia bersikaplah seperti cermin,memantulkan.
Amalia Siswati
plot2 seperti ini nya mohon di kurangi dech thor,1 bab kebanyakan klimaknya bukan alur cerita intinya
Najwa Aini: Dan masukan dari kakak ini akan jadi bagian pertimbanganku..🌹🌹
total 2 replies
iqha_24
ayo Gam, panas2in aja si Sagara
iqha_24
lanjut
徐梦
Weeeeh agaknya ada yg cembukur ni ciee cieeee
Ayok mas Agam pelet trus ning cantik
Masih bnyak yg nunggu jandanya😍
Najwa Aini: Agam said: Siapppp
total 1 replies
徐梦
Semoga aja ada laki2 lain yg menunggu jandamu syifa thor buat sagara uring2n dong 🤭🤭🤭🤣
Najwa Aini: uring²an yang tetap elegan ya kak..
total 1 replies
Ayuwidia
Kisahnya sukses bikin baper. Bahasanya berbobot, nggak bertele-tele. Mencerminkan kecerdasan authornya. Karakter tokoh prianya bikin para pembaca gemes-gemes tapi cinta.

Semoga Sagara & Ning Shafiya sukses menaklukan retensi dari 20 bab sampai 100 bab, aamiin.

Semangat & semoga sukses, Ning Najwa ♥️
Ayuwidia: uhuk, nggak cocok Ning disematkan untukku yang minim ilmu agama, Kak.
total 2 replies
be83
Ceritanya sangat menarik
Semoga update nya lebih sering
Najwa Aini: Terima kasih Kak..
semoga updatenya konsisten ya
total 1 replies
Amalia Siswati
buat syafia yang dingin sekarang,biar dia mikir jika kehamilannya butuh perjuangan bersama..
Najwa Aini: Trims sarannya ya Kak..
aku tampung deh. nanti ku diskusikan dgn Shafiya
total 1 replies
Yus Marni
aku dukung syafiya kabur, gak akan berubah tu si saga kalau gak dikasih pelajaran🫢🫢
Najwa Aini: Kabur kemana kak??
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!