Cantika perempuan miskin dari desa ,karena salah paham warga hingga dipaksa menikah dengang pria yang baru ia kenal,dan Cantika tidak menyangka kalau suami dadakannya adalah CEO, bagaimana Cantika menjalankan rumah tangga dadakannya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri tersembunyi
Melihat Arka duduk sendirian di sofa,Cantika mendekatinya "Apa Mas Arka akan marah kalau aku ingin membicarakan masalah ini,tapi sampai kapan seperti ini,kalau nggak dibicarakan sekarang ." Gumam Cantika
Dengan keberanian yang tersisa ahirnya ia memberanikan mendekati Arka "Mas,Saya ingin membicarakan tentang pernikahan kita ."
Arka menatap Cantika dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Cantika" kata Arka, suaranya pelan namun tajam "kita menikah bukan karena cinta ,kamu jangan terlalu berharap dengan pernikahan kita,tapi kamu jangan khawatir aku akan tetap bertanggung jawab,melindungi kamu,dan juga keluargamu ,tapi kamu jangan besar kepala."
Kata-kata itu keluar dingin dan presisi, menusuk tepat ke dada Cantika. Ia sudah tahu ini dari awal pernikahan ini hanyalah kontrak darurat untuk menyelamatkan reputasi keluarga Arka dari skandal yang hampir meledak. Cantika, gadis desa yang terjebak dalam situasi ini. Tapi mendengarnya diucapkan langsung seperti ini, tetap saja sakit.
"Saya paham, Mas," sahut Cantika. Suaranya bergetar, tapi ia berusaha sekuat tenaga agar air matanya tidak jatuh lagi. ia mengira Arka sudah berubah,dan sudah mau menerimanya,setelah Arka mengajaknya pindah ke apartemen baru ,ternyata Arka masih sama Dingin dan kembali sering berkata ketus padanya. Cantika tidak ingin menambahinya dengan terlihat lemah di depan pria yang jelas-jelas menganggapnya sebagai istri tersembunyi.
"Bagus kalau kamu paham. Sekarang, masuk ke kamarmu, istirahat, dan ingat jangan ganggu aku." ujar Arka sambil melangkah menuju kamar utamanya. Langkahnya tegas, tapi pundaknya sedikit membungkuk, seolah membawa beban yang tak terlihat.
Pintu kamar utama tertutup dengan suara klik pelan. Cantika berdiri sendirian di ruang tamu yang dingin. Lampu kristal di langit-langit menyinari ruangan dengan cahaya keemasan yang seharusnya mewah, tapi malam ini terasa hampa. Ia berjalan pelan ke kamar tamu, menutup pintu, lalu duduk di tempat tidur. Air mata yang ditahannya sejak tadi akhirnya jatuh juga.
"Ya, Allah sampai kapan aku seperti ini,aku hanya ingin bahagia,dan mempunyai rumah tangga yang seperti aku inginkan." Cantika merebahkan badannya,Air mata yang tadi tertahan ahirnya tumpah juga .
"Ibu,Gilang,Rara,Dodi,kalian sedang apa?aku kangen sama kalian ." Cantika kembali teringat pada keluarganya,dengan ibu dan kedua adiknya,dia membayangkan bagaimana dia bisa tertawa lepas saat bersama keluarganya,walaupun hidup mereka serba kekurangan,tapi Cantika merasa nyaman,dan yang pasti dia merasa lebih di butuhkan dan dihargai,Berbeda dengan kehidupan saat ini,walaupun dia tinggal dirumah bagus,dengan makanan enak -enak tapi ia merasa rendah,dan hanya menjadi istri tersembunyi.
Dengan tangisnya yang tersisa Cantika mencoba menghibur dirinya sendiri "Cantika,kamu harus kuat,kamu harus sabar walaupun kamu istri yang tidak dianggap,paling tidak ibumu bisa diobati ,dan Adik -adikmu bisa melanjutkan sekolah ."
------
Di balik pintu kamar utama, Arka tidak langsung tidur. Ia berdiri di depan jendela kaca yang menghadap kota yang berkelap-kelip lampu. Tangan kirinya memegang gelas whiskey yang baru ia tuang, sementara tangan kanannya mengepal di sisi tubuh. Mulutnya memang pedas tadi, kata-katanya sengaja tajam agar Cantika tidak berharap lebih. Tapi di dalam hatinya, ada badai yang jauh lebih rumit.
("Kenapa aku harus terjebak dalam pernikahan ini,bagaimana kalau mama papa tahu? ,bagaimana kalau Viona dan keluarganya tahu?,aku tidak mau kalau Cantika disakiti")batin Arka, menatap pantulan wajahnya di kaca. Ia bukan pria yang suka menyakiti orang lemah. Sejak kecil, ia diajarkan untuk melindungi, bukan menghancurkan. Tapi statusnya saat ini CEO muda yang dipaksa menikah demi stabilitas perusahaan keluarga membuatnya stres luar biasa. Ayahnya, Pak pradipta, terus menekan: “Kamu harus punya istri sah sebelum rapat pemegang saham bulan depan. Kalau tidak, saham akan jatuh ke tangan sepupumu yang haus kekuasaan itu.”
Viona adalah tunangan Arka tepatnya pertunangan yang diatur keluarga,Viona Wanita itu cantik, berpendidikan, dan cocok di mata masyarakat. Tapi hati Arka tidak pernah benar-benar jatuh padanya. Kedatanganya hanya menambah kekacauan. Dan Cantika ... gadis itu muncul seperti angin segar yang tak terduga. Sederhana, pendiam, tapi ada keteguhan di matanya yang membuat Arka merasa bersalah setiap kali ia menyakitinya dengan kata-kata.
Arka meneguk whiskey-nya dalam satu tegukan. Rasa hangat membakar kerongkongannya, tapi tidak bisa membakar rasa bersalah yang mulai tumbuh. Ia ingat bagaimana Cantika berdiri gemetar di depan pintu kamar kemarin , takut viona masuk dan melihat “istri sementara” bahkan mungkin ia merasa tersakiti melihat suami dan perempuan lain bermesraan. Gadis itu bukan pelayan, bukan juga istri sungguhan. Ia hanya korban situasi, sama seperti Arka.
("Dia pasti menangis sekarang,")pikir Arka sambil mengusap wajahnya. Ia ingin masuk ke kamar tamu, meminta maaf, mungkin bahkan menjelaskan bahwa mulutnya pedas hanya karena stres yang menumpuk. Tapi egonya terlalu tinggi. Ia takut jika ia melunak sekarang, semuanya akan semakin rumit. Pernikahan ini seharusnya berakhir dalam satu tahun. Setelah itu, Cantika bisa kembali ke desanya dengan uang yang cukup untuk menebus hutang keluarganya, dan Arka bisa melanjutkan hidupnya sebagai pria lajang yang bebas.
Tapi malam ini, hati Arka tidak setuju dengan mulutnya. Ia berjalan mondar-mandir di kamar, mengingat wajah pucat Cantika. Rambutnya yang basah, mata yang berusaha kuat. Ada sesuatu yang lembut di dalam diri gadis itu, sesuatu yang membuat Arka ingin melindunginya, bukan mendorongnya semakin jauh.
Pukul dua dini hari, Arka masih belum bisa tidur. Ia keluar dari kamar dengan langkah pelan, berhati-hati agar tidak menimbulkan suara. Cahaya lampu dapur kecil masih menyala redup. Ia mendekati kamar tamu dan berdiri di depan pintunya beberapa saat. Telinganya menangkap suara isak pelan yang tertahan. Hatinya seperti diremas.
("Maafkan aku, Cantika,") batinnya. ("Aku bicara kasar bukan karena membencimu. Aku hanya takut ... takut kalau aku mulai melihatmu sebagai istri sungguhan, semuanya akan hancur. Statusku sekarang seperti sandiwara. Ayah menekan, viona mendesak, perusahaan di ambang krisis. Aku takut kalau aku melunak, aku akan kehilangan kendali atas hidupku sendiri.")
Arka menempelkan telapak tangannya di daun pintu, seolah bisa menyampaikan penyesalan itu melalui kayu dingin. Ia ingin membuka pintu, duduk di tepi tempat tidur Cantika, dan mengatakan bahwa di balik semua kata pedas itu, ia sebenarnya khawatir. Khawatir Cantika akan terluka lebih dalam karena permainan ini. Khawatir ia sendiri akan jatuh pada perasaan yang tak seharusnya ada.
Tapi ia mundur. Kembali ke kamarnya, merebahkan tubuh di tempat tidur king-size yang terasa terlalu luas. Malam itu, Arka bermimpi tentang desa kecil di mana Cantika berasal. Ia melihat gadis itu tersenyum lepas di sawah, bukan menunduk ketakutan seperti di apartemen ini. Saat bangun subuh, keringat dingin membasahi dahinya