NovelToon NovelToon
Menikahi Bos Janda : Mahar Di Balik Notulensi

Menikahi Bos Janda : Mahar Di Balik Notulensi

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Beda Usia
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Aruna tidak punya pilihan. Untuk mempertahankan kendali atas perusahaan peninggalan suaminya, ia harus memenuhi syarat dalam "Klausul Moral" yang dibuat oleh dewan direksi: ia harus memiliki pendamping sah dalam waktu 30 hari atau posisinya dicopot.
Bukan mencari pria dari kalangan elit, Aruna justru memilih Bumi—karyawan level bawah yang tidak sengaja meretas sistem keamanan pribadinya hanya untuk protes soal uang lembur yang belum dibayar. Aruna menawarkan kesepakatan: Menikahlah denganku, jadilah CEO bayangan, dan aku akan melunasi seluruh utang medis keluargamu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Antara Harga Diri dan Nyawa

​Sisa aroma hujan dan sabun murah yang ditinggalkan Bumi masih menggantung di udara, seolah-olah menjadi hantu di ruangan kerjaku yang luas. Aku masih terpaku di kursi, menatap pintu jati yang tertutup rapat. Tanganku—yang tadi menjabatnya—terasa aneh. Ada kehangatan kasar yang tertinggal di sana, kontras dengan dinginnya pendingin ruangan yang menyentuh kulitku.

​"Ibu Aruna?"

​Suara Sarah pelan, hampir ragu. Aku tersentak, lalu segera menarik wajah datarku kembali. Aku tidak boleh terlihat goyah, bahkan di depan sekretarisku sendiri.

​"Siapkan kontraknya, Sarah," kataku, suaraku kembali menjadi zirah kaku yang biasa kupakai. "Tapi bukan kontrak kerja biasa. Masukkan poin-poin yang dia minta tadi. Pernikahan sah secara agama dan negara. Tidak ada kontak fisik tanpa izin. Dan yang paling penting... kerahasiaan total."

​Sarah mencatat di tabletnya dengan jemari gemetar. "Bu, apa Anda yakin? Pria itu... dia hanya junior programmer. Lukman akan mencium ada yang tidak beres jika kita tidak menyiapkan latar belakang yang kuat."

​Aku berdiri, berjalan menuju jendela kaca yang memamerkan kelap-kelip lampu Jakarta yang mulai menyala di balik sisa mendung. "Maka buatlah latar belakang itu. Dia jenius, bukan? Ubah posisinya menjadi Staf Ahli Khusus atau apa pun. Katakan pada dunia bahwa kami sudah berhubungan lama secara privat. Dunia lebih mudah percaya pada skandal cinta tersembunyi daripada kesepakatan bisnis di balik pintu tertutup."

​Namun, di dalam hati, aku bertanya-tanya. Apakah aku baru saja melakukan langkah catur yang cerdas, atau aku baru saja menyerahkan leherku pada seseorang yang tidak bisa kuprediksi? Bumi Arkan bukan pria yang bisa dibeli dengan mudah, dan itu yang membuatnya berbahaya—sekaligus mempesona.

​Malam itu, aku tidak bisa memejamkan mata. Apartemenku yang berlokasi di lantai teratas sebuah gedung mewah di kawasan SCBD terasa lebih luas dan lebih sunyi dari biasanya. Aku berdiri di depan cermin besar di kamar mandiku, menghapus sisa riasan yang menempel seharian.

​Tanpa maskara dan lipstik tebal, aku melihat seorang wanita yang terlihat... lelah. Adrian selalu bilang bahwa mataku adalah bagian terindah, karena selalu memancarkan ambisi. Tapi malam ini, aku hanya melihat pantulan seorang janda yang sedang bertaruh dengan kehormatannya demi sebuah takhta perusahaan.

​Aku teringat tatapan Bumi tadi. Begitu bersih, begitu... terluka. Dia tidak memandangku sebagai CEO yang berkuasa. Dia memandangku sebagai wanita yang sedang melakukan transaksi dengan nyawa adiknya.

​"Maafkan aku, Adrian," bisikku pada udara kosong. "Aku hanya tidak ingin melihat apa yang kita bangun hancur di tangan pamanmu."

​Ponselku bergetar. Sebuah pesan dari Sarah.

​“Bu, Lukman benar-benar mulai bergerak. Dia mengirim orang ke rumah sakit tempat adik Bumi dirawat malam ini. Sepertinya dia sedang memverifikasi hubungan kalian.”

​Jantungku berdegup kencang. Lukman tidak membuang waktu. Jika dia menemukan bahwa aku baru bertemu Bumi hari ini, semuanya akan berakhir sebelum dimulai.

​Aku segera menyambar kunci mobil. Aku harus sampai ke rumah sakit itu sebelum orang-orang Lukman melakukan sesuatu yang bisa merusak segalanya.

Rumah sakit swasta kelas menengah itu terasa menyesakkan. Bau pembersih lantai yang tajam menyengat hidungku, sangat jauh dari aroma lobi kantorku yang wangi esensial jeruk. Aku berjalan cepat menyusuri lorong kelas tiga, mengabaikan tatapan heran orang-orang yang melihat seorang wanita dengan setelan mahal berjalan di tempat seperti ini di tengah malam.

​Aku menemukan nomor kamar yang dimaksud Sarah. Kamar 304. Di sana, di luar ruangan, aku melihat Bumi.

​Dia tidak lagi memakai hoodie. Dia hanya mengenakan kemeja koko putih yang lengannya digulung hingga siku. Dia duduk di bangku tunggu yang keras, kepalanya menunduk, dengan sebuah buku kecil bersampul hijau di tangannya. Mulutnya berkomat-kamit pelan, seolah sedang melantunkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh Tuhan.

​"Bumi," panggilku pelan.

​Dia tersentak, berdiri dengan sigap. Matanya yang kelelahan menatapku dengan heran, namun tetap ada jarak yang sopan di sana. "Bu Aruna? Apa yang Anda lakukan di sini?"

​"Lukman mengirim orang," kataku tanpa basa-basi, suaraku bisikan tajam. "Kita tidak punya waktu untuk menunggu sampai besok pagi. Kita harus terlihat seperti pasangan sekarang juga."

​Wajah Bumi mengeras. "Adik saya baru saja melewati masa kritisnya setengah jam lalu. Saya tidak punya energi untuk bersandiwara sekarang."

​"Ini bukan soal energi, ini soal kelangsungan rencana kita!" suaraku naik satu oktav karena panik yang tertahan.

​Tepat saat itu, dua pria berjas gelap—yang sangat kukenali sebagai anak buah Lukman—muncul di ujung koridor. Mereka membawa kamera kecil di saku kemeja mereka.

​Tanpa berpikir panjang, aku melangkah maju. Aku meraih lengan Bumi, merapatkan tubuhku ke sisinya. Aku bisa merasakan tubuhnya menegang seketika, keras seperti batu.

​"Ikuti permainanku," bisikku di dekat telinganya. Aroma tubuhnya—campuran keringat tipis dan minyak wangi non-alkohol—memasuki indra penciumanku.

​Dua pria itu berhenti tak jauh dari kami, berpura-pura sedang menelepon namun mata mereka tidak lepas dari kami.

​"Bumi, tolong..." pintaku pelan, kali ini dengan nada yang benar-benar memohon.

​Aku merasakan tangan Bumi perlahan bergerak. Dia tidak membalas pelukanku di lengannya, tapi dia meletakkan tangan kirinya di pundakku, seolah-olah sedang menenangkan istrinya yang sedang bersedih. Sentuhannya sangat hati-hati, seakan takut melukai kulitku yang terbuka di bagian bahu.

​"Sabar, Aruna," suaranya rendah, begitu lembut hingga membuat bulu kudukku meremang. "Sifa akan baik-baik saja. Berdoalah."

​Itu hanya satu kalimat, tapi entah kenapa, cara dia mengucapkan namaku—tanpa embel-embel 'Ibu' atau 'Bos'—terasa begitu nyata. Untuk sesaat, aku lupa bahwa pria ini adalah karyawanku. Aku lupa bahwa ini adalah transaksi dua miliar rupiah. Di tengah lorong rumah sakit yang kumuh ini, aku merasa seolah-olah benar-benar memiliki seseorang yang menjaga pundakku.

​Anak buah Lukman itu tampak ragu, mereka berbisik satu sama lain sebelum akhirnya berbalik pergi. Sandiwara kami berhasil.

​Namun, Bumi tidak langsung melepaskan tangannya. Dia menatapku dalam diam, matanya mencari sesuatu di mataku.

​"Mereka sudah pergi," kataku pelan, namun aku sendiri tidak segera menjauh.

​Bumi menarik tangannya dengan cepat, seolah-olah pundakku baru saja membakar jemarinya. Dia kembali menunduk, meremas buku doa kecilnya. "Maaf. Saya hanya ingin mereka percaya."

​"Terima kasih," balasku, merapikan setelanku yang sedikit berantakan. "Dan... maaf soal adikmu. Aku akan memindahkan dia ke paviliun eksekutif malam ini juga. Fasilitas terbaik, dokter spesialis terbaik."

​Bumi menggeleng kepala. "Tidak perlu seheboh itu, Aruna. Cukup pastikan dia mendapatkan apa yang menjadi haknya. Kemewahan tidak akan menyembuhkannya, perawatan yang benar yang akan melakukannya."

​"Bumi, mengertilah. Ini bagian dari kontrak. Kau adalah tunangan dari CEO Wiratmadja Tech. Tunanganku tidak mungkin membiarkan adiknya di bangsal kelas tiga yang penuh sesak ini."

​Bumi menatapku dengan tatapan yang sulit kujelaskan. Ada kilatan harga diri yang terluka di sana, tapi juga ada kepasrahan seorang kakak yang ingin adiknya hidup. "Baiklah. Lakukan apa yang menurut Anda perlu untuk menipu dunia. Tapi tolong, jangan jadikan adik saya sebagai properti dalam drama Anda."

​Kalimatnya menamparku. Aku selalu melihat segala sesuatu sebagai aset atau liabilitas. Bagiku, memindahkan adiknya adalah strategi branding. Bagi Bumi, itu adalah urusan nyawa.

​"Aku mengerti," kataku pendek.

​Tiba-tiba, dari dalam kamar, terdengar suara lemah memanggil nama Bumi. Bumi segera masuk, dan aku entah kenapa mengikuti langkahnya.

​Di atas ranjang putih yang sudah mulai menguning, seorang gadis remaja tampak pucat pasi dengan selang oksigen di hidungnya. Matanya yang besar menatap kakaknya dengan penuh cinta, lalu beralih padaku dengan bingung.

​"Mas Bumi... Dia siapa?" tanya gadis itu, suaranya nyaris seperti bisikan angin.

​Bumi duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan adiknya dengan penuh kelembutan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Dia melirikku sekilas, seolah sedang meminta izin—atau mungkin peringatan—sebelum mengucapkan kalimat yang akan mengikat nasib kami.

​"Sifa... ini Aruna," ucap Bumi, suaranya sedikit bergetar. "Dia... calon kakak iparmu. Kakak akan menikah dengannya sebentar lagi."

​Gadis itu, Sifa, tampak terkejut. Sebuah senyum lemah tersungging di bibirnya yang kering. "Mas Bumi... Serius? Kak Aruna cantik sekali... seperti bidadari yang Mas Bumi ceritakan dalam dongeng dulu."

​Aku merasakan sesuatu yang hangat dan menyesakkan mendesak di dadaku. Pujian polos dari gadis yang sedang berjuang melawan maut itu terasa lebih berat daripada segala pujian palsu dari kolega bisnisku selama bertahun-tahun. Aku mendekat, ragu-ragu mengulurkan tangan untuk menyentuh tangan Sifa yang dingin dan penuh bekas jarum suntik.

​"Panggil Kak Aruna saja, Sifa," kataku, dan untuk pertama kalinya malam ini, suaraku tidak terdengar seperti seorang CEO. Suaraku terdengar seperti seorang wanita yang sedang merasa sangat bersalah. "Kamu harus cepat sembuh, ya? Kakak sudah siapkan kamar yang lebih bagus untukmu."

​Sifa mengangguk pelan, matanya mulai tertutup karena pengaruh obat. "Mas Bumi tidak sendirian lagi ya, Kak? Mas Bumi selalu kerja sampai malam buat Sifa... Sifa senang banget deh... Sekarang ada yang jaga Mas Bumi sekarang."

​Setelah Sifa tertidur kembali, Bumi berdiri dan mengajakku keluar ruangan. Kami berdiri di koridor yang kini sudah sepi. Keheningan di antara kami terasa sangat berat, seolah udara di sekitar kami baru saja berubah menjadi timah.

​"Dua miliar itu... sepertinya terlalu murah untuk kebohongan sebesar ini, Aruna," ucap Bumi tiba-tiba, suaranya terdengar sangat lelah.

​"Kau bisa meminta lebih jika kau mau," balasku, kembali ke mode negosiasi.

​Bumi tertawa pendek, tawa yang penuh dengan kepahitan. "Bukan itu maksud saya. Saya baru saja menjanjikan seorang kakak ipar pada adik saya yang sedang sekarat. Jika suatu saat dia tahu bahwa ini semua hanya demi menyelamatkan kursi Anda... saya tidak tahu apakah dia akan tetap memandang saya sebagai pahlawannya."

​Aku terdiam. Aku tidak punya jawaban untuk itu. Dalam duniaku, kebohongan adalah alat bertahan hidup. Dalam dunia Bumi, kebohongan adalah beban bagi jiwa.

​"Besok jam empat sore," kataku, mengalihkan pembicaraan karena aku tidak sanggup menatap matanya lebih lama lagi. "Aku akan menjemputmu. Kita akan ke rumah ibumu."

​Bumi mengangguk pelan. "Pakailah pakaian yang lebih sopan, Aruna. Ibu saya tidak terbiasa melihat wanita dengan pakaian... sesempit ini. Dan tolong, hapus sedikit riasan berani Anda. Dia lebih suka melihat wajah yang tulus daripada wajah yang mahal."

​Aku mengerutkan kening, tersinggung. "Kau sedang mengatur penampilanku?"

​"Saya sedang memastikan pernikahan ini tidak ditolak sebelum dimulai," balasnya tenang sembari kembali duduk di bangku tunggu dan membuka buku doanya. Dia sudah mengabaikanku, kembali ke dunianya yang sunyi dan penuh doa.

​Aku berbalik pergi, melangkah dengan sepatu hak tinggiku yang bergema di lorong rumah sakit. Di dalam mobil, aku mencengkeram kemudi dengan erat. Jantungku masih berdebar, bukan karena takut pada Lukman, tapi karena kata-kata Bumi.

​Mas Bumi tidak sendirian lagi ya, Kak?

​Suara Sifa terngiang-ngiang di telingaku. Aku merasa seperti seorang penjahat yang sedang mencuri harapan dari seorang anak kecil. Tapi aku tidak boleh berhenti sekarang. Aku sudah masuk terlalu jauh.

​Saat aku hendak menyalakan mesin mobil, sebuah pesan masuk lagi dari Sarah.

​“Bu, Lukman baru saja menelepon. Dia bilang dia ingin bertemu dengan 'calon suami' Anda besok malam di acara makan malam keluarga besar Wiratmadja. Dia bilang jika dia tidak datang, dia akan menganggap pernikahan ini palsu dan akan membawa masalah ini ke pengadilan besok pagi.”

​Tanganku gemetar. Besok malam? Aku bahkan belum mendapatkan restu dari ibu Bumi. Lukman sedang memojokkan kami ke dinding.

​Aku melirik ke arah jendela rumah sakit di lantai tiga, tempat Bumi berada. Kami baru saja memulai, dan badai besar sudah menghadang di depan mata.

​Bisakah seorang junior programmer yang hanya tahu soal kode dan doa, bertahan di depan serigala-serigala haus darah di keluarga Wiratmadja? Atau apakah aku baru saja menyeret pria tulus itu ke dalam lubang kehancuran bersamaku?

____________________________________________

​Di dalam kamarnya, Bumi menatap adiknya yang tertidur, lalu membuka ponselnya. Ada sebuah panggilan tak terjawab dari nomor yang tidak dikenal. Saat dia mencoba menelepon balik, sebuah suara serak menjawab di ujung sana: "Jangan percaya pada Aruna, anak muda. Dia hanya menggunakanmu untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi pada malam kematian suaminya."

***[Bersambung...]***

1
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐲𝐨 𝐚𝐫𝐮𝐧𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐡𝐚𝐤 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐮𝐦𝐢, 𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐧𝐢𝐤𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐡 😊😊
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐚𝐣𝐚 𝐛𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐝𝐮 𝐛𝐞𝐧𝐞𝐫𝐚𝐧 𝐫𝐮𝐧 🤪🤪
Pardjan Yono
duh2 ..... aku liat bang Rendra senyum2 , saham nya kan 20%
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐞𝐧𝐞𝐠𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐧𝐣𝐢𝐧𝐠 𝐬𝐢 𝐭𝐮𝐚 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐚𝐧 𝐑𝐞𝐧𝐝𝐫𝐚
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐲𝐚

𝐩𝐚𝐬 𝐩𝐚𝐩𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐬𝐦 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐢 𝐥𝐢𝐟𝐭 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐦𝐢 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐞𝐫𝐭𝐚𝐤 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐚𝐧𝐠 𝟐𝐌 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐥𝐢𝐫 𝐤𝐞 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚𝐚𝐧 𝐜𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧𝐠 🤔🤔
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐨𝐤 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😊😊
total 4 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐲𝐨𝟐 𝐚𝐫𝐮𝐧𝐚 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐑𝐞𝐧𝐝𝐫𝐚 𝐛𝐮𝐬𝐮𝐤 𝐬𝐢𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐢𝐭𝐮
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐨𝐧𝐬𝐩𝐢𝐫𝐚𝐬𝐢 𝐣𝐚𝐡𝐚𝐭 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐩𝐥𝐨𝐭 𝐭𝐰𝐢𝐬𝐭 𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐧𝐠𝐤𝐡𝐢𝐚𝐧𝐚𝐭 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐢𝐚 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐧𝐠 𝐧𝐲𝐚, 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐚𝐧 𝐋𝐮𝐤𝐦𝐚𝐧 𝐩𝐢𝐨𝐧𝟐𝐧𝐲𝐚 😊😊🤪🤪🤣🤣
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐞𝐰𝐞𝐤 𝐛𝐨𝐦𝐛𝐚𝐲 𝐭𝐡𝐨𝐫 😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐩𝐚𝐤𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐚𝐧𝐤 𝐛𝐮𝐚𝐡 𝐋𝐮𝐤𝐦𝐚𝐧? 🤔🤔🤔
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝟐 𝐢𝐧𝐢 𝐚𝐪 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚𝟐 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐭𝐩 𝐬𝐞𝐩𝐢 𝐩𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚

𝐣𝐮𝐬𝐭𝐫𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐲𝐠 𝐜𝐞𝐧𝐝𝐞𝐫𝐮𝐧𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝟐𝐚𝐧 𝐚𝐥𝐮𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐤𝐦𝐧 𝐧𝐦𝟐 𝐭𝐨𝐤𝐨𝐡 𝐤𝐦𝐧 𝐛𝐢𝐬𝐮𝐥 𝐤𝐦𝐧 𝐦𝐥𝐡 𝐛𝐧𝐲𝐤 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐭 🤣🤣🤣

𝐬𝐩𝐫𝐭𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐝𝐧𝐠 𝐚𝐝𝐚 𝐟𝐞𝐧𝐨𝐦𝐞𝐧𝐚 𝐩𝐞𝐧𝐮𝐫𝐮𝐧𝐚𝐧 𝐒𝐃𝐌 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐒𝐃𝐌 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚...


𝐦𝐚𝐚𝐟 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫 𝐨𝐩𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐛𝐠 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐤𝐫𝐧 𝐬𝐲 𝐭𝐝𝐤 𝐜𝐮𝐤𝐮𝐩 𝐩𝐞𝐝𝐞 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐦𝐬𝐡 𝐟𝐚𝐤𝐢𝐫 𝐢𝐥𝐦𝐮 😊😊😊
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐞𝐰𝐞𝐤 𝐭𝐡𝐨𝐫 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐁𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐬𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐦𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐝𝐢𝐩𝐚𝐡𝐚𝐦𝐢, 𝐚𝐥𝐮𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐠 𝐦𝐚𝐬𝐮𝐤 𝐚𝐤𝐚𝐥....

𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐡
𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘
Rio Mario
kok sepi sih padahal cerita bgus banget .. semangat kak💪
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐚𝐪 𝐬𝐞𝐫𝐢𝐧𝐠 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐤𝐚𝐤 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝟐 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐬𝐞𝐩𝐢 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐭 𝐛𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐩𝐢 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬𝐧𝐲𝐚 😭😭😭
total 1 replies
Erna Lisa
mantap
Erna Lisa
lanjutkan
Erna Lisa
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!