Yah, ganteng sih... tapppiiii pekerjaan pacar kamu kan Office Boy. Memangnya kamu ngga bisa cari yang lebih baik?
Disaat yang sama Boss Besar mengirimkan rangkaian bunga dan kalung berlian sebagai apresiasi pekerjaannya sebagai sekretaris.
Jadi, siapa yang harus dipilihnya?
Si Tampan Office Boy, atau si Milyuner Big Boss?
Gals, Yuhuuu..
Novel ini secara teknis sebenarnya sudah tamat di Bab 47, tapiiiiiii karena kesalahan teknis yangvtidak bisa dihapus, tampilannya jadi berantakan. Jdi diriku usahakan membuat cerita extra sampai Bab 65 yaaaa.
Terimakasih Yang Sudah Vote!!
Cup Cup Muahh deh, semoga semua yang Vote dan memberi diriku tips (hehe) hidupnya makin sukses dan selalu bahagia.
Aamiin...
hihi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Icarus
Bara memperhatikan Alex yang sedang frustasi dengan rokok di sudut bibirnya dan jarinya yang menari mengetik keyboard dengan cepat. Pria itu tidak berani menginterupsi bossnya saat ini.
Tak berapa lama ketikannya semakin terdengar keras dan detik berikutnya laptop itu sudah menghantam dinding.
"Setan..." umpat Alex dengan napas memburu. Berikutnya Boss nya itu mondar mandir di depannya sambil bertolak pinggang.
"Apa yang kita lewatkan..." ia bergumam sendiri, perlahan dan hampir berbisik, tapi Bara bisa merasakan amarah di suaranya.
"...kopi?" tawar Bara. Bossnya ini benar-benar putus asa.
Alex menjatuhkan tubuh kekarnya di kursi Bara dan menengadahkan kepalanya. Menghembuskan asap rokoknya ke plafon. Icarus kembali tidak terlacak.
Icarus manusia dengan sayap rapuh
Terpesona oleh Apollo mendekati matahari
Terselimuti ambisi terbang lebih tinggi
Pada akhirnya terbakar jatuh
Ke Lautan tempat Poseidon membelenggu
Ada sesuatu yang menganggu pikiran Alex. Ia merasa memiliki hubungan khusus dengan Icarus ini. Kenapa dana yang tersedot hanya sedikit-sedikit, bagaikan mencoba mengetesnya sebelum memulai acara utamanya.
"Bara..." akhirnya Alex membuka suara setelah 15 menit memejamkan mata. "...Ayahku...orangnya seperti apa?"
Bara yang sedang menikmati snack, menghentikan kunyahannya.
"Pak Baskara? Orang paling realistis yang pernah saya temui."
Alex mengangkat kepalanya.
"Bisa jelaskan maksud kamu?"
"Yah..." Bara mencoba mengingat.
"Seperti yang anda tahu, saya dan Leon tidak punya tempat di dunia ini. Tertangkap polisi akan dihukum mati, tidak tertangkap pun akan dibunuh sama anggota genk lain. Saya dalam titik terendah hidup saya saat Pak Baskara menemukan kami. Apabila saat itu anda yang memegang tampuk kepemimpin saya sangsi anda akan mau menerima kami."
"Kalian itu pengedar narkoba dan anggota geng. Kerja kalian membunuh dan mabok." sahut Alex.
"Makanya saya bilang, pak Baskara orang paling realistis yang pernah saya temui. Beliau paling benci kebohongan, dan beliau bisa membaca kejujuran dalam diri kami. Realitanya, kami berdua tidak seperti yang dipikirkan banyak orang. Kami terjebak dan tidak bisa keluar. Kami harus berjuang dengan hidup kami. Kalaupun kami kabur dengan uang bapak, kami mau kemana? Lebih baik kami membantunya memperbesar perusahaan."
Alex langsung teringat cerita Bianca. Ayahnya membangun perusahaan dengan loyalitas, memberi kebahagiaan bagi yang membutuhkan sehingga pengikutnya selamanya akan setia.
Wanita itu... apa namanya asli?
"Pak Baskara memberi kami identitas baru, menyekolahkan kami, mengilmukan kami. Memberi kami hidup yang baru. Dan karena beliau saya bisa membantu anda saat ini." Sambung Bara.
Alex menghela napas. Ia tidak mengenal ayahnya. Yang ia ingat hanya pukulan-pukulannya, belenggunya, dan hinaannya. Saat ini ia berambisi untuk lebih besar dari ayahnya.
Dan Bianca...
Bagaimana wanita itu bisa begitu cantik, apakah itu juga hasil didikan ayahnya?!
Bagaimana sebenarnya hubungan wanita itu dengan Pak Baskara?! Kalau antara Bianca dengan ayahnya ada hubungan intim, bagaimana mungkin wanita itu tidak tahu kalau ayahnya sudah meninggal?!
Banyak kejanggalan disini. Icarus belum berhasil ia tangani, manajemen Beaufort carut marut dan Bianca semakin hari semakin bersinar. Mungkin dari banyak misinya, satu-satunya yang berhasil hanya Bianca sudah jatuh cinta dengan sosok Lucas. Sekarang tinggal mengerjai wanita itu agar jatuh cinta juga dengan sosok Alex dan akhirnya ia akan meninggalkannya.
Sekarang Ia hanya harus menahan diri supaya tidak terkurung ke dalam pesona wanita itu.
------
Aku melihat seorang wanita hamil yang masuk ke waiting room. Berbeda dari wanita lainnya, yang ini tanpa perlawanan dan terlihat ia susah payah menahan mualnya. Security bilang wanita itu sudah ada janji dengan Pak Bima. Aku menatap Number Seven, ia sekretaris Pak Bima, seharusnya ia mengetahui hal ini. Tapi Number Seven memalingkan muka tidak mengindahkanku. Karena jarak kami agak berjauhan sekitar 3-4 meter, aku akhirnya menelponnya. "Kamu tidak kabari Pak Bima? Atau harus saya?!" tanyaku.
"Eh, Six, lu kan udah asisten Big Boss yah, urusan disini udah bukan urusan Lu!" jawab Number Seven.
Aku kaget.
Darimana ada SOP yang bilang kalau ini bukan urusan aku? Aku tetap sekretaris senior disini dan tugasku jelas, aku memimpin para sekretaris disini.
Aku tidak mau kalah, orang seperti Number Seven sudah berkali-kali kutemui.
"Seven, kamu kan tahu aturannya. Perbincangan ini saya rekam yah, jadi kalau pengunjung protes penyampaian informasi ke Pak Bima terlalu lama, sudah bukan urusan saya. Sepenuhnya urusan kamu.”
Brakk!!
Number Seven membanting teleponnya sambil menatapku marah. Lalu ia beranjak dari tempat duduknya dan dengan menghentak-hentakkan kaki menuju waiting room.
Aku bisa melihat sekretaris yang lain menghujaniku dengan tatapan tajam, terasa menusuk di tengkukku.
Sejauh itu mereka menginginkan jabatan asisten Big Boss? Kan aku sudah bilang akan memberikannya dengan ikhlas kalau mereka mau. Masalahnya, Pak Alex mau tidak dibantu mereka.
Terdengar teriakan dari waiting room, Number Seven memaki wanita itu.
Jelas-jelas menyalahi SOP karena kami dilarang untuk menghadapi pengunjung dengan emosi dan ekspresi.
Aku berdiri untuk melihat yang terjadi tapi Number Nine menghentikanku.
"Duduk lo!!" perintahnya padaku.
Loh...
Kok jadi dia yang menyuruh-nyuruhku.
Tapi karena sebenarnya bukan urusanku, aku diam saja dan bersikap netral. Number Nine berjalan ke waiting room dengan dagu terangkat. Kubaca dia akan membantu Seven.
Terlihat sekali kalau mereka berdua ada affair dengan Pak Bima.
Sekitar 5 menit mereka berdua keluar dari waiting room dengan kesal. Ada kalimat "susah banget dibilangin" dan " mentang-mentang lagi hamil" lalu disusul kalimat "itu kan salah dia sendiri ngga pake pengaman"
Miris...
Mereka juga wanita.
Suatu saat mereka akan merasakan hal yang sama.
Kenapa empati mereka tidak ada?
Dan lagi memangnya menggunakan pengaman dan pil KB akan berpengaruh kalau Tuhan sudah berkehendak?
Disaat yang sama Big Boss mengirimkanku pesan.
"Siang, Six. Kantor aman?" tanya Pak Alex.
"Bapak, saya boleh bertanya sedikit?" aku memberanikan diri.
"Kamu boleh bertanya apapun ke saya, pekerjaan ataupun pribadi." balasnya.
Hm...
Apa aku harus waspada terhadap orang ini?
Atau aku harus berakrab-akrab?
Akhirnya Aku memutuskan untuk tetap profesional.
"Maaf pak, waktu itu Bapak bilang kalau aturan yang harus saya ikuti adalah aturan Bapak dan bukan lagi aturan manajemen."
"Benar." Kata Pak Alex.
"Saat ini posisi saya adalah assisten Pak Alex sekaligus sekretaris senior di Beaufort Bank. Jadi apakah saya masih dapat mengikuti jobdesk saya yang lama? Ada sedikit masalah disini dan saya dihalang-halangi untuk bertindak sesuai SOP. Jadi saya harus ikuti yang mana?"
"Ikuti yang kamu suka. Saya memberikan kebebasan untuk kamu. Saya yakin kamu bisa menempatkan diri dengan baik.”
Wah... kejutan.
Ternyata beliau mudah diajak bekerjasama. Tapi aku tidak boleh terlena, dan menghindari bersikap seenaknya. Semua kulakukan untuk perusahaan, setelah itu aku akan angkat kaki dari sini. Aku harus meninggalkan perusahaan dengan elegan, seperti aku pertama kali masuk perusahaan dengan niat baik.
Aku belum mengambil tindakan apapun, wanita yang sedang hamil itu masih di waiting room, aku berniat untuk menunggu selama 30 menit terlebih dahulu, menurutku itu batas menunggu yang sudah cukup lama bagi wanita hamil yang sedang hiperemesis.
Belum sampai 10 menit datang lagi wanita lain dengan teriak-teriak karena dihalang-halangi security. Tinggi, cantik dan wajahnya pernah kulihat di jajaran model catwalk.
“Mana Bima?! Yang mana sekretarisnya??!”
Wah, pertama kalinya ada yang malah mencari sekretaris.
Number Seven melesak ke belakang. Dan karena gerakannya cukup kentara, sehingga mengundang pandangan wanita itu.
“Oh, kamu yang namanya Farah?! Kamu yang kemarin angkat telepon saya untuk Bima, hah?! Begini tampang kamu yang ngaku cantik dan serasa diatas angin sama saya?!”
Number Seven sampai mendongak saat disejajarkan dengannya, wanita itu lebih tinggi dariku, aku sekitar 170 cm, ia bisa lebih tinggi.
“Pak Bima sedang keluar, Bu Angeline... mohon tunggu saja di waiting room, nanti saya sampaikan.” Suara Number Seven sedikit gemetar.
“Eh, Anda siapa berbuat keributan di kantor? Kecuali Istri Sah Pak Bima dan Klien Bank, kami tidak ijinkan orang luar untuk menyerobot masuk.” Seru Number Nine.
“Saya Klien disini. Kamu ngga tahu?!”
Aku tahu.
Dia salah satu pemegang saham untuk Dua Jati Company, perusahaan kayu jati yang termasuk besar di Negara ini. Dan mereka Nasabah prioritas kami.
Tapi aku diam saja.
Kan aku tidak boleh bergerak...
“Coba cek nama saya di Dua jati Company, lihat berapa saham yang saya miliki, hah?!”
Number Nine mundur.
Number Ten maju.
“Meski begitu Anda harus ikuti aturan perusahaan, Anda harus isi jadwal janji...”
“jadwal janji apa, hah?! Saya sudah muak sama janji-janji Bima! Sekarang jala**ng ini bikin masalah sama saya, saya sudah cukup sabar ya menghadapi Bima, dan Anda juga bukan istri sahnya, kalian semua tidak berhak menghalangi saya yang sudah memiliki anak dengan Bima!!”
Semua bungkam.
“Apa, Hah?! Ngga ada yang berani ngomong? Sekarang panggil Bima!”
Aku berdiri, lalu melewati wanita itu, menatap matanya yang dilanda amarah dan gusar, memberinya arahan supaya mengikutiku.
Aku membuka ruangan di depan Number Seven.
“Bu Angeline, silahkan...” kataku sambil mempersilahkan dia masuk.
Angeline menatapku dengan ragu, lalu melongok ke dalam ruangan.
“Anda sudah lihat, Pak Bima tidak ada disini. Beliau sedang ke Singapore.” Sahutku.
Angeline melirikku dan memperhatikanku dari atas ke bawah.
“Kamu siapa?” Tanyanya.
Aku menutup pintu ruangan Pak Bima.
“Kita bisa berkenalan di ruangan lain bu, karena saya kuatir Anda akan lebih emosi disini.” Aku melirik Number Seven dan Number Nine. Aku mendekat dan membisikinya. “Ada yang ingin saya kenalkan dengan Anda. Mohon ikuti saya...” bisikku.
Angeline mengerutkan keningnya.
Walaupun ragu, ia mengikutiku.
Kami ke waiting room, tempat wanita malang yang lain menunggu tanpa kepastian.
“Bu Angeline, perkenalkan, ini Bu Jihan. Beliau anak dari pemilik HaidarLiving, perusahaan furniture yang pasti Anda tahu.” Dua Jati Company adalah salah satu suplier kayu untuk HaidarLiving. Setahuku Haidar Grup juga sedang merambah ke penjualan mesin untuk penunjang teknologi dan rumah tangga.
Kulihat Angeline menatap Jihan dengan miris. Penampilan Jihan memang kacau. Bau muntahan dan perut yang mulai membesar. Wajahnya sangat pucat dan bibirnya bergetar. Kupikir ia pasti tidak tidur berhari-hari.
Aku duduk di sofa di depan mereka dengan santai.
Kesempatanku untuk membalas Number Seven dan Number Nine, sekaligus wajah ketakutan Bima yang sangat kunantikan.
DOA TAHTIM/KHATAMAN SETIAP MALAM JUMAT
_Juz_
1. Ali. M🚣🏻🎣
2. Ali. F💫
3. Yazid🤲🤲🤲
4. Imam/ Diryono🕋
5. Fitri 🕋
6. Amel/ Umami
7. Elya 🕋❤️
8. Yoyok/Afifah🕋🫰
9. Ipeh🕋
10. Zainu🕋
11. Tri' 🥰🕋
12. Jarot😎😎😎
13. Indarti /Inayah
14. Tarom/Anik🌻
15. Asfurin🇲🇨🇲🇨🇲🇨
16. Mawar 🕋
17. Khuzaenal🕋
18. Karwati/Yossy🕋
19. Wahyudin🎓
20. Iftah🕋
21. Taufiqi 💯
22. Zaenal 🕋
23. Tutik 🕋
24. Rofi'i🌽
25. Zaini/Samsul
26. Umi Hanik✅
27. Suryanti🕋
28. Haris🕋
29. Dewi/ Kodriyah 🕋
30. Qoif 🕋🕋
*Bagi yang berhalangan bisa menghubungi yg belum dapat juz atau segera mencari yg badali terima kasih*🙏
*Mohon dibaca sesuai waktunya, kalau memang tidak bisa segera laporan biar bisa digantikan yang lain, terima kasih 🙏*
malah mantan😉
kalo stag gak nemu novel baliknya kesini lagi kesimu lagi..
kayak kisah Jihan pacarnya baratadhika , ada di dunia nyata habis diperawanin pacar digilir temen²nya bedanya di dunia nyata sampai meninggal si cewe. sekarang juga lagi viral fantasi cinta sed4rah seperti di novel nya bang Sena. atau seperti kisah Kayla nya Zaki.
aku sabar madam menanti update nya novel ongoing... mungkin madam lagi cari inspirasi, sukses dan sehat selalu madam Septira ♥️
balek lagi ke Andre....
grusah grusuh Andre kiii😔 bawa Dimas yg pinter siasat kek , apa Alex atau pak Sebastian yg kolega nya banyak , apa minta bantuan nenek nya Gerald bagaswirya yg punya bolosewu . pasti dah gengster tanpa disentuh pun mati.