" Mencintaimu memberikan warna baru dalam hidupku. Terima kasih. " ucapnya mencium sekilas lelaki yang telah menjadi suaminya saat ini.
Bianca(23th) harus menelan pil pahit akibat kecelakaan tragis yang mengakibatkan kematian suaminya Alexander(27th).Belum habis rasa kecewanya karena perselingkuhan sang suami tapi kematian sang suami juga menyisakan kesedihan yang mendalam baginya.
Begitu banyak teror yang dialaminya karena beberapa pihak yang menyalahkannya akibat kejadian tersebut.Dia merasa membutuhkan seseorang yang bisa melindunginya hingga dirinya bertemu Alvin (26th) yang menyelamatkannya ketika akan diculik..
Siapakah Alvin ? Bagaimana dia bisa menjadi bodyguard Bianca? Bagaimana cinta bisa tumbuh dan bersemi dihati keduanya?
Baca terus kisah perjalanan cinta mereka ya...ini adalah karya pertamaku semoga bisa diterima oleh readers semuanya..Makasih..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SALAH PAHAM
Bianca bangun dari tidurnya, kepalanya masih sedikit pusing.
" Dimana aku? " gumam Bianca sembari menatap seisi ruangan yang terasa asing baginya.
Dia mulai sedikit mengingat kejadian tadi sore.
" Astagfirulloh,, apa lelaki itu telah melecehkanku? " mata Bianca berkaca-kaca dilihatnya pakaian yang dipakainya.
" Ini bukan bajuku..hiks..hiks.. " tangisnya langsung pecah mengingat hal itu, tetapi kenapa ia sampai tidak sadar sama sekali.
Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Bianca ketakutan dia berpikir bahwa orang itu adalah pria hidung belang yang melecehkannya. Dia berdiri dan mencoba untuk pergi meninggalkan tempat itu. Tetapi ketika hendak berdiri kepalanya masih sedikit pusing.
Bianca hampir terjatuh, untung seseorang menangkapnya.
" Nona, kau tidak apa apa? " tanya Alvin sembari membantu Bianca berdiri.
" Alvin ?! " ucap Bianca seakan tak percaya.
Sekilas mata mereka bertemu, Alvin terlihat begitu segar dan tampan. Rambutnya yang setengah basah dan pakaiannya yang ketat menunjukkan otot-otot badannya, ditambah lagi celana pendek membuatnya semakin terlihat mempesona. Bianca langsung menundukkan pandangannya.
" Kenapa kau ada disini? Apa yang telah terjadi padaku? Aku benar-benar tidak ingat apa-apa. Yang ku tahu pria itu mulai melecehkanku. hiks..hiks.." Bianca kembali menangis mengingat kejadian itu.
" Nona,, anda tidak perlu khawatir . Anda tidak apa-apa. Saya telah meringkus kedua baj***an itu sebelum mereka melakukan hal buruk kepada anda. " kata Alvin mencoba menenangkan Bianca. Ia memegang kedua bahu Bianca kemudian menjatuhkan Bianca kedalam pelukannya.
Bianca tidak menolaknya, ia merasa membutuhkan sandaran saat ini. Rasanya terlalu banyak masalah yang harus dia hadapi. Seketika dia teringat sesuatu.
" Lalu ,, siapa yang menggantikan bajuku?Aku tahu kemarin aku masih memakai baju kerja. Apa jangan - jangan kau yang menggantinya? " pikir Bianca curiga. Iapun langsung mendorong tubuh Alvin.
" Nona baju anda basah karena aku memasukkan anda ke dalam bathup. " belum selesai Alvin bicara, Bianca menghujami Alvin dengan pukulan-pukulan bertubi -tubi.
" Kurang ajar kau Alvin ,, berani sekali kau menggantikan pakaianku ! " kata Bianca mengamuk sambil memukuli pria di hadapannya.
Bianca terus- menerus memukulinya hingga akhirnya terdengar seseorang masuk ke kamar itu.
" Nona,, apa anda baik-baik saja? " tanya bi Irah.
" Bibi ?! " gumam Bianca heran sebab Bi Irah bisa berada ditempat ini.
Flashback On....
Alvin merasa sangat cemas karena Bianca telah diculik oleh seseorang. Dia penasaran dengan kedua orang itu. Sekilas dirinya pernah melihat wanita yang membawa Bianca.
" Iya benar,, dia adalah sekertaris Alexander. " gumam Alvin saat mulai mengingatnya.
Alvin mencengkram erat dan memukul stir mobil. Diberhentikannya mobil tersebut di bahu jalan, lalu dia menelpon seseorang.
"Rico,, aku butuh bantuanmu. Bianca kembali diculik. Aku ingin kau melacak keberadaan mereka saat ini. " perintah Alvin pada Rico, sahabat sekaligus asisten pribadi Papanya.
Ricopun dengan mudah mengetahui keberadaan penculik itu karena dia memang seorang ahli IT. Dia juga merupakan salah satu tangan kanan kepercayaan Pak Arnold.
Alvin segera menyusul kesana setelah Rico berhasil melacak keberadaan mereka. Ia menghubungi para bodyguard agar membantunya meringkus kedua orang tersebut.
Mereka menuju hotel dimana Bianca di bawa. Alvin meminta kunci duplikat kamar itu. Sebenarnya pihak hotel tidak mau memberikan, tapi setelah Alvin menceritakan permasalahannya dan mengganti harga kamar 5 kali lipat mereka pun memberikannya.
Alvin segera menuju kamar hotel yang dimaksud. Ditendangnya pintu kamar hotel dalam sekali tendangan , membuat yang didalam terkejut. Dia berhasil meringkus kedua orang itu dan menyuruh bodyguardnya membawa kedua penjahat itu ke tempat terpencil untuk dimintai keterangan.
Melihat Bianca yang kepanasan akibat pengaruh obat , akhirnya Alvin berinisiatif membawa Bianca ke kamar mandi dan menjatuhkannya kedalam bathup dibawah guyuran shower. Alvin menghubungi Bi Irah dan memintanya membawa pakaian ganti untuk Bianca.
Bi Irah pun segera menuju kesana dan menuruti perintah Alvin. Ia merasa iba melihat keadaan Bianca. Dia berinisiatif membeli makanan kesukaan majikannya tersebut agar ketika bangun perasaan majikannya kembali senang.
Flashback Off
" Nona,, makanlah terlebih dahulu. Bibi membelikan baso kesukaan anda. Pasti anda merasa lapar. " kata Bi Irah sambil memberikan semangkuk bakso kepada majikannya.
" Makasih Bi. " Bianca tersenyum ramah.
Bi Irah selalu mengerti apa yang diinginkannya. Dari dulu dia sangat suka makan baso pedas. Makanan merakyat meskipun dirinya berasal dari keluarga yang kaya raya. Dia melirik ke arah Alvin, ada rasa bersalah dalam dirinya.
" Maaf kan saya telah berburuk sangka padamu. " Bianca tersenyum datar, dia sangat malu mengingat kelakuannya barusan.
" Iya,, saya mengerti Nona. " ucap Alvin tersenyum ramah. Matanya masih saja menatap Bianca membuat wajah Bianca merona karena malu.
" Nak Alvin,, Bibi juga beli buat kita. Ayo kita makan sama-sama. " ajak Bi Irah sambil memasukan baso ke dalam mangkok kembali.
" Makasih Bi. " jawab Alvin dan merekapun makan bersama-sama.
...----------------...
" Alvin ?! Kenapa dengan tanganmu? Ini seperti bekas cakaran, kau perlu segera diobati agar tidak infeksi. " ucap Bianca saat memperhatikan lengan tangan Alvin yang memerah dan terdapat garis- garis seperti bekas cakaran.
" Iya nak Alvin,, setelah ini lebih baik kita ke dokter untuk memeriksa keadaan kalian. " usul Bi Irah.
" Tidak perlu Bi,, ini memang cakaran kucing cantik kesayanganku. Aku lebih suka seperti ini supaya bisa ku jadikan kenang kenangan dengannya. " jawab Alvin sambil senyum-senyum sendiri mengingat kejadian waktu itu.
" Kamu ada-ada saja. " kata Bi Irah sambil tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
" Uhuk..Uhuk..."
Bianca tersedak makanannya, spontan Alvin dan bi Irah menyodorkan air putih padanya. Bianca berpaling dari Alvin dan menerima air yang diberikan oleh Bi Irah.
" Makasih Bi. " ucap Bianca langsung meminumnya.
Bianca mulai teringat kejadian saat itu. Ia ingat ketika dirinya mencakar-cakar badan Alvin dan menciumnya begitu saja.
" Ahhh..kenapa aku jadi seliar itu? Bagaimana ini? Dia tidak boleh tau kalau aku telah mengingatnya kembali. Sungguh memalukan. " batin Bianca dalam hati. Tanpa sadar ia menepuk jidatnya sendiri.
" Nona,, anda tidak apa-apa? " tanya Alvin yang merasa aneh melihat tingkah Bianca.
" Ti,, tidak. Aku tidak apa-apa." jawab Bianca sedikit gugup.
" Sepertinya ia mengingat kejadian tadi. " batin Alvin merasa lucu dengan tingkah majikannya. Iapun jadi senyum-senyum sendiri.
" Alvin ,, kamu nggak pa pa? " tanya Bi Irah lalu Biancapun ikut menoleh ke arahnya.
" Eng,, enggak Bi. Alvin nggak pa pa. " jawab Alvin malu.
" Haduh ,, kalian ini ada-ada saja. " Bi Irah geleng-geleng kepala melihat tingkah keduanya.
" Setelah ini saya akan mengantar kalian pulang ke rumah, lalu saya akan meminta izin karena masih ada urusan yang harus diselesaikan. " Alvin menjelaskan.
" Memangnya kau mau kemana? Apa ini ada hubungannya dengan Asti dan pria itu? Aku tidak mau kau mengotori tanganmu dan bertindak bodoh . " kata Bianca curiga. Ia khawatir Alvin akan bertindak diluar batas.
" Vin,, aku harap kamu tidak menyakiti Asti. Aku pun merasa bersalah kepadanya. " pinta Bianca memohon kepada Alvin.
" Baik Nona. " jawab Alvin singkat.
" Kenapa hatimu begitu lembut , Nona. Mereka bahkan telah menyakitimu, tapi kau malah membelanya. Kau sungguh berhati mulia, aku sangat kagum padamu. " batin Alvin bangga.
Alvin mengantarkan kedua wanita itu menuju mansion. Kemudian, Alvin melajukan kembali mobilnya menuju tempat penculik itu dikurung.
" Tunggu ,, aku akan membuat perhitungan dengan kalian. " Alvin menyeringai disertai sorot mata yang tajam penuh amarah.
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Author butuh dukungan dari kalian semuanya. Makasih sebelumnya..