Alfarizqi, putra Kyai pemilik Pesantren Bustanul Huffazh, kembali ke Indonesia setelah menamatkan studi di Madinah. Ia membawa serta janji suci yang terlanjur ia berikan pada wanita asal Maroko yaitu Sarah, seorang perempuan yatim piatu korban pemerkosaan yang kini tengah mengandung. Meskipun tidak ada cinta di hatinya, Alfa merasa bertanggung jawab penuh untuk menikahi dan melindungi Sarah, sebagai wujud pengorbanan dan rasa kemanusiaannya. Namun, janji itu terbentur takdir ketika ayahnya menjodohkannya dengan Rayya, demi keberlangsungan pesantren. Rayya, seorang mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Belanda, memiliki mimpi dan masa depan yang telah ia rencanakan bersama Adam, teman sekaligus cinta pertamanya semasa SMA. Mereka berjanji akan menikah setelah Rayya kembali ke Tanah Air. Hidup Rayya yang bebas dan penuh ambisi seketika hancur saat ayahnya memaksanya pulang untuk sebuah perjodohan. Ada lagi Rumanah, santri pintar berprestasi yang sejak dulu sudah diam-diam menaruh hati pada Alfarizqy. Di bawah langit yang sama, dua insan yang tidak saling mengenal, dengan janji dan cinta yang berbeda, kini terpaksa berada di persimpangan takdir. Alfa terhimpit antara janji yang harus ia tepati dan kewajiban keluarga yang tak bisa ia tolak. Sementara Rayya, harus memilih antara cintanya pada Adam atau menuruti permintaan orang tua. "Ada Cinta di Langit Madinah" adalah kisah tentang perjuangan, pengorbanan, dan pencarian makna cinta sejati. Akankah Alfa dan Rayya menemukan cinta di antara ikatan yang tak mereka inginkan, atau akankah mereka tetap berpegang teguh pada janji yang telah terucap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alana alisha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Hanya Ingin Memahami
“Assalamu’alaikum….”
“Wa’alaikumsalam, ahlan wa sahlan!” sambut Kiai Ishak hangat, menyalami Kiai Shobron, gurunya sekaligus ulama besar yang jarang bepergian jauh. Kehadirannya membuat seluruh pesantren serasa berhenti bernafas sejenak—begitu besar wibawanya.
“Maaf kedatanganku begitu mendadak,” ujar Kiai Shobron sambil mengambil tempat di ruang makan.
“Ya Rabb… kedatangan Tuan Guru adalah keberkahan bagi pondok kami. Alhamdulillah,” balas Kiai Ishak.
Sembari menyendokkan makanan, Kiai Shobron berkata tanpa basa-basi, “Ishak… aku ingin kau mengizinkan putra temanku mengajar di pondok ini.”
“Putra teman? Si.. Siapa dia?”
“Adam Al-Fatih,” jawab Kiai Shobron mantap. “Ia tak mendalami agama seperti para asatidz di sini, tapi dia ahli sains dan teknologi. Aku ingin ia menjadi bagian dari pondok ini. Kau butuh seseorang untuk mengembangkan pesantren ke level internasional.”
Kiai Ishak tertegun. Siapa gerangan Adam Al-Fatih sampai-sampai Kiai Shobron sendiri mengantarnya?
“Bagaimana, Ishak? Apa kau berniat menolak permintaanku?”
“Bagaimana mungkin saya menolak?” ujar Kiai Ishak sedikit gugup. “Ini kehormatan bagi kami.”
Kiai Shobron mengusap jenggot putihnya, tersenyum puas.
Setelah shalat ‘ashar, Adam tiba di pesantren. Alfarizqi menyalaminya. lalu mengantar ke rumah kecil dalam kawasan pesantren.
“Aku rasa kau sangat istimewa… sampai Maha Guru Shobron sendiri yang memintamu ke sini,” sindir Alfarizqi tipis.
Adam hanya tersenyum kecil, meletakkan barang-barangnya ke nakas sambil mengamati ruangan baru itu.
“Semoga kau betah. Kalau butuh apa-apa, kabari aku lewat WhatsApp.”
“Terima kasih!” balas Adam singkat.
“Aku permisi”
“Ah… Sebentar Gus…”
Alfarizqi menghentikan langkahnya.
“Ketika shalat, apakah laki-laki dan perempuan shalat berjamaah bersama?” Adam tidak tahan untuk tidak bertanya.
“Ya!” Sahut Alfarizqi mengeryitkan dahinya.
“Lalu….”
“Kalau kau ingin tau tentang peraturan pesantren ini lebih lanjut, kau bisa ke kantor dan membaca sendiri aturan-aturannya!” Ketus Alfarizqi seraya keluar dari rumah tersebut.
Alfarizqi tak membuang waktu lagi. Pesan Sarah masuk—wanita Maroko itu sudah boleh pulang dari rumah sakit.
Sarah, aku akan menjemputmu. \~Alfarizqi
Tidak usah, Alfa. Aku sudah pesan taksi. \~Sarah
Baik kalau begitu, aku tunggu di depan. Kau ingin makan apa? Aku tahu kau masih kesulitan menyesuaikan lidahmu dengan masakan Indonesia. Hehe. \~Alfarizqi
Wajahnya tersenyum—sampai Rayya dan Rumanah melintas, memperhatikan perubahan ekspresinya.
“Gu… Gus Alfa…” sapaan Rumanah terdengar gugup. Rayya di sampingnya sedang memeluk seekor anak kucing.
“Rayya? Kenapa kalian di sini?” Alfarizqi mengernyit. Area itu adalah area khusus untuk santri putra.
“Kami mendengar suara anak kucing terjepit dipagar ini, Gus,” jawab Rayya.
“Kembalilah. Jangan pernah menyeberang lagi ke area ini. Kalian bisa dapat masalah.” Suaranya dingin. Sedingin ketika Rayya tak lagi punya ruang untuk dibicarakan dengannya.
Setelah mereka pergi, Rumanah berbisik, “Rayya… Gus Alfa tampan sekali. Apa yang harus kulakukan? Andai aku dinikahi olehnya… jadi istri kedua, ketiga, keseribu pun aku rela…”
Rayya memejamkan mata. Kata-kata itu menusuk. Ia bahkan dinikahi oleh lelaki itu… dan sama sekali tak menemukan bahagia.
Menjelang magrib, taksi Sarah memasuki halaman pesantren. Ummi Maryam dan Ning Kamila menyambutnya dengan hangat. Dari balik jendela, Rayya melihat mereka tertawa, dan hati kecilnya serasa seperti diremas seseorang.
Ia menelpon ibunya untuk mengurangi kesedihan.
“Assalamu’alaikum, Ning… ada apa menelpon malam-malam? Di mana suamimu? Apa sudah kau siapkan makan?” tanya Nyai Aminah bertubi-tubi.
“Wa… wa’alaikumsalam. Ibu dan Ayah baik-baik saja?” suara Rayya nyaris pecah.
“Kami baik-baik saja. Sudah, sana temui suamimu. Ingat, sekarang kau panutan semua orang. Jangan sering menelepon ibu. Kau sekarang adalah Ibu Nyai. Mengerti?”
“I… iya, Bu.”
Telepon terputus. Rayya mengusap air matanya. Ia sempat ingin mematikan ponsel, tapi beberapa pesan dari teman-temannya masuk. Ia membalas satu per satu. Namun langkahnya terhenti ketika melihat 32 pesan belum terbaca dan lebih dari 50 panggilan tak terjawab dari Adam.
Ia tak membuka satu pun.
Pintu kamar terbuka.
“Tidak baik terlalu banyak bermain handphone,” tegur Alfarizqi.
“Aku hanya memberi kabar pada ayah, ibu, dan teman-temanku…”
“……..”
“Oiya, Gus… bolehkah aku memakai handphone sesuka hati ketika di kamar?”
“Hm. Terserah Kau saja!” jawabnya datar.
Ia meletakkan ponselnya di nakas, hendak mengambil handuk—lalu matanya membeku melihat pakaiannya tergeletak rapi di atas tempat tidur.
“Kenapa… pakaianku ada di sini?” suaranya turun satu oktaf.
“Aku mengambilnya dari lemari. Aku hanya ingin membantu,” jawab Rayya pelan.
“Tidak perlu. Aku tidak suka barang-barangku disentuh orang lain.”
Jleb.
Rayya seketika menunduk, bibirnya bergetar menahan kesal. Padahal ia hanya berusaha melakukan tugasnya sebagai istri.
Suara pintu kamar mandi berderit. Alfarizqi keluar dengan rambut masih menetes, aroma sabun memenuhi kamar. Handuk tersampir di pundaknya, ia sudah memakai baju kaos dan sarung. Langkahnya tegas namun tidak terburu-buru.
Rayya menegakkan tubuh, jantungnya berdebar aneh—antara takut dan ingin tahu.
“Gus…” panggilnya lirih.
Alfarizqi berhenti memasukkan baju ke lemari.
“Apa?”
Rayya menggenggam ujung kerudungnya, mencoba terlihat tenang.
“Sarah… dia sudah datang, ya?”
Alfarizqi menatapnya sejenak. Tatapan itu datar, tapi ada sesuatu yang sulit dibaca di baliknya.
“Iya. Dia sudah sampai,” jawabnya pendek.
“Kalian… terlihat sangat dekat,” ucap Rayya akhirnya, suara seraknya tak bisa ia sembunyikan.
“Aku hanya… bertanya.”
Alfarizqi menghela napas. “Dia tamu pesantren. Tanggung jawabku memastikan dia baik-baik saja.”
“Tapi… wajahmu tadi—saat membalas pesannya—kau tersenyum,” Rayya menunduk, mengutuk dirinya sendiri karena terdengar begitu rapuh.
Keheningan merambat pelan… sebelum Alfarizqi menjawab dengan suara lebih lembut dari biasanya—tapi tetap menggores.
“Rayya… kau tidak perlu memikirkan hal-hal seperti itu.”
Rayya menggigit bibir.
“Aku bukan memikirkan, Gus. Aku hanya ingin memahami… di mana tempatku.”
Alfarizqi terdiam. Hening itu terasa lebih menyakitkan daripada jawaban apa pun.
Tanpa menatapnya, ia berkata, “Istirahatlah. Kau terlihat lelah.”
Lalu ia melangkah pergi, meninggalkan Rayya dalam kamar yang tiba-tiba terasa sangat dingin dan sesak.
...****************...
Si alfa juga salham, kayaknya doi mkir si Rayya masih suka ma Adam
Kayaknya Sarah n Emak mmg tulus ya… cuma yaaitu, ngeselin beuudddd 💔
Rayya jd mau ceraikan suaminya, klo bgtu…. Yaaa Adam udah siap untuk nampung wkwkwkwk💔🤣