Katanya jodoh itu adalah cerminan diri.
Tapi ... mengapa pria ini begitu egois dan ketus?
Dinda Gandis (25) desainer baju pengantin, mendapat kesempatan kedua setelah menerima donor jantung milik seorang wanita muda yang kini mengubah hidupnya.
Satu pertemuan tak terduga mengubah takdir keduanya dengan tak terduga.
Johan B. Bastian (33), pengacara sukses yang penuh misterius, terus terusik dengan sifat Dinda yang membawanya pada sosok wanita yang ia cintai dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Ria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Pagi harinya, hari dimana acara penting Johan diadakan, tapi Dinda lagi-lagi bangun terlambat. Ia dikagetkan oleh suara alarm tab milik Johan yang berdering mengelegar seisi kamar Dinda yang masih gelap ditutupi gorden berwarna gelap.
Dan dengan terkaget ia bangun dan meraih segera tab tersebut.
" Hallo??"
" Aku didepan butik mu!!!"
"APA???" ujarnya tak percaya dan berusaha membuka gorden kamarnya dan seketika ia menerima terpaan sinar matahari yang menyilaukan di matanya.
" Sial," rutunya kesal pada diri sendiri yang bangun telat lagi.
Namun belum sempat gorden itu terbuka lebar , Dinda berlari kecil untuk turun kebawah butiknya yan melewati dua tangga dari lantai 3 ke lantai dasar. Dan dengan terengah-engah ia mengatur nafasnya seraya menahan jantugnya seolah-olah mendapat syok terapi.
Dan dengan mencoba membenarkan penampilannya yang belum mandi dan masih berantakan, berlahan ia membuka pintu besi butiknya.
Dan betapa kagetnya Dinda wajah masam Johan terppang disana, dan dibalik tubuh Johan terlihat mbak nopa dan mbak feli yang sepertinya takut dengan Johan.
" Maaf, saya te..."
Johan masuk dengan tak peduli.
" Mana jasnya??" ujarnya memotong ucapan Dinda, dan kini duduk dengan santai di sofa butik itu.
Sontak tubuh Dinda reflek mengarahkan tangannya pada patung disisi meja kerjanya yang terlihat jas itu tersemat rapi disana.
Johan berlahan bangun, ia mencoba meraih lengan jasnya.
"Kamar pas dimana??"
" Disini!! disebelah sini pak," ujarnya agak kaku.
Dan dengan langkah tegasnya Johan membawa jas itu kedalam ruangan pas.
Nopa dan Feli hanya bisa melihat saja, cara berbicara Johan yang benar-benar tak ramah. Dinda terduduk terpaku seolah memulihkan terkejutnya tadi.
Feli melihat sekilas pada Dinda yang kesal. Namun tiba-tiba sosok Johan kembali dari kamar pas dengan telah berganti setelan jasnya.
Nopa dan Feli terkesima akan karisma Johan yang seolah-olah jas itu hanya tercipta untuk dirinya.
Dinda pun melihat dengan tercengang. Tatapannya terpaku pada karisma pria itu, seolah magnet waktu berhenti disekelilingnya ketika melihat Johan.
Deg..
Tiba-tiba jantung Dinda bereaksi, sehingga ia refleks menyerigai menyentuh jantungnya yang tak nyaman.
" Ahk.." desirnya pelan menahan sakit dadanya.
Karena merasa tak nyaman Dinda mencoba menuju meja kerjanya dan membuka laci kecil disudut meja dan meraih botol obat seketika, dan meminumnya dengan terburu. Baru kalo ini ia merasakan jantungnya tak nyaman.
Namun sosok Johan tak peduli, ia terus merlihat pantulan cermin dirinya. Perlahan ia meraba pergelangan tangan kemeja yang warnanya senda dengan jas. Ia berhenti untuk benar-benar bisa meraba jahitan yang tebal dan berpola itu di pergelangan tangan kemejanya.
Johan mencoba menerka gambar pola jahitan itu. Lalu ia terkejut, sampai mbak Nopa datang mendekat mencoba membantu Johan jika ada yang ia rasa kurang pas.
" Apa ada hal yang tidak pas ditubuh anda pak Johan??"
" Hhmm, pas" sahutnya cepat. Lalu ia menoleh pada Dinda yang duduk dimeja kerjanya dengan memengang botol.
" Kemeja ini, apa kau segaja melakukannya??," tanya Johan dengan memperlihatkan pergelangan tangan kemeja itu pada Dinda. Dinda melihat dengan seksama. Seketika ia ingat akan simbol Butterfly yang menjadi ciri khas miliknya.
Dinda pun mengangguk pelan.
"ya, Butterfly?? anda keberatan??"
" Bisa kau jelaskan mengapa setiap kemeja milik ku kau beri tanda begini??"
" Ah, itu hanya ciri khas dari semua yang kubuat secara pribadi"
Johan tercegat pada ucapan Dinda yang spontan, namun mengena dihatinya.
" Kau khusus membuatnya??"
Dinda mengangguk yakin.
" Bukan kah hal yang wajar satu mahakaraya memiliki simbol khusus dari si pembuatnya??"
Johan tak menjawab, tapi ia yakin dulu sosok itu juga mengatakan hal yang sama. Persis bahwa simbol Butterfly itu adalah simbol kepemilikan dirinya.
Johan hanya menatap dalam Dinda yang bingung.
" Acaranya jam berapa??,"tanyanya pada Johan yang masih terdiam.
" Kau bisa melihat jadwalku di tab!!" jawabnya singkat dan tajam.
Seketika Dinda geram menerima jawaban Johan yang ketus.
" Pastikan kau datang tepat waktu nanti!!!" tegasnya pada Dinda yang mencibir dengan suara kecil.
" Yaaa!!" jawabnya malas.
Lalu Johan berjalan kembali kedalam kamar pas butik. Dan terlihat mbak Nopa dan Feli hanya jadi penonton setia.
sukses
semangat
mksh