NovelToon NovelToon
Pemilik Hati Ku

Pemilik Hati Ku

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Konflik Rumah Tangga-Pernikahan Angst / Angst / Tamat
Popularitas:174.3k
Nilai: 5
Nama Author: shalsyalala

Follow Ige author : Shalsyala


"Apa kamu lupa? aku menyetujui pernikahan ini hanya untuk menyelamatkan kehormatan keluarga ku dari rasa malu kak..?"
Livia Gunawan Baskoro.

"Aku tidak pernah mengingat apapun itu, yang aku ingat kamu sekarang adalah istriku, dan kamu sangat mencintaiku sejak dulu, tapi sekarang kenapa aku tak lagi melihat cinta itu?"
Anggara Wisnu Hutama

Dua anak manusia itu terikat hubungan persahabatan sejak kecil dan di kehidupan sekarang keduanya terikat dalam sebuah pernikahan tanpa rencana yang dilakukan Angga dalam menyelamatkan Livia dari rasa malu.

Mampukah mereka mempertahankan mahligai rumah tangga yang berlandaskan cinta yang berlimpah dari Livia namun tidak untuk Angga yang hati dan cintanya masih dimiliki orang lain?



Yuuuk merapat langsung baca yaaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shalsyalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15

Suasana meeting yang digelar Angga beserta para staffnya yang lain terasa begitu menegangkan. Meeting yang dilakukan guna membahas perusahaan baru yang sedang Angga geluti.

Setelah hampir menghabiskan waktu berjam jam akhirnya meeting ditutup dengan hasil yang memuaskan. Seluruh perencanaan sudah berhasil dan tertata rapi, berjalan lancar dengan para investor yang mau bekerja sama dengan perusahaan itu.

Semua peserta meeting itu beranjak meninggalkan ruangan, menyisakan Angga dan Dipta yang masih meneruskan pekerjaannya. Juga seorang laki laki yang terduduk di sofa dengan kepala yang ia senderkan di punggung sofa. Matanya terpejam seolah sedang meredam rasa penat dalam pekerjannya.

"Pak Akbar!

Suara Dipta membuat laki laki itu membuka mata. Sorot mata tajam dan wajah dingin yang tak mengurangi pesona ketampanan yang dimiliki oleh seorang Reno Akbar Pratama. Pemilik perusahaan besar, JayaRaya Groub yang kini tengah bekerja sama dengan Angga. Dan di luar hubungan kerja, Akbar adalah saudara jauh juga sahabat masa kecil Angga juga Livia. Dan keduanya pernah terlibat hubungan rumit di masa lalu. (Biar gak bingung, baca di novel ku sebelumnya ya, Sebenarnya Cinta, Alya).

"Saya sudah menyelesaikan semua dokumen yang dibutuhkan. Tinggal menunggu persetujuan anda untuk ikut dalam tender itu atau hanya saya dan Pak Angga yang akan mewakilinya?" Sambung Dipta.

Akbar melirik ke arah Angga yang sepertinya sibuk dengan ponselnya. "Aku rasa aku tidak perlu ikut, kau cukup bisa ku andalkan dalam hal ini. Bantu dia memenangkan tender ini." Titah Akbar dan segera mendapat anggukan mengerti dari Dipta.

"Tunggu!" Akbar menghentikan langkah Dipta yang hendak keluar dari ruangan. "Juga bantu dia untuk mendapatkan sekertaris baru. Agar selanjutnya dia tidak merepotkan mu lagi." Perintahnya.

Dipta melirik ke arah Angga yang kini juga tengah menatapnya. "Kenapa Dipta? Kau mengadu ke bos mu kalau sudah lelah bekerja membantuku."

Dipta menatap bingung ke arah Akbar bergantian ke arah Angga. "B-bukan seperti itu pak Angga. Saya..saya.."

"Aku yang keberatan jika kau terus mengganggu sekertaris ku!" Akbar menyela ucapan Dipta.

Angga tersenyum simpul. "Aku hanya meminjam sekertaris mu sebentar saja dan kau sudah keberatan, sedangkan kau mengambil sekertaris ku sebelumnya tanpa izin dari ku."

Akbar menegakkan duduknya. "Jangan bicara omong kosong!" Ucapnya sambil menatap tajam ke arah Angga.

Angga terkekeh melihat ketegangan di wajah Akbar. "Aku hanya bercanda Kak, jangan seserius itu." Ucapnya lalu menoleh ke arah Dipta. "Tunjukkan beberapa kandidat padaku, nanti aku akan memilihnya." Perintahnya pada Dipta.

"Baik pak Angga." Ucap Dipta.

"Baiklah, aku pergi." Angga berdiri dari duduknya. "Terima kasih Dipta untuk bantuan mu." Laki laki itu menepuk bahu Dipta.

Akbar bersedekap melihat keanehan pada Angga. "Tidak biasanya kau buru buru untuk pulang? Mengingat disini kau orang paling gila kerja." Cibir Akbar yang membuat langkah Angga terhenti diambang pintu.

Angga tersenyum menatap Akbar. "Seseorang sedang menunggu ku."

Akbar menyunggingkan senyum. "Kau mulai mencintainya?"

Angga tak memberi jawaban. Laki laki itu hanya tersenyum lalu melangkah pergi. Meninggalkan Akbar dan Dipta yang kembali melanjutkan pekerjaannya.

...🌾🌾🌾🌾...

Hujan rintik yang mengguyur kota sepanjang sore hari ini turut menemani Livia yang kini sedang duduk sendiri di sebuah cafe. Wanita yang menggunakan gaun terusan selutut berwarna putih itu tengah menikmati secangkir cappucino di depan mejanya. Jemarinya terus bergerak menyapu layar hapenya.

Hingga tak lama senyum mengembang di bibir Livi, dengan cepat ia mendongakkan kepala dan pandangannya menyapu sekitar mencari seseorang. Ia melambaikan tangan saat melihat sosok yang ia cari.

"Kak Angga!" Serunya

Laki laki itu tersenyum lalu mendekat ke arah Livi. Ia mengecup dahi Livi sebelum mendudukkan diri di kursi.

"Kamu sudah lama menunggu?" tanyanya.

"Baru Lima belas menit yang lalu." Senyum merekah di bibir Livia. "Kamu mau pesan apa?" tawarnya.

Angga menggeleng. "Aku masih kenyang." Tolaknya.

"Terus ngapain janjian di sini kalau gak mau pesan apa apa?"

Angga mengedikkan dagunya menatap ke luar dinding kaca yang menampilkan sebuah taman buatan yang terdapat beraneka ragam bunga bunga hias disana yang sengaja juga untuk dijual.

Livia mengernyitkan keningnya tak paham.

"Kamu masih suka berkebun kan?" tanya Angga.

Livi mengangguk. "Tapi sudah lama hal itu tidak aku lakukan." Ucapnya sambil mengingat dirinya tak lagi melakukan itu karena selalu berpindah tempat mengikuti pekerjaan sang ayah.

"Aku memikirkan hal itu, ada baiknya jika kamu mulai kembali dengan hobi itu, agar tidak bosan dirumah saat ku tinggal bekerja." Angga menarik tangan Livi untuk mengikutinya menuju taman bunga itu.

Mata Livia berbinar kala melihat bunga bunga indah bermekaran dengan aneka warna. Namun tak lama senyum itu menghilang berganti wajah penuh tanya. "Tapi kak, kita tinggal di apartemen? Mana mungkin aku bisa berkebun?" tanya Livi.

Angga tersenyum lalu mengusap pelan rambut istrinya. "Jangan memikirkan itu. Lebih baik sekarang kamu memilih banyak bunga yang akan kamu suka."

Livi pun memilih tak lagi membantah. Kemudian segera ia memilih berbagai macam bunga yang indah. Sedang Angga, laki laki itu mengekor dibelakang istrinya yang tampak bahagia. Hatinya pun turut berbahagia menyaksikan Livia kembali tersenyum merekam indah seperti saat ini. Dalam hatinya ia telah berjanji akan selalu membuat wanita itu bahagia. Dan juga mungkin benih benih cinta dihatinya mulai muncul saat ini hingga beberapa kali senyum wanita itu tiba tiba menggetarkan hatinya.

...🌾🌾🌾🌾...

"Sudah selesai!" Angga menutup bagasi mobilnya yang terisi penuh dengan macam macam bunga juga tanaman kaktus yang imut dan lucu menurut istrinya.

Livi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia nampak berfikir, bunga sebanyak itu harusnya ditanam di halaman rumah yang luas yang bisa terkena sinar mentari pagi secara langsung. Dan apartemen yang ia tinggali sepertinya bukan tempat yang bagus.

"Jangan terlalu berfikir. Ayo masuk!" Angga hanya melebarkan senyum melihat kebingungan istrinya.

Keduanya pun memasuki mobil dan segera melaju. Dalam perjalanan keduanya tak banyak bicara hanya sesekali melempar senyum saat tatapan keduanya bertemu. Hingga mobil menapaki jalan berpaving, hingga akhirnya Livi mengajukan pertanyaan.

"Kita akan kemana?" tanyanya saat tak mengenali jalan yang ia lalui.

"Kita akan mengunjungi rumah seseorang. Sebentar lagi sampai." Jawab Angga.

Livi hanya menganggukkan kepala lalu kembali diam hingga tak selang berapa lama, mobil berhenti di sebuah rumah yang terletak di ujung jalan, agak terpisah dari deretan rumah rumah yang lain.

Livi dan Angga segera turun. Mata Livi seolah terpaku melihat indahnya bangunan rumah. Bukan rumah mewah nan megah dengan lantai berlapis lapis seperti yang selalu ia tinggali. Namun bangunan di hadapannya ini begitu mungil, memiliki dua lantai yang dibangun secara minimalis dan modern. Terdapat taman yang mungil dan asri di depan rumah, suara gemericik air dari kolam ikan yang terdapat di pinggir taman menambah kesyahduan suasana yang tercipta.

Livi menolehkan pandangannya pada Angga. "Ini rumah siapa kak? Indah sekali." Pujinya.

Laki laki itu hanya tersenyum lalu menggandeng tangan Livi untuk segera masuk kedalam rumah.

Tanpa mengetuk pintu, pintu kayu itu terbuka dan menampilkan seorang wanita tua yang sedang tersenyum menatap mereka berdua.

"Selamat datang Non Livi."

"Bi Sarah?" Livi memekik terkejut saat melihat Bi Sarah berada diambang pintu. Ia menoleh ke arah Angga juga Bi Sarah secara bergantian dengan wajah bingung.

"Ini rumah kamu. Aku menghadiahkan rumah ini untukmu." Ucap Angga sambil menangkup sebelah pipi Livi.

Livi yang terkejut dengan cepat menutup mulutnya yang ternganga. Ia tidak menyangka jika Angga menghadiahkan rumah yang selama ini menjadi impiannya.

"Kamu suka?" tanya Angga.

Dengan cepat Livi mengangguk. "Aku suka kak. Kita akan tinggal disini?" tanyanya dengan sumringah.

"Kita akan tinggal disini mulai sekarang. Bi Sarah sudah memindahkan semua barang barang yang kamu perlukan. Dan sisanya menyusul besok." Angga terus mengurai senyum saat melihat kebahagiaan Livi. Sesederhana ini untuk membuat istrinya bahagia.

"Ayo kita lihat ke dalam." Ajak Angga dan langsung menggandeng tangan Livi memasuki rumah.

Di lantai bawah terdapat satu kamar utama, satu kamar asisten rumah tangga di bagian belakang tak jauh dengan dapur. Sebuah ruang keluarga yang langsung terhubung dengan sebuah taman kecil di sisi rumah, ruang tamu dengan sofa minimalis terletak manis disana.

Mata indah kebiruan itu menatap penuh rasa kagum atas apa yang dilihatnya. Bukan semewah yang ia dapatkan selama ini, buka semahal apapun yang ia punya selama ini. Namun di dalam lubuk hatinya, pertama kali memasuki rumah itu adalah rasa damai dan nyaman dalam sebuah kesederhanaan yang ia rasakan. Bayangan dirinya yang akan mengolah dan mengatur semua yang ada di dalam rumah itu, bayangan rumah tangga bahagia yang akan tercipta dirumah itu membuat dadanya bergemuruh oleh rasa bahagia hingga air mata tiba tiba menyeruak kedalam bola matanya.

"Hery kenapa menangis?" Angga yang melihat itu segera menghadapkan Livi ke arahnya.

"Aku bahagia kak, sungguh bahagia. Dari mana kamu tahu jika rumah seperti ini yang sangat aku inginkan? Padahal aku tidak pernah bercerita apapun perihal rumah." tanyanya.

Angga membelai rambut Livia. "Aku cukup baik dalam mengenal dirimu Livi, istriku."

"Terima kasih ya kak. Terima kasih banget pokoknya." Livi berucap riang seperti bocah yang bergembira mendapatkan mainan baru, kemudian ia memeluk Angga erat, tak lama ia melepaskan pelukannya lalu dengan spontan ia mengecup bibir Angga.

Keduanya terpaku sejenak. Keduanya sama sama terkejut dengan apa yang di lakukan Livi.

"Kakak, maafkan aku." Ucap Livi lirih. Semburat rona merah seketika menjalar hingga ke leher Livi. Gadis itu ingin mundur dari tempatnya sekarang, namun dengan cepat tangan kokoh Angga menahannya. Laki laki itu tersenyum menggoda.

"Kenapa segugup ini? Kamu tidak sedang melakukan kesalahan Livi." Angga meraih dagu Livi agar wanita itu mau menatap dirinya.

Livi berdehem untuk mengusir rasa malu juga rasa canggung, kemudian mendorong pelan dada Angga yang kini semakin mendekat ke arahnya. "A-ayo kita lihat ke bagian lain!" Ajaknya.

Namun Angga sengaja tak melepaskan dekapan tangannya pada tubuh Livi. Entah sejak kapan dirinya mulai suka dengan tingkah malu malu Livi yang begitu mengemaskan. "Mengecup bibir suami itu bukan sebuah kesalahan, Livi. Malah mendatangkan banyak pahala." Angga tersenyum lalu dengan cepat memagut bibir istrinya.

Belum sampai terbuai dengan ciuman itu, tak lama Livi mendorong dada Angga hingga ciuman singkat itu terlepas. "Kakak! Ini di dapur! Kalau tiba tiba ada yang masuk, aku malu." Pekiknya pelan dengan wajah merona sempurna.

Angga hanya tersenyum, lagi lagi wanita dihadapannya ini tampak begitu cantik dan lebih menggoda dengan semburat merah disepanjang tulang pipinya. "Kita pindah ke kamar kalau begitu." Ucapan Angga yang seolah tanpa beban itu berhasil membuat Livi terperanjat hingga mundur selangkah dari tempatnya.

"Aku lupa menunjukkan sesuatu padamu." Angga menarik tangan Livi menuju lantai dua, tak memperdulikan wajah Livi yang masih merona menahan malu.

Tibalah keduanya di kamar utama yang cukup luas dengan dekorasi yang begitu indah. Jendela besar disepanjang dinding yang menghadap langsung dengan pemandangan pegunungan, menambah kenyamanan yang membuat penghuni kamar betah untuk berlama lama di dalamnya.

Warna putih yang sengaja dipilih mendominasi didalamnya hingga kesan bersih rapi tersuguh di dalamnya.

"Kamu suka kamar ini?" Angga memindai wajah Livia yang semula merona merah malu malu, kini berganti menjadi binar bahagia.

"Kamar ini bagus sekali." Jawabnya riang sambil melangkah mendekati jendela. Menikmati suguhan pemandangan yang indah dihadapannya.

"Aku pilih kamar yang ini ya Kak?" Pintanya dengan mata berbinar.

Angga tersenyum lalu mendekat ke arah Livia. "Ini memang kamar kita."

Kembali kalimat yang diucapkan Angga dengan santainya itu membuat mata indah Livi membulat sempurna di dera keterkejutan.

"K-kamar k-kita???"

...🌾🌾🌾🌾...

1
senja indah
torrr...apa g ada pgn bikin cerita ank kembar mereka hhh
senja indah: penasaran kisah mereka...LunaYumi
total 3 replies
Kaira Caem
aku yg gc nyambung apa cerita nya yaaa,,,kok tiba2 uda nikah aja gimana sih
AZura Hasan
👍👍👍👍👍
AZura Hasan
makin seru aj
AZura Hasan
perasaan gk bisa di paksakan
Regita Regita
kita tidak bisa menghujat atau menyalahkan Angga,karena kita ridak bisa memaksa atau mengatur perasaan oranglain.Angga yang sudah sangat lama berada dalam zona persahabatan dan menganggap Livi sebagai adiknya yang selalu ingin Angga lindungi,mesti merubah perasaannya menjadi cinta kepada Livi sementara Angga sangat mencintai Alya walaupun Angga juga sadar kalau sudah tidak mungkin untuk memiliki Alya.Angga ada pada titik bingung memastikan perasaannya pada Livi. seperti apa yang Akbar bilang pada Alya,seandainya Akbar jadi menikah dengan Livi,mungkin keaadaannya akan sama seperti Angga,Angga akan tetap mencintai Alya walaupun sudah menikah dengan Livi. ya...akhirnya kembali bahwa kita tidak bisa mengatur atau memaksa perasaan orang lain untuk memilih.kita kembalikan kepada Allah yang Maha membolak balikan hati manusia. karena ini dunia halu,kita kembalikan pada AUTHOR yang mengatur segalanya.semangat Author...ceritamu The Best.tetap semangat,semoga makin banyak yang baca.bunga dan kopi meluncur....💖💖💖
Shalsyalala: Huuu terharuuu kalau ada pembaca kayak kakak giniiii❤️❤️
total 1 replies
Regita Regita
sepertinya Vero,Nisya dan Dipta berkomplot untuk mengahancurkan rumahtangga Angga dan Livi...
Regita Regita
ceritanya bagus,tapi yang baca masih sedikit padahal udah lama ya? apa belum banyak yang menemukan judulnya,sama kaya aku yang baru menemukan dan langsung mampir.semangat kak...semoga makin banyak yang baca.
senja indah
ini cerita super keren tpi kok like y g ada ratusan....oh no...tetap semangat berkarya otor soleha
senja indah: aku.baca udah 2 kli torr...superrr keren...tpi sedih bgt...knpa readers y dikit bgt yaaa
total 2 replies
ani suchaeni
bagussss, alur ceritanya
Shalsyalala: makasih kak udah mau baca😍😍
total 1 replies
Fransiska Siba
makan itu kebodohan mu Livia, coba kau tidak memberi cela Vero dlu maka tidak akan sepeti itu
Fransiska Siba
itulah Alya ga peka perasaan org lain, pengen dia yg dimengerti terus
Shalsyalala: Jangan lupa baca kisah Alya juga ya kak 😘
total 1 replies
Fransiska Siba
untung Livia tidak salah dalam pergaulan di luar negeri ya krn tidak mendapat sandaran hidup. ini yg aku suka dari Livia dia bisa membatasi diri dalam bergaul dan dia mempunyai cita2 sederhana yaitu menjadi ibu yg baik dan istri yg baik, dia tidak mau mengulangi kesalahan org tuanya dikemudian hari, dia tidak mau menjadi seperti org tuanya, dia tidak mau anak2 nya merasakan apa yg dirasakan olehnya dlu.
Livia hidup kesepian tanpa arahan org tuanya, tp dia tahu arahan hidupnya menjadi lebih baik
Fransiska Siba
tp jujur aku lebih suka Livia dibandingkan dengan Alya, Alya banyak teman tp kesan murahan dan kurang peka perasaan org sekitarnya.
sedangkan Livia tidak banyak teman tp dia memantapkan hati pada satu hati dan dan dia benar2 pilih yg tulus padanya, meskipun dia harus merelahkan laki2 yg ia cintai bersama sahabatnya.
aku lebih suka sifat Livia
Mega Chai
ortua yg keras n memaksa anak untuk jadi no 1 seperti ortua livia adalah ortua yg akan membuat anak nya frustasi, didunia nyata utk org2 yg sudah jadi ortua,semoga kita semua tidak menjadi ortua seperti ortua livia,mw prestasi anak seperti apa pun kita harus ttp memberikan anak semangat utk menjadi lbh baik lagi bukan malah memaksa anak,krn sebagai anak pun mereka sudah berusaha utk mendapatkan prestasi yg terbaik,kita pun pernah diposisi anak kita dulu sebagai pelajar,
Shalsyalala: hai kakak salam kenal. Makasih ya sudah mau baca karyaku🤗
total 1 replies
KIA Qirana
Ayo....kami datang
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
❤️❤️❤️❤️💜💜💜💜💙💙💙💙
KIA Qirana
Ayo....kami datang
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
KIA Qirana
Ayo....kami datang
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
KIA Qirana
Ayo....kami datang
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙
Shalsyalala: makasih dukungannya kak
total 1 replies
KIA Qirana
Ayo....kami datang
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!