Hai, nama ku Kyra. Aku sekarang ini bekerja di sebuah perusahaan yang berkecimpung dalam bidang teknologi. Aku memiliki cita-cita menjadi seorang Astronot. Sejak kecil aku suka dengan cerita mitologi Yunani.
Kali ini aku diberi kesempatan untuk membuktikan kualitas kinerjaku dengan cara diberi tugas menyelesaikan permasalahan di kantor cabang yang ada di Kanada. Aku menerima tawaran ini bukan sekedar membuktikan kualitas ku tapi berlibur.
Tak seperti ekspektasi ku, tak hanya bekerja dan berlibur tapi banyak sekali hal yang terjadi selama aku di Kanada....
Bahkan aku juga mendapat teror selama 5 tahun terakhir di liburanku ini. Siapakah pelaku teror yang tak lelah mengejarku bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun🙀
Aku butuh kalian untuk selalu mendukungku, memberi support dan semangat lewat jejak kalian 🥰
~ Happy reading ^_^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepucuk Surat
Percakapanku dengan Davin tidak jauh dari urusan kantor. Sebenarnya kurang menyenangkan jika membahas masalah pekerjaan saat makan tapi diantara kami tidak ada yang tau harus membahas apa selain pekerjaan. Davin berbicara mengenai perusahaan baru yang sedang melejit mengalahkan perusahaan kami di pasar jual. Aku mendengarkan Davin dengan serius, bagiku tidak ada informasi yang tidak penting.
"Kyra," seseorang memanggilku. Sapaan orang tersebut terdengar sangat familiar dan segera ku alihkan pandanganku padanya.
"Kian!" ucapku kaget, aku segera berdiri dari dudukku. Tak hanya aku yang kaget tapi Davin juga terlihat kaget.
"Lama tidak bertemu," Kian mengulurkan tangannya padaku.
Aku membalas uluran tangannya, "iya. Bagaimana kabarmu? Aku tidak menyangka kita akan bertemu di sini."
"Aku baik. Aku juga tidak berpikir kita bisa bertemu seperti ini."
"Kalian saling kenal?" Davin menatapku dan Kian dengan tatapan heran.
"Vin, kenalin dia Kian. Dia kakak tingkatku saat kuliah dulu," aku memperkenalkan Kian pada Davin tapi raut wajah Davin terlihat lebih kaget.
"Aku tau. Aku tidak menyangka kalian saling kenal."
"Kamu tau Kian?" sekarang aku yang menatap Davin dan Kian dengan tatapan heran.
"Kamu punya hubungan apa sama dia Ky?" tanya Kian padaku.
"Dia manajer di perusahaan cabang tempatku bekerja. Kalian saling kenal sejak kapan?" tanyaku pada Davin dan Kian.
"Belum lama. Kami kenal karena bisnis. Dia CEO perusahaan X," ucap Davin.
Aku terkejut mendengar bahwa Kian adalah CEO perusahaan X. Perusahaan X adalah perusahaan yang saat ini sedang menjadi topik panas di pasar jual. Benar, perusahaan yang baru-baru ini melejit mengalahkan perusahaan ku adalah perusahaan X. Itu artinya perusahaan ku dan perusahaan Kian sedang bermusuhan.
"Senang dapat bertemu dengan mu," ucap Kian pada Davin.
"Senang dapat bertemu dengan mu," balas Davin.
"Aku pergi dulu ya Ky, sampai jumpa lagi," pamit Kian padaku. Aku mengangguk, dia membungkukkan sedikit tubuhnya pada Davin begitu juga Davin membungkukkan sedikit tubuhnya pada Kian.
"Ayo kita juga harus kembali ke kantor," ucap Davin.
Aku melangkah mengikuti Davin dan masuk ke mobil. Kami kembali ke kantor tepat waktu.
***
Devi masuk ke ruangan ku, "kita rapat 10 menit lagi."
"Oke," aku menganggukkan kepala.
Devi berjalan keluar dan aku segera membereskan pekerjaanku. Aku sudah menyiapkan bahan rapat dengan baik, untung saja proposal yang ku ketik ulang sudah selesai.
Aku bertemu Sheryl dalam perjalanan menuju ruang rapat.
"Kyra," Sheryl memanggilku.
"Hai Sheryl," sapaku.
"Apa kau gugup?" tanya Sheryl.
"Em.. Tidak," jawabku tenang.
"Aku sedikit gugup."
"Tidak perlu khawatir. Fokus saja pada persoalan kali ini."
"Begitukah?"
"Iya. Ini bukan rapat evaluasi kerja."
"Kamu benar. Huft, kamu duluan aja Ky. Aku mau ke toilet sebentar."
"Cepatlah. Jangan sampai telat," aku meneruskan berjalan menuju ruang rapat.
Semua orang sudah hadir dalam ruang rapat. Devi memulai rapat kali ini dengan mengenalkan proyek yang akan dikerjakan. Setelah itu aku yang mengambil alih. Aku menjelaskan semua hal secara detail bahkan untuk pertanyaan ku jawab dengan penuh keyakinan. Aku cukup puas dengan hasil rapat karena semua orang yang hadir setuju dan terlihat bersemangat dalam pelaksanaan proyek yang ku emban.
"Kerja bagus, Ky," Davin memujiku saat keluar ruang rapat.
"Terima kasih," aku tersenyum puas.
"Semoga proyek kali ini berjalan lancar."
"Saya juga mengharapkan hal yang sama."
Aku berjalan kembali ke ruang kerjaku bersama Sheryl.
"Aku semakin mengagumimu," ucap Sheryl tiba-tiba.
"Saat kamu mengambil alih rapat tadi, pandanganku hanya tertuju padamu," imbuhnya.
"Kamu membuatku malu," ucapku.
"Aku serius."
"Terima kasih."
Aku berpisah dengan Sheryl di pertigaan dekat ruang kerjaku. Aku belok ke kanan sedangkan Sheryl lurus ke depan.
Aku melangkah masuk dan berhenti di depan mejaku. Di atas meja terdapat sepucuk surat. Amplop surat yang bermotif bunga bertuliskan namaku di sana. Seseorang pasti menaruh surat itu saat aku rapat. Aku mengambil surat itu dan ku lihat baik-baik, tidak ada yang aneh, tidak ada noda tidak ada bau. Terlihat sepeti surat biasa bukan surat cinta.
Hari apa ini? Bukan hari ulang tahun ku ataupun hari spesial. Tadi pagi, bunga dan sekarang surat.
Ku buka amplop bermotif bunga itu dan kutarik secarik surat di dalamnya. Hanya ada selembar kertas tidak ada yang lain. Bahkan di amplop itu hanya tertulis namaku tidak ada nama pengirim atau alamatnya.
Aku sedikit waspada, mungkin saja ini dari sang peneror kemarin.
Hanya ada namaku, persis seperti kiriman peneror. Mungkinkah dia mengejar ku sampai ke tempat kerja?
Rasa penasaranku semakin tinggi. Ku buka surat itu dan ku baca. Hanya ada satu kalimat di selembar kertas itu.
Dia ingin aku mati.
Aku segera melipat kembali surat itu. Aku mengatur nafas menenangkan diriku. Surat itu tidak ditulis menggunakan darah tapi pena berwarna merah. Tidak terkesan menakutkan seperti sebelumnya tapi yang membuatku takut, dia mengejar ku sampai ke tempat kerja.
Serasa tidak ada tempat yang aman.
Seketika aku terpikirkan Auris yang sedang berada di apartemen. Segera aku mengeluarkan ponsel ku dan menyambungkan panggilan ke Auris.
Tuutt tuutt tuttt...
-Tidak tersambung-
Sudah ku sambungkan beberapa kali tapi tidak ada jawaban membuatku semakin khawatir.
Aku harus tenang. Jika aku panik mungkin saja si peneror tau dan itu membuatnya senang.
Aku mengatur nafas dan minum segelas air putih. Ku bereskan surat itu dan kembali bekerja. Dalam hati aku berharap Auris tidak kenapa-napa.
klo diliat sekilas, pemilihan kata2nya cukup baik. semoga didalamnya banyak ilmu baru yg bermanfaat.. 😘
mampir bawa 3 like ya ❤️❤️❤️❤️
Boleh intip "Pengantin Pengganti"