Mohon untuk tidak membaca novel ini saat di bulan puasa. Terutama disiang hari. Untuk malam hari, silahkan mampir jika berkenan.
"Aku tidak mau menikah dengan Pria tua itu, Ibu" kata Elina pada Ibu tirinya.
Elina di jual oleh Ibu tirinya pada seorang Pria yang tidak diketahui identitas aslinya. Sakit, jelas Elina merasa hatinya sangat sakit.
Apakah Elina bisa mendapatkan kebahagiaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asni J Kasim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Untuk kalian yang baru mampir, jangan lupa bintang 5nya dan juga likenya. Dan untuk kalian semua yang singgah di karya ini jangan lupa tap jempol kalian sebelum atau sesudah membaca 😊
Happy Reading
------------
Siang telah berlalu dan malam telah menyapa. Kesedihan nampak jelas diraut wajah Jonathan. Ia duduk disamping tempat tidur istrinya sambil memegang tangan sang istri. Kemudian ia berdiri memandangi pemandangan Kota New York dari balik jendela ruang perawatan Elina, tepatnya di ruang VVIP. Berhubung Elina sudah tahu bahwa Stevin dan Jonathan adalah orang yang sama, maka Stevin tidak perlu memberitahu Elina lagi.
"Ini semua salahku, aku membawanya dalam kehidupan keras di keluarga Javelis" batin Jonathan sambil menatap jauh keluar jendela.
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padanya apabila Ibu tahu pernikahan ini. Aku tidak ingin Elina terluka. Haruskah aku menceraikan Elina" Jonathan berkelut dengan pikirannya.
Elina membuka matanya pelan-pelan. Ia merasa kepalanya terasa sakit, bahkan untuk bergerak pun ia merasa seluruh tubuhnya seakan remuk. "Jonathan," panggil Elina dengan sangat pelan.
Jonathan mendengar seseorang memanggilnya membuatnya berbalik dan mencari asal suara. "Kamu sudah sadar, Elin. Tunggu aku panggilkan Dokter," ujar Jonathan dengan bahagia saat melihat Elina telah sadar.
Tak berlangsung lama, Dokter pun datang memeriksa kondisi Elina. "Istri anda sudah melewati masa kritisnya, tetaplah bersamanya agar dia cepat sembuh" ujar Dokter Dika.
Dokter keluar dari ruangan, tinggalah Elina dan Jonathan di dalam. Jonathan kembali duduk disamping istrinya. "Apa ada yang ingin Prof katakan?" Elina sengaja berkata seperti itu. Ia ingin Jonathan jujur padanya bahwa Stevin dan Jonathan adalah orang yang sama.
"Maafkan aku," hanya kalimat itu yang Jonathan bisa ucapkan.
"Aku sudah mengetahui semuanya," ujar Elina.
"Apa kamu marah padaku?" tanya Jonathan sambil menatap Elina dengan tatapan yang tak dapat diartikan.
"Tidak, aku tidak pernah marah." Elina tersenyum pada Jonathan.
"Stevin," Elina sengaja memanggil suaminya dengan nama Stevin. "Aku merindukan sosok Stevin yang dingin dan angkuh," senyum Elina terukir diwajahnya. "Tersenyumlah. Kamu terlihat jelek jika bersedih seperti itu," ledek Elina.
Kreek... suara pintu terbuka.
"Elina..." panggil Melisa dengan bulir air mata yang tak dapat terbendung lagi.
"Maafkan aku. Tidak seharusnya aku membiarkanmu pulang seorang diri" ujar Melisa, ia menangis dihadapan Elina dan juga Jonathan.
"Aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu separno itu," kata Elina tersenyum. Senyum yang memperlihatkan gigi putihnya.
"Di mana Jonathan? Kenapa dia tidak menemanimu di saat seperti ini!!" Melisa yang tadinya sedih kembali menjadi marah.
"Dia lagi ke Luar Kota," balas Elina menahan tawa.
"Apa!! Ke Luar Kota? Sialan!" umpat Melisa dengan geram dan marah. "Dia benar-benar bukan pria yang pantas untuk menjadi suami kamu," lanjutnya.
"Eh, Prof. Maaf, aku tidak tahu Prof ada di sini." Elina tersenyum malu saat menyadari Prof Stevin ada di dalam ruangan.
"Terimakasih karena Prof sudah mau menjaga sahabatku," ujar Melisa tersenyum ramah pada Prof Stevin.
"Dia adalah istri dari saudaraku, sudah sewajarnya aku menjaganya di saat suaminya tidak ada." Jonathan kembali mengerjai Melisa.
"Kenapa dulu bukan Prof saja yang menikahinya," ujar Melisa tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu!!" Elina bergidik melihat Melisa mengedipkan sebelah matanya.
"Jangan bohong padaku, Elina. Aku tahu kamu sedang menyembunyikan sesuatu padaku," kata Melisa menatap tajam sahabatnya.
"Jangan menatapku seperti itu! Kamu sangat menyeramkan dengan raut wajah seperti itu," ketus Elina.
"Kamu ya. Aku mengedipkan mata, kamu bergidik. Aku menatapmu dengan melotot kamu kesal. Mau kamu apa?" celetuk Melisa.
"Hahahahaha," tawa Elina pecah saat mendengar perkataan Melisa.
"Tertawa pula," Melisa semakin kesal.
"Elin," panggil Melisa dengan serius.
"Hmm," jawab Elina.
"Siapa yang melakukan ini padamu? Apa orang tua Johathan sudah tahu pernikahanmu dengan anaknya?" Melisa melontarkan pertanyaan yang Elina sendiri tidak tahu siapa dalang dari kejadian itu.
"Aku tidak tahu, Mel. Saat aku di jalan xx tiba-tiba ada mobil yang mengikutiku dan berusaha membunuhku." Elina menjawabnya sambil menatap langit-langit Rumah Sakit.
------------
Waktu menunjukan pukul 10 malam, Melisa pun pamit pulang. Ia ingin bermalam dan menemani Elina akan tetapi Prof Stevin meminta Melisa untuk pulang dan istrahat. Melisa menurut dan tidak membantah.
"Prof, aku titip sahabatku ya" ujar Melisa saat hendak pulang.
"Elina, aku pulang dulu ya. Besok aku ke sini lagi" ujar Melisa pada sahabatnya.
Sepulang Melisa, Johathan kembali menghampiri Elina. "Tidurlah, ini sudah larut" kata Jonathan.
"Aku belum mengantuk," balas Elina.
Ukuran tempat tidur rumah sakit tepatnya di ruang VVIP lumayan besar, Jonathan berbaring disamping istrinya. "Sejak kapan kamu tahu kalau aku Jonathan?" tanya Stevin. Posisinya ia berbaring miring menghadap istrinya.
"Malam itu, saat aku menyentuh wajahmu. Aku pernah melakukannya saat di Jerman, tepatnya di saat kamu tidur. Aku tidak tahu kenapa, aku ingin sekali menyentuh wajahmu. Saat kita tidur, aku mencium bau parfum yang selalu Prof Stevin gunakan saat ke Kampus. Kalimatmu yang pernah kamu ucapkan padaku untuk pertama kalinya di gudang belakang Kampus, kalimat itu kamu lontarkan lagi dibeberapa hari yang lalu," jelas Elina.
"Terimakasih sudah menerimaku," ujar Jonathan tersenyum menatap istrinya
Pagi Hari
Johns Hopkins Hospital
Seorang pria parubaya dan wanita parubaya sedang duduk di sofa dalan ruang perawatan Elina. Alber dan Martha, mereka datang saat mendapatkan kabar dari Jonathan. Jonathan masih berperan layaknya Stevin.
"Terimakasih, karena kamu sudah mau menjaga anak kami" kata Alber tersenyum ramah pada pria yang kini bersama Elina, yaitu Stevin.
"Tuan Alber tidak perlu berterimah kasih, aku di sini karena Jonathan yang memintaku untuk menjaga istrinya," ujar Stevin.
"Elina, sayang. Ayah dan Ibu tidak bisa berlama-lama. Ayah harus ke Perusahaan sekarang," kata Albern sambil memegang tangan putrinya.
"Kamu cepat sembuh ya," ujar Martha tersenyum.
"Dasar perempuan bermuka dua," batin Elina.
Albern dan istrinnya keluar dan tinggalah Jonathan di dalam. "Makan dulu, kamu dari semalam belum makan" ujar Jonathan.
Jonathan menyuapi istrinya, Elina yang tidak terbiasa diperlakukan seperti itu nampak malu. "Boleh aku makan sendiri," pinta Elina.
"Biarkan aku menyuapimu," kata Jonathan sambil mengambil sendok yang istrinya pegang.
"Tapi aku malu," ujar Elina sambil menutup wajahnya.
"Hahahaha," Jonathan tertawa mendengar perkataan jujur dari Elina. "Buang rasa malumu untuk sekarang dan beberapa menit ke depan" kata Jonathan.
Kreeek... suara pintu terbuka. Elina dan Jonathan menoleh ke arah pintu, di sana berdiri seorang wanita.
.
.
.
.
Bersambung.
secara walopun udah nikah lama kan mrk selalu berantem n terpisah trus...