Rere Deswaldy gadis berusia 18 tahun, dengan tinggal badan 148 cm, yg hidup bersama nenek dan kakeknya. Rere harus mengantikan nenek bekerja di sebuah perumahan mewah sebagai art, karena kakek sedang mengalami sakit keras. Rere bersekolah dan bekerja, demi biaya pengobatan kakek dan juga pendidikan nya. Sewaktu SMP Rere sudah bertunangan dengan kepala sekolahnya, namun, sayang takdir berkata lain. Sang kekasih menikah dengan wanita lain.
Di usianya yg masih belia Rere harus menikah secara sirih dengan Zizan (sang majikan) kerana sebuah kecelakaan. Pernikahan yg Rere jalani tidak bertahan lama. Dan hadirnya Azam seorang ustadz terkenal duda anak 1
Dapatkah meluluhkan dan menerima masa lalu Rere?.. Dan apa kah kekasih di masa lalunya kembali Hadir?..
penasaran dengan cerita selanjutnya???
yuk simak ceritanya sampai selesai 😊
Terimakasih yg sudah memberikan Like dan Komennya🙏🏻😊
semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT. (aamiin ya rabbal alamin)
Ig: @Riairawati13
fb: Ria ira
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria irawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 15
Rere dan Ira sedangan menunggu Hakim di parkiran yang mulai sepi karena penghuninya sudah pulang ke rumah masing-masing. Mereka menunggu selama 30 menit. Hakim datang dengan terburu-buru, lalu membuka pintu mobil di samping kemudi dan Rere masuk ke dalamnya, lagi-lagi Ira terkejut dengan hal tersebut.
"mau masuk atau mau saya tinggal" kata Hakim
Ira buru-buru masuk ke dalam mobil. Mobil itu tersebut melaju dan meninggalkan halaman sekolah.
Kenapa Mila tidak pernah berangkat dan pulang bersama Hakim?
Mila hanya mau di antar jemput oleh bapaknya jika bapaknya sibuk dengan urusan yang ada di kantor kelurahan baru Mila mau berangkat atau pulang bareng Hakim. Sebagai anak perempuan satu-satunya Mila memang di manjakan dan di turuti segala keinginannya.
Di perjalanan Hakim sesekali mencubit pipi Rere dan menggelusnya. Ira yang melihat hal itu hanya bengong, tak berani banyak tanya.
"kamu udah ngabarin orang tua mu? Biar mereka tidak khawatir" tanya Hakim
"sudah pak, saya bilang mau ke rumah Rere" kata Ira
"bagus kalo gitu" kata Hakim "sayang tolong dong garukkin lengan mas" lanjutnya
"mas di sini ada Ira" kata Rere seraya menggaruk lengan Hakim
"emang nya kenapa? Makasih sayang" kata Hakim
Ira tambah syok berat. Tak lama mereka sampai di rumah Ira, di sana sudah ada bu lurah, calon mertua Rere dan juga Mila.
"assalamualaikum" kata Rere
"wa'alaikumsalam, kamu udah pulang" kata bu lurah
"sudah bu" kata Rere
"kenapa ada adik dan mamanya pak Hakim di rumah Rere?" kata Ira
"iya nak" kata bu lurah
Mereka duduk bersama di ruang tamu. Ira merasa bingung dengan keadaan di sana.
"gimana kondisi kamu nak?" tanya bu lurah
"Alhamdulillah baik bu" kata Rere
"ibu bawain makanan untuk menambah darah, nanti di makan ya" kata bu lurah
"terimakasih bu" kata Rere
"mba Ira kenapa melongo aja kaya gitu?" kata Mila
"eng.. engga kok" kata Ira
"kakung boleh gk Mila nginep di sini?" kata Mila
"jangan ngerepotin tunangan mas de" kata Hakim
(uhuk uhuk uhuk" Ira tersedak air liurnya sendiri.
"kamu kenapa nak?" tanya bu lurah
"gapapa-gapapa bu" kata Ira
"kamu sahabatnya Rere ya" kata bu lurah
"iya bu, kita bestian" kata Ira
"bu pokoknya aku mau nginep di sini" kata Mila "boleh ya kung" lanjutnya
"tentu saja boleh, tapi di sini tidak ada ac, maklum rumah sederhana" kata kakung
"saya juga mau nginep di sini" kata Hakim
"mana boleh" kata Rere
"Mila boleh kenapa mas calon suami sendiri gk boleh?" kata Hakim
Lagi dan lagi Ira tersedak saat sedang minum (uhuk uhuk uhuk)
"pelan-pelan ra" kata Rere
"kalian pacaran?" kata Ira. Rere menggelengkan kepalanya
"Rere gk ngasih tau kamu, kalo dia udah tunangan sama anak saya?" kata bu lurah
"apa?" kata Ira
Rere membekap mulut Ira, dia berteriak cukup kencang.
"berisik banget si" kata Mila
"ouh pantesan bapak panggil Rere sayang-sayang terus, dan kamu re panggil pak kepsek ini mas, ternyata kalian tunangan" kata Mila
"udah tau kan, jangan bilang siapa-siapa ya plis" kata Rere memohon
Terjawab sudah rasa penasaran Ira, dan Ira berjanji tidak memberitahu siapa atas permintaan Rere. Ira tak seperti Halimah yang suka keceplosan, maka dari itu Rere tak memberi tau Halimah.
Bu lurah, Mila, Ira dan Hakim pulang. Mila tidak jadi menginap di rumah Rere. Tapi mereka sudah membuat janji untuk menginap di rumah rere di hari sabtu. Bu lurah pulang sendirian, sedangkan Mila ikut Hakim mengantar Ira pulang. Mereka berdua duduk di belakang.
Ira sudah sampai rumahnya. Mereka berdua langsung pulang.
Beberapa hari kemudian, tepat di hari Jumat.
Mila datang ke kelas Rere. Hal tersebut membuat gaduh para siswa laki-laki. Mila mengajak Rere ke ruangan kakaknya, bersama dengan Ira.
Mereka membicarakan soal menginap. Mila ingin mengajak Rere dan Ira menginap di vila milik keluarga nya.
Pak lurah memiliki vila, vila itu salah satu warisan dari orang tuanya. jadi sebelum menjabat sebagai lurah, pak lurah memang sudah kaya sejak kecil. orang tua nya punya bisnis di bidang peternakan sapi, kambing, domba, ayam, bebek dan juga pertanian. Bisnis itu masih berjalan hingga saat ini.
Jadi besti online jangan so'uzon ya, pak lurah orang yang bersih dan jujur di dunia pemerintahan, ini cuma cerita ya🤭
"aku gk tega ninggalin kakung sendirian Mil" kata Rere
"gimana kalo kakung kita ajak aja mba" kata Mila
"emang boleh" tanya Rere
"boleh dong" kata Mila
"nanti tanya kakung dulu mau atau gk ya, aku gk janji" kata Rere
"bair Mila aja yang ngomong sama kakung mba" kata Mila
Pulang sekolah kali ini Mila ikut bersama Hakim, karena dia mau ikut ke rumah Rere. Mila sendiri yang akan bertanya sama kakung. Sampainya di rumah Rere, kakung sedang video call bersama embok.
Mila tanpa malu-malu ikut berbicara sama si embok.
"embok kakung sama mba Rere aku ajak nginep di vila ya mbok, boleh gk mbok?" kata Mila
"boleh cah ayu, itu kakung kenapa di ajak juga?" kata si embok
"biar di rumah gk sendirian mbok" kata Mila
"kakung gk usah ikut, kalian aja yang muda-muda, biar kakung di rumah" kata embok
"iya kakung gk usah ikut kalian aja" kata kakung
"tapi kung, kakung sendirian di rumah Rere khawatir" kata Rere
"kalo kamu nginep di vila ada bapak-bapak ronda yang main di rumah, kakung gk sendirian banyak temannya, kaya waktu kamu ke kota ndo, udah kamu nikmati saja masa muda kamu bareng temen-temen ndo" kata embok
"benar kata embok mu ndo, sesekali gapapa ndo, kakung juga sehat, 2 malam ini ada pertandingan bola jadi bisa nonton barang di sini" kata kakung
"jadi mba Rere boleh nginep di vila bareng aku mbok" kata Mila
"boleh ndo" kata embok
"hore asik, bisa gosip sampai tidur" kata Mila
"astaghfirullah Mila - Mila ada-ada aja" kata Hakim
Sore itu mereka bersiap-siap. Hakim mengajak adik keduanya untuk ikut, awalnya Topa menolak, namun Hakim memaksa dan mengancam untuk memberitahu orang tuanya jika Topa sering mabuk.
Mau tak mau Topa ikut ke vila bersama kakak dan juga adiknya, dari pada nanti semua fasilitas di ambil oleh bapaknya.
Tepat pukul 16.30 sore Hakim melakukan mobil nya ke rumah Rere.
Rere sudah siap dengan ranselnya, tapi dia tidak tega untuk meninggalkan kakungnya.
"mending aku gk usah ikut, daripada ninggalin kakung sendirian" kata Rere dalam hati
"kenapa melamun ndo?" tanya kakung yang melihat cucunya tengah melamun di ruang tamu.
Rere menghela nafas panjang, dan menghembuskan kuat-kuat.
"aku gk jadi ikut kung, aku gk tega ninggalin kakung" kata Rere
Pak ustadz datang membawa proyektor dan kain putih.
"assalamualaikum" ucap pak ustadz
"wa'alaikumsalam, masuk pak ustadz" kata kakung
"eh ada nak Rere" kata pak ustadz
"iya pak" kata Rere
"pergi saja ndo, udah ada pak ustadz yang nemenin kakung" kata kakung
"iya nak, ada saya yang jagain kakung, kalo ada apa-apa pasti saya langsung ngabarin" kata pak ustadz. "lagi pula vila nya juga gk jauh dari sini, masih terjangkau juga" lanjutnya
Kakung mengajak pak ustadz untuk menonton bola di rumahnya, awalnya pak ustadz menolak merasa tidak enak jika mengganggu Rere istirahat. Kakung memberitahu pak ustadz jika Rere akan menginap di vila milik pak lurah atas permintaan anak bungsu pak lurah.
"yang penting kamu jaga diri baik-baik nak" kata pak ustadz. Rere hanya mengangguk kepalanya