Jeehan tak menyangka bahwa akhir persahabatannya dengan Harris harus berubah menjadi perasaan cinta dalam munajat panjang. Dengan rangkaian doa dan pinta, ia mencoba mengetuk pintu langit bersama nama Harris di hatinya. Berharap laki-laki itu jadi kekasih halalnya kelak.
Namun, ia tak menyangka bahwa perhatian yang sahabatnya berikan hanyalah wujud dari rasa simpati sebagai teman. Yang Harris cintai sebenarnya ialah seorang perempuan di masa lalunya yang tanpa sengaja kembali hadir.
Rasa cinta yang semula Jeehan miliki harus terpaksa ia hapus saat Harris menyatakan cintanya pada Alisha. Mau tak mau Jeehan harus menelan pahitnya kecewa sendirian, sebab setelah sekian lama bersahabat, Harris masih tak memahami diri juga perasaannya.
Sejak saat itu, Jeehan memilih untuk menutup rapat hatinya sebab kecewa bukanlah episode yang ingin ia ulang, apapun alasannya. Lalu, bagaimanakah perjalanan cinta mereka? Akankah Jeehan berhasil menghapus Harris dalam hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Disenchanted 15 — Bertemu Lagi
"Harris?" ucap Alisha tak kalah terkejutnya saat mendapati sosok di hadapannya adalah orang yang pernah mengisi harinya tiga tahun lalu.
"Alisha ... " gumam Harris pelan. Netranya tertumbuk pada Alisha lalu berganti pada Jeehan yang menatap keduanya dengan bingung.
"Lho? Kalian udah saling kenal?" tanyanya, menatap kedua orang di hadapannya secara bergantian.
Sedangkan ketiga sahabat Harris hanya bisa mematung. Sama bingungnya dengan Harris.
"Harris, aku ... " ucap Alisha tertahan.
Harris membuang muka dan memilih berjalan menjauh dari kantin. Bahkan ia tak lagi memedulikan panggilan Jeehan yang terus memanggilnya.
"Aneh banget Harris hari ini," celetuk Jeehan. "Oh, ya, Al. Kok kamu bisa kenal sama Harris? Kalian pernah bertemu sebelumnya?"
Entah mengapa, rasa penasaran itu begitu mengusik kepala Jeehan. Padahal biasanya, ia tak suka ikut campur dan kepo urusan orang.
"Eh, Jee. Mau makan dulu gak?" tanya Amir tiba-tiba, mengalihkan Jeehan dari Alisha untuk sesaat.
Bastian berdiri, lalu dengan cepat menyambar tangan Alisha dan menariknya pergi. "Ikut gue!" kata Bastian cepat. Alisha hanya bisa mengikuti langkah Bastian.
"Eh, Bas! Bastian! Mau dibawa ke mana Alisha?" panggil Jee cukup kencang. Ia hendak menyusul, namun urung sebab Amir dan Vino menghalanginya.
"Apa-apaan sih kalian? Minggir gak? Aku harus ngejar Alisha!" protes Jee. Namun, bukannya menyingkir, kedua pemuda itu justru menarik Jee untuk duduk di kantin bersama mereka.
•••
"Aduh! Lepasin, Bas! Sakit tahu?" kata Alisha menyentak tangan Bastian cukup kuat, sehingga genggaman pemuda itu langsung terlepas.
Bastian berdecak. "Sorry. Gue terpaksa bawa lo ke sini," katanya. Alisha mengusap pergelangan tangannya yang terasa sakit.
Kini mereka berdua berada di dekat toilet. Bastian sengaja membawanya ke sini agar tak ada yang mencuri dengar pembicaraan mereka.
"Lo kok bisa ada di sini, Al? Lo tahu kan kalau Harris udah kecewa dan benci banget sama lo?" tanya Bastian begitu Alisha cukup tenang.
"Gue mana tahu kalau kalian berempat sekolah di sini? Gue cuma ngikutin nyokap gue pindah," jawabnya ketus.
Bastian tampak frustasi. Entah karena apa, kehadiran Alisha seperti menjadi boom waktu baginya. Menghela napas panjang, Bastian menarik Alisha mendekat.
"Apaan sih, Bas?!" Alisha mendorong Bastian menjauh. "Kita udah selesai! Jangan ganggu gue. Udah cukup gue merasa bersalah sama Harris. Sekarang, kita ketemu lagi di sini, dan gue mau memperbaiki semuanya!" katanya tegas lalu meninggalkan Bastian di sana.
"Al ... " lirih Bastian menatap kepergian Alisha.
•••
Harris sibuk membolak-balik buku yang diambilnya dari perpustakaan tanpa minat. Berharap dengan itu, pikirannya tentang sesosok perempuan yang kembali hadir tanpa permisi itu bisa tersingkir dengan sendirinya.
Namun tak bisa, seberapa pun Harris mencoba. Bayangan Alisha saat di kantin terus mengusik kepalanya. Seperti sebuah kenangan yang sulit dilupa. "Kenapa? Kenapa lo harus hadir lagi Al?" gumamnya pelan. Harris mengacak rambutnya asal.
Tepat saat itu, Alisha berdiri di ambang pintu kelasnya. Menatap Harris dengan tatapan penuh rindu. Tak ia sangka, takdir kembali mempertemukan mereka. Alisha melangkah, namun, sebuah tepukan menghentikannya.
"Jangan sekarang, Al," tegur Amir membuat Alisha terperanjat dan urung masuk. Sedangkan Vino tak mengindahkan keberadaan Alisha, ia memilih langsung masuk ke dalam kelas.
"Eh, gue cuma, gue cuma mau ngomong sesuatu ke Harris, boleh kan?" tanya Alisha dengan nada memohon.
Belum sempat Amir menjawab. Pak Rafael, guru bahasa Indonesia datang. "Kok kalian belum masuk kelas? Kelas sebentar lagi dimulai!" kata Pak Rafael dengan ketegasannya.
Amir langsung memasuki kelasnya, sedangkan Alisha harus menahan diri untuk berbicara dengan Harris. Bel pertanda pelajaran berikutnya akan dimulai berbunyi seiring dengan langkah Alisha yang kembali.
Ia bertekad untuk berbicara dengan Harris, apapun caranya. "Pokoknya gue harus bisa bicara empat mata sama Harris!"
•••
Saat waktu pulang sekolah tiba. Seperti biasa, Harris akan menunggu Jee di parkiran untuk pulang bersama. Biasanya, inilah kegiatan yang Harris suka, menunggu Jeehan dan pulang bersamanya adalah hal yang Harris nantikan.
Namun, berbeda dengan hari ini. Harris menatap tajam ke arah Jee, begitu melihat siapa yang berjalan di belakang Jee.
"Astaghfirullah," ucap Harris seraya mengusap wajahnya. Tampaknya ia benar-benar enggan bertemu kembali dengan mantan kekasihnya dulu. Harris melemparkan tatapan kecewanya pada Jee.
Harris sudah bersiap menaiki motornya, tapi Jeehan menghalangi jalannya. "Dengar aku dulu, Ris. Please!"
Harris menyerah pada rasa tak teganya. Dapat Jee lihat, bahu Harris yang menurun. Ia tahu, bahwa pemuda di hadapannya tengah kecewa dan tak ingin diganggu.
Tetapi, mendengar penuturan Alisha yang memohon padanya agar bisa meminta maaf pada Harris, membuat Jeehan nekat. Barangkali ada sesuatu yang tak Jeehan ketahui dan harus mereka selesaikan. Maka, Jee berpikir, ia bisa menjadi penengah untuk keduanya.
"Cepat, gue gak ada waktu, Al," kata Harris dengan ketua, tanpa melihat sedikitpun pada Alisha.
Jee memberi isyarat agar Alisha mendekat dan mulai bicara. "Harris memang gitu, kamu jangan tersinggung, ya. Silakan bicara, aku pamit dulu," kata Jee tersenyum.
Alisha mengangguk dan menggumamkan terima kasih. "Thanks ya, Jee."
Jee berbalik, niatnya hendak memberi ruang kepada kedua orang itu untuk berbicara. Namun, belum selangkah ia pergi, Harris meneriakinya.
"Mau ke mana kamu, Jee? Jangan pergi! Pulang sama aku!" seru Harris memberi penekanan.
"Aku bisa pulang sendiri, Ris. Kamu bi—"
"Gak! Tunggu aku atau kita pulang sekarang?"
Jeehan tahu bahwa ia tak mungkin bisa bernegosiasi dengan Harris. Maka, ia pun memilih tetap berdiri di sana. Menahan perasaan tak enak hati pada Alisha.
Perempuan itu mengembangkan senyumnya sedikit terpaksa. Melihat keakraban Jeehan dengan Harris, membuat hatinya sedikit cemburu.
"Mau bilang apa? Cepat, ya!" desak Harris tak sabaran. Matanya tetap menatap ke depan.
"Aku ... aku cuma mau minta maaf!" kata Alisha tertunduk. Tak berani menatap langsung kepada Harris. Ia sepenuhnya tahu bahwa apa yang ia lakukan beberapa tahun lalu pastilah menyakiti pemuda yang ada di hadapannya.
"Udah, kan? Maaf lo gua terima, tapi untuk lupa. Sorry, lain kali aja," kata Harris dingin. Kemudian, ia menyalakan mesin motornya.
"Naik, Jee!" perintahnya yang langsung diikuti oleh Jeehan. Dengan berpegangan pada bahu Harris, Jee berhasil menaiki motornya.
Semua itu, terekam jelas oleh Alisha. Hatinya terasa terbakar, namun untuk saat ini, tak ada yang bisa ia lakukan. Kecuali mengembangkan senyum terpaksa, menyembunyikan nyala api di hatinya.
Tanpa berkata apa-apa, Harris langsung tancap gas. Jee masih sempat melambaikan tangan dan menggumamkan maaf pada Alisha.
Gadis itu terdiam di tempat selama beberapa saat, dengan tangan terkepal kuat. "Gue gak terima diperlakukan begini. Tunggu aja, Ris. Gue bakal melakukan apapun demi bisa dapetin lo balik," katanya penuh tekad.
•••
Selamat membaca, ya. Semoga suka.
With love,
— HK
Semangaaat Jee 💪
hiks.. hiks...
Gk usah buat sequelnya kk Hern..
sedih&kecewaku sdh Habis disini..
ikut Terbang bersama Jee
(eaaaaaaa lebay....)
wkwkwk
tp kl kk berazzam tuk itu..
yaahh dgn Terpaksa la aqu read
dgn syarat Jee hidup bahagia dgn pria lain.. NO HARRIS!!!!
(eh.. situ Siapa ya, kok ngatur Author..
hihiiiiiiiii)
walaupun itu sgt pahit.....
ternyata, thor..
begini jg alurnya???
kukira kyk drama di novel2,
bakal Harris yg kena getahnya
wkwkwk