Masa muda Aruni Larasati yang damai mulai terusik ketika dia dijodohkan dengan Panji Mahendra anak sahabat orang tuanya.
Aruni mendadak disebut pelakor karena hadir diantara Panji dan pacarnya.
Panji mengajukan perjanjian kontrak pernikahan selama satu tahun. Setelah satu tahun mereka akan cerai. Untuk menutupi kesepakatan itu mereka tetap satu rumah. Namun, pisah ranjang.
Akankah mereka cerai atau justru saling jatuh cinta?
Untuk tahu kisahnya, yuk intip lalu baca Mas Sekdes I love you
Jangan lupa Like, komentar, vote 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budy alifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Panji mendelik saat melihat mamanya sudah berada di dapur rumahnya. Panji menarik Aruni yang sedang bersantai sembari menikmati kue dan teh.
“Uni, lo sengaja ya panggil mama ke sini?” tuduh Panji.
“Apaan sih main tuduh aja, mama sendiri yang datang ke sini,” ujar Aruni sembari memasukan kue yang tinggal separuh di tangannya.
“Bohong lo, udah ngomong apa aja lo sama mama?” Panji tidak percaya.
“Tanya aja sama mama kalau nggak percaya.” Aruni kembali duduk untuk melanjutkan menikmati secangkir teh.
“Eh, Ji sudah bangun kamu. Ayo sini kita sarapan bareng,” ajak Ismara setelah selesai memasak.
“Mama kenapa menyiapkan sarapan segala. Ini biar Aruni yang mengerjakan Mama duduk saja,” ujar Panji.
Memang kondisi saat ini terbalik dari semestinya, harusnya menantu yang menyiapkan sarapan dan melayani mertuanya. Bukan malah sebaliknya.
“Uni?” Aruni menunjuk dirinya sendiri. Dia menelan bulat-bulat kue yang baru dua kali kunyah.
“Tentu saja, lo jadi memantu harusnya yang melayani martua," ucap Panji penuh penekanan.
“Eh, kamu jangan marahi Uni. Ini memang kemauan mama.” Ismara membela Aruni.
“Tuh dengerin. Ini bukan paksaan. Lagian nanti kalau Uni yang masak, terus mama keracunan mau tanggung jawab?” Uni berdesisi kesal.
“Makanya jadi cewek itu harus bisa masak, bukan cuma bikin masalah,” sindir Panji.
“Ya sudah, cari saja istri lain yang bisa memasak. Gampang kan.”Aruni menatap Panji tajam.
“Sudah-sudah kenapa jadi berantem sih," Ismara melerai Panji dan Aruni berdebat.
“Permisi Ma, Uni mau mandi dulu.” Aruni meninggalkan meja makan sebelum dia makan.
Ismara menepuk lengan Panji. “Kamu kalau ngomong bisa nggak sembarangan. Kasihan kan Aruni.”
“Ma, memang seharusnya kan menantu itu yang melayani mertua. Andai saja mama merestui pilihan Panji pasti mama akan senang. Dan bisa langsung menimang cucu,” tukas Panji.
“Panji jaga lisan kamu, bisa-bisanya kamu berkata seperti itu. Jangan-jangan kamu memang masih berhubungan sama dia!” geram Ismara.
“Ma,” panggil Aruni sembari menuruni tangga.
“Jangan salahkan Mas Panji karena semua ini salah Uni. Uni tidak becus jadi perempuan. Tidak bisa masak, tidak bisa mengurus rumah,” ucapnya dengan wajah sedih.
“Uni iklas kok, kalau Mas Panji mau menceraikan Uni sekarang juga,” tukasnya yang membuat kedua bola mata Panji hendak keluar.
“Nggak Uni, mama nggak mau. Kamu menantu kesayangan mama. Panji minta maaf kamu sama Uni!” Ismara menarik tangan Panji sampai dia berhadapan dengan Uni.
Panji metapa Aruni dengan wajah datar, dia benci banget dengan Aruni. Dia selalu kalah kalau Aruni sudah memakai senjatanya. Yaitu mamanya sendiri.
“Ma, Uni sudah tidak bisa ... ,”
“Uni!” Panji memegang tangan Aruni untuk menghentikan ucapanya.
Aruni menarik tangannya tapi Panji memegangnya dengan erat. Panji menatap sengit, penuh ancaman. Dia tidak akan membiarkan Aruni menyakiti mamanya.
“Uni, gue minta maaf,” ucapnya lembut tapi matanya mendelik karena mamanya tidak melihatnya.
“Tapi Uni sudah nggak bisa. Sakit hati Uni, Mas,” Aruni mulai memainkan drama.
Panji menyentil kening Aruni saking kesalnya, hanya itu yang bisa dia lakukan untuk melampiaskan kekesalannya.
“A!” pekik Aruni.
“Panji!” teriak Ismara melihat Aruni kesakitan. Seketika Panji menarik Aruni dalam pelukanya.
Aruni terdiam, ini kali pertama dia di peluk seorang lelaki yang notabennya orang asing. Dia memejamkan mata, mencium aroma wangi yang berasal dari tubuh Panji.
“Maaf Uni, gue nggak sengaja,” Panji mengelus rambut Aruni.
Ismara menjewer telinga Panji. “Awas ya kamu menyakiti menantu kesayangan mama. Jangan harap kamu dapat warisan,” ancam Ismara.
“Orang nggak sengaja,” kilah Panji.
“Kalian berdua duduk,” suruh Ismara.
Mereka duduk berjejeran saling berpandang sebentar lalu fokus kepada Ismara. Ismara memberikan dua tiket pesawat dan satu tiket hotel di Bali.
“Apa ini Ma?” tanya Panji seraya mengambil kertas ukuran kecil.
“Kalian kan setelah menikah belum honeymoon. Jadi mama sama papa menghadiahkan kalian tiket ke Bali.”
“Mending buat mama sama papa saja. Panji lagi banyak kerjaan nggak bisa cuti,” Panji beralasan agar tidak pergi. Apalagi hanya berdua dengan Aruni pasti akan canggung jadinya.
“Kamu izin lah, selama ini kamu jarang ambil cuti.”
“Kalau Mas Panji sibuk nggak apa-apa Ma, biar tiketnya buat Uni saja. Kebetulan Uni butuh refreshing.” Aruni mengambil semua tiket.
Dengan penolakan Panji maka dia bisa mengajak liburan Bayu dan Novia. Dia tinggal tambah tiket satu hotel dan pesawat. Tentunya liburannya akan lebih menyenangkan daripada bersama dengan Panji.
“Tuh dengerin, istri kamu saja mau liburan. Kamu itu hidup kok lurus amat. Pantesan saja nggak asyik,” ejek mamanya yang membuat Aruni langsung tertawa.
Aruni menutup bibirnya saat mendapat lirikan tajam dari Panji. Dia membuang muka seraya menahan tawa. Mertuanya ternyata menyadari kalau anaknya itu tidak asyik sama sekali.
“Ma, Panji harus bilang berapa kali sih. Kalau Panji nggak bisa cuti,” kesalnya.
“Mas, kamu boleh kok nggak ikut. Beneran,” katanya dengan senang hati.
“Nggak bisa, tiket ini mama pesan untuk kalian berdua. Mama akan ke Balai Desa untuk pengajuan cuti kamu.”
Panji menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sekarang dia harus mengatasi dua perempuan yang sulit. Mana dia tidak bisa menolak kalau sudah mamanya yang bilang.
“Baiklah, nanti Panji coba untuk izin cuti.”
Aruni menghembuskan napas berat mendengar Panji yang mendadak mau mengusahakan untuk cuti.
Aruni menyesali perbuatanya karena tidak sesuai dengan perkiraannya. Mertuanya itu terus ngotot kalau mereka harus pergi berdua. Alhasil dia tidak jadi mengajak kedua sahabatnya jalan-jalan gratis. Justru terjebak berdua dengan Panji.
tapi kalo dari judulnya kan mas sekdes i lv u,
aaahhh semoga othor berbaik hati mendatangkan sekdes lainya yg lebih ganteng n mapan buat uni