NovelToon NovelToon
Beautiful Pain

Beautiful Pain

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Kontras Takdir / Keluarga & Kasih Sayang / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: Atri Aulia

Katanya, jatuh cinta adalah rasa sakit yang indah. Namun apa jadinya jika yang mencintai hanya satu pihak?
Ralia adalah salah satunya, ia menjadi korban sebuah perasaan indah namun menyakitkan bagi dirinya. Dimana, Ia harus menikah dengan seseorang yang Ia cintai diam-diam, namun tak tahu apakah cinta itu terbalaskan atau tidak.

Pernikahan yang harus Ia jalani dengan Alvan, ternyata memang bukan sebuah perjodohan, bukan pula sebuah perjanjian bisnis.
Pernikahan mereka terjadi karena ibu dari Alvan menginginkan Ralia sebagai menantunya. Karena tidak ingin disebut sebagai anak durhaka, maka Alvan pun bersedia menjadi suami Ralia, meskipun Ia masih mengharap cinta dari Dara, mantan kekasihnya.

Akankah cinta sesungguhnya hadir dalam pernikahan mereka, atau bahkan cinta itu akan berubah menjadi kebencian dari keduanya?


Ig @atri.auliaa304

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atri Aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Dalam biang lala, Alvan menggenggam tangan Ralia dengan pandangan yang Ia alihkan keluar. Ralia melihat tatapan Alvan begitu sayu, sendu, dan seakan penuh kesedihan. Entah apa yang suaminya ini tengah rasakan, Ia tak bisa menebak isi pikirannya.

"Mas... mau coba naik hysteria gak?" Tanya Ralia membuyarkan lamunan Alvan dan Ia menoleh ke arah Ralia tunjuk.

"Jangan ah. Nanti kamu parno lagi."

"Iya sih agak parno. Soalnya kalau naik itu, nyawa berasa ketinggalan di atas. Terus pas turun tuh jadi sempoyongan" jelas Ralia mengingat pengalamannya naik wahana yang tak kalah ekstrim dari yang ekstrim itu.

"Kamu pernah?" Tanya Alvan terdengar tak percaya dan seakan terheran karena Ralia menjelaskan demikian.

"Iya. Waktu aku kerja dulu kan ada tour ke sini. Aku coba naik itu, ya agak trauma juga."

"Ohhh kirain kamu belum pernah ke sini." Cetus Alvan.

"Udah sih. Tapi suasananya beda."

"Bedanya?"

"Sekarang rasanya lebih menyenangkan."

"Karena sama aku ya?" Alvan mulai mengejek Ralia yang salah tingkah dibuatnya.

"Apaan sih Mas. Ya beda aja. Pokonya beda."

"Eh kok salah tingkah. Bener kan?"

"Udah ih apaan sih Mas. Jangan jahilin aku terus. Nanti aku jahilin balik, Mas marah lagi."

"Hahaha habisnya kamu lucu sih..."

"Lucu di mananya coba?"

"Haha mau es krim gak?" Alvan mencoba mengalihkan pembicaraan random mereka.

"Mau. Tapi jangan yang es krim turki."

"Kenapa emang? Dijahilin ya?" Kembali Alvan mengejek sehingga Ralia menjadi malu sendiri.

"Gapapa.. nanti Mas yang beliin. Kamu tunggu aja." Lanjutnya.

"Nanti kesel loh Mas."

"Gak... gak bakalan." Tepis Alvan meyakinkan Ralia bahwa dirinya memang bisa mengatasi kejahilan penjual es krim turki.

Singkatnya, Alvan Dan Ralia mencari penjual es yang mereka maksud. Dan akhirnya Ralia menemukan di tempat yang dulu Ia membelinya. Sejenak Ia berpikir jika penjual itu tidak berubah, atau masih sama. Sesuai kesepakatan, Alvan menyuruh Ralia menunggu di salah satu kursi dan Ia membeli es yang diinginkan istrinya. Alvan sudah siap dijahili oleh si penjual. Semakin lama, Alvan semakin kesal. Apa lagi hampir setiap pengunjung melihatnya dengan tawa mereka. Alvan menyuruh si penjual untuk mendekatkan telinganya, dan saat itu juga si penjual langsung memberikan es krim itu tanpa menjahili. Bahkan dibuatkan satu lagi.

"Gimana? Kesel kan?" Ejek Ralia saat Alvan menghampirinya.

"Kesel sih. Tapi punya jurus yang ampuh. Buktinya yang satunya dibuat cuma-cuma." Balas Alvan tersenyum penuh kemenangan.

"Pake jurus apa emang?" Tanya Ralia penasaran.

"Aku bilang, kamu lagi ngidam. Jadinya si abang buatin cuma-cuma tanpa ngejahilin." Sontak Ralia terbatuk dan meminta air yang dibawa Alvan. Memang gila manusia satu ini. Pikirannya semakin kacau memikirkan masalah anak dan kelanjutan hubungannya dengan Alvan. Apa mereka akan menjadi suami-istri sampai nanti, atau mereka akan benar-benar berpisah suatu hari nanti?

Alvan mulai merasa bahwa Ralia berbeda setiap mereka membahas tentang anak. Apa Ralia keberatan jika mereka punya anak, atau Ralia takut jika Alvan akan meninggalkannya? Benak Alvan sudah mulai dipenuhi tanya.

"Kamu belum siap ya kalau punya anak?" Tanya Alvan kemudian. Suasana benar-benar terasa hening meski di sekeliling mereka begitu ramai.

"Aku bukannya gak siap punya anak. Tapi aku gak siap kalau nanti aku kamu tinggalkan setelah aku punya anak." Batin Ralia tidak menjawab pertanyaan Alvan sedikitpun.

"Oke aku salah udah bahas tentang ini. Tapi, kalau boleh jujur, aku udah nyaman sama kamu Ra. Kamu udah buktiin kalau kamu yang terbaik buat aku. Kamu pilihan ibu yang bisa buat aku sadar kalau gak selamanya cinta itu hadir karena ketidak sengajaan."

'Deg!' Jantung Ralia berdebar kencang. Ia tak mengerti dengan yang diungkapkan Alvan, tapi juga paham jika Alvan menerimanya sebagai istri.

"Aku gak ngerti apa yang Mas ucapin. Hahah mana mungkin Mas nyaman sama aku. Aku banyak kurangnya, gak kayak Dara yang banyak lebihnya."

"Ra. Percaya gak? Aku lagi proses ngelupain Dara. Jadi aku harap kamu gak ngomongin Dara lagi. Sekarang aku mau fokus ke kamu." Tutur Alvan kali ini terdengar menegaskan.

"Aku tahu, kalau aku main perempuan di belakang kamu, hidup aku pasti gak bakal tenang, semua urusan aku pasti dipersulit sama Allah. Jadi, aku mohon sama kamu ridhoi langkah aku, doakan agar aku jadi suami yang kamu harapkan. Dan aku harap, kamu gak ada pikiran buat pisah atau cari yang lain. Aku orangnya egois Ra. Aku gak suka kalau apapun milik aku, berurusan atau bahkan direbut sama orang lain." Tegas Alvan lagi. Ralia semakin dibuat membisu. Ia semakin tak tahu harus berkata apa untuk menanggapi setiap penuturan Alvan. Bahkan saking tak sadarnya, es yang berada di tangannya semakin meleleh. Ralia terhenyak, Ia cepat-cepat membersihkan tangannya dengan tissue dan menghabiskan camilan dingin itu.

Setelahnya, mereka dilanda suasana canggung, dan berjalan pun tanpa berinteraksi sama sekali. Sampailah di dekat wahana komidi putar. Untuk mencairkan suasana, Alvan mengajak Ralia menaikinya.

"Malu ah Mas. Kayak anak kecil." Ucap Ralia menahan langkahnya.

"Gapapa. Itu banyak juga orang dewasa yang naik." Balas Alvan menunjuk beberapa pasangan yang menaiki permainan berwujud kuda itu. Dengan ragu, Ralia mengikuti langkah Alvan dan Ia memilih duduk di salah satunya. Alvan memilih di samping Ralia dan meraih tangan Ralia sehingga saat wahana tersebut berputar, Ralia merasa jika dirinya berada di dalam kotak permainan. Ada beberapa bisikan atau bahkan terang-terangan mengatakan bahwa mereka pasangan yang romantis.

"Mereka gak tahu kalau kebersamaanku sama Mas Alvan baru terjalin sejak beberapa hari yang lalu." Batin Ralia.

Selama mereka berkeliling dan menaiki wahana, Alvan tak sedikitpun berniat untuk melepaskan genggamannya dari Ralia. Apa lagi saat di tempat yang banyak orang. Alvan terlalu takut jika Ralia akan tersesat atau di goda pria lain. Ia akui, jika sekarang Ralia merupakan wanita cantik, manis, dan ramah. Lelaki mana yang tidak akan luluh pada wanita sepertinya. Alvan sempat melihat beberapa pasang mata terus menatap penuh arti pada Ralia. Itu pun saat genggaman tangannya terlepas.

Sudah lelah mereka berkeliling, canda tawa menghiasi liburan mereka, akhirnya pasangan itu pun memutuskan untuk pulang. Selain hari sudah sore, Alvan juga sudah ingin beristirahat agar esok tidak merasa kelelahan sebelum berangkat kerja.

Tanpa Ia duga, ternyata suasana jalanan sangat padat, hingga maghrib mereka masih di jalan. Alvan menepikan mobilnya di sebuah masjid yang tak jauh dari jalan raya. Keduanya menunaikan shalat maghrib berjamaah di dalam masjid itu.

Setelahnya, Alvan kembali melanjutkan perjalanan, dan tak lupa membeli beberapa camilan seraya menunggu jalanan kembali normal. Namun ternyata hingga Isya, jalanan masih padat merayap dan Alvan sudah mendapati Ralia tertidur di sampingnya. Ditengah kemacetan, Alvan mendapati ponselnya berdering. Ia mengernyit melihat siapa yang menghubunginya. Karena penasaran, Alvan menjawab panggilan yang ternyata dari mantan pacarnya itu. Sesaat Alvan menoleh pada Ralia yang masih pulas, tak ada tanda-tanda Ia akan bangun cepat.

"Hallo." Ucap Alvan tanda Ia sudah menjawab panggilan.

"Kamu kemana aja sih? Tiap aku hubungi pasti kamu ngilang. Apa sekarang kamu udah bener-bener ngelupain aku? Ngomong dong Al. Biar aku gak nungguin kepastian dari kamu." Di seberang sana, terdengar suara Dara sedikit memekik. Jelas saja Dara marah, Alvan menggantungnya tanpa kembali memberi penjelasan.

"Maaf Dara.... aku gak bisa kasih kamu penjelasan. Kita bicarakan ini nanti. Aku lagi di jalan." Ujar Alvan jelas-jelas menghindari pembahasannya dengan Dara. Tanpa menunggu persetujuan, Alvan memutus panggilan dan mematikan ponselnya agar tak ada lagi yang mengganggunya. Batin Alvan kembali dilanda kegundahan atas keputusan dan egonya.

"Ya Allah. Sebenarnya apa yang harus aku lakukan? Keputusan mana yang terbaik? Kalau memang Ralia yang Kau takdirkan untukku, maka kuatkan hatiku saat Kau jauhkan Dara dariku. Tapi jika Dara yang Kau takdirkan, kenapa aku harus menikah dengan gadis lain? Dan jika pun aku tidak berjodoh sama sekali dengan Dara, kenapa aku masih menyimpan perasaanku pada Dara? Bukankah Kau yang menanamkan rasa cinta kepada setiap hamba-Mu? Berikan aku jalan yang terbaik Ya Allah. Aku pasrahkan semuanya pada-Mu. Aku akan terima jalan apa yang akan Kau berikan padaku." Batin Alvan terus berdoa agar Ia tak salah mengambil keputusan.

Bersambung

1
si cilik nakal💢💢
semangat torr/Smile//Smile/
si cilik nakal💢💢: jang pantang menyerah ya
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!