Allea, gadis SMA yang sangat berprestasi semasa sekolah. Allea terlahir sebagai anak bungsu dari keluarga yang kaya dan serba berkecukupan.
Dibalik Kehidupan Allea bak putri raja, ternyata Allea sudah dijodohkan sejak kecil. Lalu bagaimana Allea akan melanjutkan mimpi-mimpinya dan bagaimana kelanjutan Allea dalam Perjodohan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anne Chellyca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jajan
Gibran menatap Allea seraya menahan tawanya. Allea sangat menggemaskan jika malu-malu seperti ini namun perasaannya masih sama, perasaan sayang seorang kakak pada adik perempuannya.
"Kita mau kemana sih kak?" tanya Allea sembari memalingkan wajahnya pada Gibran.
"Butik!"
"Ngapain? Kak Gibran mau beli baju?" tanya Allea polos.
"Iya, sekalian sama kamu!"
"Aku?"
"Hmm"
"Tapi kemarin Tante juga udah beliin aku baju yang banyak banget kak sampe kamar kost aku tuh penuh!" terang Allea.
"Itu kan baju biasa Le"
"Emang ini baju apaan?"
"Baju pengantin..." sahut Gibran sangat malas. Tak ada semangat yang terpancar dari wajahnya ketika membeli baju pengantin seperti pasangan pada umumnya, Gibran malah merasa tertekan akan menikahi Allea. Disatu sisi Gibran akan menikahi orang tanpa mencintainya dan di sisi lain Gibran tak tega melihat Allea yang terpaksa menerima pernikahan ini. Entah bagaimana nantinya kehidupan mereka setelahnya.
"Emang kita bakal nikah beneran ya bang?" ucap Allea sendu. Mengingat itu rasanya hidup Allea lebih baik berhenti saja saat ini.
Gibran tak menggubris perkataan Allea, ia fokus pada jalanan. Pertanyaan Allea barusan seakan terus terngiang di telinganya, Gibran tak tega melihat wajah sedih itu namun Gibran juga tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti keinginan kedua orangtuanya.
Setelah sampai di butik Gibran duduk di sebuah sofa seraya memainkan ponselnya. Ia meminta pelayan untuk melayani Allea dan memilih gaun pengantin yang diinginkannya. Di sela-sela itu ia sesekali tersenyum membaca pesan yang masuk.
Sementara Allea, dia memilih sebuah gaun pengantin berwarna putih yang cukup sederhana agar tak menyusahkan ya nanti di hari pernikahannya, hari terburuk yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Gaun itu cukup cantik dengan aksen Payet permata di setiap sisinya namun panjangnya hanya semata kaki gadis itu. Ia juga memilih sebuah sepatu flat shoes dengan model yang serasi dengan gaun itu. Keduanya akan mempermudah Allea melewati hari pernikahan yang tak diinginkannya.
"Mbak gak mau coba gaun keluaran terbaru yang diinginkan orang-orang?" tanya pelayan tersebut lembut.
"Panggil Allea aja mbak, lagian saya masih SMA" sahut Allea sendu.
"Oh, maaf dik" ucap pelayan tersebut tak enak. Kini ia mengerti mengapa sedari tadi pelanggannya ini tampak tak bersemangat memilih atau mencoba gaunnya. Tanpa bertanya pun pelayan tersebut sudah menebak bahwa gadis di depannya tidak menginginkan pernikahan ini.
"Saya mau yang tadi aja mbak" ucap Allea kemudian diangguki oleh pelayan tersebut.
Allea tersenyum lalu keluar dari ruang ganti menuju sofa tempat Gibran duduk.
"Udah?" ucap Gibran ketika Allea sudah duduk lemas di sampingnya.
"Udah!"
"Mau dibawa sekarang atau mbaknya yang kirim ke kost kamu?" tanya Gibran lagi.
"Terserah kak Gibran aja!"
Gibran menelan ludahnya, sepertinya mood Allea sangat buruk karena pernikahan itu. Ia pun berinisiatif meminta pada pelayan butik itu agar mengirim gaun tersebut ke rumah maminya Allea.
"Pulang yuk!" ucap Gibran.
Dengan langkah gontai Allea menyeret kakinya mengikuti Gibran ke arah parkiran.
"Kamu mau makan apa? Kita makan dulu ya?"
"Iya!" sahut Allea malas. Entah perasaannya saja atau bagaimana Gibran terlihat sangat cerewet hari ini, Allea sangat malas mendengar ocehannya. Belum nikah saja Allea sudah mengeluh apalagi nanti ketika sudah menikah, setiap hari Allea akan mendengarkan kecerewetan Gibran.
"Kita makan ayam bakar aja ya di di deket taman, biasanya kan kamu suka makanannya!"
"He'eh!"
Gibran mulai frustasi dengan sikap Allea, entah apa yang harus dilakukannya agar mood anak satu ini kembali baik.
"Kamu jangan cuek-cuek gitu dong Le, kakak kan jadi pusing" ucap Gibran kesal.
"Yaudah! Turunin Lea disini, Lea bis pulang sendiri kok!" ucapnya ketus.
Gibran menggeleng-gelengkan kepalanya, gadis ini benar-benar seperti monster jika badmood begini. Daripada terus-menerus terkena semburan kobra Gibran memilih diam dan melajukan mobilnya ke arah taman kota.
Saat tiba disana Allea turun dan berjalan mendahului Gibran. Allea memilih duduk di sudut restoran agar bisa menikmati ketenangan. Gibran berjalan terburu-buru melihat adik kecilnya sudah duduk.
"Main tinggal-tinggal aja sih Le" ucap Gibran ketika dia sudah duduk .
"Lelet sih kayak siput Spongebob!"
"Sensi amat sih dek, lagi datang bulan ya?" gurau Gibran.
Ingin rasanya Allea memukul Gibran saat itu namun pelayan sudah datang di depan mereka.
"Mau pesan apa mbak, mas?" ucapnya sopan.
"Ayam bakar 2, steak 1, nasi putih 2, sup buah 1, jus alpukat 1, jus mangga 1, puding coklat 1."
"Baik, tunggu sebentar ya mbak, mas" ucap pelayan tersebut lalu meninggalkan mereka berdua.
"Banyak banget Le, temen kamu mau datang?" tanya Gibran melihat Allea memesan banyak makanan.
"Laper! Dari tadi ngajak keluar bukannya ngajakin makan dulu, aku tuh laper dari pagi belum makan kak!" sarkas Allea membuat nyali Gibran menciut seketika. Allea bener-bener mirip macan.
"Kamu gak ngomong sih."
"Udah diem!"
'Jangan-jangan dia galak gini karena laper, duhh **** benar' batin Gibran mengutuki kebodohannya.
"Apa lihat-lihat?" sarkas Allea dengan mata yang hampir keluar dari tempatnya.
"Jangan galak-galak Le, kakak takut liat kamu kayak gini" ucap Gibran.
"Bodo! Kakak itu udah menghanguskan paket sembako, junk food dan belanja aku tau gak!" ucap Allea mengingat janji Mutiara tadi.
"Maksudnya?" tanya Gibran bingung.
"Tadi Mutiara mau traktir aku kak, dan lihat yang kakak lakukan, kakak malah ngajakin aku beli gaun pengantin yang bisa kita buat kapan aja!"
'Oo..dia galak gara-gara ini' batin Gibran.
"Kakak kan udah kasi kamu ATM, kenapa kamu malah minta traktiran ke orang Le, kurang yang kakak kasi?" tanya Gibran.
"Itu kan ATM kamu kak Gibran bukan punya Lea!"
"Astaga! Itu kakak kasi buat kamu, kamu bebas gunain itu sesuka hati kamu, kalo abis bakalan kakak transfer lagi!" terang Gibran. Ia benar-benar tak habis fikir Allea belum menggunakannya sampai hari ini.
"Gak mau! Allea pengen punya ATM sendiri!" tajuk Allea.
"Itu kan udah punya kamu!"
"Gak mau! Allea takut kak Gibran lihat-lihat kalo Lea beli apa aja!"
Gibran menggeleng-gelengkan kepalanya, bisa-bisanya bocah di depannya ini berkata begitu.
"Yaudah terserah, besok kamu ke Bank terus kamu buka rekening terus buat ATM pribadi terus transfer kesana. Bisa kan?" ucap Gibran.
"Serius?" ucap Allea antusias.
"Iya dong!" sahut Gibran lalu mengacak-acak rambut Allea.
"Duitnya?" ucap Allea cengar-cengir dengan sebelah tangan tengadah di depan Gibran.
"Matre ya sekarang adeknya kakak" ucap Gibran tertawa dan merogoh kantongnya.
"Bodo amat!" ucap Allea nyengir.
"Nih!" ucap Gibran memberikan uang seratus ribuan entah berapa lembar sangking banyaknya.
"Banyak banget kak, wadidaww" ucap Allea menghitung jumlah uang tersebut.
"Sekalian buat jajan!"
"Asyiiik!!!"
- Lonely For You Only (slice of life)
- Haunted School : Repeat 1989 (time travel + horror)
Mari saling mendukung, semangat untuk author♡
, smga bisa up tiap hari yaaa
1. My Innocent Girl (up)
2. I Love You Badly (masih new)
jangan lupa mampir ya guys, aku tunggu loh ya like, komen, dan juga vote okeeyyy? okey dongg wkwkk :v🙏
kenapa harus like dan komen?
-yaa karena like dan komen kalianlah yang bisa bikin Author semangat🤗
Sekian dan terimakasihh luvv🙏💛✨🤗
1.My Innocent Girl
2.I Love You Badly
jangan lupa ya mampir, aku tunggu like, komen dan vote juga yaa🙏😇🤗✨
luvvv bangettt💛😚
-JE; Sang takdir
-Touch Of Love
cuss bacaa jan lupa tinggalkan jejaakk🤗
tkan prfil q aja yaaa😍
vielen danke😘