"Kalau hati sudah memilih, otakku ini bisa apa?!"
Devian Almero, sosok pria tampan yang sama sekali tak mengerti perihal cinta sebelum bertemu dengan Diandra.
Ya, Diandra. Gadis manis itu mampu menggetarkan hati Devian saat awal perjumpaan.
Hingga akhirnya Devian nekad mengejar Diandra dan langsung mengklaim gadis itu sebagai milik. Berjalannya waktu, hujan rasa kasih sayang yang diberikan Devian, akhirnya mampu menaklukan hatinya.
Namun, sebuah fakta mencengangkan muncul di saat keduanya memadu kasih. Diandra baru mengetahui bahwa pasangannya itu ialah 1 diantara 7 anggota psikopat dari Keluarga Breadsley.
Sanggupkah Diandra menjalani hidup bersama Devian, sang psikopat tampan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan berujung celaka
Sebuah mobil putih berhenti tepat di hadapan Diandra. Ia saat ini sedang berdiri di depan gerbang sekolah seperti biasa menunggu jemputan sang pacar.
Mobil putih itu tak lain dikemudikan oleh Gio. Ia menurunkan kaca tanpa turun dari mobil, menyapa Diandra yang berdiri di sana.
"Ndra, jangan pasang tampang cute gitu ah! Takut nanti jalanan sini berubah jadi daerah rawan kecelakaan." Gio menggoda sambil cengingisan. Kayaknya nih cowok obatnya habis. Kumat lagi sengklek otaknya.
"Maksud lo apa? Ih gajelas banget lo!" Diandra menggerutu seraya meruncingkan bibir.
"Iya lah secara orang yang lewat jalan sini pada gagal fokus pas nyetir gara-gara teralihkan sama wajah lo yang cantiknya nggak sopan gitu." Tawa jenaka teruar. Bagi Gio sehari aja nggak godain si Diandra, terasa hambar hidupnya. Macam makan sayur tanpa garam.
"Pergi sana nyet! Gue malah jijik di gombalin sama monyet kaya lo." Ketawa ketiwi Diandra mengacungkan kepalan.
"Iya iya gue pergi. Kabarin gue kalau si tengil itu kelamaan jemputin lo, gue yang bakal tancap gas jemput lo di sini. Oke."
"Satu lagi, kalau udah nyampek rumah juga kabarin gue ya. Biar hati abang lega neng." Seringai jahil mengerling. Dibalas kesan cuek oleh Diandra.
Diandra memutar bola mata malas. "iya bawel banget ah!"
Gio mulai menjalankan mobil, meninggalkan Diandra sendiri di sana. Cowok pecinta anime Naruto itu sempat mengkhawatirkan Diandra. Takut jika pacar sahabatnya yang bernama Devian itu telat lagi menjemput Diandra. Di tambah lagi awan pekat sore ini menandakan sebentar lagi akan turun hujan.
Benda pipih dalam saku Diandra berdering nyaring. "pasti Devian," katanya seraya mengambil benda pipih itu dari dalam saku.
Senyum sumringah tercetak di wajah gadis manis itu melihat di layar ponselnya nama Devian yang muncul.
"Hallo Devian, lo di mana? Kaki gue pegel nih!" dengus Diandra kesal.
"Soory sweetie lo jadi nunggu gue lama. Coba sekarang lo noleh ke kanan."
Panggilan itu masih berlangsung. Sambil menggenggam ponsel yang masih menempel di telinganya, Diandra menoleh ke kanan sesuai perintah yang dipinta oleh Devian.
"Devian, lo--" Senyum Diandra kembali merekah. Tangan kanannya menutupi bibirnya yang sedikit ternganga. Dari kejauhan terlihat olehnya sebuah tangan terulur keluar dari jendela mobil menggenggam banyak tali yang terhubung ke balon pink berterbangan berbentuk love.
Diandra memutuskan mendekat mendatangi mobil Devian di sana. Merasa tak sabar ingin segera mendekap tubuh yang sering tercium olehnya ber aroma khas menenangkan. Mengayunkan kaki semangat di bahu jalan tanpa menurunkan ponselnya dari telinga. Dia semakin mempercepat langkahnya melihat pacar tampanya mulai muncul keluar dari mobil.
Tapi sayangnya, saat beberapa langkah lagi Diandra akan sampai di sana, dari arah berlawanan melaju kencang sebuah mobil pajero. Anehnya mobil itu semakin memakan jalan ke jalur berlawanan dan bruggg ....
"Diandra!!" teriak Devian lalu segera berlari menghampiri cewek yang kini terbaring di jalan. Tali balon yang berada di genggamanya terlepas. Ia menyaksikan sendiri di hadapanya wanita yang ia sayangi itu tertabrak. Kejutan yang ia siapkan untuk Diandra berubah berujung celaka.
Tubuh ramping itu sempat terpental bersama ponselnya yang ikut membumbung ke udara. Mobil yang menabrak Diandra pun langsung pergi, kabur menghilang lari dari tanggung jawab.
"Sayang bangun! Please bangun sayang." Setibanya Devian langsung merangkul tubuh lemah yang tak sadarkan diri. Telapak tangannya basah oleh cairan merah segar. Ia yang harusnya senang melihat darah, justru berbalik takut luar biasa melihat darah sang pacar. Tangisnya tak dapat lagi tertahan. Ketakutan menjalari. Baru sekali ini ia merasa sekacau ini.
Gemetaran tangan Devian menekan satu per satu tombol angka di ponselnya menghubungi pihak rumah sakit.
*
"Ber*ngs*k lo Devian! Gara-gara lo Diandra jadi begini. Gue bunuh lo Devian kalau sampai terjadi apa-apa sama Diandra!" Gio mengamuk. Mencengkram kuat kerah kemeja seorang cowok yang sedang berdiri di depan ruang UGD.
Gio berada di sini setelah Devian menjawab panggilan dari Gio di ponsel Diandra. Memberitahu Gio jika Diandra sedang mengalami insiden tabrak lari. Waktu itu Gio menghubungi Diandra karena sahabatnya itu tak juga segera menghubunginya setelah sampai di rumah sesuai pesan yang ia ucapkan sebelum pergi meninggalkan Diandra di sana. Betapa menyesalnya Gio saat ini. Andai dia tahu kalau semua akan terjadi seperti ini, ia akan memaksa Diandra ikut denganya daripada menunggu jemputan yang berujung celaka.
Bibir Devian terkatup rapat. Pandanganya kosong. Pasrah menerima amukan dari Gio begitu saja. Berbanding jauh dengan sebelumnya saat keduanya saling perang mulut.
Gio mendorong kasar bersamaan melepaskan cengkramanya. Pukulan bogem ia layangkan ke dinding melampiaskan amarah.
Selepasnya cengkraman itu, bersamaan dengan tubuh Devian yang meluruh terduduk lemah di samping pintu. Menutupi kepalanya dengan kedua tangan yang bertumpu di atas betis. Lagi air mata longsor membasahi pipi. Dalam hati ia menyalahkan dirinya sendiri. Andai ia tak memarkir mobil di sana dan langsung berhenti di depan Diandra mungkin hal ini tak akan pernah terjadi. Rasa sakitnya saat ini sama seperti yang ia rasakan di masa lalu saat melihat kedua orang tuanya tewas terbunuh.
Tak lama, keluar perawat dari dalam ruangan. Devian kontan segera berdiri.
perawat memberitahu pada pihak yang bersangkutan jika pasien masih dalam keadaan belum sadarkan diri.
"Setelah ini pasien akan kami bawa ke ruang perawatan. Kita sama-sama berdoa semoga pasien segera sadar." Perawat menjelaskan lalu pergi. Devian membuang nafas lelah. Berjalan gelisah mondar mandiri di depan ruang UGD.
Suara banyak derap kaki semakin mendekat. Semua anggota Keluarga Breadsley datang menyusul setelah mendapat kabar dari Devian.
"Gimana keadaan pacar lo?" Chester nampak cemas. Menepuk punggung Devian tanda agar Devian lebih tabah.
"Belum sadar." Devian menjawab secukupnya.
"Tenang. Arley dan Felix pasti bisa nyari informasi tentang pelaku. Kalau ketangkep gue ungkep dagingnya dalam tungku buat makan Coki." Coki nama yang diberikan Chester untuk anjing pit bull di rumahnya.
Tetap saja Devian tak bisa tenang mengetahui keadaan Diandra yang saat ini masih bisa di katakan belum baik-baik saja. Bahkan pacarnya itu sampai belum sadar hingga sekarang.
"Eh siapa lo? Ngapain di sini?" tanyanya ketus sambil berjalan. Danzel yang baru datang menyenggol bahu Gio dari belakang. Memposisikan dirinya kini berdiri tepat di hadapan Gio yang sedang berdiri. Devian pernah menceritakan kepada mereka para Keluarga Breadsley kalau ia pernah di tantang berduel oleh sosok bocah SMA satu sekolah dengan pacarnya. Danzel menduga bocah yang berdiri di depannya ini ialah bocah yang sama dimaksudkan oleh Devian.
Gio menatap Danzel dingin. Jelas ia tak suka diperlakukan seremeh ini.
"Lo nggak usah songong! Kalau ini bukan rumah sakit, udah gue layangin nih tonjokan ke pipi lo yang nggak seberapa mulus itu!" Ancaman Gio di tanggapi santai oleh Danzel. Cowok itu membulatkan bibirnya, bergaya seakan takut dengan ancaman dari lawanya.
Danzel membungkuk setengah badan berada tepat di samping telinga Gio. Dia berbisik, "Kalau gitu yuk di lanjutin di luar. Gue lama nih nggak matahin leher orang."
*
Hari ini Diandra belum juga sadar setelahnya ia dipindah ke ruang rawat inap. Di samping ranjangnya seorang cowok duduk setia menunggu, menyimpan tangan Diandra dalam genggaman.
Tampangnya nampak tak karuan. Terbukti dengan bagian bawah matanya yang nampak menghitam. Jelas saja menghitam, semalaman ia terus terjaga tanpa sedikitpun melepas pandanganya memantau cewek yang tergeletak di ranjang. Menanti, menunggu penuh harap agar cewek itu lekas sadar. Bahkan ia tak peduli dengan rasa perih yang mendera perutnya karena menahan lapar.
Suara daun pintu diturunkan. Bersamaan dengan itu muncul cewek dari balik pintu dengan tentengan bawaan memenuhi kedua tanganya.
Cewek itu berjalan mendekati cowok yang sedang duduk tanpa menutup pintu kembali.
"Devian," panggilnya berdiri di depan ranjang.
Devian bergeming. Bibirnya terkatup rapat tak merespon panggilan saat namanya disebut.
Zea menghela nafas. Mungkin ia harus menambah stock sabar menilai selama ini Devian selalu bersikap dingin padanya. Mendapatkan perhatian dari Devian pun, cewek ini sekalipun belum pernah merasakannya.
"Gimana keadaan Diandra? Dia baik-baik aja kan?" Zea berjalan mendekati nakas, menyimpan bawaannya berupa snack camilan juga buah-buahan. Ia mengeluarkan kotak bekal berisikan nasi lengkap dengan masakan yang sengaja ia buatkan khusus untuk Devian.
"Mata lo buta?! Jelas dia belum sadar. Kakinya juga patah." perkataan Devian terdengar sadis namun ia tetap merendahkan volume suaranya menilai dirinya saat ini masih berada di lingkungan rumah sakit.
"Oh!" Zea memutar bola mata malas di belakang Devian. Memposisikan dirinya kini berdiri di samping Devian.
"Ini gue bawain makan. Lo pasti belum makan. Makan dulu ya. Gue takut lo sakit." Kotak bekal berwarna biru muda ia sodorkan. Menanti respon Devian penuh harap agar mau menerima pemberianya.
"Gue nggak butuh. Nggak usah sok peduli."
Dalam batin Zea berteriak kesal. Cowok kulkas nggak tahu diri itu benar-benar membuatnya muak. Niat baiknya sedikitpun tak di hargai oleh cowok yang ia kejar.
"Tapi Devian lo bisa--"
"Diem jangan banyak ba*ot. Lo bawa pergi atau gue lempar tu makanan ke tong sampah!"
Baru kali ini Devian mengalihkan pandanganya dari Diandra. Menatap Zea tajam. Tatapan Devian seperti itu sukses membuat tubuhnya gemetar. Merasa dikuliti di tempat saat Zea mendengar ancaman tersebut.
"Jgn mudah percaya ucapan org lain, walaupun dg bukti yg nyata, krn org licik bisa melakukan apapun itu. Jgn sprti Devian yg mudah percaya kalo Zea adl Melody masa lalunya tnp menyelidikinya terlebih dahulu, sampai mengabaikan & menyakiti Diandra. Tegaslah dlm berprinsip, jgn ingin keduanya tp mengabaikan org yg tulus dg nya. & ternyata Diandra adl Melody masa lalunya."
"Jk kita mencintai seseorg, kita hrs bisa mnjaga kepercayaannya, mnjaga hati, pikiran & tubuh kita hny utk nya. Jgn sprti Devian yg menyentuh Kimberly hny krn obat perangsang, walaupun Diandra tdk tau saat itu, taunya saat ucapan Kimberly sblm kematian."
...dilanjutin yaaaa..semangat