Karena sifatnya yang terlalu mudah percaya kepada orang lain membuat Nadira terjebak di sebuah kamar dengan seorang laki-laki yang tidak ia kenali. Saat sadar ia sudah tidak mengenakan sehelai benang pun.
Nadira Laura, atau yang kerap dipanggil Dira hidup sebatang kara di dunia ini. Kedua orang tuanya sudah meninggal saat dia berusia 10 tahun akibat kecelakaan. Hidupnya bertambah hancur saat ia dinyatakan positif hamil.
Keputusan yang ia ambil setelah kecelakaan itu adalah meninggalkan kota ini. Ia tidak berniat mencari lelaki yang telah merenggut kehormatannya. Nadira memutuskan mencari kebahagiaan dan membuka lembaran baru dalam hidupnya bersama calon buah hatinya.
Akankah Nadira mendapatkan kebahagiaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rafa Fitriaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Andai saja
Langit memancarkan warna jingga bercampur kuning yang sangat indah dipandang. Senja itu datang, menemani Nadira yang sedang termenung sendiri. Berbagai hal muncul di pikirannya.
"Bunda, lagi apa?"
Terdengar suara lemah dari belakang nya, ia pun menengok melihat anaknya sudah terbangun dan kini sedang menatapnya.
"Anak bunda udah bangun, masih pusing gak? Kita makan dulu yuk," ujar Nadira sembari menghampiri anaknya
Alta mengangguk pelan, "aku udah laper bunda, oh iya, om dokter belom kesini ya bun?" tanyanya
"Belom sayang, sekarang kamu makan dulu ya. Biar nanti pas om dokter kesini kamu udah seger," tutur Nadira
Wanita itu pun segera menyiapkan makanan yang telah disediakan oleh rumah sakit untuk anaknya. Awalnya Alta meminta untuk makan sendiri, tapi Nadira melihat anaknya yang masih lemas pun tak membiarkan itu.
"Bunda, kenapa rasa makanannya hambar?" tanya Alta dengan kening yang sedikit mengerut
"Kan Alta lagi sakit jadi harus makan makanan yang netral dulu, lagi pula ini kan sama seperti yang sering bunda bikin di rumah," jawab Nadira
"Iya, tapi yang ini rasanya hambar bunda."
"Tapi Alta harus tetep makan biar cepet sembuh," kata Nadira yang mau tak mau membuat anak laki-laki itu menurutinya
Beberapa suap telah masuk ke mulut anak itu sampai Alta mengatakan kenyang barulah Nadira menghentikan suapan nya. Tangan Nadira beralih pada kotak obat yang sudah ia tebus juga tadi. Tidak banyak, hanya untuk alergi dan demam saja.
"Sekarang, anak bunda yang ganteng ini minum obat dulu ya, biar makin cepet sembuhnya," ujar Nadira
Alta sontak menutup mulutnya menggunakan tangan dan menggelengkan kepalanya. "Aku gak mau minum obat bunda, pahit."
"Ayo dong sayang, biar kita cepet pulang ke rumah ya."
"Gak mau!" Alta tetap menutup mulutnya
Cklek..
Pintu terbuka sedikit lebar memperlihatkan seorang laki-laki dengan jas dokter yang melekat di tubuhnya. Dengan senyum manisnya laki-laki itu perlahan masuk ke dalam menghampiri bangsal tempat Alta tidur.
"Om dokter!" pekik Alta yang merasa sangat senang, orang yang ia tunggu sudah datang.
"Hallo, anak ganteng. Kenapa kok mukanya cemberut gitu?" tanya Afnan masih dengan senyum manisnya sambil mengusap puncak kepala Alta
"Aku gak mau minum obat om, pahit, gak enak," tuturnya
"Kata siapa gak enak? Kan kamu belum coba obatnya. Coba sini biar om dokter yang kasih, masa iya om dokter tega kasih kamu obat pahit." Afnan meraih botol obat yang berada di tangan Nadira lalu menuangkannya ke dalam sendok yang telah disediakan.
"Aaaaaa... Buka mulutnya anak ganteng."
Dengan cepat Alta melahap nya, terlihat jelas keningnya sedikit mengernyit saat obat itu masuk ke mulutnya. Namun ekspresi itu langsung tergantikan dengan ekspresi senang, senyumnya sedikit merekah.
"Enak om dokter, manis."
"Nah, kan, kata om dokter juga apa, gak mungkin dong om dokter kasih obat pahit. Sekarang kamu minum obat yang satunya lagi ya." Afnan segera menuangkan satu obat lagi ke dalam sendok dan mengarahkan nya ke mulut Alta.
"Oke, selesai anak manis. Istirahat ya sekarang, biar obatnya bekerja dengan baik."
Alta menggelengkan kepalanya sambil cemberut lalu bersikap dada membuat Nadira serta Afnan yang berada di ruangan tersebut kebingungan. Ada apa lagi dengan anak ini?
"Alta gak mau istirahat!"
"Loh kenapa sayang? Alta kan mau cepet sembuh bukan, biar cepet pulang juga," ujar Nadira dengan lembut
"Om dokter lupa ya sama janji om dokter!" Alta sedikit meninggikan nada suaranya
"Alta, gak boleh gitu, gak sopan sayang," ucap Nadira menegur anaknya
Alta memberenggut kesal lalu menggeser posisinya menjadi lebih dekat dengan Nadira dan memeluk bunda nya itu. Afnan semakin kebingungan melihat salah satu pasien nya ini, ia jarang bertemu dan berinteraksi dengan anak kecil.
"Alta, om bener bener lupa sama yang om janjiin. Jadi, gimana kalau Alta kasih tau dulu om apa yang udah om janjiin," kata Afnan mencoba membujuk anak itu
Alta melirik sebentar Afnan lalu kembali mengalihkan pandangannya. "Om tadi janji mau temenin Alta disini," ucapnya
Afnan menghela nafas panjang dan merutuki dirinya sendiri kenapa hal sesimpel ini ia bisa lupa. "Oh, yang itu. Oke, sekarang om bakalan temenin kamu disini, kamu mau apa sekarang?"
Sebelum anaknya menjawab Nadira lebih dulu mengeluarkan suaranya karena mendengar keputusan laki-laki yang ada di hadapannya. "Tapi dok, apa dokter tidak punya pasien lain yang perlu di periksa? Takutnya mengganggu pekerjaan dokter, jika masih ada pasien lagi tidak apa, saya bisa memberi pengertian kepada anak saya," tutur Nadira dengan panjang lebar
"Saya tidak punya pasien setelah ini, lagi pula saya sudah janji jadi harus ditepati," jawab Afnan membuat Nadira mengangguk paham
"Om, Alta pengen dong diceritain dongeng kayak temen temen Alta yang diceritain dongeng sama ayahnya," ujar anak itu secara tiba-tiba
Nadira yang tadinya sedang fokus pada ponselnya mendadak berhenti dan menatap sendu ke arah anaknya, hatinya semakin teriris.
"Emangnya, ayah Alta kemana?" tanya Afnan
Alta menghela nafas seperti orang dewasa. "Kata bunda, ayah Alta lagi kerja jauh banget. Buat beliin Alta mainan yang banyak, tapi gak pulang pulang. Jadi, om aja ya yang bacain aku dongeng sebelum ayah pulang."
Afnan pun segera duduk di tepi ranjang anak itu melihat Alta mulai sedikit berkaca-kaca. "Oke, dongeng apa ya yang bagus. Eumm, gimana kalau tentang pangeran yang sedang mencari ayahnya?" tanya Afnan yang membuat Alta mengangguk setuju
Laki-laki itu membawa Alta ke dalam dekapannya. "Dikisahkan seorang pangeran yang sangat tampan di sebuah kerajaan yang sangat terkenal selalu kesepian setiap harinya. Walaupun selalu banyak yang menemaninya. Ibunya, teman temannya, bahkan pengawalnya. Tapi ia selalu merasa kesepian karena tidak ada ayah disisinya, seperti kebanyakan teman temannya."
"Pangeran itu tumbuh dewasa dan terbiasa hidup tanpa ayahnya. Suatu ketika saat ia sedang duduk sendirian tiba-tiba datang seorang laki-laki yang lebih tua dengannya. Awalnya pangeran itu kebingungan, tapi setelah dijelaskan ternyata laki-laki itu adalah ayahnya yang selama ini dia tunggu. Pangeran sangat bahagia sekali, karena seseorang yang ia tunggu telah tiba. Dan Pangeran pun hidup bahagia bersama ayah dan ibunya. Tamat."
Alta menatap seksama ke arah Afnan dengan mata yang sedikit berkaca kaca. "Berarti Alta bisa ketemu sama ayah Alta juga kan om?" tanyanya
"Bisa dong, asal kamu harus sabar. Ayahnya Alta kan lagi kerja, pasti pulang," jawab Afnan
"Yes! Nanti kalau ayah udah dateng, aku bakal pamerin ke semua orang yang udah ejek aku!" seru Alta dengan lantangnya
"Alta sekarang istirahat dulu ya."
"Tapi, nanti om ninggalin aku lagi kalau aku tidur."
"Nggak, om bakal temenin kamu. Kalau gak percaya besok pagi juga om udah ada disini lagi," kata Afnan sambil tersenyum mengingat sekarang sudah cukup malam
Alta pun mengangguk patuh dan mulai membenahi tidurnya agar nyaman. Tak lupa ia memegang tangan sang dokter, seolah takut ditinggalkan.
Nadira yang melihat itu pun meneteskan air matanya, namun buru-buru ia hapus agar tidak ada yang melihat. Anak yang ia kira kuat dan tak pernah menanyakan perihal ayahnya, kini dihadapan orang asing ia mengakui itu. Hati Nadira sangat teriris, namun bagaimana ini sudah jalan hidupnya. Sejenak terlintas di pikiran nya, apa ayah anaknya akan memperlakukan Alta sama seperti yang dilakukan dokter Afnan? Andai saja lelaki itu dokter Afnan, mungkin ia tidak akan seperti ini. Ah, Nadira ini berpikiran kemana saja. Tidak mungkin laki-laki seperti dokter Afnan mau dengan dia yang sudah memiliki anak yang ayahnya entah dimana.