Berawal dari sebuah janji anak laki - laki korban pencukikan yang tak sengaja ia temukan. Bak adanya benang merah yang selalu mengikatnya, seorang Sora Yunara Malik seakan tidak dapat menerima kehadiran lelaki lain yang menyatakan cinta padanya.
"Pakai ini. Suatu saat aku sudah dewasa, aku akan cari kamu. Dan kita akan menikah."
~Park Ar Han
"Bertahun - tahun berlalu, Lo gak kunjung datang cari gue. Padahal rumah gue belum pindah. Lo udah ngiket gue dengan janji yang Lo kasih tau gak?"
~Sora Yunara Malik
****
Akankah penantian si cantik Sora akan berakhir bahagia?
Simak kisahnya di THIS LOVE.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon red_rubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15. Tamu di Pagi Hari
Ting tong...
Ting tong...
Bik Murni bergegas membukakan pintu untuk tamu yang sudah berkunjung sepagi ini.
Ceklek, pintu terbuka.
"Eh?" Bik Murni terperanjat melihat sosok berseragam yang sama dengan anak majikannya. Bukan karena masalah seragam yang sama, tapi sosok berwajah rupawan bermata sedikit sipit kini tengah menebarkan senyum padanya.
"Assalamualaikum, Bik!" sapa Ar Han.
Ar Han terdiam, ia heran kenapa wanita paruh baya ini seakan-akan menjadi korban hipnotis orang jahat.
"Bik!" Ar Han melambaikan tangannya ke depan wajah Bik Murni.
"Eh! Iya Den, cari siapa ya?" sahut Bik Murni masih terpana dengan pesona Ar Han.
"Cari Sora, Bik. Udah janjian buat berangkat bareng," ucap Ar Han ditumbuhi dengan kebohongan.
"O... Masuk dulu Den. Biar Bibik panggilkan Non Sora dulu. Kayaknya belum turun buat sarapan. Adennya datang kepagian soalnya," Bik Murni nyengir di akhir kalimatnya.
"Iya, Bik. Saya masuk ya?" Ar Han melangkahkan kakinya ke sofa ruang tamu. "Gak berubah," gumamnya saat mendapati suasana rumah Sora masih sama seperti delapan tahun lalu.
Bik Murni memperhatikan langkah tamu tuan rumahnya dan bergumam, "Ya Allah... Mimpi apa aku tadi malam? Kok pagi-pagi didatangi oppa-oppa Korea." Bik Murni langsung menggelengkan kepalanya, seakan sadar atas ucapan absurdnya.
Oppa-oppa Korea-nya cari Sora ya, Bik. Bukan cari Bik.
Setelah memastikan sang tamu duduk dengan nyaman, Bik Murni langsung bergegas menghampiri majikannya yang tengah sarapan. Dan ternyata di sana sudah ada Sora yang tengah berdebar dengan sang adik, Zian.
"Non! Non Sora dicari temannya. Katanya mau jemput Non Sora," tutur Bik Murni.
"Jemput Sora, Bik?" Sora memastikan perkataan Bik Murni agar tidak salah tangkap.
"Iya, Non," Bik Murni membenarkan. "Temannya cakep ya, Non? Oppa-oppa Korea. Kinclong dan glowing," gurau Bik Murni.
Zain mengerutkan keningnya mendengar ucapan Bik Murni. Sejak kapan anak sulungnya ini berteman dengan oppa-oppa? "Sejak kapan kamu punya teman kakek-kakek, Kak?" tanya Zain yang gagal faham.
Plaak...
Anye menepuk tangan suaminya yang asal bicara.
"Bukan kakek-kakek, Mas. Tapi oppa-oppa," sewot Anye.
"Ya sama kan? Opa-opa, ya kakek-kakek?" sahut Zain enteng.
"Ck. Oppa-oppa Korea itu cowok
-cowok muda, Mas. Kalau kakek-kakek ya aki-aki," Anye bertambah sewot. Pagi-pagi suaminya ini sudah ngajak debat.
"Tetap sama," Zain bersikukuh dengan pendiriannya.
"Au ah," Anye ngambek. "Nanti jangan nyebelin kayak Daddy ya, Nak," ucapnya pada calon bayinya. "Abang Zian juga, nanti kalau sudah gede jangan nyebelin kayak Daddy," lanjutnya berpesan pada anak keduanya, yang ditanggapi dengan wajah datarnya. Sudah bisa dipastikan, anak keduanya ini tidak kalah menyebalkan dari daddy-nya.
Beda halnya dengan sang daddy, Sora tahu siapa yang dimaksud Bik Murni. Tapi, apa iya orang itu udah muncul saja di rumahnya sepagi ini? Kurang kerjaan.
Tak ingin merasa penasaran lebih lama lagi, Sora bergegas menemui tamunya yang Bik Murni bilang oppa-opa Korea.
Dan sesuai prediksinya, ternyata benar orang yang dimaksud Bik Murni adalah Ar Han. "Ngapain pagi-pagi udah sampai sini?" ketus gadis itu. Ia masih marah pada pemuda ini.
Ar Han menoleh ke arah suara yang menyapanya. Pemuda itu hanya memberi senyum menawannya, dan itu berhasil membuat Sora meleleh.
Tidak, tidak. Ia tidak boleh luluh begitu saja pada pemuda satu ini. "Ditanya malah senyum. Mau apa pagi-pagi udah sampai sini? Mau numpang sarapan?"
"Apa boleh?" jawab Ar Han yang terdengar sangat menyebalkan di telinga Sora.
Mulut Sora seketika menganga mendengar sahutan dari Ar Han. Pemuda ini tidak hanya sableng, tapi juga menyebalkan di matanya.
"E---" ucapan Sora menggantung di udara, seketika orang-orang yang ada di ruang makan mengikutinya ke ruang tamu.
"Loh! Kamu kan yang nolongin Sora sama Pak Min dari begal itu kan?" suara Anye menghentikan perdebatan antara sepasang anak manusia yang tengah berseteru itu.
"Iya, Tante," Ar Han berdiri dari duduknya dan menghampiri Zain dan Anye untuk menyalami orangtua dari gadisnya.
"Cehh... Caper," sindir Sora.
Plaak.
Anye menepuk pundak Sora. "Bukan caper. Tapi ini bentuk sopan santun pada yang lebih tua."
"Kenapa sepagi ini sudah sampai sini?" tanya Zain dengan wajah yang mengintimidasi. Namun, tidak membuat Ar Han gentar sedikitpun.
Bukan iya tidak tahu dengan maksud pemuda ini, ia juga pernah muda. Dan dapat Zain lihat dari tatapan pemuda ini terhadap Putri semata wayangnya, ada sesuatu yang tersimpan di sana.
"Saya mau jemput Sora, Om Tante," jawab Ar Han dengan sopan.
"Kamu hati-hati bawa anak saya," ucap Zain dengan nada yang serius.
"Baik, Om." Ar Han menunjukkan senyum penuh kemenangan pada Sora, karena berhasil mendapat izin orangtua gadis itu.
Pandangan Ar Han kini tertuju pada bocah kelas dua SD di samping Sora. "Dia pasti si kecil Zian?"
"Iya. Adik pertama Sora. Dan satu lagi masih dalam pertumbuhan," sahut Anye sambil mengelus perutnya. "Kamu sudah sarapan? Sarapan bareng yuk."
"Udah, Tante."
Anye mengangguk. "Ya udah kalau gitu. Kamu lanjut sarapan dulu, Kak." Titah Anye, karena putrinya tadi baru sarapan sedikit. "Tante tinggal dulu ya, Ar Han."
"Iya, Tante."
Selang sepuluh menit. Kini Ar Han sudah menunggu Sora di atas motorsportnya. Ar Han dengan sabar menunggu Sora yang tengah berbalik ke kamar untuk mengambil celana trainingnya.
Sora keluar dengan bibir manyun lima sentinya, dan Ar Han langsung memasangkan helm pada gadis yang terlihat menggemaskan ketika sedang marah.
"Jangan ngambek terus. Nanti cantiknya hilang," goda Ar Han. Namun, sayangnya itu malah membuat Sora malah memelototkan matanya, dan membuat Ar Han tergelak puas.
...----------------...
...Tekan tombol like dan komennya ya...
TPI CURIGA INI KYK NYA SORA SNGAJA DITABRAK..
MAKANYA AKU SANGAT BRUNTUNG, DIPRNIKAHN KDUAKU, BISA DPT ISTRI SEORANG USTADZAH,, JDI AKU TDK KUATIR AKN PENDIDIKN AGAMA UNTUK ANAK2KU.. APALAGI AKU HNY SEORANG MUALAF, SEORANG MNTAN NAPI YG MINIM ILMU AGAMA... APALAGI NYANTRI KURANG LBH SETAHUN, HNY SBAGAI SANTRI LEPAS, KRN AKU SAMBIL BKERJA.. JDI TERBAGI WAKTUKU.