Alih-alih melawan takdir dan hasrat untuk meninggalkan sang mantan, Rinjani menelan cinta dari dua lelaki keturunan bangsawan Jawa dengan cara “anglaras ilining banyu angeli, ananging ora keli” sampai di usia senja.
Sementara itu, sudah lama Kaysan membuat surat wasiat untuk Rinjani dan adiknya hingga kedamaian di rumah utama dan pelangi tidak lagi warna-warni seperti sedia kala.
Lantas bagaimana akhir dari prahara cinta segitiga trah Adiguna Pangarep yang tak pernah usai? Apakah wasiat dan warisan itu menjadikan hubungan Rinjani dan Nanang kian semrawut ataukah cinta sejati yang digadang-gadang sebagai cikal bakal wasiat itu terus terjalin hingga mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skavivi selfish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KINASIH 15
...Kau datang dengan sederhana. Tanpa karsa....
...Sementara kau menduga-duga rasa, aku sudah tersesat di sana. Rasa untukmu. _Kaysan....
...***...
Rumah sepi, namun hatiku ramai penuh tanya dalam diri. Aku ingin memiliki penjelasan atas izin mas Kaysan memberikan jurnal pribadinya pada Nanang daripada aku. Istrinya. Rasanya terkuak ke mana saja dan bersemayam di sanubari sekeluarga. Begitu banyak alasan untuk mempertanyakan kenapa? Apakah aku selalu menjadi yang kedua, menjadi yang paling lemah mengetahuinya.
Aku lihat anak-anak tidak ada yang begitu mendalami buku itu sampai menangis atau frustasi karena isinya begitu menyayat hati bahkan Pandu teramat santai membacanya seolah-olah dia hanya membaca kabar berita. Aku heran, hati mereka apakah tidak tersentuh ayahnya seperti pujangga cinta begitu?
Aku membiarkan matahari menyentuh wajahku. Di taman pribadi ini aku menanti mas Kaysan datang untuk berjemur sembari menghirup aroma jamu beras kencur. Seluruh badanku pegal-pegal, semalam aku dan Nanang perlu keliling kota dulu untuk menenangkan si kembar agar tertidur sampai rasanya hari ini aku sama sekali tidak bergairah untuk melakukan aktivitas.
Sesungguhnya aku ingin sekali santai-santai saja, namun sepertinya kesempatan belum ada. Aku melihat Pandu keluar dari rumah Nanang, ia berjalan ke arahku membawa buku jurnal pribadi bersampul hijau itu dengan penampilan segar dan senyum yang semanis nira pohon lontar.
Gelagat itu membuatku curiga, itu seperti aku waktu iseng. Aku meyakini bawah Pandu sedang ingin menggodaku dan...
“Selamat pagi matahari kecilku. Saya serahkan buku ini kepada engkau yang menggemaskan dan cerewet sampai-sampai aku terhibur karenamu.” Pandu berlutut sembari mengulurkan tangannya ke arahku.
Aku mendelik dengan bibir cangkir yang menempel di bibirku. Tubuhku langsung kaku-kaku.
“Dinda tidak bersedia menerimanya. Ah!” Pandu meniru wajah mas Kaysan saat cemberut dan menyipit curiga. “Dinda, kanda jadi lemes tak berdaya.”
Aku ingin lari dan bersembunyi, namun aku tidak mampu. Mataku malah melihat Pandu membuka bukunya.
“Lihat langit biru! Tiada pelangi, sebab itu ada di matamu yang sendu, Adindaku.”
Aku memejamkan mata dengan tawa yang ingin meluncur dari mulutku.
“Kamu itu kenapa?” Aku menurunkan cangkir jamu beras kencur ke cawan keramik di sampingku.
Pandu membuka lembar berikutnya. Wajahnya nampak bersungguh-sungguh sebelum menarik napas dalam-dalam.
“Kamu dan segala kenanganmu dengan Nanang, menyatu dengan perasaan ngelu.”
Pandu menepuk-nepuk dadanya seolah-olah ia merasakan sakitnya di dalam sana.
“Jalinan asmara ini seperti kisah Rahwana, Rama dan Sinta, bukan? Kau mengerti maksudnya?”
Pandu terpana, wajahnya berpadu dengan anggukan.
“Gusti, jika cintanya kepada Rinjani terlarang. Mengapa Kau bangun begitu megah perasaannya kepada permaisuriku.”
Aku sudah sangat hafal dengan kisahan tersebut. Nanang adalah Rahwana, penjahat cinta yang menunggu dan menunggu hal baik terjadi padanya atas cinta yang di bangun begitu megah untukku. Cinta tidak perlu dipaksa, dia mengerti akan itu, dia membiarkannya dengan murah hati. Dia tidak ingin menyakitiku. Aku tidak...
“Aku mencintai Rinjani, Mas! Ternoda atau tidak. Aku akan melakukan apa pun untuknya. Aku benar-benar mencintainya, bukan sepertimu yang menikahinya hanya karena berhasil memenangkan sayembara. Semua perbuatanku yang kau sebut ‘mengacau’ sebenarnya adalah usahaku dalam rangka mendapatkan cintaku kembali.”
Aku terpana, jantungku bergetar. Penggalang kalimat itu nyaris seperti yang Rahwana katakan sebelum melakukan pertempuran dengan Rama. Namun Rahwana kalah di tangannya. Rahwana mati dalam nestapa cinta.
Aku mengangkat tanganku. “Cukup!”
“Ketahuilah Ibunda. Ayahanda tidak akan mampu meninggalkan Ibunda jika Ibu tidak bersama om Nanang.”
Kata-kata itu membuat hatiku semakin mengencang jengkel. Tiada orang yang pantas menggantikan mas Kaysan sekalipun Nanang.
“Ayahmu itu sukanya memberi keputusan sepihak. Apa ibu ini memang tidak berharga baginya sampai-sampai harus menyerahkan ibu pada om-mu.”
Aku membuang tatapanku dengan maksud ngambek, tapi aku membuang tatapanku ke arah yang salah. Mas Kaysan keluar dari rumah utama. Seorang diri menggunakan tongkat penyangga kaki tiga. Buru-buru Pandu menaruh bukunya ke meja seraya menghampiri ayahnya.
“Bunda tidak setuju Ayahanda menitipkan tanggung jawab ke om.” ucapnya memberitahu.
Yungalah... Aku memejamkan mata sembari menghela napas dalam-dalam. Aku ini harus gimana to ya Allah? Aku kudu piye, cinta ini membunuhku!
Aku menggeser posisi dudukku ke kursi paling ujung. Tidak ingin menoleh waktu mas Kaysan duduk di sampingku meski di ujung kursi juga.
“Saya berikan ini ke Nanang agar dia tahu juga isi hati saya terhadap. Saya juga belum mengerti dia menyanggupi permintaan saya atau tidak.”
”Pokoknya aku ngambek sampai mas Kaysan menghapus permintaan itu.” Aku melipat kedua tanganku sambil memunggunginya.
“Sekalipun aku jadi janda, aku janda rock n roll. Aku kuat luar dalam. Tidak perlu dititipkan pada Nanang. Dia sudah tua, kalau mau menitipkan aku, titipkan pada yang berusia muda-mudi dan itu adalah anak kita! Tidak perlu siap-siap!”
“Iya, tapi dengarkan saya dulu. Saya yakin kamu belum membaca sampai akhir.”
Aku merasakan tangan mas Kaysan membelai punggungku. Ya ampun, mas. Di lihat, Pandu!
Punggungku rasanya di gelayari sesuatu yang menggelikan juga menyebalkan. Ingin sekali aku menepis tangannya tapi aku lagi marah.
“Betul. Saya tidak senang mas Kaysan terus membahas cinta di antara kita berdua! Untuk apa?” Aku mencubit pahaku sendiri. Aku ini kue serpong—kusembunyikan stres agar terlihat strong, ini malah ada-ada saja. Di usia ini, di keadaan sekarang.
“Jani nggak mau di tanggung sama Nanang. Carikan saja yang lain, yang muda, yang strong. Tampan dan segar, jangan Nanang!”
“BUNDA.” sergah Pandu. “Jangan ngomong seperti itu di depan Ayahandaku.”
“Canda kok.” Aku semakin memunggunginya mereka berdua. “Jani terus yang salah, Jani lagi. Gitu terus saja sampai aku hanya bisa pasrah.”
“Jangan marah, ini untuk kebaikan kita bersama.”
“Terserah mas.” Aku berdiri, mengambil jamu beras kencurku yang sudah dingin. “Lagian mas harus tahu, Jani ini baru ngambek level atas, Jani ngambek mas Kaysan lebih percaya sama Nanang daripada istri sendiri.”
Kaysan menahan kain yang membelit pinggangku.
“Duduk atau saya tarik ini.”
“Ho'oh to, Ndu. Ayahmu ini tukang maksa. Giliran di adu, kalah, nulis buku diary di pojokan ruang kerja!” Aku menatap Pandu yang mengangkat kedua tangannya. ”Nggak ikut-ikutan, nggak melu-melu. Kabur...”
Dengan cepat dia hilang ke rumah utama. Aku memutar mataku saat tatapan mas Kaysan menjureng kepadaku dan ia memakai masker.
“Tiada tempat curhat terbaik selain buku itu. Saya berbeda dengan kamu.” Mas Kaysan tersenyum.
“Nanang tulus mencintaimu.”
Aku terdiam. Mataku memandangi air kolam yang tersapu angin.
...----------------...
tapi.... kita sebagai orang terdekat yang mengharap kesembuhan tentu kecewa dan sedih dengan kepasrahan itu
mas kay, sini tak puk puk, aku juga pengen peluk kamu lho mas
aah part ini makin bikin mewek, mas kaysan aku paham rasa hatimu.
terkadang betapapun tulus dan rasa sayang kepada pasangan, tapi entah disadari atau tidak, jauh disanubari ada rasa lain yang tersimpan rapi untuk seseorang di masa lalu dan mas kaysan mungkin menyadari itu