Keduanya bertemu tanpa didasari perkenalan dan cinta satu malam terjadi begitu saja.
Sandra meninggalkan pria yang bercinta dengannya semalam. Tanpa ia tahu bahwa pria itu adalah tetangganya sendiri, Damian Ocean seorang duda yang kabarnya akan menikah lagi.
Disisi lain Sandra tengah hamil anaknya. Apa yang harus dilakukan Sandra. Apakah dia harus datang kepada pria itu dan memintanya untuk bertanggung jawab? Atau membesarkan anaknya seorang diri karena ia tidak ingin menjadi seorang pelakor. Konflik lain pun terjadi saat Sandra tahu wanita yang akan menikah dengannya adalah Ibunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan
Sandra sudah berada di New York, ia pergi mengambil penerbangan pagi dengan ditemani Damian.
Permintaan Sandra saat itu adalah, ia setuju menikah dengan Damian tetapi dengan cara sederhana tanpa perayaan juga tanpa kehadiran Merry maupun Sean.
Sebenarnya Damian tidak ingin pernikahan itu secara sederhana. Karena bagaimana pun juga ini adalah pernikahan pertama untuk Sandra. Mau tak mau Damian menyetujuinya.
Untuk wali nikah Sandra nantinya dia akan meminta saudara dari ayahnya yaitu pamannya yang bernama Louis.
Sandra dan Damian berpisah di bandara dan menuju tempat yang berbeda. Damian akan ke anak perusahaannya yang ada di New York sedangkan Sandra pergi ke rumah sakit menemui Merry.
Setibanya di pintu ruang perawatan, Sandra mengambil napas panjang berharap kondisinya yang masih sering mual tidak membuat Merry curiga.
Ini terakhir kalinya Sandra menemui ibunya karena setelah itu pasti perutnya akan terlihat membuncit.
Tok Tok Tok
Sandra mengetuk pintu ruang perawatan, menunggu jawaban dari dalam ruangan. Bella, istri Sean membuka pintu ruangan.
"Sandra, apa kabarmu. Masuklah Ibu baru saja tidur," ucap Bella
"Hai Bella, Aku baik, pekerjaan baruku membuatku sibuk," ucap Sandra yang sedikit berbohong, ia mencium pipi kiri dan kanan Bella.
"Bagaimana keadaan ibu?" tanya Sandra seraya masuk ke dalam
"Ya dia baik, kakinya sudah mendapatkan perawatan baik. Kecelakaan itu membuat tulang Fibulanya, sehingga butuh waktu bahkan empat atau enam bulan untuk sembuh. Tapi diagnosa Dokter kemungkinan enam bulan atau lebih, mengingat umurnya yang sudah tidak muda lagi," ucap Bella
"Oh ibu tidak terlihat tua, dia berumur 53 tahun tetapi masih terlihat seumuran denganku," ucap Bella
"Kau lupa ya, Dia kan dulu seorang model dan memakai skin care terbaik pada masanya, juga sekarang pun dia masih memakainya. Kau tahu perawatan kulit dan tubuh itu penting untuk seorang wanita. Karena kulit kita akan cepat keriput apalagi jika kau sudah memiliki anak ahh tubuhmu tak akan selang sing Merry," ucap Bella berbicara sedikit mengenai mertuanya.
Ya Ibu cantik, Damian saja tertarik dengan Ibu... ah kenapa aku jadi ragu kembali untuk menikah dengan Damian. Bagaimana jika kami serumah dengan Ibu dan cinta mereka bersemi lagi, batin Sandra seraya mengelus perutnya.
Mereka duduk dan berbicara hal lain dengan suara pelan agar tidak mengganggu Merry. Setelah beberapa menit berbincang Bella pamit ingin pulang karena harus menjaga anaknya.
"Aku harus pulang, aku menitipkan anakku di rumah neneknya. Tidak enak jika harus berlama-lama disini. Ada kau, jagalah ibu ya?" ucap Bella
"Terimakasih Bella, salam buat Sean dan juga ponakanku," ucap Sandra
"Baiklah... Sandra hemm sebaiknya kau bicara dengan Sean. Kemarin malam dia membuat kegaduhan di rumah Damian dan merusak pagarnya. Aku takut dia berulah pagi ini di kantor Damian," ucap Bella
"Oh tidak, anak itu," gumam Sandra
"Kau tahu kan, Sean paling menyayangi Ibunya, dia tidak tega melihat Ibunya menderita karena cinta," ucap Bella
"Apakah Ibu sangat mencintai Damian?" tanya Sandra ingin tahu. Karena selama Merry menjalin hubungan dengan Damian, wanita itu tidak pernah pulang ke rumah Ibunya atau bahkan mengunjunginya.
"Sangat, dia selalu memuja Damian jika kami berkumpul. Pagi tadi pun Merry bertanya padaku, apakah Damian datang, kurasa dia belum bisa melupakan mantan kekasihnya itu," ucap Bella
"Astaga bagaimana ini," gumam Sandra
"Ada apa Sandra?"
"Ahh tidak....Maksudku itu berarti Damian harus menemui Ibu, karena mood yang baik bisa membantu proses pemulihan kakinya bukan," ucap Sandra
Bella mengangguk setuju, setelah itu ia pulang kerumah meninggalkan Sandra sendirian.
Dilihatnya Merry yang masih tertidur di ranjang dengan kaki dibalut perban. Kemudian ia mengatur buah-buahan di meja nakas. Di atas meja itu juga ada ponsel Merry.
Sandra berencana memasukkannya ke dalam laci, tapi tak sengaja menekan tombol kunci yang berada di samping. Layar ponselnya pun menyala, menunjukkan foto Damian dan dirinya yang terlihat tertawa bahagia.
Hari Sandra berdesir, dan takut sendiri. Bagaimana mungkin sampai sekarang pun Ibunya bekum bisa melupakan Damian. Apa jadinya jika ia tahu.
"Sandra...," panggil Merry yang terbangun dari tidurnya.
Sandra masih membawa ponsel Merry dengan layar menyala memperlihatkan wallpaper foto Damian dan Merry.
"Ibu... kau sudah bangun," Sandra meletakkan ponsel ibunya ke dalam laci meja nakas
Merry tersenyum, dan mengulurkan tangan meminta Sandra untuk memeluk dirinya.
"Aku sangat merindukanmu, kau terlalu sibuk sampai lupa pulang," ucap Merry
Sandra membalas pelukan ibunya, terasa hangat dan ada perasaan berdosa menyelubungi hatinya.
"Iya Bu, aku bekerja di perusahaan besar sekarang, dan dengan posisi yang sama yaitu manager. Makannya aku tidak ada waktu," ucap Sandra sedikit berbohong padahal selama lima minggu ia menganggur karena bad rest di awal kehamilan.
Setelah itu Sandra melepaskan pelukannya dan mengambil kursi untuk duduk dekat ibunya.
"Bagus lah, kau mempunyai karir yang bagus. Hemm Dia tampan kan," tanya Merry
"Hah?" Sandra tak mengerti maksud Merry
"Itu, foto yang kau lihat di ponselku. Dia Damian, kekasihku....ah tidak...dia mantan kekasih ku,"
"Ibu... masih memikirkannya?," ucap Sandra
"Bagaimana aku tidak memikirkannya, dia sangat perhatian, dia juga pengertian tetapi aku tak menyangka dia tidur dengan perempuan lain. Ahhh kalau saja aku tahu siapa wanita itu aku akan menjambak rambutnya," ucap Merry dengan mempraktekkan bagaimana tangannya menjambak rambut wanita itu.
Sandra membelalakkan matanya dan merasa jika Merry akan menjambak rambutnya.
"Rasanya aku juga ingin mencekiknya dan mengatakan, 'Hey p3l4cur, Damian itu milikku!! Kau menggodanya dengan tubuh mu dasar kau seorang pelakor haha astaga aku jadi gila karena cinta," ungkap Merry
Seketika Sandra terasa sesak, seakan Merry akan tega menyiksa dirinya dan kata-kata kasar yang terlontar dari mulut Ibunya sangat menusuk hatinya. Rasanya sakit seperti sebuah pedang menghunus jantungnya.
"Ah Ibu... itu terlalu ekstrem, Kau seharusnya bersyukur Damian orang yang jujur dengan mengakui kesalahannya. Kau tahu sifat buruknya sebelum menikah dengannya," ucap Sandra yang bertentangan dengan dirinya. Sementara dirinya mau tak mau harus menikah dengan Damian karena anak yang ia kandung
"Ya Sandra, aku harap kau tidak menikah dengan pria macam Damian. Dia sudah selingkuh maka tidak menutup kemungkinan jika dia akan melakukan hal yang sama," ucap Merry
Ibu, maaf aku tidak bisa menuruti nasihat mu. Karena aku mengandung anak Damian, batin Sandra
Di perusahaan Damian, lebih tepatnya anak perusahaannya yang bekerja di bidang retail. Seorang pria membuat kegaduhan dengan membawa linggis. Ia datang tak hanya seorang diri melainkan beberapa temannya.
Menghancurkan kaca kantor dan melukai lengan satpam. Sementara baku tembak terpaksa terjadi karena pria itu tidak dapat di lerai dengan perkataan. Beberapa temannya terluka karena tembakan. Sementara wajah Sean terkena pukulan.
Damian yang baru saja tiba dengan mobilnya terkejut dengan aksi brutal pria itu yang tak lai adalah Sean.
Sean yang tahu Damian baru saja tiba langsung keluar dan ingin menghantam Damian dengan linggisnya.
Dengan gesit Damian berpindah tempat, namun linggis tersebut menancap di atap mobilnya.
"Sean! Apa yang kau lakukan, berhentilah," sergah Damian yang sudah dikelilingi para bodyguardnya yang datang entah dari mana.
Sean dikepung dengan belasan bodyguard yang mengarahkan pistol padanya. Sean tak menyangka jika Damian mempunyai banyak bodyguard. Karena ia tak melihat bodyguard di sampingnya.
"Turunkan, jangan melukainya," perintah Damian.
"Sean, jika kau pria baik-baik dan terhormat bicarakan dengan kepala dingin, jangan brutal seperti ini," sahut Damian
"Cuih, tidak ada dalam kamusku untuk menghormati seorang pecundang seperti mu," sarkas Sean seraya meludah ke arah Damian.
Dalam pikiran Sean, Damian adalah seorang yang tidak memiliki tekad kuat untuk menikahi Ibunya, melepaskan begitu saja setelah bertemu dengan wanita lain.
terima kasih banyak, kk author 🤗