Menikah bersama pria yang kita cintai merupakan impian bagi banyak orang. Namun apa jadinya jika pernikahan tersebut tidak seperti yang kita impikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wind Rahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Ibu Sambung
Jam enam pagi, Dinar sudah siap-siap pergi ke rumah sakit. Nyonya Rose menahannya agar sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat ke sana.
"Mama tahu kau begitu mengkhawatirkan Kala, tapi kau juga jangan lupa dengan kondisimu sendiri, Dinar."
"Tapi papa sama sekali belum memberi kabar mengenai mas Kala, ma."
"Iya, papa juga pasti menunggu kabar dari Dokter. Kita harus tenang, sarapan dulu, ya."
Nyonya Rose terus berusaha membujuk Dinar agar mau sarapan. Apalagi semalam Dinar pasti tidak tidur nyenyak, begitu pula dengan dirinya.
Dinar hanya menghabiskan sepotong roti saja, ia sudah tidak sabar untuk segera ke rumah sakit. Setelah nyonya Rose selesai bersiap-siap, mereka pun memutuskan untuk pergi ke sana.
Begitu pintu di buka, muncul sosok wanita yang membuat kedua mata Dinar terbelalak.
"Selamat pagi nyonya Rose, selamat pagi anakku, Dinar," ucap wanita itu dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
Alih-alih senang, Dinar justru malah takut bertemu dengan wanita itu.
"Iya, selamat pagi," balas nyonya Rose.
Nyonya Rose melihat ke arah menantunya, perasaan semalam Dinar bilang jika dia tidak memberi tahu apa yang terjadi pada Kala, tapi kenapa wanita itu bisa datang ke rumahnya sepagi ini.
"Maaf, bu. Aku sama mama Rose mau pergi. Ibu bisa kembali lagi ke sini lagi nanti."
Jawaban Dinar membuat nyonya Rose berpikir jika kedatangan wanita itu bukan karena soal Kala, tapi ada hal lain. Lagipula wanita itu juga datang seorang sendiri.
"Oh, begitu. Memangnya kalian mau kemana?" tanya wanita itu penasaran.
Dinar melihat ke arah mama mertuanya. Ia terpaksa harus bohong agar ibunya tidak perlu tahu mengenai suaminya.
"Aku sama mama mau ke luar kota. Kebetulan mas Kala sudah berangkat lebih dulu sama papa, jadi kami berdua akan menyusul ke sana. Sepertinya kami di sana lumayan lama juga, kurang lebih satu mingguan."
"Begitu ya rupanya. Ya sudah kalau begitu kalian hati-hati. Maaf ibu datang ke sini pagi-pagi dan mengganggu. Kebetulan tadi ibu lewat sini, niatnya sekalian mampir jengukin anak ibu yang cantik ini."
"Iya, bu. Terima kasih," ucap Dinar.
"Iya sama-sama, sayang."
"Kalau begitu kami pergi dulu," ucap nyonya Rose dan segera membawa Dinar pergi menuju mobil yang sudah siap pergi.
Ibu sambung Dinar melambaikan tangan seiring mobil itu pergi. Perlahan senyumnya memudar saat mobil itu sudah berlalu meninggalkan halaman rumah.
"Sial! Anak itu sombong sekali sekarang. Aku yakin, dia pasti sudah pegang banyak uang juga sekarang. Awas saja, Dinar! Kalau sampai kamu tidak memberikan uangnya, aku pastikan kamu akan menyesal!"
Wanita itu menghentakkan kakinya, meluapkan kekesalannya. Padahal dari rumah ia sudah bersemangat sekali lantaran akan mendapat uang sebanyak dua puluh juta secara cuma-cuma, namun malah berakhir sia-sia.
Akhirnya dia pulang dengan membawa sebuah kekesalan dalam dirinya.
Di perjalanan menuju rumah sakit.
"Mama baru tahu kalau dia ternyata ibu sambungmu. Mama pikir dia ibu kandungmu, pantas saja sikapmu agak sedikit berbeda tadi. Apa ada masalah di antara kalian?"
Dinar diam. Ada baiknya ia tidak menceritakan apa yang terjadi sebenarnya di antara dirinya dengan ibu sambungnya. Biarkan saja hal itu menjadi urusan dirinya yang orang lain tidak perlu tahu.
"Kami baik-baik saja, ma," jawab Dinar.
"Tapi mama melihatnya tidak seperti itu, Dinar. Apa mungkin memang hanya perasaan mama saja?"
"Iya, itu pasti hanya perasaan mama saja."
Meski Dinar sudah mengatakan di antara mereka baik-baik saja, entah kenapa nyonya Rose merasa memang ada sesuatu di antara mereka. Masalah yang biasa terjadi di antara anak dan ibu sambung. Tapi ia berharap memang semuanya baik-baik saja seperti apa yang di katakan oleh Dinar.
_Bersambung_