Menjalin kasih selama 2 tahun lamanya, bahkan sudah tinggal satu atap dengan segala tujuan cerita dan mimpi di masa depan. Semuanya sudah di rancang sejak awal.
Namun apa jadinya ketika salah satu dari mereka malah jatuh cinta pada orang lain dan memilih untuk berkhianat?
Semua mimpi dan cerita yang sudah di rangkai kini harus hancur seketika dan tidak bisa di perjuangkan lagi. Mungkin satu hal yang membuat Fadil rela menghancurkan hubungan yang sudah terjalin lama ini, hanya karena Yara yang memiliki tubuh berisi dan jauh dari kata cantik dan ideal. Seperti wanita di luaran sana.
Lalu, apa Yara akan mampu memeprtahankan hubungan ini di saat sudah ada wanita lain yang hadir di kehidupan Fadil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meninggalkan Fadil Dan Kota Ini?!
Yara terdiam saat dia melihat orang yang berdiri di depan kamar kosnya hari ini. Yara mengangguk hormat dengan sedikit kaku. Rasanya dia tidak tahu apa yang ingin di lakukan pria paruh baya yang ada di depannya saat ini.
"Maaf Tuan, ada apa Tuan datang kesini?"
"Bisa berbicara sebentar? Ada hal yang ingin saya bicarakan denganmu. Ini penting"
Yara tentu tidak akan bisa menolak, dia tidak mungkin berani menolak ajakan Bimo yang dia ketahui adalah atasan Fadil. Dan disinilah sekarang mereka berada, sebuah Restaurant sederhana yang berada di sebrang tempat kos Yara.
Tangan Yara sudah meremas rok yang i pakainya di bawah meja. Yara merasa gugup sekaligus bingung dengan kedatangan Bimo padanya ini.
"Saya tahu jika Fadil sering datang kesini untuk menemui kamu. Saya tidak menyalahkan kamu, tapi saya hanya ingin kamu untuk bisa menjauh dari Fadil, karena sepertinya tidak mungkin jika Fadil yang menjauh dari kamu"
Yara terdiam mendengar itu dengan tangan yang semakin terasa dingin karena gugup dan bingung. Pada akhirnya tetap Yara yang harus mengalah dan mungkin tetap di salahkan. Padahal kenyataannya Yara yang menjadi korban disini.
"Putri Ajeng sedang mengandung anaknya Fadil sekarang. Jadi kamu tidak mungkin tega mengganggu pernikahan mereka saat mereka baru saja akan mempunyai bayi"
Tangan Yara mulai bergetar dengan pikiran yang mulai kacau. Saat ini Yara benar-benar harus pergi dari kehidupan Fadil yang selama ini selalu menghiasi hari-harinya.
"Saya akan memberikan kamu pekerjaan baru asal kamu mau pergi dari kota ini dan meninggalkan Fadil"
Yara benar-benar tidak mempunyai pilihan lain sekarang. Dia jadi bingung sendiri harus melakukan apa. Seolah hidupnya tidak akan mempunyai pilihan lain selain harus meninggalkan Fadil dan kota ini.
"Bagaimana Yara? Saya sudah tidak mempunyai banyak waktu lagi. Jika kamu menyetujuinya, maka saya akan persiapan semuanya sekarang juga. Termasuk dengan apartemen yang nantinya akan menjadi tempat tinggal kamu"
Tidak ada pilihan lain bagi Yara selain menganggukan kepalanya dan mengiyakan semua permintaan Bimo. Yara juga tidak mungkin harus merusak rumah tangga orang lain. Dia bukan wanita yang tega untuk melakukan hal seperti itu, apalagi saat Yara mendengar jika Putri Ajeng yang saat ini sedang mengandung anaknya Fadil. Yara jadi bingung sendiri harus melakukan apa dan bagaimana, selain dirinya yang memang harus meninggalkan Fadil dan pergi dari kota ini.
"Besok pagi kau bisa langsung pergi, akan ada orang suruhan saya yang akan mengantarkan kamu kesana. Urusan kamu berhenti di tempat Sarah, itu bukan hal sulit biar saya saja yang bicara padanya nanti"
Yara hanya mengangguk dengan tangan yang masih saing bertaut di bawah meja. Ketika Bimo pergi, barulah Yara merasa lebih lega. Dia bisa kembali bernafas dengan normal.
Mungkin memang ini adalah yang terbaik untuk aku dan Fadil. Mungkin memang kami yang tidak berjodoh.
Yara kembali segera pergi bekerja meski sudah sedikit terlambat. Ketika dia sampai di tempat kerja, dia langsung di sambut dengan tatapan tidak suka dari Sarah yang sedang berdiri di dekat meja kerjanya dengan bersidekap dada.
"Darimana saja kau?! Jam segini baru datang, kau fikir ini adalah perusahaan milik keluargamu Hah?! Dasar tidak tahu malu!"
Yara menatap Sarah dengan tidak percaya, mendengar ucapan Sarah barusan benar-benar membuat Yara tidak mengenali sosok atasan yang dia kenal selama ini. Sarah yang baik dan humble, berubah menjadi Sarah yang dingin pada Yara. Entah apa kesalahan Yara sampai membuat Sarah terlihat begitu membencinya.
"Maaf Kak, tadi ada urusan sebentar"
"Halah banyak alasan kamu ini. Cepat kerjakan semua berkas ini dan harus selesai malam ini juga"
"Baik Kak"
Yara hanya bisa menurut saja ketika semua berkas yang di maksud oleh Sarah tidak sedikit dan tidak akan mudah untuk di kerjakan. Namun Yara hanya seorang bawahan yang tidak bisa menolak apapun.
Dan hari ini Yara benar-benar bekerja lembur sampai dini hari. Dia harus benar-benar menyelesaikan pekerjaan yang di berikan oleh Sarah itu sebelum hari ini dia akan pergi dari kota ini dan meninggalkan semua kenangan yang ada disini.
"Aku pasti bisa menjalani semua ini sendiri. Lagian aku memang sudah terbiasa sendiri, jadi sudah pasti aku akan bisa menjalani semuanya sendiri mulai saat ini"
Sebelum bertemu dengan Fadil juga Yara hanya seorang gadis yatim piatu yang seorang diri. Jadi dia sudah terbiasa melakukan semuanya sendirian, hingga Fadil datang dalam kehidupannya membuat Yara sedikit bergantung padanya karena dia yang merasa telah mempunyai sandaran ketika kesulitan. Dan ketika sekarang sandaran itu bukan untuk Yara lagi, kini siapa yang akan menjadi sandaran untuk Yara? Tidak ada selain dirinya sendiri.
######
Fadil masih memegang sebuah alat tes kehamilan di tangannya. Masih merasa tidak percaya jika saat ini istrinya sedang hamil. Baru saja Fadil berniat untuk menceraikan Putri Ajeng dan dia ingin kembali dengan Yara. Namun nyatanya sekarang Fadil tidak bisa melakukan itu karena kenyataan yang ada.
"Kamu hamil?"
Putri Ajeng mengangguk dengan senyumannya yang antusias. Dia memeluk Fadil dengan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya itu. "Kamu pasti senang 'kan? Akhirnya sebentar lagi kita akan mempunyai anak. Dirumah ini tidak akan sepi lagi"
Fadil hanya diam mematung dengan alat tes kehamilan yang masih berada di tangannya. Tanpa membalas pelukan istrinya itu. Saat ini justru pikiran Fadil malah semakin kacau ketika dia mengetahui jika istrinya sedang hamil. Fadil yang mulai merasa tidak nyaman dengan sikap Ajeng yang seenaknya dan kurang perhatian padanya, membuat Fadil berniat untuk kembali pada Yara dan menceraikan Ajeng. Tapi sekarang kenyataannya bukan seperti yang dia harapkan dan yang dia rencakan.
Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang?
Mungkin Fadil baru saja menyadari jika dirinya hanya merasakan kenyamanan sesaat saja bersama Putri Ajeng. Karena pada kenyataannya hanya Yara yang bisa mengerti semua hal tentang Fadil.
Dan sekarang Fadil sedang merasa menyesal karena sudah meninggalkan Yara demi cintanya pada Ajeng yang sebenarnya tidak benar-benar mencintai dengan tulus. Semuanya hanya karena Fadil yang merasa bosan dengan Yara dan dia bertemu dengan Putri Ajeng yang memberinya kenyamanan sesaat.
Ajeng melerai pelukannya dan menatap suaminya yang dari tadi hanya diam saja. "Kamu kenapa Honey?Apa kamu tidak senang?"
Fadil mengerjap kaget, dan di hanya tersenyum tipis pada Ajeng. "Tidak ada orang tua yang tidak senang dengan kehadiran anaknya"
Ajeng tersenyum mendengar itu, dia menyusul Fadil yang sudah naik ke atas tempat tidur dan langsung memeluk Fadil dengan nyaman.
"Keluarga kecil kita akan semakin bahagia ketika nanti sudah lahir anak kita ini"
Fadil hanya mengangguk sambil mengelus kepala istrinya.Dan entah kenapa dia malah merasa tidak senang dengan kehamilan istrinya ini. Tidak ada rasa bahagia sedikit pun dalam hati kecilnya.
Bersambung