Sebelum membaca karya ini, lebih baik baca dulu novel sebelum nya yang berjudul " MENDUNG DI ATAS LUKA"
Sebab novel ini lanjutan dari sana.
Selamat membaca
Firman mengira hidupnya akan tenang setelah memutuskan hubungannya dengan Dea, seorang wanita yang ia tinggalkan dalam keadaan hamil akibat dari perbuatannya. Ia menghilang dengan maksud untuk melupakan tanggung jawabnya pada kesalahan yang pernah ia lakukan pada suatu malam.
Selama ini dia mengira cinta nya untuk Alea. Ternyata itu semua salah, cinta sesungguhnya hanya untuk Dea, wanita yang tidak bisa ia lupakan walaupun sudah berusaha.
Akankah Dea memaafkan Firman?
Sanggupkah Firman memperjuangkan cinta masa lalunya?
Yuk ikuti terus kisah mereka!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gentra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Firman berjalan terus mendekat ke arah Dea dan Mama Riana yang sedang duduk di atas tempat tidur pasien, sedangkan Zora masih tertidur.
Dea merasa tidak suka dengan kehadiran Firman, serasa sesak nafasnya jika bertemu dengan nya.
"Tante apa kabar? " tanya Firman basa-basi.
"Baik" jawab Bu Riana sambil tersenyum, ia tidak menunjukkan rasa tidak suka nya terhadap Firman. Padahal dalam hatinya ia ingin sekali menampar laki-laki yang berada di hadapan nya, yang sudah menghancurkan kehidupan putri tercinta nya.
Dea hanya menatap Firman dengan mata yang begitu tajam, sehingga sudah mampu menembus hati Firman. Begitu menusuk nya sampai ke hati nya, kebencian Dea terpancar jelas di matanya. Tetapi Firman berusaha untuk terlihat biasa saja untuk mendapatkan maaf dari Dea, entah sampai kapan dia harus mengemis maaf dari perempuan yang sekarang berada di hadapan nya.
Mungkin bagi Firman mudah untuk mengucapkan kata Maaf, tetapi sulit bagi Dea untuk melupakan semua yang telah terjadi di masa lalu. Terlalu banyak kesakitan yang di terimanya di masa lalu, kalau saja ia tidak memikirkan kedua orang tuanya. Dia lebih memilih tinggal di luar negeri dan menjauhkan diri dengan orang-orang yang pernah ada di masa lalunya.
"Mau ngapain kamu datang ke tempat ini? sudah ku bilang jangan pernah ganggu kehidupan kami lagi! kita nggak pernah saling mengenal. Faham kan! " kata Dea dengan nada bicara penuh penekanan.
"Aku hanya ingin melihat keadaan putri mu, apakah dia baik-baik saja? "
"Nggak perlu sok perhatian, Zora sudah di kelilingi orang-orang yang sangat menyayangi nya. Jadi nggak perlu repot-repot menginjakkan kaki anda di sini" Dea berkata sambil menatap tajam Firman, terlihat jelas kebencian perempuan itu terhadap nya.
"Baiklah, Mama cari makan dulu.. belum makan ya" kata sang Mama sambil buru-buru pergi ke luar meninggalkan Dea dan juga Firman, pikir bu Riana mungkin mereka berdua perlu berbicara agar saling mengerti satu sama lain.
Firman jangan memaksa kehendak Dea untuk memaafkan nya dalam waktu dekat dan semua itu butuh proses yang sangat panjang, tidak mudah bagi Dea untuk melupakan masa lalu yang begitu menyakitkan dalam waktu dekat. Firman sangat egois, ia selalu mementingkan dirinya sendiri tanpa berfikir bagaimana perasaan Dea selama dua tahun bertahan dalam rasa sakit yang telah Firman ciptakan. Bahkan cemoohan dari semua orang, hal itu yang membuat Dea trauma dengan keadaan.
Setelah kepergian Bu Riana, Firman duduk di bangku yang ada di sana sambil menatap lekat wajah anak kecil yang tidak berdosa sedang tertidur pulas. Ia tatap lekat-lekat wajah tersebut, entah kenapa Zora tersenyum di alam bawah sadarnya. Seketika hati Firman merasakan sakit ketika melihat senyum anak kecil itu, berapa jahat nya dia waktu itu. Hingga menyuruh Dea untuk menguburkan janin yang di kandung nya pada saat itu. Firman mendekat kan tangan nya ingin menyentuh pipi Zora, yang terlihat sangat menggemaskan itu. Tetapi tangan Firman langsung di tangkis oleh Dea.
"Jangan sentuh anak ku dengan tangan kamu yang suci itu, takut terkena virus yang kami punya" kata Dea.
"Aku hanya ingin menyentuhnya, nggak ada maksud lain" kata Firman dengan raut wajah di penuhi penyesalan.
"Capat pergi dari sini! sebelum dia bangun dan mempertanyakan siapa kamu, tolong jangan pernah hadir di hidup kami lagi... Biarkan kami hidup dengan tenang! " kata Dea sambil menangkup kedua telapak tangan nya, ia memohon terhadap Firman agar tidak pernah hadir kembali di kehidupan Dea.
"Aku tidak akan berhenti datang dan mendekat terhadap kamu, sebelum mendapatkan pengampunan dari mu. Jujur aku sangat tersiksa dengan keadaan ini dan rasa bersalah terus menghantui ku"
"Aku sudah memafkan mu, tetapi tidak dengan rasa sakit yang kau torehkan di sini! " kata Dea sambil menunjuk dadanya.
"Aku akan melakukan apapun, agar mendapatkan maaf dari mu" Firman terus memohon.
"Jika ingin mendapatkan maaf, pergi dan jangan pernah kembali lagi di hadapan ku! "
"Tapi aku tidak bisa melakukan itu"
"Itu kata-kata yang pernah yang pernah kau ucapan padaku dua tahun yang lalu, masih teringat jelas di ingatan ku. Saat kau berkata pergi dari hidupmu dan jangan pernah menganggap bahwa kita telah melakukan itu, masih ingat kan! atau sudah amnesia" kata Dea sambil menyeringai tipis, seolah ia telah mengejek Firman.
"Ayolah kita lupakan masa lalu dan menatap masa depan tanpa ada dendam di antara kita, aku sungguh minta maaf! "
"Tidak semudah itu berdamai dengan keadaan, kamu tidak tahu rasanya terpuruk "
"Aku sekarang menyesalinya, sekarang saatnya menebus semua kesalahan yang pernah ku lakukan"
Di tengah perdebatan mereka akhirnya Zora terbangun dan memanggil sang Mama, dengan gerakan cepat Dea langsung memeluk anak itu sambil berkata.
"Iya, sayang ada yang sakit? " tanya Dea terhadap sang anak dengan suara lembut nya.
"Ma... katanya Papa mau pulang ko belum sampai juga! " Zora bertanya dengan suara khas anak kecil.
"Mungkin sebentar lagi, tunggu saja ya " ucap Dea sambil menatap lembut wajah sang anak yang terlihat masih pucat.
"Iya, Ma" jawab Zora sambil memalingkan tatapan nya ke arah lain, ia tidak sedikit pun melirik ke arah Firman yang ada di samping nya.
Setelah cukup lama Dea dan Firman berdebat, ia juga sudah lelah sedangkan Firman tidak mau pergi meskipun sudah di suruh tetap saja duduk dengan santainya. Dea lebih memilih diam, nggak ada gunanya juga meladeni Firman yang tidak bisa mengerti perasaan orang lain.
Waktu bergulir begitu cepat, waktunya Zora makan siang dan meminum obat kembali.
Tiba lah seorang lelaki yang berpenampilan sangat rapi dan mempunyai perawakan yang tinggi. Tetapi lelaki itu menggunakan kacamata.
"Sayang...Papa datang! "
merugikan org lain
gak cinta . klu udah begi bisa apa Des segel udah ke buka 🤧🤧🤧
nanti kan lama" tumbuh juga cinta dengan seiring berjalannya waktu
kayak mau perang aja si Aldi 🙏
orang nya sabar bijaksana dewasa gak pemaksa penyayang lagi....
uh mau cari yg gimana lagi coba,,,
apalagi Aldi kerjaan nya juga sdh mapan....
pasti akan lebih tenang kalo qt sudah bisa bahagia....
akan lebih mudah untuk memaafkan kalo hati qt sendiri gak tertekan.....
cari cara gmn bisa sllsi smuany dgn baik
orang tuamu saja malu dgn perbuatanmu.
maka'a klu berbuat berani bertanggung jawab. jgn berani berbuat kabur dr tanggung jawab.
ih.... gemez ama Firman
sangat mencintai Dea tak bisa hidup tanpa dia...baru nyadar setelah gx di peduli kan...sakit hati anak manggil papa ke orang lain itu derita lo Fir8