Lanjutan Penyesalan Terdalam CEO Arogan
Dia menciumku. Kumis tipisnya itu mengenai permukaan kulitku. Jantungku pun berdetak tak menentu. Aku terhanyut dalam setiap sentuhannya. Tapi pantaskah seorang penggoda sepertiku tergoda olehnya?
Perhatian!
Novel ini menggunakan sudut pandang campuran. Jika belum terbiasa, harap membacanya pelan-pelan agar tidak gagal paham.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gaharu Wood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar
Lea frustrasi dengan semua keputusan hakim. Ia pun berniat mengajukan banding. Tapi ini adalah sidang perceraian. Bukan sidang perdata atau pidana. Jake juga telah merelakan keputusan hakim. Ia telah resmi bercerai dari Lea.
"Semua pasti karena Lilia! Andai saja aku mempunyai bukti tentang kebersamaan mereka, tentu saja aku bisa mendapatkan setengah dari hartanya. Tapi sialnya wartawan dan jurnalis itu malah hadir di persidangan dan memberatkanku. Benar-benar tidak bisa kuterima!" Lea marah sendiri.
Jake menghadirkan saksi atas foto yang sempat beredar di majalah bisnis waktu itu. Di mana ia menangkap semua orang-orang yang terlibat dalam pemasangan foto tersebut. Dan mereka mengaku jika diminta oleh Lea. Sehingga Jake memanfaatkan kesempatan itu untuk membela dirinya.
Saksi yang dihadirkan Jake cukup banyak untuk menyerang Lea balik. Alhasil Lea pun kalah telak dari Jake. Ia malah berstatus tergugat jika dilihat dari bukti yang ada. Jake berhasil memutar balik keadaan dengan sempurna.
Di tengah kekacauannya itu. Tak berapa lama dering ponsel menyadarkannya. Lea pun segera mengangkat telepon itu. Ia tahu benar siapa yang meneleponnya.
"Aku di Red Club. Sendiri," katanya kepada seseorang di seberang telepon.
Telepon pun tak lama berakhir. Lea kembali meneguk botol anggurnya untuk yang kesekian kali. Hingga akhirnya ia berkata-kata sendiri. Lea frustasi.
Di lain tempat, di waktu yang bersamaan, tampak seorang pria paruh baya tengah bersama teman tidurnya. Ia duduk di pinggir kasur sambil bertelanjang dada dan menghisap cerutunya. Pria itu adalah Biden, paman dari Lea sendiri. Tak lama sebuah pesan pun diterimanya. Sontak Biden terkejut dengan kabar itu.
"Resmi bercerai?"
Tentu saja kabar perceraian Jake menyebar dengan cepat ke seluruh keluarga besar. Setiap dari mereka mempunyai mata-mata di rumah itu. Tidak ada yang bisa dipercaya selain orang bawaan sendiri. Dan kini Biden pun tampak memikirkan sesuatu. Lepasnya ikatan pernikahan Jake tentu saja berpengaruh baginya. Ia tidak lagi bisa menekan Jake karena sudah terlepas dari Lea.
"Apakah semua ini ada hubungannya dengan Lilia?"
Biden pun ingin tahu kabar tentang Lilia saat ini. Ia kemudian menelepon seseorang untuk mencari tahu di mana keberadaan wanita cantik bertubuh sintal itu. Biden juga menelepon Lea untuk mengucapkan bela sungkawa. Tapi ternyata, telepon dari Biden tidak diangkat Lea. Biden akhirnya membiarkan Lea untuk menenangkan diri. Ia cukup tahu bagaimana Lea yang sebenarnya.
Kembali ke apartemen Lilia...
Pria berwajah muram itu ada-ada saja permintaannya. Malam-malam mengajak bervideo call lalu mandi bersama. Dia memintaku untuk melakukan ini dan itu. Hingga akhirnya hasrat terpendamnya itu tersalurkan. Dia memang tidak pernah berubah. Si wajah muram dengan sejuta hasratnya. Tapi kini dia adalah calon suamiku. Dia telah melamarku dan berniat mempersuntingku.
"Lilia."
"Hm?"
"Kau tambah cantik," katanya seraya melihatku dari ponselnya.
Kami masih melakukan video call di jam selarut ini. Padahal sudah hampir pukul dua belas malam waktu kota ini. Tapi seakan tidak bisa menghentikan rasa rindu yang ada di hati. Jake pun tidak menjeda atau mematikan teleponnya sebentar. Dia bak anak remaja yang baru mengenal cinta. Pipis saja minta ditemani dan dilihati olehku. Sungguh hal ini tak kusangka sama sekali.
"Kau merayuku, Jake. Jangan bilang mau nambah lagi," kataku padanya.
Meresahkan😐
semangat up up