Kehidupan setelah menikah pasti bahagia menurut sebagian orang karena adanya cinta. Namun, tidak dengan kenyataan yang justru akan banyak ujian dan juga konflik yang terjadi setelah menikah. Seperti Dinda, yang kehidupan rumah tangganya begitu menyedihkan. Rey, suami yang tak berguna karena tidak bisa di andalkan baik dalam materi atau perhatian Rey, yang hanya bisa memberikan uang sedikit untuk kebutuhannya juga anaknya. Saat di minta uang Rey, selalu bilang tidak punya hingga Dinda, harus meminjam uang pada teman dan tetangganya. Tidak hanya dalam masalah uang Rey, juga tidak perhatian pada Dinda, juga anaknya. Saat anaknya sakit dan Dinda, meminta uang untuk biaya rumah sakit Rey, hanya bilang 'Nanti ku telepon lagi' itu saja yang Rey, ucapkan tanpa rasa khawatir. Rey, suami yang tak berguna juga pelit tetapi Rey, berani royal pada wanita lain.
Bagaimanakah cara Dinda, menghadapi Rey, suami yang tak berguna? Konflik apa lagi yang terjadi pada rumah tangga mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 ( Perdebatan di Pengadilan )
Rey, terus memikirkan apa yang di katakan Velove, semalam.
"Jika Dinda, ingin tetap bercerai kamu harus mengajukan syarat, mendapatkan hak asuh Syena. Dengan begitu Syena, akan tinggal bersamamu dan Dinda, tidak akan bisa merebut kembali Syena, darimu. Kamu berhak atas Syena, karena kamu adalah papanya. Dengan begitu hak asuh Syena, akan jatuh ke tanganmu."
"Apa mungkin bisa. Sedangkan disini aku yang salah, dan Dinda, yang menggugat ceraiku.'
"Memang Dinda, yang mengajukan cerai tapi untuk hak asuh kamu juga bisa menggugatnya, kan." Rey, tertegun memikirkan perkataan Velove.
"Rey," seru Velove, seraya menyentuh tangan Rey. Rey hanya diam dan menatap Velove, di depannya.
"Di dunia ini banyak pasangan yang mengakhiri pernikahannya dengan perceraian. Terkadang mereka akan membatalkan perceraiannya karena satu alasan namun bukan cinta melainkan karena anak mereka."
Rey, masih diam dan menyimak perkataan Velove.
"Pada akhirnya mereka memilih untuk rujuk tapi … apa hubungan mereka akan membaik! Tidak. Satu hubungan yang sudah rusak tidak semudah itu akan membaik. Pada akhirnya mereka akan saling menyakiti terutama anak mereka."
"Apa maksud ucapanmu?" tanya Rey, yang tidak mengerti. "Apa menurutmu hubunganku dengan Dinda, tidak bisa di perbaiki lagi," lanjut Rey, yang kembali bertanya.
"Menurutmu? Jika hubunganmu dan Dinda, baik Dinda, tidak akan menggugat cerai dan surat panggilan dari pengadilan tidak ada disini." Velove, memberikan surat panggilan Rey, dari pengadilan untuk urusan perceraiannya.
Rey, mengerutkan keningnya menatap surat itu dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Rey, terlihat terkejut melihat surat itu karena Rey, sama sekali belum pernah menerimanya.
"Kapan surat panggilan ini datang? Aku tidak pernah menerimanya."
"Aku yang menerimanya. Aku asistenmu jadi setiap ada paket untukmu atau apa pun itu. Aku yang akan menerimanya."
Flashback on
Velove, menghentikan mobilnya di depan rumah Rey. Dia melihat seorang kurir memasukan sebuah surat pada kotak surat yang terdapat di depan rumah Rey. Setelah kurir itu pergi Velove, melangkah menuju kotak surat itu dan mengambilnya ekspresi wajahnya mendadak datar saat melihat surat itu.
"Aku harus membuat Rey, menceraikan Dinda, harus. Bagaimana pun caranya." Velove, sangat mengharapkan mereka bercerai tetapi Rey, selalu mempertahankannya. Hingga akhirnya Velove, terus mempengaruhi Rey.
Flasback off.
"Bagaimama? Apa kamu masih ingin mempertahankan Dinda? Surat gugatan sudah di depan mata itu artinya Dinda, sangat sungguh-sungguh ingin bercerai denganmu."
"Apa kamu takut kehilangan Syena? Sudahku bilang Rey, kamu bisa menggugat hak asuh Syena, dan kamu pasti mendapatkannya. Aku akan pastikan itu aku akan membantumu."
"Kenapa kamu melakukan itu?" tanya Rey.
"Karena aku mencintaimu," jawab Velove, singkat.
"Aku bisa menerima Syena, sebagai putriku tapi aku tidak bisa menerima Dinda, sebagai maduku. Walau pun kamu tidak bercerai apa kamu akan tetap bersama Syena? Dinda, tidak akan pernah membiarkan itu. Jadi pikirkanlah baik-baik perkataanku. Aku bisa membantumu memenangkan hak asuh Syena."
Perkataan Velove, masih terngiang di telinganya. Hingga akhirnya Rey, menemui pengacaranya. Namun, si pengacara tidak bisa memastikan atau menjanjikan jika Rey, akan mendapatkan hak asuh Syena. Karena sesuai undang-undang negara jika anak yang berusia di bawah 12 tahun maka hak asuh akan di berikan kepada sang ibu.
"Apa seorang ayah tidak bisa mendapatkan hak asuh?" tanya Rey, pada pengacaranya.
"Seorang ibu bisa gagal mendapatkan hak asuh anaknya, karena beberapa hal."
"Apa?"
"Seorang ibu akan kehilangan hak asuh anaknya jika memiliki kebiasaan buruk seperti mabuk, berjudi, atau tindakan kriminal lainnya. Dengan begitu istri anda akan kehilangan hak asuh dan akan di berikan pada anda sebagai ayahnya. Tapi … jika anda ingin menggugat hak asuh anak anda. Anda harus memiliki kebiasaan yang baik dan berperilaku baik. Seorang penggugat harus bisa menjamin keselamatan rohani dan jasmani anak."
"Aku harus mendapatkannya," batin Rey.
****
Pengadilan Agama Sidang pertama perceraian
"Tarik napas keluarkan. Kamu harus tenang Dinda, tenang dan tenang."
Berulangkali Dinda, melakukan penarikan nafas lalu di hembuskan secara perlahan untuk menghilangkan kegugupan dan kegelisahannya. Hari ini sidang pertama perceraiannya. Dinda, hanya datang sendiri tanpa Asih. Karena Asih harus menjaga Syena. Namun Dinda, di temani pengacara dan juga Katrin, sebagai saksi.
"Kamu gugup?" tanya Karin.
"Ini untuk pertamakalinya aku memasuki gedung pengadilan. Wajar saja aku sangat gugup."
"Aku disini bersamamu. Tapi … apa kamu yakin dengan keputusanmu? Kamu tidak akan menyesal?" tanya Karin Lagi.
"Tidak ada yang harus di sesali. Suami yang tak berguna dan tidak peka yang dia tahu hanyalah penghianatan. Sudah cukup penderitaanku aku tidak ingin menderita lagi."
"Bagaimana dengan perasaanmu? Apa kamu masih mencintainya?" Dinda tertegun, mendengar pertanyaan Karin.
"Apa hakim akan menanyakan hal itu? Itu privasiku. Cinta akan hilang dengan sendirinya," jawab Dinda.
Sepertinya Dinda, tidak ingin membahas masalah prbadinya apalagi tentang hati dan rasa.
"Sidang akan segera di mulai. Kita harus masuk sekarang," ujar seorang pengacara Dinda.
"Iya, Karin ayo," ajak Dinda. Karin, hanya mengangguk lalu mengikuti langkah Dinda.
"Aku tahu kamu masih mencintai Rey, Dinda," batin Karin, yang terus memperhatikan Dinda.
Di ruangan Dinda, bertemu dengan Rey, bahkan mereka berpapasan. Mata Dinda, tertuju pada sebuah lengan yang merangkul di tangan Rey. Dengan sengaja Velove, menunjukan hubungannya dengan Rey, pada Dinda.
"Dimana Syena?" tanya Rey, lolos begitu saja.
"Kita datang untuk perceraian kita. Syena, tidak ada hubungannya dengan itu. Yang pasti Syena, berada bersama orang yang tepat."
"Aku ayahnya. Wajar saja aku menanyakan anakku."
"Kita buktikan nanti apa kamu masih pantas menjadi ayahnya."
Suasana berubah jadi tegang. Tatapan keduanya sangat tajam. Tidak pernah terpikirkan jika keduanya akan berada di tempat itu. Tempat yang akan menentukan hubungan mereka. Apakah tetap berjalan atau terputus.
"Apa kamu pantas menjadi ibunya?" Tiba-tiba Velove, berkata. Membuat Dinda, kesal. "Seorang ibu memisahkan anak dari ayahnya bukanlah hal yang baik dan bukan ibu yang baik." Velove, berkata datar dan menatap tajam.
"Lalu … kamu yang pantas menjadi ibunya. Bukankah seorang pelakor itu lebih buruk dari seorang ibu yang memisahkan anaknya dari laki-laki yang tidak berguna." Velove, terlihat kesal menatap Dinda, dengan tajam suasana semakin tegang melihat perdebatan antara mereka.
"Apa yang aku lakukan untuk melindungi anakku." Sambung Dinda, dengan tatapan tajamnya.
"Dinda, sudah. Jangan dilanjutkan kita tidak boleh memancing keributan selama persidangan," bisik Karin, yang menahan Dinda, untuk tidak terpancing emosi. Begitu pun dengan Rey, yang melakukan hal yang sama pada Velove.
"Sudah Velove, jangan memulai."
"Dia, yang memulai Rey."
"Aku bilang sudah. Sebentar lagi sidang akan di mulai," bentak Rey, lalu melangkah pergi menuju kursinya. Tapi tidak dengan Dinda, yang masih saling bertatapan dengan Velove.
"Aku berharap kalian bercerai secepatnya," ucap Velove, lalu melangkah menuju kursinya.
"Apa mereka akan menikah setelah perceraianku. Dasar pelakor."
"Jika kamu masih mencintai Rey, masih ada waktu untuk membatalkan gugatannya," ucap Karin, yang sangat tahu jika Dinda, masih memiliki perasaan pada Rey.
"Tidak akan. Jika dia mengharapkan itu aku pun sama, lebih cepat lebih baik." Kata Dinda, yang langsung melangkah, kan kakinya menuju kursinya.
"Aku tahu Dinda, bagaimana perasaanmu." gumam Karin, lalu duduk di kursinya.
Dari tokohnya juga sangat mengisnpirasi untuk tetap sabar dalam menjalani cobaan.
enak skli laki2 kyk gitu sllu main perempuan trus punya anak2 di mna,
bayakin cerita dinda sma willy dong thor
males cerita.rey mulu