Aku tidak pernah merencanakan akan jatuh cinta pada siapa. Bukan kuasaku untuk menjatuhkan pilihan sang cinta pada pemiliknya yang entah siapa.
Semula, semua terasa mudah. Semula, aku merasa mampu bertahan dengan segala gejolak yang ada di dalam hati, yang menuntut untuk diperjuangkan. Semula, semua terasa cukup, mengetahui kau akan selalu ada disisiku.
Nyatanya, semua tidak semudah yang kubayangkan.
Ketika keadaan semakin menuntutku untuk memilih, manakah yang harus aku pilih? Karier atau cinta, yang keduanya bahkan baru sama-sama dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Belinda Marchely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Like a Fool Who Rush In
Marco's POV
“Maaf, ya, kalau teman-temanku yang terlalu kepo itu bikin kamu jadi canggung.”
Begitu kami sudah berada di dalam mobil, Anetta langsung mengutarakan permintaan maafnya atas prasangka teman-temannya yang mengira aku ini pacarnya.
Beberapa teman perempuannya langsung mengerubungi kami begitu sesi latihan selesai dan Anetta menghampiriku.
Para gadis yang usianya selisih beberapa tahun di bawahku itu langsung mencecar Anetta dengan berbagai macam pertanyaan dan asumsi. Yah, gaya khas anak-anak usia milenial. Aku jadi merasa seperti om-om yang dikelilingi keponakan yang cantik-cantik. Eh, tapi kurasa aku belum setua itu untuk menjadi om bagi mereka.
“Bukan masalah. Kamu tidak perlu minta maaf,” kataku menenangkan. “Lagi pula … aku senang …” Aku sengaja menggantung kalimatku untuk menunggu responsnya.
Anetta melirikku, memasang raut wajah penasaran dengan mata memicing. “Oh, maksudnya kamu senang jadi pusat perhatian?” tanyanya.
Aku menggeleng. “Aku senang, karena setidaknya mereka mengira aku ini pacarmu, bukan supirmu.” Aku terkekeh ketika mengatakan kalimat terakhir itu.
Dari keremangan cahaya di dalam mobil aku masih bisa melihat rona malu di wajah Anetta. Saat ini, sambil tergagap, dia malah meminta maaf atas kesalahpahaman ibunya sewaktu aku menjemputnya tadi.
“Maaf juga, ya, soal mamaku tadi. Mama enggak lihat-lihat dulu, sih, masa tampang model kamu gini disamain sama supir taksi online.” Bibirnya mengerucut.
Aku mengernyit, lalu menatapnya curiga. “Bisa kamu jelaskan maksud dari ‘tampang-model-aku-begini’ itu seperti apa, ya?”
Anetta salah tingkah. Lucu sekali melihatnya gelagapan, terlihat bingung akan menjawab apa. Cukup lama aku menatapnya, menuntut jawaban. Sepertinya dia semakin gugup karena aku pandangi seperti ini.
“Ya … kamu, kan, rapi, bersih … ganteng …” Suaranya hampir tidak terdengar saat dia mengucapkan kata yang terakhir.
Aku berdeham. “Jadi aku ganteng, ya?” Mendengar pertanyaanku, dia malah memutar-mutar bola matanya. Kutanya sekali lagi, “Jadi menurut kamu aku ini ganteng?”
“Ya, kamu memang ganteng, sih," jawabnya.
Kenapa terdengar seperti tidak ikhlas, ya? Pikirku.
"Memang ganteng, 'sih' ..." Aku mengulang pernyataannya yang terakhir dan memberikan penekanan pada kata 'sih' tersebut.
"Oke, oke. Aku enggak harus mengingkari kenyataan kalau kamu memang ganteng, kan? Puas dengan jawabanku?” Dia mencibir lagi, lalu memberengut.
Aku tertawa mendengar pernyataannya yang agak terpaksa itu, sementara Anetta bersedekap sambil tersenyum masam.
Lalu seketika pikiranku teralihkan. Sekarang aku jadi semakin ingin tahu, apakah dia belum pernah ditemani latihan oleh laki-laki lain selama ini? Kalau mendengar dari apa yang dikatakan teman-temannya di grup teater tadi, apa benar baru kali ini ada laki-laki yang menemaninya?
Seketika, rasa penasaranku membuncah hebat. Tenggorokanku terasa serat, aku menelan ludah dengan susah payah. Tiba-tiba juga lidahku menjadi kelu. Aku memutar otak sambil memikirkan pertanyaan yang akan aku utarakan. Aku berpikir sejenak, apa ini terlalu cepat, tapi aku harus memberanikan diri untuk menanyakannya.
“Netta ...” panggilku.
Dia melirikku. “Hmm?” gumamnya.
“Memangnya selama ini belum pernah ada laki-laki yang menemani kamu latihan teater atau berkegiatan lainnya?”
Aku mengutarakan pertanyaan itu dengan satu helaan napas. Kini, aku menunggu jawaban darinya dan kuharap dia akan bilang ‘tidak’.
Jari-jariku bergerak-gerak di permukaan setir, gelisah menunggu jawaban dari gadis di sebelahku ini. Anetta terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya terdengar helaan napas dan dia menjawab.
“Kamu pasti tahu, kan, gimana anak Arsitektur selalu dicap antisosial?” Sekarang dia menggeser tubuhnya menghadap ke arahku. “Selama kuliah aku hanya fokus belajar, aku juga enggak mungkin ikut kegiatan macam-macam, karena ada tugas setiap malam. Baru sebulan ini aku gabung di grup teater karena sebenarnya dari dulu aku selalu pengin. Satu-satunya teman cowok yang dekat denganku hanya Sam, pemain bas gereja yang ngenalin dan ngajak aku untuk gabung di grup teater ini.”
Aku mendengarkan penjelasan Anetta yang panjang dikali lebar dikali tinggi itu dengan saksama, tapi tidak ada jawaban pasti atas pertanyaanku tadi.
Aku jadi merasa gemas sendiri. Tangan kananku bahkan kini mengusap-usap tengkukku yang entah kenapa terasa menegang, sementara tangan kiriku mencengkeram tuas persneling mobil dengan erat.
Lalu, tanpa pemberitahuan, Anetta menyentuh punggung tanganku, kemudian mencondongkan wajahnya semakin dekat ke arahku. “Harusnya kamu udah tahu jawabannya.” Dia mengedipkan matanya dan tersenyum, manis sekali.
Jantungku berdetak kencang sekali ketika mendengarkan kalimat terakhir itu meluncur dari bibir Anetta. Dengan tubuhnya yang berjarak hanya satu per sekian meter dariku, aku jadi takut kalau-kalau dia akan mendengar detak jantungku yang tidak tahu malu ini.
Aku membalikkan tanganku dan meraih tangannya. Kugenggam telapak tangannya yang hangat dan seketika kurasakan rasa hangat itu kini menjalari sekujur tubuhku, hingga akhirnya menimbulkan gejolak rasa yang hebat di hatiku.
Jawaban singkat itu, walaupun dia tidak menjawab secara pasti entah 'iya' atau 'tidak', tetapi sudah cukup bagi hati dan otakku untuk mencerna maksudnya.
Anetta belum mempunyai kekasih dan aku adalah laki-laki pertama yang menemaninya berkegiatan seperti malam ini saat dia latihan teater.
Walaupun aku belum secara resmi menjadi kekasihnya—lebih tepatnya aku belum mengutarakan perasaanku padanya dan memintanya untuk menjadi kekasihku, hatiku sangat berdebar-debar dengan kenyataan yang baru kuketahui ini.
~
Aku merasa seperti cowok remaja yang baru mengalami masa pubertas, yang baru merasakan cinta monyet sehingga membuat hati berbunga-bunga sepanjang hari.
Debaran di hatiku belum juga sirna. Bahkan saat sampai di apartemen pun, aku belum bisa mengenyahkan senyuman manis Anetta dari pikiranku dan rasa hangat genggaman tangannya tadi.
Bayangan wajah Anetta memenuhi seluruh celah otakku. Suaranya yang lembut masih sayup-sayup menggema di gendang telingaku. Tidak salah lagi, aku memang sudah jatuh cinta pada gadis itu. Junior Consultant yang telah memikatku dengan kepribadiannya yang cantik, seperti parasnya.
Aku menaruh kunci mobil di atas meja TV, lalu kulangkahkan kaki menuju ruang kerjaku. Ku pasang pemutar musik yang ada di sebelah rak buku di sana, tentunya pilihan lagunya jatuh pada miliknya Elvis Presley yang tempo hari menjadi jawaban atas perasaanku pada Anetta.
Wise man say, only fool rush in
But, I can't help falling in love with you
Shall I stay, would it be a sin?
If I can't help falling in love with you
Reff:
Like a river flows, surely to the sea
Darling so it goes
Something are meant to be
Take my hand, take my whole life too
For I can’t help falling in love with you
Song: Cant' Help Falling In Love - Elvis Presley
love u
selalu ku tunggu ceritamu
melelehh hati abangg.
kamu thor sweet bangettt
selalu semangat yaa
pasti jadi romantis duet kalian.. 😍😍